Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Perjodohan yang Gagal.


__ADS_3

Pagi hari Sakya sudah meminta dibuatkan sarapan bubur ayam pada Art yang bekerja di rumahnya, karena tiba-tiba saja dia menginginkan makanan itu.


"Bi, buat sarapan aku udah siap belum?" tanya Sakya begitu duduk di kursi meja makan dengan pakaian yang sudah rapi.


"Sudah Tuan muda," sahut Artnya itu sambil membawa mangkuk yang telah terisi oleh bubur sesuai dengan pesanan Sakya.


"Ini Tuan muda, maaf kalau tidak seenak yang biasa dijual," ucap Artnya menyimpan semangkuk bubur itu di depannya.


"Makasih Bi," ucap Sakya sambil mengambil bubur itu dengan sendoknya.


Dia meniup bubur ayam yang masih mengepul itu dengan topingnya lengkap, sengaja dibuat semirip mungkin dengan yang biasa dijual.


Setelah dirasa cukup dingin, pria itu mulai memasukkan sendok yang terisi bubur itu ke mulutnya, merasakannya dengan seksama.


"Bagaimana Tuan, apa rasanya enak?" tanya Artnya yang sengaja menunggu dia memakan makanan itu.


Dia menunggu dengan harap-harap cemas karena akhir-akhir ini Sakya memang pilih-pilih soal makanan, tidak seperti sebelumnya yang bisa makan apa saja.


"Enak Bi, Bibi membuatnya dengan pas," sahut Sakya mengacungkan jempol tangannya.


"Syukurlah kalau begitu Tuan," sahut Art itu dengan lega.


Tidak lama kemudian Sakya mendengar suara papa dan mamanya yang tengah menuju ke meja makan sambil mengobrol.


"Jadi maksud Papa, klien Papa itu tiba-tiba batalin rencananya untuk menjodohkan anaknya dengan Sakya?"


"Iya Ma."


"Apa alasannya Pa, bukankah sebelumnya sudah setuju karena umur anaknya sudah cukup untuk berkeluarga?"


"Dia tidak menceritakan dengan jelasnya, dia cuma mengatakan kalau anaknya tidak bisa menikah untuk sekarang."


Sakya menatap pasangan yang tengah mengobrol tanpa menyadari keberadaannya di meja makan itu dengan mata menyipit.


"Oh jadi kalian berencana mau jodohin Sakya, tanpa bicara dulu ke Sakya!" sindir Sakya dengan tatapan kesal pada orang-tuanya.

__ADS_1


"Loh kamu udah di sini Sak, tumben udah sarapan, udah gak mual lagi?" tanya Haira menatapnya dengan heran.


"Jawab dulu ucapan Sakya tadi, kalian berencan jodohin aku?"


Haira menatap suaminya yang sudah mendudukkan dirinya di kursi yang ada di ujung meja dengan memasang wajah santainya.


"Tidak jadi, karena ternyata klien Papa yang berencana menjodohkan anaknya denganmu membatalkan niatnya itu," sahut Fahar sambil menerima piring yang sudah Haira isi.


"Baguslah kalau gitu, lagian Papa sama Mama apaan sih, pakai acara jodoh-hodohin aku segala, seperti aku orang yang tidak laku saja," decak Sakya dengan nada kesal.


"Bukan gitu Nak, Mama sama Papa cuma tidak ingin kamu terus bermain dengan sembarang wanita lagi, kami hanya ingin yang terbaik untukmu," ucap Haira.


"Tapi tidak dengan asal jodohin aku Ma, Pa. Aku bisa cari calon pasangan aku sendiri, tidak perlu kalian yang ngatur perjodohan seperti itu. Bagaimana kalau ternyata orang yang kalian pilih itu, tidak sesuai dengan Sakya, juga bagaimana kalau kita tidak cocok," cerca Sakya pada kedua orang-tuanya itu.


"Papa sudah memastikan dia adalah wanita yang baik, dia juga cantik, dan mandiri, meskipun dia berasal dari keluarga yang berada, tapi dia sudah cukup sukses menjalankan usahanya sendiri."


"Malah kalau dibandingkan denganmu yang hanya tau main-main saja, kamu jelas jauh di belakangnya."


Sakya akhirnya diam, dia kalah telak dengan apa yang papanya ucapkan itu, akhirnya dia pun memilih tidak berdebat lagi dan mulai melanjutkan memakan buburnya itu.


"Beneran Sak, kamu akan mulai menjalin hubungan yang serius dengan wanita yang menjadi pacar kamu sekarang?" tanya Haira dengan ekpresi senang.


"Iya Ma," sahut Sakya mengangguk dengan yakin.


"Baguslah kalau gitu," sahut Haira dengan senang.


"Kita lihat saja nanti," ucap Fahar meragukan ucapannya itu.


Sakya bertekad dalam hatinya, jika mulai saat dia akan mulai serius dalam pekerjaannya dan akan serius dengan hubungannya dan Ishana.


"Iya kalian lihat saja perubahan aku nantinya, tapi ingat jangan sekali-sekali lagi kalian memiliki niat untuk menjodohkan aku lagi," peringat Sakya kepada kedua orang-tuanya itu.


"Baiklah, baiklah. Kita tidak akan ikut campur lagi selama kamu benar-benar berniat untuk berubah," sahut Haira dengan senyuman lebarnya.


Sementara Fahar serius memakan sarapannya itu, dia tidak terlalu mengindahkan apa yang anaknya itu ucapkan, karena itu bukanlah yang pertama kalinya.

__ADS_1


Semenjak masih sekolah pun anaknya itu sering mengatakan, jika dia akan berubah. Namun, hingga saat ini pria paruh baya itu belum melihat perubahan yang anaknya janjikan itu.


"Oh iya, kamu udah tidak mual lagi?" tanya Haira karena melihat anaknya itu makan dengan lahap.


"Tidak Ma, karena tadi tiba-tiba saja Sakya kepikiran ingin makan bubur, jadi minta Bibi untuk bikinin," sahut Sakya sambil terus menyuapkan makanannya yang hanya tersisa beberapa suap lagi.


"Syukurlah kalau gitu, tapi mama benar-benar heran dengan keanehan kamu ini, mama berpikir jika kamu yang seperti ini seperti orang yang lagi ngidam aja."


Baik Sakya maupun Fahar tidak terlalu menganggap celotehan dari wanita itu, mereka serius dengan makanannya, hingga ucapan Haira yang selanjutnya membuat Sakya dan Fahar tersedak.


"Kamu tidak menghamili anak orang 'kan Sakya?" tanya Haira menatap Sakya dengan serius.


Mendengar apa yang Haira tanyakan itu, Membuat Fahar menatap anaknya dengan tajam, meskipun dia tahu anaknya nakal, tapi dia tidak akan mentolerir jika Sakya menghamili anak orang dan lari dari tanggung jawab.


"Tidak Pa, Sakya tidak menghamili siapa pun." Sakya menggeleng dengan cepat, melihat ke arah papanya yang tengah menatapnya dengan tajam itu.


"Papa selalu mengatakan, jangan pernah terlalu dalam berhubungan, apalagi lari dari tanggung jawab!" tekan papanya.


"Iya Pa," sahut Sakya dengan tenang.


Meskipun orang-tuanya tahu, jika dia sering gonta-ganti pacar, tapi Sakya harap mereka tidak tahu jika dia sering melakukan tidur dengan pacar-pacarnya.


"Ya udah kalau gitu Sakya berangkat dulu ya Pa, Ma," sahut Sakya menghabiskan makanannya dan langsung bangun dari tempat duduknya.


Dia memilih langsung menghindar dari papa dan mamanya itu, tidak ingin membahas masalah yang menurutnya tidak pernah terjadi itu.


"Aku tidak mungkin membuat mantan pacar aku hamil karena aku selalu memasang pengaman tiap berhubungan," gumam Sakya.


Tiba-tiba saja, ckiiiitttt. Sakya segera mengerem mobilnya dengan mendadak ketika sekelebat ingatan hadir di kepalanya.


Dia baru ingat, jika saat berhubungan dengan Larei dia melupakan pengaman, dia menggelengkan kepalanya, berbicara pada dirinya sendiri.


"Tidak Sakya, itu juga tidak mungkin, masa baru sekali berhubungan langsung hamil, ayolah bahkan orang yang sudah menikah pun perlu waktu berapa lama dan beberapa kali berhubungan untuk bisa hamil."


Sakya kemudian manggut-manggut, dengan pendapatnya itu, dia segera menghilangkan pikiran aneh itu, lalu kembali menjalankan mobil karena pengendara di belakangnya merasa terganggu karena dia yang tiba-tiba saja berhenti itu.

__ADS_1


__ADS_2