
"Jadi apa rencanamu sekarang?"
Sakya menatap ke dua sahabatnya yang tengah memasang wajah serius itu dengan tenang. Dia memang baru saja menceritakan, tentang kehamilan Larei pada dua sahabatnya itu.
Saat ini mereka tengah berkumpul di kantor Isam, mereka memanfaatkan jam makan siang untuk berbincang-bincang.
"Yang pasti aku pasti akan tanggung jawab," sahut Sakya dengan yakin.
"Tapi apa kamu yakin, hanya dia saja yang ngalamin hal itu? Apa kamu yakin mantan-mantan kamu tidak hamil anak kamu juga?" tanya Gamya.
"Aku yakin tidak ada, aku tidak pernah melupakan pengaman saat tidur dengan mantan-mantan aku, lagian kalau emang salah satu dari mereka ada yang hamil, aku yakin mereka pasti akan mendatangi aku lagi," tutur Sakya dengan yakin.
"Baguslah kalau gitu, jangan sampai jika kamu dan Larei sampai menikah nanti ada masalah yang menjadi duri di pernikahanmu, akibat dari kesalahan di masa lalumu itu."
"Tapi apa kamu serius mau nikah sama si judes itu Sak?" timpal Isam yang dari tadi hanya diam, menyimak obrolan kedua sahabatnya itu.
"Aku serius." Angguk Sakya dengan yakin.
"Apa kamu mencintainya?"
Sakya tidak menjawab apa yang Isam pertanyakan itu, cinta … dia tahu jelas tidak ada cinta di hatinya untuk Larei.
Alasan dia mau menikah dengan Larei, semua itu murni karena dia ingin tanggung jawab untuk anaknya saja, tidak ada perasaan seperti itu di hatinya untuk Larei.
"Benar juga Sak, kamu tidak bisa menikah tanpa cinta, karena itu hanya akan nyakitin kalian juga. Dan ujung-ujungnya yang bakal jadi korbannya pasti anak kalian nantinya," timpal Gamya.
"Benar apa yang si alim katakan, jika di antara kamu dan dia tidak ada yang namanya cinta, itu pasti akan menyakiti kalian juga nantinya kalau dipaksakan."
"Untuk sekarang mungkin tidak ada cinta di antara kita, tapi aku yakin cepat atau lambat aku akan bisa membuat Larei jatuh cinta padaku," tekad Sakya.
"Kamu sendiri bagaimana?" Gamya mengerutkan keningnya, mendengar ucapan dari Sakya itu.
"Aku liat entar aja," sahut Sakya dengan enteng.
Gamya dan Isam saling bertatapan, tak lama kemudian mereka menggeleng mendengar ucapan enteng dari sahabatnya itu.
"Kalau kamu emang tidak bisa berusaha membuka hati untuk Larei, mending jangan nikahin deh Sak. Kamu bisa tanggung jawab pada anakmu, dengan memenuhi setiap kebutuhannya saja nanti." Nasehat Gamya.
"Terus aku biarin dia nikah sama laki-laki lain dan biarin anak aku manggil papa ke orang lain gitu, tidak bisa! Anakku hanya boleh manggil papa ke aku, ayah biologisnya."
"Itu namanya kamu egois, mau menikahi Larei dan mengikat dia dan anakmu, tapi kamu tidak ingin membuka hatimu!" decak Isam yang merasa untuk pertama kalinya tidak setuju dengan pemikiran Sakya itu.
__ADS_1
"Masalah membuka hati atau tidak, itu bisa dipikirin lagi nanti," sahut Sakya dengan tanpa beban.
"Aku mau balik ke kantor ya," sambung Sakya, begitu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Aku juga mau balik, waktu makan siang udah lewat," timpal Gamya yang juga ikut berdiri.
"Pergilah, aku juga masih banyak pekerjaan," usir Isam dengan melambaikan tangannya.
Sakya dan Gamya pun keluar dari ruangan Isam itu, mereka berpisah di parkiran, lalu pergi dengan mobil masing-masing ke tempat kerja mereka.
Saat di perjalanan itu, ponsel Sakya berbunyi. Itu adalah panggilan dari Ishana, beberapa hari ini dia memang tidak mengangkat telepon dari wanita itu, juga tidak membalas pesannya.
Beberapa hari ini, dia benar-benar berpikir, hingga akhirnya dia sudah membulatkan tekad untuk menikahi Larei dan memutuskan hubungan dirinya dan Ishana.
Keputusannya yang secara sepihak itu memang tidak adil untuk Ishana, karena dia sudah menjanjikan banyak hal untuk wanita itu, tapi sisi positifnya adalah, dia belum terlalu jauh berhubungan dengan wanita itu, tidak seperti mantan-mantannya yang lain.
Jadi meskipun mereka berpisah, Ishana tidak merasa terlalu rugi, karena dia tidak mungkin membiarkan anaknya lahir tanpa kehadiran dirinya sebagai ayah biologisnya.
Begitu sampai di kantor, Sakya langsung menuju ke ruangan papanya, dia ingin berbicara hal serius dengan pria yang beberapa hari ini bersikap dingin padanya itu.
"Apa Papa ada di ruangannya?" tanya Sakya pada Zaidan yang berpapasan dengannya di lorong depan ruangan papanya.
"Ada Tuan muda," sahut Zaidan dengan sopan.
"Pa, aku ingin bicara sesuatu," ucap Sakya sambil berjalan ke arah meja kerja Fahar.
Fahar tidak mengindahkannya, dia seolah mengabaikan keberadaan Sakya itu, mata dan tangannya hanya sibuk membaca dan menandatangani berkas-berkas di meja kerjanya.
"Pa, aku ingin menikahi Larei, itu semua demi anakku, aku tau kalau aku sudah sangat salah selama ini dan ingin mencoba berubah."
Fahar masih diam, melihat sikap tak acuh dari papanya itu, membuat Sakya bergerak kembali, mendekati meja Fahar.
"Sakya juga mau minta maaf pada Larei dan keluarganya, karena telah melakukan hal buruk itu."
Masih belum ada sahutan dari lawan bicaranya itu, membuat Sakya gusar dengan sikap papanya yang tidak seperti biasanya.
"Sakya juga minta maaf sama Papa dan Mama karena Sakya telah banyak melakukan kesalahan, dari dulu aku selalu bikin kalian kewalahan."
"Apa kamu yakin, hanya Larei saja yang sampai hamil anak kamu?" tanya Fahar tanpa melihat ke arahnya.
Sakya dengan cepat mengangguk, dia benar-benar yakin seratus persen, jika dia tidak memiliki calon anak lain, selain anak yang ada di kandungan Larei itu.
__ADS_1
"Aku yakin Pa."
"Apa Larei mau menikah denganmu?" Fahar menatapnya dengan serius.
"Aku akan membujuknya untuk mau menikah denganku Pa, ini demi anak kami."
Fahar melihat keseriusan dari wajah anaknya itu, hingga dia pun secara perlahan mengangguk.
"Terus bagaimana dengan pacar kamu yang sekarang?"
"Aku akan mengkhiri hubungan kami."
"Kalau gitu akhiri dulu hubunganmu dengannya, baru kamu bicarakan soal niat kamu menikahi Larei."
"Baiklah Pa." Angguk Sakya.
"Sekarang kamu kembalilah bekerja," perintah Fahar.
"Baiklah Pa," sahut Sakya dengan patuh.
Dia pun keluar dari ruangan papanya itu, menuju ke ruangannya, mengerjakan pekerjaannya dengan fokus.
Sementara itu, di ruangan Fahar, setelah Sakya keluar dari ruangannya, Fahar segera mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.
"Aku sudah menyelidiki semuanya, dan semuanya sesuai dengan yang aku harapkan, apa kamu sudah bisa mulai bicara pada Larei, agar dia mau menerima anakku."
" ...."
"Aku tunggu kabar selanjutnya darimu, aku harap Larei akhirnya akan mau menerima Sakya dan memberi dia kesempatan untuk bertanggung jawab."
" .... "
"Jika memang dia tidak setuju juga, maka aku tidak bisa berbuat apa pun lagi."
" .... "
"Baiklah, aku tunggu lagi kabar darimu."
Setelah mengatakan hal itu, Fahar pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan Aditya dan menyimpan ponselnya.
Dia menghela napas sedalam-dalamnya, berharap Larei mau menerima anaknya, selama beberapa hari ini dia sudah bekerja keras dengan mencari tahu siapa saja mantan-mantan pacar anaknya.
__ADS_1
Hal yang melelahkan menurutnya, lebih melelahkan dari mengurus sebuah kontrak pekerjaan, karena ternyata pacar anaknya, bukan hanya sepuluh atau dua puluh.
"Bagaimana bisa dia tidak bosen gonta-ganti pacar seperti itu," gumamnya dengan menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.