
Sakya dan Ishana, kini tengah duduk berdua di sebuah bangku yang ada di taman, dekat apartement Ishana.
Sakya sengaja, meminta Ishana untuk bertemu di tempat itu karena sesuai dengan niat sebelumnya, dia ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Ishana, sebelum kembali menemui Larei.
"Kamu beberapa hari ini ke mana aja, kenapa setiap aku hubungi tidak pernah dijawab." Ishana berbicara dengan menoleh pada Sakya yang duduk di sampingnya.
"Aku lagi ada masalah," sahut Sakya menatapnya sekilas, lalu kembali menatap ke depannya.
"Oh, apa sekarang belum selesai masalahnya?" tanya Ishana dengan perhatian.
"Belum teratasi, itu alasannya kenapa aku memita kita untuk bertemu di sini," sahut Sakya.
Ishana memiringkan tubuhnya, hingga menghadap pada Sakya yang tengah memasang wajah seriusnya.
"Memangnya ada apa, apa ada hubungannya denganku?" tanya Ishana.
Sakya pun ikut memiringkan tubuhnya, hingga kini mereka salih berhadapan, menatap dengan ekspresi yang berbeda.
Sakya dengan tatapan tegas dan seriusnya, sementara Ishana menatapnya dengan tatapan bingung dan tak mengerti karena dia melihat keanehan dari pria di depannya itu.
"Ada apa? Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku," ucap Ishana lagi, lalu mengambil dan menggenggam tangan Sakya.
Matanya menatap lurus pada mata hitam legam, milik pria yang baru beberapa minggu menjadi pacarnya itu.
"Aku mau kita mengakhiri hubungan kita ini."
Mendengar kata yang keluar dari mulut Sakya itu, Ishana semakin menatapnya dengan dalam, genggaman di tangannya semakin erat, wajahnya pun menjadi tegang.
Namun, tak lama kemudian, dia merubah raut wajahnya itu menjadi lebih santai, lalu terkekeh, dia beranggapan jika apa yang Sakya ucapkan itu adalah guyonan.
"Gak lucu Sakya, kita baru juga beberapa minggu jadian, masa udah putus lagi," kekeh Ishana.
__ADS_1
"Aku tidak bercanda, aku benar-benar serius," sahut Sakya dengan ringan.
Secara perlahan, genggaman di tangannya itu kian mengendur, tatapan yang sebelumnya berbinar mulai meredup. Ketika melihat tidak ada sedikit pun, ekspresi dari tatapan pria di depannya itu.
"Apa aku juga sama seperti wanita-wanita kamu sebelumnya, kamu hanya menganggap aku sebagai permainan saja, terus yang kamu katakan padaku seblumnya juga hanya sebuah kebohongan?" cerca Ishana menatapnya dengan mata yang sudah mulai berembun.
Melihat reaksi yang Ishana tunjukkan itu, membuat Sakya merasa tidak enak, berbeda dengan dia yang biasanya tidak pernah peduli, di saat mantan-mantannya merengek tidak ingin dia putuskan.
"Aku minta maaf, aku tau ini terkesan seperti aku mempermainkan perasaanmu, tapi aku punya alasan yang sangat penting sampai aku harus melupakan janji-janji aku ke kamu."
"Alasan apa? Aku butuh alasan yang benar-benar kuat dan masuk akal," ucap Ishana dengan sedikit tegas.
Dia benar-benar melepaskan genggaman tangan di antara mereka. Dia berbalik, kembali menatap ke arah depannya.
"Aku harus bertanggung jawab pada seseorang, karena dia saat ini tengah hamil anakku," terang Sakya, berusaha menghilangkan rasa tak tega yang hinggap di hatinya.
Ishana tidak bersuara lagi, dia menatap kosong ke arah depannya.
Sementara Sakya yang melihat Ishana dari samping itu, menghela napas sedalam-dalamnya, sebelum mengeluarkan lagi kata-kata selanjutnya.
Sakya mulai bangun dari bangku tempatnya duduk itu, dia bersiap untuk melangkah meninggalkan Ishana yang masih enggan untuk melihatnya.
Namun ternyata, baru saja dia melangkah satu langakah, Ishana kembali menggenggam tangannya. Dia pun mengurungkan niatnya untuk belalu pergi dari hadapan wanita yang hanya beberapa minggu, berstatus sebagai pacarnya itu.
"Kenapa kamu lakuin ini, apa salahku?" lirih Ishana menatapnya dengan tatapan terluka yang nyaris membuat Sakya goyah.
"Padahal aku sudah menganggap hubungan kita serius, aku sudah berharap banyak tentang hubungan kita."
Sakya berbalik kembali, menatap Ishana yang masih duduk di bangku dengan pipi yang sudah mulai basah oleh air mata.
"Maaf, tapi aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini, aku tidak akan mungkin membiarkan anakku lahir tanpa status yang tidak jelas," ucap Sakya dengan hati-hati melepaskan tangan Ishana.
__ADS_1
Melihat Sakya berjalan tanpa menoleh lagi, Ishana tidak tinggal diam. Dia beranjak dari tempat duduknya, mengejar pria itu. Dan ketika sudah dekat dia langsung melingkarkan tangannya di perut pria itu.
Akibat dari perbuatannya itu, Sakya pun akhirnya menghentikan langkahnya kembali, dia berusaha melepaskan belitan tangan Ishana yang menahannya.
"Aku mohon jangan lakukan ini Sak, jangan memberikan aku harapan dan pergi gitu aja, aku benar-benar tidak bisa menerima semua ini," bisik Ishana dengan tangisnya.
Dia tidak memedulikan orang-orang yang berlalu lalang akan menganggapnya aneh, dia hanya ingin berusaha mempertahankan Sakya.
Sakya melepaskan tangan Ishana, lalu berbalik dan berhadapan dengan wanita itu, dia menatap Ishana sambil memegang kedua lengannya.
"Jangan seperti ini Sha, kamu bisa cari orang yang lebih baik dari aku, di luaran sana masih banyak pria yang jauh lebih baik dari aku yang cocok untukmu."
"Apa kamu harus menikahi wanita itu?"
"Tentu saja, dia sedang hamil anakku."
"Kalau gitu, biarkan aku jadi simpananmu, kamu tetap nikahi dia dan kita jangan putus ya."
Mata Sakya terbelalak, tak percaya dengan apa yang Ishana ucapkan itu, dia tidak pernah menyangka jika wanita itu akan berpikir seperti itu.
"Tidak mungkin Sha, meskipun aku pria nakal, tapi aku tidak mungkin main-main dengan pernikahan."
Sakya tentu saja menolak dengan keras apa yang Ishana ucapkan itu, dia tidak mungkin melakukan hal itu, jika sampai itu terjadi, dia yakin keluarganya akan semakin membencinya.
"Kamu jangan berpikir macam-macam, aku tau kamu bicara seperti itu hanya karena emosi sesaat saja, aku harus segera pergi, lupakan apa yang pernah terjadi di antara kita."
Sakya kembali melepaskan Ishana dan berbalik pergi dari sana, meninggalkan Ishana dengan tatapan tajam yang disertai air mata ditujukan padanya.
"Kamu pikir aku apa, seenaknya saja kamu dekati dan ketika aku sudah menaruh hati, kamu malah pergi begitu saja tanpa beban."
"Tidak, aku tidak terima penghinaan dan rasa sakit ini, aku akan merebut kamu dari wanita itu. Semenjak kamu mengatakan, jika kamu ingin serius padaku, kamu sudah menjadi milikku dan aku akan mendapatkan kamu lagi!"
__ADS_1
Ishana menatap pergerakan Sakya yang sudah mulai memasuki mobil itu, tangannya terkepal dengan kuat, wajahnya kaku karena amarah yang ada dalam dirinya.
Dia tidak terima dengan apa yang baru saja Sakya lakukan itu, dia merasa Sakya telah mempermainkan hati dan perasaannya.