
Sakya pulang dari kantornya, dengan membawa beberapa paperback di tangannya, ketika sampai di rumah, dia langsung menuju ke kamarnya.
Larei yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan sudah mengenakan baju tidur, juga rambut yang masih setengah basah itu, mengerutkan keningnya, karena melihat tangannya yang penuh.
"Kamu bawa apa? Habis belanja?" tanya Larei yang masih berdiri di ambang pintu ruang ganti.
"Ini buat kamu, lihatlah cocok gak?" ucap Sakya menyimpan beberapa paperback itu ke ranjang.
Larei berjalan mendekati ranjang, dia menatap heran beberapa paperback beragam warna itu.
Ketika dia membuka salah satu kotak yang yang ada di dalamnya, dia menatap Sakya dengan raut tak mengertinya lagi.
"Maksudnya apa ini Sak?" tanya Larei.
"Kamu sebaiknya jangan pakai sepatu hak tinggi lagi, itu sengaja aku beli beberapa pasang sepatu tanpa hak, agar kamu lebih nyama saat berjalan," terang Sakya panjang lebar.
"Tapi–"
"Gak ada bantahan ya, Rei. Aku hanya ingin memastikan kamu dan calon anak kita aman-aman saja, semakin besar kandunganmu, maka pasti itu akan semakin membuatmu sulit untuk bergerak. Jadi aku sengaja menyiapkan ini, biar kamu merasa nyaman," sambung Sakya, memotong ucapan Larei.
Dia melayangkan tatapan tegasnya pada Larei, hingga membuat Larei pun tidak bisa untuk menolak permintaannya itu.
"Baiklah, mulai besok aku akan memakai sepatu-sepatu ini," sahut Larei dengan anggukan kepala.
"Bagus deh kalau gitu," sahut Sakya yang tersenyum senang, karena Larei mau mendengarkannya dirinya.
"Makasih ya, kamu udah beliin sepatu-sepatu ini," ucap Larei dengan tersenyum sesingkat-singkatnya.
"Oke sama-sama, aku hanya takut kamu kenapa-napa karena memakai sepatu hak tinggi milikmu itu terus," sahut Sakya sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Begitu dia memasuki kamar mandi, Larei memeriksa setiap isi paperback itu, semuanya berisi sepatu dengan hak yang hanya beberapa senti saja, bahkan ada yang tanpa hak sama sekali.
Ketika melihat ukuran sepatu itu, ternyata semuanya sama dengan ukuran sepatu yang biasa dia pakai sebelumnya.
"Apa sebelumnya dia melihat ukuran sepatu-sepatuku ya?" tanya Larei, kemudian mengangkat bahunya, lalu mulai merapikan kembali sepatu-sepatu itu dan menyimpannya ke tempat penyimpanan sepatu.
...********...
Ketika selesai makan malam, Larei dan Sakya pamit terlebih dahulu ke kamar mereka pada kedua orang-tua Sakya.
Sakya yang sudah mulai terbiasa dengan tempat tidurnya, langsung mengambil dua buah selimut untuk dijadikan alasnya tidur, juga untuk selimutnya.
Setelah selesai berbenah, pria itu pun mulai merebahkan tubuhnya, begitu pun dengan Larei yang sudah selesai memakai lotion, dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.
Dia terlentang dengan menatap lampu di langit-langit kamar itu, dengan pikirannya yang terasa kosong.
__ADS_1
"Sak kamu sejak umur berapa sih mulai suka main cewek?"
"Tumben tanya-tanya tentang aku, mau lebih dekat sama aku ya," sahut Sakya yang sengaja menggoda Larei.
"Cuma penasaran aja, apa kamu udah dari kecilnya ada bibit jadi playboy atau terjadi gitu aja," sahut Larei sambil memutar matanya.
"Aku mulai suka sama cewek kayaknya dari waktu masuk smp deh, cuma waktu itu cuma suka-sukaan biasa, dan mulai suka berpacaran dari pas masuk sma, bukannya kamu tau sendiri sejarahku di sekolah dulu."
"Siapa yang gak tau, bukannya hampir semua cewek yang seangkatan pernah merasakan jadi pacar kamu, bahkan kakak kelas dan adik kelas pun gak luput, emang dasar kadal," cebik Larei.
"Kecuali kamu dan kedua sahabatmu itu, yang tidak terpesona olehku dan sahabat-sahabatku," sahut Sakya.
"Dasar tukang tebar pesona," cebik Larei.
"Salahkan orang-tuaku, kenapa mereka mempunyai anak yang gantengnya gak ada obat kayak aku, jadi perempuan, pada berbaris minta giliran, buat jadi pacar aku," sambung Sakya dengan bangga.
"Jadi playboy kok bangga sih Sak," ucap Larei tak habis pikir.
"Aku bukan playboy Rei, perlu aku tekankan sekali lagi ya, playboy itu selalu memiliki pacar lebih dari satu, tapi dari dulu aku selalu punya pacar satu kok beneran."
Sakya kembali mendudukkan dirinya, lalu menyimpan dagu di antara tumpukan tangannya yang berada di pinggir ranjang, menatap Larei dengan serius.
Larei memiringkan tubuhnya, menatap Sakya sambil berdecih.
"Aku hanya suka gonta-ganti pacar Rei bukan playboy," ucap Sakya sekali lagi.
"Sama aja Sakya."
"Bedalah Rei, aku selalu putusin dulu pacar aku sebelumnya, baru jadian lagi, itu gak bisa disebut playboy dong," sanggah Sakya.
"Terserah."
Larei yang malas berdebat lagi pun akhirnya kembali memutar tubuhnya, hingga membelakangi Sakya.
"Tapi Rei, saat sma aku benar-benar gak pernah berhubungan itu sama mantan-mantan aku," ucap Sakya.
"Aku gak mau tau tentang itu," sahut Larei dengan malas.
"Gak pa-pa kalau kamu gak mau tau juga, aku cuma mau cerita aja. Aku gak mau ada yang ditutupi-tutupi dari kamu, aku ingin kamu tau tentang aku semuanya."
Larei tidak menyahutinya, dia hanya diam sambil memejamkan mata, menganggap Sakya sebagai orang yang tengah mendongeng pengantar tidur.
"Dulu waktu sma, aku pacaran secara sehat hanya pegangan tangan, ngedate ke tempat romantis, meskipun aku pacaran gak pernah lama, hingga akhirnya saat kuliah, kalau gak sudah mau semester dua. Aku kenal sama wanita yang bukan asli orang Indonesia, dia orang argentina yang satu kampus denganku, dia seniorku."
"Dia juga pacar yang terlama aku, dalam sejarah kisah percintaanku, dia juga yang mengajarkan aku begitu banyak hal, termasuk hal-hal yang salah."
__ADS_1
Semakin lama nada bicara Sakya berubah menjadi pelan, seolah sedih mengingat masa lalunya, hingga membuat Larei mengerutkan keningnya dengan heran.
Tiba-tiba saja, dalam benak Larei hadir sebuah pemikiran, jika Sakya sepertinya masih memiliki rasa pada mantan yang dia ceritakan itu.
Sakya menatap punggung Larei yang masih membelakanginya dengan intens, tak lama kemudian seutas senyum.
"Rei kamu tau gak? Sebenarnya waktu itu aku benar-benar gak berniat buat ngelakuin hal itu ke kamu, sumpah!" Sakya langsung mengalih topik ke arah lain.
Mendengar hal itu, Larei kembali membalikkan badannya, lalu menatapnya dengan tajam.
"Terus, kenapa kamu malah ngelakuin hal itu hah. Kalau gak niat!" delik Larei.
"Santai Rei, jangan emosi dulu." Sakya terkekeh melihat wajah Larei yang sudah berubah memasang ekspresi galak itu.
"Sebenarnya targetku waktu itu adalah Ishana," terang Sakya.
"Ishana, mantan kamu yang selalu neleponin kamu itu?" tanya Larei.
"Iya, sebenarnya waktu itu udah beberapa hari aku selalu lihat dia keluar masuk hotel aku, karena merasa tertarik aku pun berencan untuk melakukan hal yang ekstrim untuk mendekatinya, tapi karena baju kalian sama aku tidak sadar kalau aku salah orang," cerita Sakya sambil terkekeh.
"Kamu benar-benar gila Sak, hanya demi untuk puasin nafsu kamu melakukan hal segila itu," ketus Larei.
"Iya aku tau aku salah, tapi sekarang aku benar-benar mau berubah kok Rei. Kamu mau gak bantu aku buat berubah, demi kamu demi calon anak kita," ucap Sakya dengan serius.
"Udah malam, aku juga ngantuk mau tidur." Larei kembali berbalik dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Sakya tersenyum kecut, melihat Larei yang secara terang-terangan menghindar darinya.
"Baiklah selamat istirahat," ucap Sakya yang kemudian kembali membaringkan tubuhnya di tempatnya semula.
Dia mematikan lamu kamar itu, menggantinya dengan lampu tidur yang berada di tiap sisi samping ranjang.
Sementara itu Larei, menatap kosong lamu yang temaram itu.
Aku gak tau, apakah aku bisa terus bersamamu hingga nanti Sak, semuanya terlalu mendadak untukku, aku belum benar-benar bisa menentukan apa yang hatiku inginkan nantinya. Batin Larei.
...----------------...
Buat yang gak suka sama Larei yang terkasan tidak mau menerima Sakya, sabar ya, semuanya butuh proses.
Gak mungkin dong, Larei tiba-tiba menyukai Sakya, sementara sebelumnya Larei membenci sikap Sakya di masa lalu.
Dan untuk Sakya, dia juga sedang dalam masa merubah dirinya, menghilangkan kesan buruk yang melekat pada dirinya.
Selamat membaca semuanya, terima kasih buat yang sudah dengan sukarela memberikan dukungannya💐
__ADS_1