Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Menghindar


__ADS_3

Saat ini masih sama seperti pagi pada umumnya, dimana Larei beserta kedua orang-tua Sakya tengah duduk menyantap sarapan.


Hanya saja pagi ini tidak banyak kata yang keluar dari mulut Larei, setelah dia menyapa kedua mertuanya, wanita hamil itu mulai menyibukkan dirinya dengan makanan di depannya.


Di tengah-tengah keheningan yang terjadi di meja makan, suara langkah kaki yang mendekati meja makan, membuat atensi mereka teralihkan pada asal suara.


"Pagi Ma, Pa, Rei."


Sakya berdiri dengan tubuh kakunya di ambang pintu, menatap anggota keluarganya satu persatu.


Penampilannya jauh dari kata baik-baik saja, rambut yang masih berantakan, juga pakaian yang dikenakannya nampak lecek, benar-benar tidak enak dipandang.


"Pergilah bersih-bersih dan kembali lagi untuk sarapan," ucap Fahar yang hanya melihatnya sekilas dan kembali menyibukkan dirinya dengan sarapannya lagi.


"Baiklah Pa," sahut Sakya mengangguk dengan patuh.


Setelah Sakya berbalik pergi, Larei segera menyelesaikan sarapannya, dia kemudian meminum susu yang sudah tersedia di sana, lalu tersenyum pada kedua mertuanya.


"Ma, Pa, Larei pinjem sopirnya bentar ya, buat anterin aku ke butik," ucap Larei ketika menghabiskan makanannya.


"Iya, kebetulan sekarang sopir yang biasa nganterin Mama tidak akan ke mana-mana, karena Mama tidak akan pergi. Kamu minta dia buat anterin kamu aja," sahut Haira tersenyum.


"Makasih Ma, kalau gitu aku langsung berangkat ya Pa, Ma. Ada yang harus segera aku kerjakan," pamit Larei, sambil berdiri dan mengambil tasnya.


"Iya Nak, kalau ada apa-apa hubungi kita ya."


"Iya Ma," Sahut Larei tersenyum pada Haira, lalu pada Fahar.


Setelah itu Larei pun pergi dari sana meninggalkan kedua mertuanya yang masih belum menyelesaikan sarapannya.


Tak lama kemudian, Sakya datang kembali dengan pakaian yang sudah ganti. Penampilannya jauh lebih baik dari sebelumnya.


Namun ketika mendudukkan dirinya di samping kursi yang sebelumnya Larei tempati, dia celingukan mencari keberadaan istrinya itu.


"Dia sudah berangkat ke butik," ucap Haira tanpa melihat ke arahnya.


"Belum lama 'kan, aku susul aja kalau gitu," sahutnya yang langsung bangun lagi.


"Tidak perlu, cepat sarapan dan langsung berangkat ke kantor, banyak hal yang harus kamu kerjakan di sana," timpal Fahar membuat niatnya urung.


Melihat ke dua orang-tuanya yang terlihat tidak bersahabat, Sakya pun memilih menurut, dengan duduk dengan tenang dan hanya minum susu.

__ADS_1


Apa yang terjadi semalam juga kejadian tadi pagi sudah membuatnya dilanda pusing. Belum lagi orang-tua dan istrinya yang seolah enggan berbicara dengannya, semakin membuat dia tidak bisa berkutik.


******


Siang harinya, Sakya sengaja mengirimkan makanan kesukaan istrinya dari restaurant yang biasa istrinya itu pesan.


Setelah sebelumnya beberapa kali dia mengirim pesan, berupa ucapan selamat bekerja dan sebagainya, tapi tidak mendapat balasan.


"Gimana cara membujuk wanita yang marah," ucap Sakya sambil menatap ponselnya.


Ini pertama kalinya dia dihadapkan oleh wanita yang marah, dan dia yakin istrinya bukan tipe orang yang mudah dibujuk dengan tas berended atau baju mewah, juga diajak makan di restoran mewah seperti mantan-mantannya dulu.


"Nanti aku jemput aja pulangnya," gumamnya lagi sambil manggut-manggut.


Kemudian dia kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaannya yang cukup menumpuk itu, agar bisa selesai lebih awal.


******


Sakya menjalankan mobilnya, menuju ke butik Larei. Pria itu sempat mengirimkan pesan, jika dia akan menjemput istrinya untuk pulang bersama.


Selama diperjalanan hanya ada keheningan yang menemani perjalanannya itu, hingga akhirnya mobil yang dijalankannya itu, sampai di tempat tujuannya.


"Di mana istriku?" tanyanya pada Anjani yang langsung menghentikan langkahnya, dengan jarak yang tidak jauh darinya.


"Non Larei sudah pergi beberapa menit yang lalu Tuan," jawab Anjani.


"Pergi," cicit Sakya heran. "Menggunakan apa? Apa dia pergi dengan taksi atau ada yang menjemputnya?" tanyanya dengan beruntun.


"Non Larei pergi dengan mobilnya, tadi siang ada yang mengantarkan mobilnya ke sini," sahut Anjani apa adanya.


"Apa dia mengatakan sesuatu sebelumnya?"


"Tidak." Geleng Anjani dengan tatapan heran yang dia layangkan pada suami dari atasannya itu.


Akhirnya Sakya pun langsung berbalik dan pergi dari sana, tanpa mengatakan apa pun lagi pada Anjani.


Dia menaiki mobilnya dan menjalankan kendaraan beroda empat itu menuju ke rumahnya, dia yakin jika Larei saat ini sengaja menghindarinya.


"Dia benar-benar marah kayaknya ... padahal baru saja hubunganku dan dia menjadi lebih baik."


"Tapu sekarang, muncul lagi masalah ini, semua ini gara-gara Ishana, seandainya saja kemarin dia tidak meminta hal itu. Aku harap dia tidak mencari masalah lagi untuk ke depannya."

__ADS_1


Sakya terus bergumam selama di perjalanan itu, sampai mobilnya telah sampai di depan rumahnya.


Katika turun dari mobil, dia melihat mobil Larei yang sebelumnya ada di rumah mertuanya, terparkir dengan apik di garasi rumahnya yang masih terbuka.


"Jadi dia benar-benar menyetir sendiri," gumamnya sambil berjalan memasuki rumah.


Ketika memasuki rumah, dia tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaan Larei, dia pun yakin jika istrinya itu, pasti berada di kamar saat ini.


Akhirnya tanpa menunggu lama, dia pun berjalan ke kamarnya, dan benar saja ketika memasuki kamar dia melihat istrinya yang baru keluar dari ruang ganti dengan setelan rumahan.


Wanita itu hanya meliriknya sekilas, lalu berjalan dan mendudukkan dirinya di kursi yang berada di depan meja rias.


Dia menggerakkan tangannya, mengeringkan rambut yang basah dengan handuk kecil, tatapannya lurus pada bayangan dirinya di cermin.


"Maaf karena kemarin aku tidak jadi mengantarmu untuk cek kandungan," ucap Sakya ketika sudah berdiri di belakang Larei dengan nada menyesal.


Larei tidak menggubrisnya, dia hanya fokus pada kegiatannya itu. Tanpa melirik ke arah suaminya yang berada di belakangnya sama sekali.


"Maaf juga karena semalam aku tidak pulang, aku–"


"Aku tidak peduli kamu mau ke mana kemarin dan melakukan apa," potong Larei yang sudah mulai bayangan Sakya melalui kaca di depannya.


Sakya menatap Larei dengan dalam, melihat bagaimana wanita itu yang kembali ke sikap sebelumnya, dingin dan datar.


Sakya terus menatap Larei, hingga saat wanita itu mulai berdiri dan berbalik, dia masih menatap wajah yang tanpa ekspresi itu.


"Cuma aku ingatkan satu hal, jangan pernah berjanji jika kamu tidak bisa untuk menepatinya," tekan Larei, lalu berbalik akan pergi.


"Aku benar-benar minta maaf, kemarin ada hal yang harus aku kerjakan jadi aku tidak menepati janji untuk menemanimu."


Mendengar apa yang Sakya ucapkan itu, Larei menarik tangannya dengan kasar, dia kemudian menatap Sakya dengan tatapan mengejek.


"Ada hal yang harus kamu kerjakan, heh!"


Larei tersenyum miring, seolah tahu jika Sakya tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia kemudian pergi ke kamar mandi, menyimpan handuk kecil yang diapakainya untuk mengeringkan rambut, ke tempatnya semula.


Setelah itu, kembali berjalan keluar dan melewati Sakya yang masih tidak bergerak di tempatnya, hanya menatap kosong punggung Larei yang semakin menghilang.


Larei benar-benar meninggalkan Sakya tanpa sepatah kata pun lagi yang keluar dari mulutnya, dia memang sengaja menghindari pria itu, saat ini rasanya enggan untuk berhadapan dengan Sakya terlalu lama.


"Apa dia tau sesuatu? Kenapa sikapnya aneh?" tanya Sakya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2