Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Rasa yang Aneh


__ADS_3

Larei yang sudah siap, segera turun dan menyusul Sakya di meja makan. Dia duduk di samping suaminya yang tengah memainkan ponselnya.


Ketika dia duduk, Sakya segera menghentikan aktivitasnya dan menyimpan ponselnya itu ke meja makan, dia kemudian mengalihkan perhatian padanya.


"Kenapa?" tanya Larei karena Sakya hanya menatapnya dengan bibir yang melengkung ke atas.


"Kamu cantik," sahut Sakya.


Bukannya senang, tapi Larei malah memutar mata mendengar ucapannya itu.


"Simpan pujianmu itu, sekarang sebaiknya kamu sarapan. Nanti telat ke kantornya," ucap Larei yang mulai mengambil makanan ke dalam piring.


"Tapi itu beneran, Rei." Sakya berusaha meyakinkan, jika apa yang diucapkannya itu adalah sebuah kebenaran.


Baginya Larei memang terlihat cantik dengan dress polos, tanpa lengan berwarna navi yang dipadukan dengan blazer berwarna putih gading, riasan wajah yang sederhana juga rambutnya yang diikat dan hanya menyisakan beberapa helai di kiri dan kanan.


Menurutnya wanita dengan perut yang sudah buncit itu terlihat tampak cantik, apalagi kini pipi Larei terlihat lebih berisi dari sebelumnya, membuat dia merasa ingin mencubit pipi itu dengan gemas.


"Ya, ya." Larei hanya menimpalinya tanpa minat.


Dia memfokuskan dirinya pada makanan di depannya, sementara Sakya yang hanya mendapat respon cuek dari Larei mulai mengambil makanannya.


Mereka memakan sarapan mereka dengan hening, hanya ada suara dentingan sendok, garpu dan piring yang menjadi pengisi suasana sarapan itu.


Beberapa saat kemudian, pasangan suami-istri itu telah selesai dengan sarapannya, Sakya segera meminum air putih hingga tandas, begitu pun dengan Larei.


"Kamu belum minum susu?" tanya Sakya yang tidak melihat Larei meminum susu.


"Tidak, kenapa?"


"Tunggu aku buatin dulu," ucap Sakya yang langsung berdiri dari kursinya.


"Gak usah, Sak. Nanti aja, sebaiknya kita berangkat sekarang," ucap Larei menahan Sakya.


"Masih banyak waktu, Rei. Kamu harus banyak minum susu, agar nutrisi kamu dan anak kita terpenuhi," ucap Sakya yang langsung berjalan ke arah dapur.


"Tapi–"

__ADS_1


"Tidak akan memakan waktu lama kok," ucap Sakya sambil terus berjalan ke dapur.


Larei melihat pria itu mengambil susu dari lemari penyimpanan, Sakya bahkan menolak saat salah satu Art yang berada di dapur menawarkan diri untuk membuatkan susu untuknya.


Tak membutuhkan waktu lama, Sakya kembali berjalan mendekati meja makan. Dia memberikan segelas susu yang dibuatnya pada Larei.


"Ini, segeralah minum," ucapnya.


Larei pun mengambil alih gelas berisi cairan berwarna putih itu dan langsung meminumnya, karena Sakya menyeduh susunya dengan setengah air panas dan setengah air dingin, hingga dia bisa langsung menghabiskan susu itu.


"Udah," ucap Larei menyimpan gelas yang telah kosong itu ke meja makan.


"Aku mau berangkat sekarang," ucap Larei yang langsung berdiri dan baru saja akan mengambil tasnya.


"Tunggu!" Tahan Sakya, membuat Larei menatapnya penuh tanya.


Sakya tidak mengatakan apa pun, dia hanya mengangkat tangannya dan menggunakan ibu jarinya untuk mengelap bibir Larei yang terdapat bekas susu.


"Udah, ayo berangkat." Sakya menarik tangan Larei dengan lembut, sebelah tangan lainnya mengambil tasnya yang di simpan di kursi kosong.


Larei hanya diam, mengikuti langgkah Sakya yang membawanya keluar dari rumah itu, genggaman tangannya pada tas yang ada ditangan lainnya semakin mengerat.


Pikirannya terasa kosong, hingga dia tidak menyadari jika saat ini mereka teleh berhenti di teras rumah dan genggaman tangan Sakya sudah terlepas.


"Aku anterin aja ya, ke butiknya," tawar Sakya yang sudah kembali menatapnya.


Larei yang sudah tersadar, dari keterpakuannya, menatap Sakya tanpa berkedip. Tak lama kemudian dia pun menggeleng, menolak tawaran itu.


"Tidak perlu, aku bawa mobil aja. Nanti aku akan bertemu dengan klien di luar, jadi akan lebih gampang kalau bawa mobil sendiri."


Sakya mengangguk paham dengan ucapannya itu, dia pun tidak memaksa lagi untuk mengantarkan Larei.


"Baiklah, kalau gitu. Hati-hati ya, jangan terlalu memaksakan kerjanya, jika capek istirahat saja," ucap Sakya menatapnya dengan intens.


Larei hanya menjawabnya dengan anggukan, dia menatap mata Sakya dengan dalam, ada rasa aneh yang menyusup ke hatinya melihat mata Sakya yang tengah menatapnya itu, juga menatap senyuman pria itu yang tidak pudar dari tadi.


Secara perlahan kedua tangan Sakya menyentuh pipinya dengan lembut, mata mereka masih saling terpaku satu sama lain.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, Sakya mendaratkan sebuah kecupan hangat nan lembut di keningnya, hingga tanpa sadar dia terpejam menikmati kehangatan bibir Sakya ketika menyentuh keningnya.


"Aku berangkat duluan," ucapnya setelah mengakhiri kecupan di kening Larei.


Lagi dan lagi, Larei hanya menjawabnya dengan anggukan. Bibirnya terasa berat untuk berucap, mendapat perlakuan seperti itu dari Sakya, membuat dia tidak tahu harus bagaimana.


Dia yang memang belum pernah, merasakan apa yang namanya pacaran, tidak tahu harus bersikap seperti apa mendapat perlakuan seperti itu dari seorang pria.


Secara perlahan, dia mulai menyadarkan dirinya untuk kembali ke kenyataan. Dia kemudian menghela napas sedalam-dalamnya, lalu mengusap dadanya secara perlahan.


"Ada apa denganku?" tanyanya karena merasa ada yang aneh pada dirinya.


Dia menatap, ke arah gerbang. Mobil suaminya baru saja melewati gerbang itu, dia kemudian memasuki garasi dan mulai memasuki mobilnya.


Dia tidak langsung menjalankan mobilnya itu, tapi membiarkan mobil itu menyala dengan posisinya yang sudah duduk di balik setir.


Sambil menunggu mobilnya panas, dia kembali melamun memikirkan apa yang Sakya lakukan beberapa saat lalu, saat di kamar, juga ketika di teras.


Bayangan dirinya yang juga merasa nyaman memeluk pria itu dalam keadaan tidur, juga keinginannya untuk menyentuh permukaan kulit Sakya yang terekspos setelah pria itu mandi, benar-benar membuat dirinya tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya.


"Benar-benar aneh, apa yang salah denganku?"


Larei menggeleng, mengenyahkan pikiran-pikiran aneh, serta perasaan aneh yang ada dalam dirinya itu. Karena tidak ingin terus memikirkan hal yang tidak penting, wanita hamil itu punq mulai menjalankan mobilnya.


Membunyikan klakson mobil, ketika melewati security yang tengah berdiri di samping gerbang yang terbuka lebar.


Mobilnya melesat, membelah jalanan yang cukup padat karena saat ini waktu untuk orang-orang berangkat bekerja, sekolah juga melakukan perjalanan lainnya, jadi wajar saja jika jalanan begitu padat.


Ketika dia telah sampai di butiknya, dia pun turun dari mobil, tidak lupa juga membawa beberapa barangnya juga tas yang disimpan di kursi penumpang di sampingnya.


Ketika akan memasuki butik, dia berpapasan dengan Anjani yang baru saja dari suatu tempat dengan sebuah kantong bergambar khas di tangannya.


"Kamu dari mana, An?" tanya Larei sambil menghentikan sejenak langkahnya.


"Saya baru beli sarapan dari restoran depan, Non. Tadi di rumah gak sempat sarapan." Anjani mengangkat kantong yang dibawanya itu.


"Oh." Larei mengangguk, dia pun kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Bagitu pun dengan Anjani, mengikuti Larei dengan berjalan di belakangnya. Mereka berdua menuju ke tempat mereka masing-masing.


__ADS_2