
"Untuk apa kamu datang ke rumahku? Bukankah dulu aku sudah bilang, jangan menemui atau menghubungi aku lagi!"
Sakya menatap wanita di depannya itu dengan tajam, terlihat jelas jika dia tidak berharap akan bertemu lagi dengan wanita yang sudah beberapa waktu menghilang itu.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, aku rasa kamu perlu tau akan hal itu."
"Hal apa? Cepatlah! Jangan berbelit-belit aku tidak memiliki waktu luang yang banyak."
Tanpa menjawab ucapan Sakya itu, wanita yang tidak lain adalah Ishana itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia kemudian menyodorkan sebuah kertas ke meja yang menjadi pembatas mereka.
"Lihatlah sendiri," ucap Ishana sambil menyeruput minuman di depannya.
Matanya terus fokus, memperhatikan gerak-gerik Sakya yang masih menatapnya dengan tatapan permusuhan.
Tangan Sakya bergerak dengan enggan, mengambil apa yang Ishana sodorkan itu. Matanya terbuka dengan lebar saat melihat gambar dari kertas itu.
"Dia berusia tiga bulan lebih dan keadaannya sangat sehat," ucap Ishana sambil mengusap perutnya, tidak lupa juga senyuman yang tersungging di bibirnya.
Mata Sakya semakin menyorot Ishana dengan tajam, dia meremas sebuah foto USG beserta catatan tentang kehamilan yang Ishana berikan itu, hingga kedua kertas itu menjadi kusut.
Dia kemudian memejamkan matanya sejenak, lalu menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan. Berusaha meredam emosi yang hadir dalam dirinya dan berusaha untuk tetap tenang.
"Untuk apa kamu mengatakan semua ini padaku?"
"Aku hanya merasa kamu perlu tau tentangnya, dia juga anakmu sama seperti anak yang saat ini tengah dikandung istrimu," sahut Ishana dengan tenang.
Dia tidak memedulikan tatapan Sakya yang seolah ingin menelannya hidup-hidup itu, dengan bibir yang masih tersungging dia mengusap perutnya yang rata seolah menekankan pada Sakya, jika di sana ada anaknya.
...********...
"Sakya!"
__ADS_1
Sebuah panggilan lembut itu, membuat lamunan Sakya buyar. Dia kemudian menatap wanita dengan perut besar di sampingnya yang tengah menatapnya dengan heran.
"Kenapa dari tadi, kamu terus melamun?" tanya Larei.
Sakya tersenyum, lalu kemudian menggelengkan kepalanya. Dia menarik Larei ke dalam pelukannya dan memberikan beberapa kecupan di pucuk kepalanya.
"Tidak apa-apa, hanya masalah kerjaan," sahut Sakya berusaha tenang.
Larei berdecak, kemudian mendongak dan menatap Sakya dengan bibir mengerucut.
"Bisakah kalau hari libur gini, jangan memikirkan masalah pekerjaan," rajuk Larei.
"Iya, iya maaf. Aku tidak akan memikirkannya lagi, sekarang aku hanya akan fokus padamu saja," ucap Sakya sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda wanita yang kini tengah hamil tua itu.
"Memang harusnya seperti itu."
Larei melingkarkan tangannya di pinggang Sakya, dia kemudian kembali melihat film yang saat ini tengah ditonton mereka.
Namun, pertemuannya dengan Ishana kemarin, membuat dia terus kepikiran, kini tengah terjadi pergolakan dalam batinnya, tentang kehidupan yang dijalaninya.
Kemarin ketika dia baru saja pulang dari kantor, dia melihat Ishana yang tengah berdiri di depan gerbang rumahnya. Dia memaksa untuk berbicara dengannya, hingga akhirnya dia pun mengikuti keinginannya karena tidak ingin wanita itu membuat keributan.
Entah bagaimana wanita itu bisa tahu alamat rumahnya, tapi yang pasti dia mendatangi rumahnya, karena dia tidak bisa masuk lagi ke prusahaan untuk menemuinya, setelah kejadian terakhir itu.
Memikirkan tentang pertemuan kemarin, dia memejamkan matanya sejenak, lalu menatik napas dengan perlahan, berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya.
"Bagaimana dengan nama anak kita? Apa kamu sudah menyiapkannya?" tanya Larei kembali mendongakkan kepalanya.
"Aku masih memikirkannya, ada beberapa nama yang menurutku cocok."
Larei kembali mengangguk, kemudian dia kembali mengalihkan perhatiannya pada layar datar di depann.
__ADS_1
Semantara tangan Sakya tengah bergerak, mengusap kepala Larei, dia menatap wajah fokus istrinya yang masih bersandar di dadanya.
"Rei, bisakah kamu percaya padaku, meski apa pun yang terjadi nanti?"
Larei yang semula tengah asyik dengan posisinya, segera merubah posisi tubuhnya. Dia duduk dengan tegak lalu menatap Sakya dengan kening mengerut.
"Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan hal itu?" tanya Larei dengan wajah serius.
"Aku hanya bertanya saja," sahut Sakya berusaha tenang.
"Yakin, tidak ada yang sedang kamu sembunyikan?"
Larei menatapnya dengan curiga, membuat pria itu menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha meyakinkan Larei.
Saat ini Sakya tengah menikmati masa-masa bahagia dengan pernikahan mereka, dia tidak ingin karena masalah Ishana yang tiba-tiba datang dan mengatakan jika dia tengah hamil anaknya itu, membuat hubungan dia dan Larei kembali hancur lagi.
"Yakinlah, aku hanya asal bicara saja, sudahlah jangan dipikirkan. Oh iya bukannya Mami akan ke sini hari ini?"
Sakya kembali menarik Larei ke dalam pelukan dan sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Larei tidak bertanya banyak hal lagi dan semakin mencurigainya.
"Iya, paling nanti pas makan siang." Angguk Larei yang sudah teralihkan.
"Apa ada hal yang penting yang ingin Mami sampaikan?" tanya Sakya.
"Tidak ada, katanya kemarin Mami jalan-jalan ke mall dan dia nemu beberapa peralatan bayi yang bagus, jadi dia membelinya."
"Oh, takutnya ada hal serius."
"Tidak ada yang serius."
Sakya pun mengangguk sebagai respon, dia kemudian kembali menatap layar televisi, berusaha mengenyahkan bayangan tentang pertemuan dia dan Ishana kemarin, meskipun sulit karena bayangan itu terus mengganggunya.
__ADS_1
...----------------...