
"Setelah ini kita mau ke mana lagi?" tanya Ishana begitu mereka keluar dari cafe.
"Aku masih ada pekerjaan, jadi harus balik ke kantor," ucap Sakya berusaha melepaskan tangannya yang digandeng oleh Ishana.
"Ya, padahal aku mau minta ditemani jalan-jalan lagi," ucap Ishana masih menempel pada Sakya dengan manja.
Sementara Sakya, berusaha sekuat tenaga menahan napasnya, terlalu dekat seperti ini dengan Ishana, rasa mual itu kembali hadir.
"Lain kali aja ya, aku hari ini benar-benar harus kembali ke kantor," ucap Sakya berusaha bersikap biasa saja, meskipun dia benar-benar merasa mual.
Sakya menuntun Ishana untuk masuk ke mobilnya, dia pun memutari mobil itu dan duduk di balik setir, lalu memakai sabuk pengaman.
"Baiklah, oh iya katanya kamu mau main ke apartement aku, jadi kapan?" tanya Ishana menatapnya dengan tatapan menggoda.
Bagaikan kucing yang melihat ikan segar di depannya itu, Sakya tersenyum miring mendengar ucapan yang berupa ajakan itu.
"Sayangnya sekarang aku masih benar-benar sibuk, Papa aku minta aku buat fokus dulu pada kerjaan di kantor, tapi kamu tenang aja kalau aku udah senggang, aku pasti akan main ke sana," ucap Sakya dengan mengedipkan matanya genit.
"Baiklah, aku harap waktu itu akan segera tiba," ucap Ishana dengan nada menggoda.
Mereka saling menatap dan tersenyum, tanpa terasa jarak antara mereka semakin menipis, bahkan wajahnya mereka nyaris menempel.
Saat Ishana mulai memejamkan mata, siap menerima ci*man dari Sakya, tiba-tiba saja Sakya menghentikan gerakannya dan langsung membungkam mulutnya dengan tangan.
Rasa mual itu kian menjadi, dia pun segera menjauhkan tubuhnya dari Ishana duduk dengan tegak di kursinya, lalu mengatur napasnya agar rasa mual itu hilang lagi.
"Kenapa?" tanya Ishana dengan wajah tak suka karena melihat tingkah Sakya itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit mual saja," ucap Sakya sambil menggeleng yang tanpa sadar, dengan ucapannya itu.
Wajah Ishana semakin masam, mendengar hal itu, dia kemudian membuang wajahnya ke samping.
"Eh, maksud aku bukan gitu, sepertinya aku kurang enak badan jadi sedikit mual, mungkin asam lambungku lagi naik," terang Sakya.
"Oh ya udah, jalankan mobilnya bukannya kamu harus kerja lagi," ucap Ishana dengan malas.
"Iya." Sakya pun mulai menjalankan mobilnya.
Selama di perjalanan tidak ada lagi yang membuka suaranya, Sakya sesekali melirik wanita di sampingnya itu, dia tahu jika wanita itu pasti tersinggung karena apa yang dikatakannya tadi.
Sesuai dengan rencananya tadi, Sakya mengantarkan Ishana ke apartement wanita itu, begitu sampai di depan lobby gedung apartement Isyana, Sakya pun menghentikan mobilnya.
"Maaf untuk yang barusan aku benar-benar tidak bermaksud menyinggungmu," ucap Sakya, menahan Ishana yang akan turun dari mobilnya.
"Iya tidak apa-apa, maaf tadi aku hanya sedikit kurang nyaman saja dengan sikapmu," sahut Ishana menatap Sakya dan menggenggam tangan pria itu yang menahannya.
__ADS_1
"Kamu tidak salah kok, ya udah kalau gitu kamu turunlah, dan untuk jalan-jalan, sekarang kamu jalan-jalan sendiri tidak apa-apa 'kan? Biar nanti aku transfer uang buat kamu pakai jalan-jalan." Sakya memasang senyum terbaiknya untuk memikat wanita itu.
Ishana tersenyum malu-malu karena hal itu, dia kemudian mengagguk samar dengan kepala tertunduk, membuat Sakya gemas.
"Ya udah kalau gitu aku turun duluan ya, sampai ketemu lagi," pamit Ishana.
"Oke, nanti aku kasih kabar kalau aku ada waktu luang lagi, lalu akan kita jalan-jalan," ucap Sakya.
"Iya,' sahut Ishana mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu dia pun turun dari mobil milik Sakya itu, dia melambaikan tangannya dengan memasang senyum lebarnya pada Sakya yang mulai menjalankan kembali mobilnya.
Sakya menjalankan kendaraan beroda empat miliknya itu untuk kembali ke kantornya, dia bersiul dengan senyum yang terus tersungging di bibir yang pandai merayu itu.
Namun, beberapa saat kemudian senyumnya itu tiba-tiba saja lenyap, ketika ingat kejadian di mobilnya tadi, bagaimana dia tiba-tiba saja merasa mual ketika dia hendak mencium Ishana.
"Pasti semua ini gara-gara aku ketemu sama wanita bar-bar itu, jadi aku bisa bersikap aneh seperti itu," decak Sakya mengingat tentang Larei yang tadi dilihatnya.
Tidak lama kemudian, mobilnya itu sampai di pelataran sebuah perusahaan yang bernama Wist grup, perusahaan terbesar di negara itu.
Perusahaan yang bergerak di bidang real estate itu cukup sukses, bahkan kini sudah membangun lebih dari sepuluh cabang yang ada di beberapa kota bahkan sampai di luar negeri.
Sakya berjalan dengan langkah ringannya, menuju ke ruangannya, dia sesekali mengangguk ketika bertemu dengan karyawan yang menyapanya.
Baru saja Sakya akan memasuki ruangannya itu, Dendra pria yang menjadi asisten sekaligus sekertarisnya, mendatanginya hingga dia pun menghentikan langkahnya.
"Baiklah, ayo kita langsung ke sana," sahut Sakya kembali berbalik badan dan kembali melangkah.
Dendra pun mengangguk patuh dan mengikuti langkah Sakya untuk pergi ke ruang meeting yang berada di lantai lain.
Begitu mereka memasuki ruangan itu, Sakya kembali menahan napasnya ketika hidungnya menciun aroma parfum yang begitu menyengat.
Berbagai aroma parfum membuat perutnya kembali terasa dikocok, hingga rasanya dia ingin berbalik dan pergi dari ruangan itu, tapi begitu tatapannya beradu dengan papanya, dia pun terpaksa menghentikan langkahnya.
Akhirnya dengan berat hati, dia pun melanjutkan langkahnya dan duduk di kursi yang kosong, tepat di samping papanya yang duduk di kursi pemimpin.
"Baiklah, sekarang sebaiknya kita mulai rapatnya," ucap seorang pria berusia 53 tahun dengan suara tegas dan berwibawanya.
Fahar Wistara adalah papanya Sakya, pria yang masih terlihat gagah dan sangat berwibawa di umurnya yang sudah cukup matang itu.
Sakya yang merasa tidak kuat dengan aroma yang menyengat itu, segera mengeluarkan sapu tangan yang berada di sakunya, dia menggunakan itu untuk menutupi hidungnya.
Anehnya parfum yang terasa menyengat dan mengganggu indera penciumannya itu, adalah parfum wanita, dia tidak merasa semual itu ketika mencium aroma parfum pria.
"Maaf, saya lagi kurang sehat jadi hidung saya agak bermasalah, saya lupa memakai masker," ucap Sakya karena melihat tatapan aneh dari orang-orang yang ada di sana, termasuk papanya.
__ADS_1
"Baiklah, lanjutkan lagi," perintah Fahar karena mereka berhenti telah beberapa saat.
Sakya kini sudah lebih baik, karena mencium aroma parfum dari sapu tangan miliknya itu, dapat menyamarkan aroma dari parfum yang lainnya.
Setelah satu jam kemudian, rapat pun selesai, Fahar meminta setiap orang yang ada di sana untuk bubar meninggalkan ruangan itu dengan tertib.
Kini hanya tersisa Sakya dan papanya beserta Zaidan asisten papanya dan Dendra yang masih duduk di samping mereka.
"Apa yang terjadi padamu, bukankah tadi kamu baik-baik saja," ucap Fahar menatapnya dengan heran.
"Aku baik-baik saja Pa, hanya hidungku saja yang sedikit bermasalah," sahut Sakya dengan santai.
"Terus barusan kamu dari mana, bukannya Papa sudah mengatakan jika kita akan rapat, kenapa kamu bisa telat," ucap Fahar dengan suara lebih tegas.
"Maaf Pa, aku habis makan siang di luar," sahut Sakya menatap papanya dengan menyesal.
"Makan siang, atau bertemu dengan wanita-wanita kamu lagi," sindir Fahar.
"Aku cuma punya pacar satu Pa," sahut Sakya.
Fahar memutar matanya mendengar ucapan anaknya itu, dia tentu saja tahu bagaimana kelakuan anaknya itu ketika di luar rumah.
"Bagaimana bisa itu disebut pacar, jika tidak bisa bertahan sampai tiga bulan," cebik Fahar. "Sampai kapan kamu mau seperti ini terus, kamu harus ingat tanggung jawab kamu, berhentilah bermain-main dan bersikaplah menjadi dewasa," sambung Fahar, berusaha memberi pengertian pada anaknya itu.
"Iya Pa, aku akan serius menjalankan perusahaan ini, Papa tenang saja," sahut Sakya sambil berdiri.
"Kamu mau ke mana, papa belum selesai bicara," ucap Fahar tidak suka karena Sakya pergi saat dirinya belum selesai berbicara.
"Sakya masih ada pekerjaan Pa." Sakya keluar dengan melambaikan tangannya tanpa memedulikan ucapan papanya lagi.
"Saya permisi Tuan," pamit Dendra sambil menunduk.
"Pergilah," ucap Fahar pada Dendra.
Kini hanya tersisa Fahar dan Zaidan di ruangan itu, Fahar hanya bisa menggelengkan kepala, melihat anaknya yang masih suka main-main seperti.
"Bagaimana cara agar anak itu bisa berubah, apa kamu punya saran Zai?" tanya Fahar menatap asistennya dengan serius.
"Sebenarnya ada, tapi entah Tuan akan mendengarkan atau tidak," sahut Zaidan.
"Apa?"
"Bagaimana kalau anda menjodohkan tuan muda, siapa tau dengan dia menikah bisa membuatnya berubah menjadi lebih dewasa dan lebih serius lagi dalam mengurus pekerjaan.
"Menjodohkannya," gumam Fahar menimbang saran itu.
__ADS_1
"Iya Tuan, dengan tuan muda berkeluarga, selain bisa menghilangkan kebiasaannya yang suka bermain-main dengan perempuan, dia juga pasti bisa lebih fokus pada pekerjaannya di perusahaan," terang Zaidan.
Fahar hanya manggut-manggut, menimbang saran itu dengan seksama, dia sendiri memang sudah bosan menasehati anaknya agar menghentikan kelakuannya itu.