Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Hari Pertama di Rumah Mertua


__ADS_3

"Ya udah kalau gitu, kita ke meja makan sekarang yuk, Papa udah nungguin di sana," ajak Haira yang sudah mulai berjalan menjauh dari kamar itu.


Sakya dan Larei pun, keluar dari kamar dan mengikuti langkah Haira di belakangnya.


"Maaf ya Ma, kita kesiangan jadi membuat Papa sama Mama, lama menunggu kita," ucap Larei dengan nada tidak enak.


"Iya tidak apa-apa, gimana semalam tidurnya nyenyak?" tanya Haira menengok sekilas ke arahnya dan Sakya tanpa menghentikan langkahnya.


"Nyenyak banget Ma, makanya tadi aku bangunnya agak kesiangan." Larei tersenyum pada mertuanya.


"Baguslah kalau gitu." Angguk Haira.


Seharusnya yang Mama tanyain itu aku Ma, aku yang tidurnya gak nyenyak gara-gara menantu Mama itu.


Sakya menggerutu dalam hati, dengan wajah merengut, mengingat penderitaannya yang harus tidur di kerasnya lantai.


Larei melirik ke arahnya dan tersenyum tipis, ketika melihat wajahnya yang tidak enak dipandang itu, dia yakin jika pria itu pasti masih kesal karena kejadian semalam.


Kini mereka telah sampai di meja makan, mereka langsung mengambil posisi duduk mereka masing-masing, dengan Larei yang duduk di sebelah Sakya tentunya.


Larei menyapa papa mertuanya dan ditanggapi dengan anggukan dan senyuman tipis dari mertuanya itu.


Sakya sama seperti sebelumnya, dia tidak menyentuh makanan di sana karena dia tidak bernafsu, ketika melihat makanan di meja makan itu.


"Kamu mau makan apa Sak? Biar nanti bibi masakin dulu," ucap Haira sambil bergerak mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Gak tau, sekarang gak ada yang Sakya pengenin, hanya ingin minum teh pait aja," sahut Sakya.


"Yakin tidak mau makan apa pun? Dari kemarin kamu belum makan loh Sak, kamu hanya makan pas sarapan aja," ucap Haira.


"Emang Sakya susah makan ya, kenapa?" tanya Larei yang dari menyimak obrolan mertua dan suaminya itu.


Sakya, Haira dan Fahar pun menatapnya yang tengah bingung itu dengan santai.


"Tidak kenapa-napa, sudah jangan hiraukan dia, kamu makanlah yang banyak," sahut Fahar sambil memakan makanan dengan tenang.


"Iya, dia emang udah biasa sejak beberapa waktu ini, jadi susah makan. Kamu makan saja yang banyak," timpal Haira.

__ADS_1


Meskipun bingung dengan keadaan suaminya itu, Larei pun mengikuti apa yang mertuanya katakan, dia memakan makanan yang kini ada di depannya.


Namun, setelah diingatkan-ingat, kemarin saat acara pernikahan, dia memang tidak melihat suaminya itu memakan apa pun ketika acara.


Larei secara perlahan, menatap ke arahnya yang kini tengah berbicara dengan art di sana, minta untuk dibuatkan teh pait.


"Oh iya Rei, kamu emangnya tidak mengalami mual atau muntah gitu, atau mengalami keluhan hamil lainnya?" tanya Haira.


Membuat Larei yang sebelumnya melihat ke arah Sakya, kini mengalihkan perhatian padanya.


"Tidak Ma, aku merasa baik-baik aja dan tidak mengalami hal aneh apa pun, paling nafsu makan yang bertambah sama menginginkan hal tertentu aja," terang Larei apa adanya.


Mendengar ucapannya itu, Haira mengangguk paham, dia kini tahu alasan dari keanehan yang terjadi terhadap anaknya itu.


Pria itu mengalami kehamilan simpatik, dimana dia mengalami hal yang seharusnya Larei alami sebagai seorang wanita hamil muda.


"Baguslah kalau gitu, jadi kamu dan bayimu bisa baik-baik saja, karena sebenarnya bahaya juga kalau sampai kamu mengalami ngidam yang cukup serius, contohnya susah makan. Itu bisa membahayakan kandunganmu."


Larei mengangguk setuju dengan apa yang Haira ucapkan itu, dia memang merasa beruntung, karena dia tidak mengalami gejala hamil muda yang ekstrem.


Sementara Sakya tidak ikut nimbrung dengan percakapan antara mama dan istrinya itu, dia hanya fokus pada tehnya yang sudah bibi buatkan.


Sementara Larei yang juga telah selesai sarapan, tapi dia tetap di meja makan, bersama dengan Sakya yang hanya sibuk dengan ponselnya.


"Sak, kamu kenapa jadi susah makan?" tanya Larei menatapnya dengan penasaran.


"Tidak tau." Sakya mengangkat bahunya.


"Sejak kapan?"


"Sejak …." Sakya tidak melanjutkan ucapannya itu, dia berpikir sejak kapan dia mengalami hal aneh itu.


"Ah iya, sejak ketemu kamu lagi, awalnya aku baik-baik saja, tapi pas ketemu lagi, aku tiba-tiba mengalami hal aneh ini, sebenarnya apa yang kamu lakukan padaku?" Sakya menatap Larei dengan curiga.


Mendengar ucapan dan melihat tatapan curiga dari suaminya itu, Larei hanya memutar matanya malas.


"Mana aku tau, aku tidak pernah melakukan apa pun padamu," sahut Larei menganggkat bahunya tak peduli.

__ADS_1


"Tapi aku benar-benar mengalami hal yang aneh-aneh itu, semenjak ketemu kamu lagi pas di cafe," ucap Sakya dengan kukuh.


"Ya, kalau gitu aku juga gak tau, mungkin itu hanya kebetulan saja." Larei melihat ke arah depannya, membuang muka dari Sakya.


Sakya menyeruput lagi minumannya yang masih tersisa itu, tak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi, karena posisi ponselnya berada di antara dirinya dan Larei.


Jadi Larei bisa melihat dengan jelas siapa yang meneleponnya lagi, meskipun dia hanya melihat sekilas benda pipih itu.


Sakya bergerak dan langsung menutup panggilan itu, dia kemudian menyimpan ponselnya itu ke tempatnya semula.


"Kenapa gak diangkat? Apa karena ada aku?" tanya Larei dengan nada tenang.


"Gak penting, lagian aku sama dia sudah tidak ada hubungan apa pun," sahut Sakya dengan malas.


"Tidak ada hubungan apa pun, tapi masih terus menghubungi, bahkan semalam aku sempat mendengar kalau ponsel kamu itu terus berbunyi, apa dia juga yang menelpon?" Larei berbicara dengan salah satu sudut bibir yang terangkat.


"Aku emang udah gak ada hubungan apa pun lagi sama dia, terserah kamu mau percaya atau tidak."


"Apa dia orang yang kemarin datang? Atau itu orang yang berbeda lagi?" Larei menatap Sakya dengan intens.


Melihat tatapan Larei itu, dia merasa jika saat ini dia tengah diinterogasi oleh polisi karena telah melakukan kejahatan.


"Iya," sahut Sakya singkat.


Larei tidak berbicara lagi, dia hanya mengangguk-anggukkan kepala, tidak bermaksud untuk membahas masalah itu lebih jauh.


Tak lama kemudian, Haira datang lagi ke meja makan, membuat suasana yang sebelumnya tidak nyaman, menjadi sedikit mencair.


"Rei, kita ngobrol di halaman yuk, cuacanya juga cocok untuk berjemur," ajak Haira.


"Iya ayo Ma," sahut Larei dengan tersenyum lebar dan mengangguk antusias.


"Ayo." Haira langsung menggandeng tangan Larei yang sudah mulai berdiri.


"Kamu pergi saja, jangan ganggu kami," ucap Haira pada Sakya.


"Iya Ma," sahut Sakya memutar matanya.

__ADS_1


Haira dan Larei pun, pergi ke arah pintu samping rumah, pintu yang terhubung secara langsung ke halaman rumah itu.


"Lagian siapa juga yang mau ganggu kalian, mending aku tidur lagi, mengganti tidurku yang semalam sempat terganggu," ucap Sakya sambil tersenyum dan beranjak dari meja makan.


__ADS_2