Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Andrew


__ADS_3

Suara ponsel yang berada di atas meja kerja, membuat si empu mengalihkan perhatiannya dari coretan kertas ke benda pipih itu.


"Ya Mi" ucapnya, pada si penelepon yang tidak lain adalah mamanya.


[Rei, kamu sibuk tidak?]


"Tidak terlalu, ada apa?"


[Semenjak menikah kamu belum pernah ke sini, apa kamu sudah lupa sama keluargamu.]


Larei terkekeh, mendengar maminya seperti merajuk seperti itu. Semenjak menikah dia memang belum sempat pulang ke rumah orang-tuanya lagi.


Padahal pernikahan dia dan Sakya sudah satu bulan lebih, dia memang cukup sibuk dengan butiknya saat ini, jadi belum terpikirkan untuk berkunjung ke rumah orang-tuanya.


"Baiklah, nanti sore aku mampir ke sana, tapi gak bisa nginep. Paling makan malam aja."


[Baiklah, kalau gitu mami akan memasak masakan kesukaanmu.]


Larei tersenyum mendengar suara maminya yang terdengar senang itu, setelah itu panggilan antara dirinya dan Davira pun terputus.


Larei kembali menyibukkan dirinya, mendesain sebuah gaun sesuai dengan imajinasinya, ketika sudah bertemu dengan kertas dan pensil, maka dia akan menjadi orang yang sangat serius.


Saking seriusnya, dia sampai tidak menyadari jika waktu sudah sore. Seandainya Anjani tidak memasuki ruangannya dan mengatakan jika itu sudah sore, mungkin dia hanya akan terus sibuk dengan kegiatannya.


"Makasih udah ngasih tau An," ucapnya, ketika Anjani akan keluar lagi dari ruangannya itu.


"Iya sama-sama Non," sahut Anjani tersenyum sambil mengangguk singkat.


Setelah Anjani keluar dari ruangannya, Larei pun membereskan mejanya terlebih dahulu, setelah selesai, dia mengambil ponselnya.


Sebelum memasukkan ponselnya ke tas, dia mengirimkan pesan kepada mertuanya terlebih dahulu, jika dia akan ke rumah orang-tuanya dan akan makan malam di sana.


Setelah mengirim pesan pada Haira, dia kemudian mengirimkan pesan yang sama pada Sakya. Meskipun saat ini hubungan dia dan Sakya belum membaik, tapi dia tetap selalu mengatakan jika dia akan pergi.


Setelah itu, dia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, lalu berjalan dengan santai keluar dari ruangannya.


"An, aku pulang duluan ya," ucapannya ketika melewati meja Anjani.


"Iya Non, hati-hati," sahut Anjani tersenyum.


"Iya." Angguk Larei, sambil melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Larei pergi dari butik, menuju ke rumah orang-tuanya dengan mengendarai mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, akhirnya dia pun sampai di rumah Aditya.


Dia turun ketika mobilnya telah terparkir, lalu berjalan dengan langkah ringan memasuki rumah yang menjadi tempatnya menghabiskan waktu selama 25 itu.


"Mi!" panggilnya karena tidak melihat keberadaan maminya, katika dia memasuki rumah itu.


"Mami lagi di dapur!"


Mendengar sahutan dari arah dapur, Larei segera berjalan ke arah sumber suara. Katika sampai di dapur, dia melihat maminya yang tengah sibuk dengan art di sana.


"Kamu udah datang Rei," ucap Maminya menghentikan kegiatannya dan mendekat padanya.


"Iya, Mi." Angguk Larei hanya berdiri di ambang pintu.


"Aku mau mandi dulu ya, gak enak gerah," sambung Larei yang memang sering merasa kegerahan akhir-akhir ini.


"Ya udah sana, nanti kalau udah mandi langsung ke meja makan aja."


"Iya Mi." Larei mengangguk, kemudian berbalik pergi menuju ke kamarnya untuk mandi.


*****


Ketika sampai di anak tangga paling bawah, dia mengerutkan kening karena mendengar suara orang-tuanya yang tengah mengobrol di ruang tamu.


Karena penasaran, siapa orang yang tengah berbicara dengan orang-tuanya itu, dia pun berjalan ke arah sumber suara.


Langkahnya yang baru saja tiba di pintu ruang tamu langsung terhenti, tatapannya lurus pada tamu yang terlihat dari arah samping yang tengah mengobrol dengan orang-tuanya.


"Kamu di sini Rei?" Suara yang berasal dari papinya itu, membuat Larei segera mengalihkan tatapan pada Aditya.


"Iya Pi, Larei mau makan malam di sini," sahut Larei dengan diiringi anggukan kepala ringan.


Pria yang dari tadi berbicara dengan Aditya dan Davira pun ikut menengok ke arahnya, dia tersenyum simpul padanya.


"Hai, Rei. Apa kabar?" sapanya dengan senyuman yang masih terpatri di bibirnya.


"Hai, Kak. Aku baik," sahut Larei dengan tersenyum kaku.


Dia menatap pria di depannya itu dengan tak percaya, setelah beberapa tahun tidak bertemu, kini dia dapat berhadapan lagi dengan pria itu, pria yang masih sama dengan yang terakhir kali mereka bertemu.

__ADS_1


Larei masih berdiri, di ambang pintu, tidak bergerak sama sekali. Hanya menatap Andrew dengan intens, seolah belum mempercayai apa yang dilihatnya itu.


"Gimana kalau sekarang kita makan malam dulu, kebetulan semuanya sudah siap," ucap Davira menatap orang yang berada di sana satu persatu.


Sementara Larei langsung mengalihkan perhatian pada maminya, setelah mendengar apa yang wanita itu usulkan.


"Iya, Nak Andrew, juga sebaiknya ikut malam di sini saja sekalian," timpal Aditya.


"Kalau tidak merepotkan," sahut Andrew tersenyum pada Davira dan Aditya.


"Tidak sama sekali, kayak sama siapa aja." Davira menyahutinya sambil tersenyum dan mulai berdiri.


"Ayo kalau gitu, kita langsung ke meja makan," ajak Aditya yang sudah ikut berdiri.


"Baiklah Om, Tante." Angguk Andrew yang juga ikut berdiri.


Akhirnya semua orang pun mulai berjalan beriringan ke ruang makan, Larei berjalan paling belakang, sambil sesekali menatap Andrew yang tengah berbincang sambil berjalan bersama papinya.


Mereka semua duduk di meja makan, Aditya seperti biasanya. Dia duduk di kursi yang terletak di ujung, sedangkan Davira duduk berhadapan dengan Larei dan Andrew di samping Larei.


"Di mana, Ziel.Tan?" tanya Andrew sebelum mereka memulai makan karena tidak melihat keberadaan adik dari Larei itu.


Mendengar pertanyaannya itu, Larei pun baru menyadari jika saat ini adiknya tidak ada, bahkan dari tadi dia belum melihat batang hidung pemuda itu.


"Ziel, tadi izin mau nginep di rumah temannya, karena harus mengerjakan tugas," sahut Davira.


"Oh gitu, pantesan dari tadi gak kelihatan. Sekarang dia sudah besar pasti ya," ucap Andrew.


"Ya, begitulah." Angguk Davira.


"Ayo kita mulai makan terlebih dahulu, setelah makan kita bisa lanjut mengobrol," ucap Aditya, membuat semua orang mengangguk.


Seperti biasa, dia memang tidak suka ketika makan ada yang mengobrol, jadi ketika sudah mulai makan, maka semua orang yang ada di meja makan, harus fokus pada makanannya.


"Iya, maaf Om." Andrew menatap Aditya dengan tak enak, karena terus saja berbicara.


"Iya tidak apa-apa." Angguk Aditya maklum.


Akhirnya mereka pun mulai makan malam, Andrew yang sudah mengenal keluarga itu cukup lama, tidak merasa terlalu canggung makan bersama keluarga Larei, karena dulu pun sebelum dia pindah, dia memang sering sekali ikut makan di sana.


Dari tadi orang yang hanya diam saja, adalah Larei. Entah kenapa dia merasa canggung dengan kehadiran Andrew.

__ADS_1


Namun dia juga tidak memungkiri, jika dia merasa senang. Karena dia bisa bertemu lagi dengan Andrew, pria yang menjadi teman masa kecilnya itu.


__ADS_2