Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Berbincang


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Aditya dan Davira pamit ke kamar mereka terlebih dahulu karena belum membersihkan dirinya.


Kini tinggalah Larei dan Andrew yang duduk di ruang tamu dengan saling berhadapan, selama beberapa saat tidak ada yang memulai obrolan, hingga akhirnya Andrew mulai bersuara.


"Aku gak nyangka, ternyata kamu udah nikah," ucap Andrew dengan tatapan intens pada Larei.


Larei yang sebelumnya melihat ke arah lain pun, beralih menatapnya. Dia kemudian mengangguk dengan disertai senyuman tipis dari bibirnya.


"Kapan Kakak kembali ke sini?" tanya Larei.


"Baru dua hari yang lalu, tadi gak sengaja ketemu Om Adit pas di jalan. Jadi diajak ke sini," terang Andrew membuat Larei mengangguk paham.


"Berapa usia kandunganm?"


Mendengar pertanyaan itu secara refleks, Larei menatap ke arah perutnya yang sudah terlihat membuncit di balik kaos yang begitu pas di badannya itu.


Larei beranggapan, Andrew melihat perutnya, hingga pria langsung tahu jika saat ini dia tengah hamil, atau mungkin sebelumnya papinya sudah memberitahu tentang hal itu pada pria itu.


"18 minggu."


Mendengar jawaban Larei itu Andrew mengangguk paham, setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka.


"Gimana sama pendidikan Kak Andrew?" tanya Larei yang kembali membuka percakapan.


"Baik, semuanya berjalan lancar. Saat ini aku sudah resmi jadi dokter bedah, itu alasannya aku kembali ke sini."


"Wah selamat ya Kak, akhirnya apa yang Kakak cita-citakan tercapai juga," sahut Larei dengan menunjukkan senyum lebarnya.


Dia turut senang, karena pria di depannya itu mendapatkan apa yang telah menjadi cita-citanya dari dulu.


"Iya," sahut Andrew yang juga ikut tersenyum.


"Apa Kakak akan kerja di sini dan kembali ke sini, atau kedatangan Kakak ini hanya sekedar berkunjung saja?"


"Aku akan tinggal di sini lagi, karena di sini adalah tanah kelahiran aku dan orang-tuaku. Kebetulan aku juga sudah diterima di salah satu rumah sakit di sini."


"Orang-tua Kak Andrew ikut pulang juga?"


"Iya, tapi mereka belum sampai ke sini, mereka masih liburan dulu sebelum akhirnya menatap lagi di negara ini," sahut Andrew sambil terkekeh karena teringat orang-tuanya.


"Udah lama gak ketemu sama mereka," timpal Larei.


"Iya, mereka juga udah sangat merindukan keadaan di sini, itu sebabnya mereka memilih kembali ke sini."


Larei kembali menganggukkan kepala, mendengar ucapan dari Andrew itu.

__ADS_1


"Ke mana suami kamu? Kenapa dia gak ikut kamu ke sini?"


"Dia masih ada pekerjaan yang harus diurus, jadi gak ikut aku ke sini."


"Oh, dia pasti orang yang sibuk." Angguk Andrew.


"Iya begitulah, saat ini dia membantu papanya mengurus perusahaan papanya itu," terang Larei.


"Oh pantesan. Oh iya berapa lama kamu sama dia pacaran?" tanya Andrew dengan raut ingin tahunya.


"Aku gak pacaran, dia teman aku pas SMA dan begitu ketemu lagi kami menikah," terang Larei yang hanya menjelaskan secara garis besarnya saja.


"Oh," sahut Andrew singkat sambil manggut-manggut.


"Kak Andrew sendiri gimana? Udah punya calon belum?" tanya Larei dengan diselingi nada bercanda, untuk mencairkan suasana.


"Aku terlalu fokus pada pendidikan, jadi belum kepikiran hal yang seperti itu," sahut Andrew sambil terkekeh.


"Itu karena Kakak hanya tau belajar sama belajar saja, makanya, Kak. Kali-kali nyari pacar gitu, jangan belajar terus."


Mendengar omelan dari Larei itu, Andrew semakin melebarkan senyumannya.


"Ya, ya. Mentang-mentang sekarang kamu udah nikah dan mau punya anak, jadi kamu menggurui Kakak masalah itu."


"Bukan gitu, Kakak gak bosen apa sendiri terus?"


Larei tersenyum dengan tatapan lurus pada Andrew, pria yang selalu dia kagumi dari dulu itu.


Seandainya, keadaannya masih memungkinkan, mungkin saja dia akan memanfaatkan kembalinya pria itu untuk mulai menujukan perasaannya.


Namun kini, semua itu harus dia kubur dalam-dalam. Dia dan pria di depannya itu adalah suatu ketidakmungkinan yang akan terjadi, kini dia sudah tidak memiliki jalan untuk pria itu.


Dia hanya bisa menganggap pria itu, sebatas orang yang dia kagumi. Tidak bisa lebih dari itu, karena dia sendiri sadar akan statusnya saat ini.


"Oh iya aku dengar dari Om Adit, kamu udah punya bisnis butik sendiri?"


Larei kembali menyadarkan diri dari lamunannya, berusaha kembali mengatur wajahnya seperti biasa.


"Iya, seperti yang aku impikan." Angguk Larei dengan santai.


"Selamat ya, aku senang kalau kamu bisa mewujudkan mimpi kamu itu," ucap Andrew dengan senyuman tulusnya.


"Iya." Angguk Larei.


Setelah itu perbincangan mereka pun terus berlanjut, membahas tentang kehidupan yang terjadi pada mereka, dengan sesekali bercanda.

__ADS_1


Larei seperti biasanya, dia merasa nyaman setiap berbicara dengan Andrew, karena pembawaan pria itu yang santai.


Sementara itu seorang pria tengah berdiri di ambang pintu, melihat interaksi antara mereka yang terlihat sangat akrab.


Pria yang masih mengenakan setelan kerjanya itu, hanya mematung di tempatnya. Tatapannya lurus pada Larei yang tengah bercanda dan tertawa lepas, berbicara dengan pria di depannya tanpa beban.


Baru kali ini rasanya, dia melihat sisi Larei yang seperti itu. Di depannya wanita yang berstatus istrinya itu, selalu memasang wajah datar dan sesekali tersenyum yang terlihat dipaksakan.


"Sakya, kapan kamu datang, Nak."


Suara Davira itu membuat obrolan hangat antara Andrew dan Larei terhenti dan langsung melihat ke sumber suara, begitu pun dengan Sakya yang langsung berbalik dan melihat kedua mertuanya.


"Baru saja tiba. Gimana kabar Mami, sama Papi," sahut Sakya tersenyum dan mengalami kedua mertuanya, ketika mereka berhadapan.


"Kami baik, kamu sendiri gimana?" sahut Aditya.


"Baik juga, Pi."


"Syukurlah kalau gitu." Angguk Aditya.


"Ayo duduk dulu," ajak Aditya sambil berjalan memasuki ruang tamu, lalu duduk di salah satu sofa di sana.


"Iya, Pi." Sakya mengikuti langkah kedua mertuanya, dia duduk di sofa yang ditempati oleh Larei.


Ketika saling berhadapan, Sakya dan Andrew sama-sama memasang wajah terkejutnya, tapi hanya sesaat. Mereka kembali memasang wajah santai, dengan saling menatap.


"Kayaknya kalian gak perlu kenalan lagi, kan?"


Baik Sakya maupun Andrew mengangguk, mendengar ucapan Aditya itu, mereka tentu saja sudah saling mengenal.


"Andrew dulu tetangga kami, jadi tadi pas ketemu dia tadi, papi ngajak dia untuk main ke sini, dan Andrew. Sakya adalah suami Larei," terang Aditya, pada Sakya dan Andrew.


"Oh gitu." Angguk Sakya yang kemudian menatap Andrew.


Begitu pun dengan Andrew, dia mengangguk paham mendengar ucapan dari Aditya itu, meskipun sedikit tak percaya jika Sakya adalah suami Larei.


"Aku gak tau Kakak udah kembali lagi ke sini, Om sama Tante juga kembali ke sini?" tanya Sakya berbasa-basi.


"Aku baru dua hari kembali, sementara Mama sama Papa masih liburan, nanti setelah selesai liburan mereka baru ke sini," sahut Andrew dengan santai.


"Oh gitu, pantesan aku gak tau Kakak udah kembali."


"Aku memang belum sempat berkunjung ke mana pun, ke sini pun karena tadi kebetulan gak sengaja ketemu sama Om Adit aja," terang Andrew.


Sakya manggut-manggut mendengar ucapan pria di depannya itu, tidak bermaksud untuk menjawab lagi ucapan Andrew.

__ADS_1


Sementara itu Larei yang dari tadi, menyimak obrolan orang-orang itu hanya menatap mereka dengan bingung. Dia tidak tahu, jika Sakya dan Andrew sudah saling kenal.


Bahkan mereka bisa dibilang lebih dari saling kenal, mereka terlihat akrab dan seperti dua orang yang lama tidak bertemu.


__ADS_2