
"Mi, Pi. Kami pulang dulu ya," pamit Sakya pada kedua mertuanya.
Saat ini mereka masih berada di ruang tamu, setelah Andrew berpamitan untuk pulang karena malam semakin larut. Kini giliran Sakya dan Larei yang akan berpamitan.
"Iya, kalian hati-hati di jalannya," ucap Davira.
"Iya Mi." Angguk Sakya.
"Aku mau ngambil dulu tas di kamar," ucap Larei pada Sakya.
"Ya udah, kalau gitu aku tungguin kamu di mobil ya," ucap Sakya yang merupakan sebuah isyarat untuk mengajak Larei pulang bersama dengannya.
Tidak ingin membuat orang-tuanya berpikir macam-macam dengan hubungan dia dan suaminya. Larei mengangguk dengan patuh, lalu berjalan ke arah kamarnya.
"Ya udah, kalau gitu Sakya duluan Pi, Mi." Sakya kembali berpamitan pada kedua mertuanya yang sudah mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Iya pergilah, salam buat mama dan papamu," sahut Aditya.
Sakya mengangguk dan mulai menyalami kedua mertuanya, setelah itu dia pun berjalan keluar dari rumah dan langsung memasuki mobilnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, istrinya sudah mulai keluar dari rumah mertuanya. Wanita itu langsung memasuki mobil dan duduk dengan tenang tanpa melihat ke arahnya.
Sakya mulai menjalankan mobilnya, meninggalkan rumah Aditya. Selama di perjalanan, tidak ada yang membuka suara hingga mereka sampai ke rumah Fahar.
Ketika memasuki rumah, sudah tidak ada keberadaan Fahar dan Haira. Sepertinya kedua orang-tua Sakya itu sudah beristirahat.
Sakya langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Larei duduk selonjoran di kasur, sambil memainkan ponselnya.
"Rei aku lapar," ucap Sakya, ketika keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang membalut di tubuhnya.
"Tinggal makan," sahut Larei yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Makanannya pasti udah dingin, sepertinya bibi juga udah istirahat," ucap Sakya dengan diiringi bunyi perutnya yang cukup nyaring.
Mendengar suara dari perutnya itu, membuat Larei tidak tega, akhirnya dia pun mulai turun dari ranjang dan menatapnya sekilas.
"Kamu berpakaian saja dulu, setelah itu turun ke meja makan. Aku akan menghangatkan makanannya," ucap Larei sambil menyimpan ponselnya di nakas.
"Baiklah." Angguk Sakya dengan antusias.
__ADS_1
Larei mulai berjalan keluar dari kamar menuju ke dapur, setelah kepergiannya. Sakya mulai memasuki ruang ganti dan dengan cepat berpakaian, lalu menyusul Larei turun ke lantai dasar rumahnya.
Ketika sampai di meja makan, dia melihat Larei yang tengah serius dengan kegiatannya, dia menatap tubuh Larei yang sedikit berisi karena kehamilannya, dari arah belakang.
Semenjak kejadian terakhir kali itu, sikap Larei kembali dingin dan hanya bicara seperlunya saja padanya. Meskipun dia berusaha untuk berbicara dan mendekatkan diri padanya, tapi istrinya itu seperti memasang tembok pembatas yang tidak bisa lewati.
"Ini makanlah, karena tidak ada makanan, jadi aku hanya bisa masak itu biar cepat."
Sakya yang tengah melamun, tersadar ketika mendengar suara piring yang Larei Simpan di depannya itu. Dia menatap telor dadar dengan campuran sosis dan wortel yang dibuatkan oleh Larei itu dengan seksama.
Ini kali pertamanya, wanita itu memasak sesuatu untuknya. meskipun hanya makanan sederhana, tapi entah kenapa hal itu menghadirkan perasaan senang di hatinya.
"Kenapa? Kamu tidak mau. Kalau tidak mau, aku akan memasak yang lain lagi, asal kamu mau menunggu," ucap Larei karena Sakya masih diam menatap makanan itu.
"Tidak, bukan seperti itu, aku mau kok makan ini." Sakya dengan segera menggelengkan kepala dan mulai menyiduk nasi ke piringnya.
Larei duduk di kursi yang ada di seberangnya, memperhatikan gerakan Sakya yang mulai memakan makanan sederhana buatnya itu.
"Kamu gak Makan?" tanya Sakya menatapnya.
"Tidak, aku masih kenyang." Geleng Larei.
Sakya pun mengangguk paham dan melanjutkan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya itu. Sekarang dia memang sudah tidak pilih-plih lagi soal makan.
"Tadi siang aku gak makan siang, Papa memberikan aku tugas yang banyak sampai aku lupa makan," ceritanya tanpa menghentikan makannya.
Melihat cara makannya yang seperti orang tengah kelaparan itu, membuat Larei mengangguk percaya dengan apa yang dikatakannya.
Sakya terus makan, sambil bercerita banyak hal tentang kejadian tadi siang, tentang pekerjaan, tentang siapa saja yang dia temui, semuanya dia ceritakan.
Larei tidak berniat untuk menimpali setiap ucapan yang Sakya ucapkan itu, dia hanya diam menyimak dengan wajah datar seperti biasanya.
"Akhirnya kenyang juga," ucap Sakya dengan lega sambil meneguk segelas air, lalu menguasap perutnya
Sakya menatap wanita di depannya itu, tak lama kemudian dia memasang senyum dengan tatapan intensnya.
"Makasih untuk makanannya, istriku," ucapnya masih dengan memasang wajah semanis mungkin.
Sementara Larei hanya memutar mata, tanpa menjawab penyataan itu, dia mulai mengambil bekas makan Sakya dan langsung mencucinya.
__ADS_1
Larei kira, Sakya akan langsung kembali ke kamar, tapi ternyata tidak. Ketika dia selesai mencuci piring dan berbalik, pria itu masih ada di meja makan, tengah menatapnya hingga tatapan mereka saling beradu.
"Kenapa belum kembali ke kamar, ini sudah malam, kamu harus segera istirahat," ucap Larei sambil berjalan.
"Aku nungguin kamu dulu," sahut Sakya apa adanya.
"Pergilah tidur," ucap Larei sambil berjalan melewati Sakya.
Sakya pun mengikutinya, mereka berjalan ke kamar mereka dengan Sakya yang masih berjalan di belakangnya.
Tidak ada lagi percakapan yang terjadi, kedua insan itu mengambil posisi masing-masing dan merebahkan tubuh mereka dengan nyaman, di posisi sama seperti sebelumnya, yaitu Sakya tidur di lantai.
"Rei, apa Kak Andrew pria yang pernah kamu ceritakan beberapa waktu yang lalu itu?" tanya Sakya ketika mereka sudah tidur di tempat mereka masing-masing.
Larei yang semula sudah mulai memejamkan mata, kembali membuka matanya itu. Namun dia tidak menjawab pertanyaan pria itu, dia hanya diam menatap langit-langit kamar.
"Pasti itu dia, mendengar cerita dari Papi kalau kalian bertetangga dan melihat interaksi kalian, aku yakin jika pria itu pria yang sama."
Sakya menatap langit-langit kamarnya, dia menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.
"Apa kalian sudah saling mengenal dari lama?"
Pertanyaan yang sedari tadi hadir di benak Larei, kini dia pertanyakan pada Sakya, seandainya pria itu tidak membahas itu, mungkin dia sudah lupa dengan hal itu.
"Bukan cuma kenal," sahut Sakya sambil terkekeh.
Larei hanya diam mendengar sahutan dari Sakya itu, dia menunggu kata selanjutnya yang akan pria itu ucapkan
"Papa Andrew adalah kakak sepupu Papa, jadi bisa dibilang dia juga sepupu aku."
Larei mengerutkan keningnya tak percaya, benarkah mereka bersaudara, kenapa dia tidak mengetahui hal itu. Padahal dia dan Andrew sudah lama kenal.
"Kita memang tidak terlalu dekat, jadi wajar jika kamu tidak tau hal itu, meskipun kamu dan dia bertetangga sudah lama. Karena Papa sama Mama, begitu pun dengan kedua orang-tua Andrew sama-sama sibuk, jadi mereka jarang bertemu."
"Pantesan," sahut Larei yang mulai paham.
"Andrew pria yang baik bukan?" ucap Sakya sambil menerawang.
"Ya, dia memang baik," sahut Larei tanpa sadar.
__ADS_1
Mendengar jawaban Larei itu, Sakya hanya tersenyum, kemudian dia mengubah posisinya menjadi miring dan mulai memejamkan matanya.
Sementara Larei yang sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan, langsung menutup mulutnya rapat. Dia melirik ke arah tempat Sakya tertidur, kemudian kembali menatap langit-langit, tarikan napas yang cukup kasar terdengar dari wanita itu.