Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Ada yang Aneh


__ADS_3

Larei merasa semakin nyaman dalam tidurnya, hingga dia merasa enggan membuka mata. Tubuhnya semakin lama semakin terasa hangat, hingga dia mengeratkan tangannya yang tengah memeluk guling itu.


Namun, di tengah-tengah kenyamanan itu, telinganya menangkap sesuatu yang aneh, seperti suara detak jantung yang semakin lama semakin terdengar dengan jelas.


Tunggu dulu, detak jantung, jangan bilang ... Larei secara refleks menarik dirinya dari tidur nyamannya itu, matanya yang semula enggan untuk terbuka, kini dia paksa untuk terbuka.


Tubuhnya menjadi kaku seperti patung, ketika kesadaran telah menguasai dirinya. Dia mengarejapka matanya berkali-kali, setelah sadar jika saat ini wajahnya menempel pada dada yang tidak lain adalah dada Sakya.


Kenapa aku bisa memeluknya seperti ini, bukannya semalam aku tidur membelakanginya. Larei berbicara dalam hatinya, sambil mengigit bibir bawahnya.


Secara perlahan, dia memberanikan dirinya untuk mengangkat wajahnya, melihat ke arah wajah pria yang saat ini masih dipeluknya dengan posesif itu.


Dia sedikit bernapas lega, ketika melihat mata Sakya masih terpejam, juga napas pria itu yang masih teratur, pertanda jika dia masih terlelap.


Akhirnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, dia mulai mengangkat tangannya yang melingkar di pinggang Sakya, berusaha bergerak dengan sepelan mungkin agar tidak membangunkan pria itu.


Namun, harapannya tidak jadi kenyataan. Baru saja tangannya berpidah posisi dari pinggang Sakya, ke perut buncitnya, dia merasakan pergerakan dari pria itu.


Entah kenapa, tiba-tiba saja Larei kembali memejamkan mata, berpura-pura seolah dirinya belum bangun, hingga dia merasakan sebuah kecupan hangat di keningnya.


"Selamat pagi, Rei. Seandainya bisa tiap pagi kamu tidur dalam pelukanku seperti ini. Aku pasti tidak akan ingin cepap-cepat beranjak dari tempat tidur."


Sakya berbicara sambi menatap dalam wajah Larei yang dia anggap masih dalam mimpinya itu, setelah itu dia kembali membenan bibir pada kening Larei lebih lama dan lebih dalam.


Setelah merasa puas, barulah dia mulai bergerak dengan hati-hati, beringsut menuruni ranjang dan langsung masuk ke kamar mandi.


Sementara itu Larei yang menyadari suaminya sudah memasuki kamar mandi, mata coklat gelapanya itu mulai terbuka. Dia merubah posisinya jadi terlentang, menatap langit-langit kamar dengan telapak tangan yang disimpan di dada.


"Apa yang terjadi, kenapa aku merasa deg-degan. Apa aku begitu takut ketahuan memeluk Sakya, sampai merasa seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.


Dia dapat merasakan, saat ini suara detakan di dadanya masih cukup cepat, hingga telapak tangannya yang masih dipermukaan dadanya terasa bergerak seiring dengan detakan itu.

__ADS_1


Tidak ingin terlalu memikirkan apa yang tengah dirasakannya itu, Larei mulai mendudukkan dirinya. Bertepatan dengan pintu kamar mandi yang terbuka disusul oleh Sakya yang keluar dari sana.


Larei menatap Sakya dari atas sampai bawah, dia menelan ludahnya ketika melihat penampilan pria itu yang hanya tertutup handuk dari bagian pinggang hingga ke lutut.


Sementara bagian atasnya dibiarkan terbuka, Larei terus menatap tubuh suaminya yang terekspos itu, mulai dari dada bidangnya yang terlihat keras, juga perutnya meskipun tidak ada roti sobeknya, tapi dia yakin perutnya itu juga keras.


Bulir air yang masih ada di badannya, entah kenapa menghadirkan dorongan dari hatinya untuk menyentuh apa yang dilihatnya itu, hingga sebuah desiran halus hadir dalam dirinya, membuat pipinya terasa hangat.


Apa yang kamu pikirkan, Larei!. Rutuknya dalam hati, ketika sadar ada pikiran aneh yang menyusup ke dalam otaknya.


Sadar akan dirinya yang mulai memikirkan hal aneh, dia segera membuang pandangan ke arah lain, menghindari kontak mata dengan objek yang tadi diperhatikannya.


"Kamu udah bangun," ucap Sakya sambil berjalan dengan pelan ke arah ruang ganti.


"Hemmm," sahut Larei singkat masih dengan pandangan ke arah lain.


Setelah punggung Sakya tenggelam di balik pintu ruang ganti, wanita hamil itu perlahan mulai menurunkan kakinya turun dari ranjang dan berjalan memasuki kamar mandi.


Dia mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower yang membasahi seluruh permukaan kulitnya, tapi ketika dia memejamkan mata apa yang tadi dilihatnya kembali terbayang.


"Apa ini termasuk ngidam?"


Entah kenapa, Larei benar-benar ingin merasakan, bagaimana rasanya ketika permukaan tangannya bergerak dengan perlahan di dada serta perut Sakya yang masih tersisa bulir air seperti tadi.


"Tidak, Larei. Sadar jangan aneh-aneh." Larei terus menggeleng menjernihkan kembali pikirannya.


Dia kemudian segera menyelesaikan ritual mandinya dan langsung keluar dengan menggunakan jubah mandinya.


"Pantesan tadi Sakya tidak pakai jubah mandi," gumamnya, ketika melihat jubah mandi Sakya yang basah.


Dia pun segera membawa jubah mandi milik Sakya, beserta baju mereka yang kotor dan memasukan ke keranjang baju kotor yang ada di samping pintu kamar mandi.

__ADS_1


Ketika dia keluar dari kamar mandi, dia disambut oleh Sakya yang tengah berdiri di depan meja rias dengan dua dasi di tangannya.


Pria itu sepertinya, tengah menimbang untuk memakai dasi yang mana agar cocok dengan kemejanya.


"Yang ini lebih cocok dengan kemejamu, karena kemejamu berwarna gelap, maka pakai dasi dengan warna agak terang," ucap Larei mengambil dasi dari tangan kiri Sakya.


Sakya menengok ke arahnya, lalu sebuah senyum tersungging di bibirnya itu, dia kemudian mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan olehnya.


"Bisa sekalian pasangin gak," ucapnya masih dengan senyuman yang bertahan di bibirnya.


Tanpa penolakan, Larei mulai melakukan apa yang Sakya ucapkan itu, secara hati-hati dia memakaikan dasi di lehernya.


Sakya menatap wajah Larei yang tengah fokus dengan mengulum senyum, aroma sampo dari rambut Larei menguar, hingga memenuhi indra penciumannya.


"Sudah."


Mendengar apa yang istrinya ucapkan itu, Sakya merasa terlalu cepat. Padahal dia belum puas menatap wajah Larei dari jarak sedekat itu.


"Makasih," ucap Sakya dengan secepat kilat, dia mencuri ciuman di bibir Larei yang berwarna pink muda yang membuat dia tidak sabar untuk mengecupnya sedari tadi.


Mendapat serangan mendadak seperti itu, mata Larei membelalak. Namun, ketika dia hendak protes akan apa yang pria itu lakukan, tidak jadi karena ucapan Sakya.


"Cepatlah siap-siap, aku tunggu di meja makan untuk sarapan," ucap Sakya yang sadar, ketika Larei membuka mulut hendak protes.


Dia dengan santai mengambil tas kerja, serta jas yang berada di kursi yang ada di depan meja rias dan berlalu begitu saja dari kamar itu.


Meninggalkan Larei yang masih mematung di tempatnya, menatap punggungnya tak percaya, hingga terdengar hembusan napas sedikit kasar dari hidungnya.


"Dasar."


Hanya itu, kata yang keluar dari mulutnya ketika Sakya sudah tidak terlihat lagi. Dia menggelengkan kepala singkat, lalu memasuki ruang ganti.

__ADS_1


Jika biasanya, mungkin dia akan marah dengan apa yang suaminya lakukan itu, tapi tidak untuk kali ini. Entah kenapa dia tidak merasa kesal ataupun marah atas apa terjadi barusan.


Apa mungkin stok, kesal atau marah untuk pria itu kini telah terkikis dalam hatinya. Sungguh Larei tidak mengerti dengan dirinya saat ini.


__ADS_2