
Larei terus memperhatikan gerak-gerik suaminya, hingga pria itu menyusulnya menaiki ranjang dan merebahkan tubuh di sampingnya.
"Kenapa hemm?" tanya Sakya karena Larei dari tadi terus menatapnya.
"Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?"
Mendengar pertanyaan darinya itu, Sakya menarik napas dan mengeluarkannya dengan perlahan.
"Tidak ada masalah yang serius, hanya pekerjaanku saja yang cukup banyak jadi aku sedikit pusing."
Lagi dan lagi, jawaban itu yang dia berikan pada Larei dan jawaban itu sama sekali tidak membuat wanita hamil itu merasa puas.
"Beneran hanya masalah pekerjaan atau emang ada masalah lain? Aku merasa bukan hanya masalah pekerjaan yang kamu pikirkan."
"Ini benar-benar hanya masalah pekerjaan, tidak ada masalah lain lagi," sahut Sakya berusaha meyakinkan Larei.
Larei menghela napas sedalam-dalamnya, berusaha mengenyahkan perasaan aneh dalam hatinya, juga pikiran yang entah bagaimana, kini tengah bersarang dalam kepalanya.
"Sak, kamu tau 'kan? Aku tidak ingin merasakan yang namanya pengkhianatan. Dan aku sudah bilang sebelum aku mencoba membuka hati untukmu, jika aku tidak akan mentolerir apa pun bentuk pekhianatan!"
Larei berbicara dengan penuh penekanan di setiap katanya, tatapan matanya menyorot tajam pada Sakya yang tengah menatapnya dengan sendu.
__ADS_1
"Aku juga tidak pernah berpikiran untuk mengkhianatimu, aku benar-benar mencintaimu," sahut Sakya dengan sungguh-sungguh.
Larei dapat melihat, seolah ada kesedihan di mata suaminya itu, tapi kenapa pria itu terlihat sedih, apa yang sebenarnya tengah disembunyikan pria di depannya itu.
Larei mengerang dalam hati, dia benar-benar ingin menggali jauh ke dalam hati dan pikiran Sakya, hingga dia bisa tahu apa saja yang tengah pria itu rasakan sebenarnya, juga apa saja yang ada dalam pikiran pria itu.
"Jangan terlalu banyak pikiran, sekarang kamu harus fokus pada kesehatanmu. Kamu ingat 'kan apa yang dokter katakan, kamu gak boleh stress agar tidak memperngaruhi anak kita, apalagi waktu persalinan sudah semakin dekat."
Sakya mengusap pipi Larei dengan lembut, satu tangannya dia gunakan untuk menahan kepalanya.
"Akhir-akhir ini aku selalu berpikiran buruk, aku juga selalu merasa tidak enak perasaan, apalagi ketika kamu lagi jauh dan itu membuatku tidak nyaman," cerita Larei.
Tidak hanya itu, dia juga memberikan beberapa kecupan di pucuk kepala Larei, berharap dengan hal itu bisa membuat istrinya itu merasa tenang.
"Apa sekarang kemu mulai berubah jadi istri yang posesif hemmm?"
"Mungkin, tapi aku yakin semua itu pasti karena pengaruh dari kehamilan," sahut Larei yang masih belum mau mengakui, jika saat ini dia memang merasa sedikit posesif pada Sakya.
"Entah itu karena pengaruh kehamilan, atau itu berdasarkan dorongan dari dirimu sendiri, tapi aku senang mendengar hal itu."
Sakya memeluk Larei dengan erat sambil memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Larei yang selalu dapat membuatnya merasa lebih tenang.
__ADS_1
Begitu pun dengan Larei, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Sakya, menikmati aroma tubuh pria itu juga mendengar irama detak jantungnya.
Meskipun ada keraguan dalam hatinya, tentang Sakya mengingat bagaimana sikap pria itu akhir-akhir ini, tapi dia selalu ingin berada di dekat pria itu.
Menghabiskan waktu bersama, meskipun dengan kegiatan sederhana dan biasa saja, tapi dia merasa bahagia dengan hal itu.
Satu yang menjadi harapannya kini, apa pun yang tengah disembunyikan Sakya, jangan sampai pria itu sampai mengkhianatinya. Mengkhianati janji-janji yang telah dibuat untuk dirinya, untuk anaknya, juga untuk pernikahannya.
Larei semakin mengeratkan pelukannya pada Sakya, dia merasa dadanya terasa sesak, ketika pikiran buruk tentang Sakya kembali mengganggunya.
Baru memikirkannya saja, dia sudah merasa tidak sanggup. Lalu bagaimana jika seandainya itu terjadi, Larei segera mengenyahkan pikiran itu, berusaha berpikir positif.
"Tidur lagi ya, ini masih malam." Suara lembut Sakya kembali menyadarkannya dari lamunannya itu.
"Iya, kamu juga langsung tidur 'kan?" sahut Larei tanpa menatap Sakya, masih membenamkan wajannya di dada pria itu.
"Iya, aku juga pasti akan langsung tidur." Angguk Sakya, lalu menghujani pucuk kepala Larei dengan kecupan hangat sebagai pengantar tidurnya.
Larei langsung memejamkan mata, berada dalam dekapan Sakya, dia menjadi tidak membutuhkan waktu lama untuk menjemput mimpinya.
Begitu pun dengan Sakya, pria itu merasa tenang ketika dapat menatap wajah tenang istrinya, dia tidak ingin menyakiti wanita itu, dia akan melakukan apa pun agar masalahnya segera terselesaikan.
__ADS_1