
Beberapa jam kemudian, kini Larei dan anaknya telah dipindahkan ke ruang perawatan untuk memulihkan keadaan Larei kembali.
"Aku benar-benar minta maaf," ucap Sakya untuk yang kesekian kalinya.
Entah sudah berapa puluh kali, kata itu Sakya ucapkan dari tadi setelah Larei dan anaknya selesai ditangani dan dipindahkan.
Sementara Larei masih bungkam, dia hanya diam dengan posisi berbaring membelakangi Sakya dan menghadap pada anaknya yang baru saja terlahir beberapa jam yang lalu itu.
Setelah anaknya terlahir, Larei merubah ekspresi wajahnya menjadi dingin, dia mendiamkan Sakya, meskipun pria itu terus mengucapkan kata maaf dan berusaha berbicara padanya.
"Rei, kamu bisa menghukumku dengan cara apa pun, tapi jangan diamkan aku seperti ini," sambung Sakya dengan nada yang terdengar frustasi.
Melihat tidak ada reaksi apa pun dari Larei, Sakya menghela napas sedalam-dalamnya, dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada istrinya itu.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan masuklah Davira dan Aditya, Davira terlihat tersenyum ramah seperti biasa, tapi tidak dengan Aditya.
Ketika mata mereka saling baradu, Sakya menjadi tegang, karena tatapan tajam serta raut tak ramah yang dia lihat dari mertuanya itu.
"Mi, Pi." Sakya berusaha bersikap tenang dan menyapa mertuanya itu.
Dia juga mendekati mertuanya dan menyalami pasangan itu, Davira menimpali masih dengan senyum ramahnya, sedangkan Aditya langsung menarik tangannya ketika Sakya menyalaminya.
"Selamat untuk kelahiran anak kalian ya," ucap Davira.
"Iya, terima kasih, Mi." Sakya berusaha tersenyum.
Setelah itu, Davira mendekati ranjang dan mengusap punggung Larei dengan perlahan, karena dia berpikir jika Larei tengah tidur.
Secara perlahan Larei pun mulai berbalik, lalu tersenyum pada mami dan papinya itu.
"Mi, Pi. Kalian udah datang," ucap Larei.
__ADS_1
"Iya, kamu kenapa gak hubungi Mami, kalau kamu mau lahiran, Mami 'kan bisa nemenin kamu tadi."
Larei hanya tersenyum pada maminya yang memasang wajah khawatir itu.
"Tadi aku juga gak sadar, kalau aku udah mau lahiran Mi, tadi tiba-tiba air ketuban aku pecah dan pas diperiksa dokter taunya udah pembukaan lengkap," terang Larei.
"Kamu ini, bagaimana bisa kamu gak sadar kalau kamu mau lahiran sih, untung tadi kalian keburu ditangani, kalau tidak 'kan itu bahaya," omel Davira.
"Yang penting aku gak pa-pa, Mi. Lagian anak aku lahir dengan selamat dan sehat," sahut Larei tersenyum, lalu mengalihkan perhatian pada anaknya yang tengah terlelap di sampingnya.
"Iya, syukurlah kalian baik-baik saja, gantengnya cucuku, sini Mima gendong sayang," ucap Davira sambil memutari ranjang dengan antusias.
Dia kemudian mengambil bayi merah itu dengan gemas, hingga membuat anak Larei dan Sakya itu, terusik dari tidurnya.
Davira terus berceloteh, mengajak bayi merah itu berbicara sambil menimangnya dengan hati-hati, melihat maminya yang terlihat antusias seperti itu, membuat Larei tersenyum.
Wanita yang melahirkan Larei itu, bahkan sudah menyiapkan nama panggilan khusus untuk cucunya, karena dia tidak mau dipanggil nenek atau oma.
Mendengar suara tegas dari mertuanya itu, membuat Sakya yang semula tidak berani menatapnya pun, kini mulai mengangkat wajahnya.
Begitu pun dengan Larei yang langsung teralihkan, pada papinya ketika mendengar perintahnya yang ditujukan pada Sakya.
Sadar jika saat ini mertuanya tengah dalam mode yang teramat serius, Sakya pun hanya dapat mengangguk pasrah.
"Baiklah, Pi."
Setelah mengatakan hal itu Sakya mulai pergi meninggalkan ruangan tempat Larei itu, dia menunggu dengan duduk di kursi yang tersedia di luar ruang rawat Larei.
Bermacam pikiran kini hadir dalam benaknya, tentang sikap Aditya, juga tentang apa yang akan mertuanya bicarakan dengan Larei di dalam.
"Apa Papi, sudah mengetahui tentang Ishana juga?" tanya Sakya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Memikirkan hal itu, jantungnya terasa berpacu lebih cepat, jika benar apa yang tengah dipikirkan olehnya terjadi, maka itu kabar yang teramat sangat buruk untuknya.
"Sakya!"
Mendengar panggilan dari suara yang sangat dikenalnya, Sakya tersadar dari renungannya. Dia kemudian mengangkat wajahnya dan langsung berhadapan dengan kedua orang-tuanya.
"Kenapa kamu di luar, kamu gak nungguin anak dan istri kamu," ucap Haira dengan kening mengerut.
"Ma, Pa. Kalian sudah sampai?" Bukannya menjawab ucapan mamanya itu, Sakya malah balik bertanya.
"Iya, Mama gak sabar mau lihat cucu Mama," ucap Haira tak kalah antusiasnya dengan Davira.
Bahkan tanpa menunggu sahutan dari Sakya terlebih dahulu, dia langsung menyelonong masuk ke dalam ruangan tempat istrinya.
"Ada apa?" tanya Fahar ketika mereka saling berhadapan.
"Tidak apa-apa, Pa." Geleng Sakya, sambil berusaha tersenyum.
"Kamu harusnya bahagia, karena anak kalian telah lahir dengan selamat. Selamat karena kamu sekarang sudah menjadi seorang papa," ucap Fahar menepuk pundaknya.
"Iya, Pa. Ini juga aku bahagia banget," sahut Sakya mengangguk.
Setelah itu, Fahar mengikuti Haira memasuki ruangan Larei, begitu pun dengan Sakya yang berjalan di belakangnya.
Ketika sampai di dalam, dia melihat mamanya kini tengah mengajak ngobrol anaknya yang berjenis kelamin laki-laki itu, meskipun anaknya masih tenang dalam buaian.
"Setelah pulang dari rumah sakit, Larei dan anaknya akan ikut kami pulang ke rumah kami."
Baik Sakya maupun kedua orang-tuanya sama-sama kaget dengan ucapan tiba-tiba yang Aditya layangkan itu.
Sakya menatap mertuanya, juga Larei secara bergantian. Tatapannya berubah jadi sendu, ketika bertabrakan dengan raut datar Larei.
__ADS_1