
Dendra mengetuk pintu ruangan atasannya dengan perlahan, hingga ketika terdengar suara dari si empu ruangan yang memintanya untuk masuk, barulah dia masuk.
"Ada apa?" tanya Sakya ketika Dendra berdiri di depan meja kerjanya.
"Di lobby ada seseorang yang mencari anda."
"Siapa?"
"Katanya wanita yang bernama Ishana."
"Usir saja, bilang aku tidak ada." Sakya kembali melihat pekerjaannya ketika mendengar nama orang yang mencarinya itu.
"Baiklah Tuan," sahut Dendra dengan patuh, lalu berbalik dan pergi dari ruangan itu.
Tak lama ketika asistennya pergi, Sakya yang kembali fokus pada pekerjaannya, kembali terganggu dengan nada pesan di ponselnya.
Isi pesan itu adalah ancaman dari Ishana, jika dia tidak akan pergi dari kantornya dan akan membuat keributan di sana hingga membuat seluruh karyawan di sana tahu jika mereka memiliki hubungan.
"Apa lagi yang wanita ini mau," decak Sakya sambil berdiri dari tempat duduknya.
Dia bergegas menuju ke lantai satu kantor itu, karena takut papanya tahu dengan kedatangan Ishana ke sana.
Katika sampai di lantai dasar, dia melihat Ishana tengah duduk di sofa yang tersedia di lobby kantornya dengan wajah menunduk.
"Mau apa lagi kamu mencariku?"
Ishana mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Sakya yang sebagian wajahnya tertutup oleh masker itu.
"Bisakah kita bicara berdua saja," sahut Ishana.
"Ayo ikut aku, tapi setelah ini kamu tidak boleh menemui aku lagi," sahut Sakya yang langsung berlalu keluar dari kantornya dan membawa Ishana untuk ke parkiran.
"Masuk," perintah Sakya.
Ishana dengan patuh mengangguk dan masuk ke dalam mobil, diikuti juga olehnya yang duduk di balik kemudi.
"Bicaralah, setelah itu jangan ganggu aku lagi," ucap Sakya dengan tegas.
"Aku akan pergi dan tidak akan pernah menganggu kamu dan kehidupanmu lagi, tapi aku punya satu permintaan." Ishana menatap Sakya dengan serius.
"Apa?" Sakya berbicara tanpa melihat ke arahnya, dia hanya memfokuskan dirinya ke depan.
"Bisakah seharian ini kamu temani aku, anggap saja ini sebagai perpisahan kita, biar aku bisa pergi dengan tenang tanpa beban lagi." Ishana menatapnya dengan tatapan memohon dan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak bisa aku sibuk, kalau kamu pergi, pergi saja," sahut Sakya yang memang tidak ingin memperpanjang masalah dia dan Ishana.
__ADS_1
"Tapi aku tidak akan pergi dengan tenang, waktu itu kamu mutusin aku begitu saja, padahal aku sudah terlanjur menyimpan harapan yang besar akan hubungan kita. Setidaknya biarkan aku memiliki waktu bersamamu walaupun singkat, tapi itu lebih baik daripada aku pergi dengan dendam yang hanya akan merusak hati dan pikiranku," terang Ishana panjang lebar.
"Aku mohon Sak, setelah hari ini, aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu walaupun hanya sekilas," sambung Ishana lagi, Sakya masih tidak mengindahkan ucapannya.
Sakya berpikir beberapa saat, semua yang terjadi pada Ishana tidak sepenuhnya salah wanita itu, walau bagaimanapun dia juga bersalah karena telah memberikan harapan padanya.
Ditambah lagi Larei menyarankan padanya, agar dia benar-benar mengakhiri segala sesuatu antara dirinya dan Ishana secara baik-baik, agar ke depannya tidak ada masalah seperti ini lagi.
Sakya berpikir mungkin ini memang saat yang tepat, untuk dia mengakhiri semuanya dengan cara baik, agar wanita itu bisa pergi dengan cara baik juga dan tidak akan mengganggu lagi untuk ke depannya.
"Baiklah, tapi setelah ini kamu tidak boleh menemui atau menghubungiku," tekan Sakya dengan tatapan seriusnya.
"Baiklah, aku janji." Ishana mengangguk dengan cepat, sebersit senyum terukir di wajahnya yang cantik itu.
"Kapan kamu mau kita perginya?"
"Sekarang juga," sahut Ishana dengan cepat.
"Tidak bisa, aku masih ada pekerjaan."
"Baiklah, kalau gitu aku tidak akan pergi dan akan terus mengganggumu," ancam Ishana.
"Baiklah ayo, kamu mau kita ke mana dulu?"
Sakya hanya menuruti apa yang dikatakan Ishana, dia menjalankan mobilnya sesuai dengan arahan wanita di sampingnya.
"Gimana hubungan kamu sama istri kamu?" Ishana bertanya tanpa melihat ke arahnya dan hanya fokus ke depannya.
"Baik-baik aja," sahut Sakya dengan singkat.
"Saat ditelepon dia sepertinya orang yang cuek."
"Dia hanya cuek pada orang yang menurutnya asing."
"Oh pantes, kamu dulu pacaran sama dia berapa lama?"
"Tidak lama."
Mendapat respon dari Sakya yang seolah enggan untuk berbincang dengannya, membuat Ishana hanya mengangguk dan akhirnya diam.
"Kita sebenarnya mau ke mana? kenapa lama?" tanya Sakya karena mereka tak kunjung sampai di tempat tujuan mereka itu.
Padahal kendaraan mereka itu sudah melaju selama satu setengah jam, namun kini masih belum menunjukkan kalau mereka akan segera sampai.
"Nanti juga kamu akan tau, kita masih membutuhkan waktu selama setengah jam lagi untuk sampai di tempat tujuan kita," sahut Ishana menengok padanya lalu tersenyum.
__ADS_1
"Kamu gak memiliki niat buruk 'kan?" Sakya menatap Ishana dengan curiga.
Ishana menyeringai dengan tatapan lurus padanya.
"Aku emang pengen bawa kamu ke tempat yang jauh dari semua orang, biar kita bisa bersama selamanya."
Ckiiiiiitttt
Sakya secara refleks menginjak rem dengan sangat kuat, hingga mobil itu berhenti begitu saja.
"Hahhahah, aku hanya bercanda Sak, kenapa kamu sampai segitunya."
Sakya berdecak kesal dengan apa yang Ishana lakukan itu, tidak lupa juga tatapan tajam dia layangkan pada wanita itu.
"Gak lucu!"
"Iya maaf, sekarang ayo jalankan lagi mobilnya katanya ingin cepat sampai," sahut Ishana tanpa beban.
Sakya pun akhirnya, kembali menjalankan mobilnya, anggap saja jika saat ini dewa kebaikan sedang berpihak padanya hingga saat ini dia bisa bersabar menghadapi wanita di sampingnya.
Seandainya saja dia tidak memikirkan perasaan wanita yang sakit hati karena perlakuannya, mungkin dia tidak akan mau menuruti Ishana seperti itu.
Dia hanya ingin hidup tenang dengan membuat Ishana pergi dengan sukarela karena dia takut, jika sampai mertua atau papanya tahu jika Ishana masih menghubungi dirinya.
Bahkan selalu berusaha menemuinya, dia yakin yang akan kena imbasnya adalah dirinya sendiri.
"Belok kiri Sak, bentar lagi sampai," ucap Ishana.
Sakya kembali mengikutinya, dia membelokkan mobilnya sesuai dengan arahan Ishana lagi, hingga semakin lama jalan yang mereka lalui semakin sepi, semakin jarang rumah di sana.
"Berhenti di depan rumah itu," ucap Ishana.
Sakya pun menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang Ishana tunjuk, rumah yang sederhana namun tampak nyaman dan sejuk dengan pepohonan di sekitar rumah itu.
"Ayo turun," ajak Ishana sambil membuka pintu mobil.
"Untuk apa kita di sini?" tanya Sakya lagi dan lagi melayangkan tatapan curiga pada Ishana.
"Ayo ikut dulu masuk, nanti kamu juga akan tau," sahut Ishana dengan santai turun dari mobilnya.
Secara perlahan, Sakya pun ikut turun dan mengikuti Ishana menuju ke rumah sederhana itu. Dia hanya berdiri di belakangnya, ketika Ishana mengetuk pintu rumah itu.
...----------------...
Maaf ya dua hari kemarin gak update, dua hari kemarin benar-benar gak ada tenaga buat pegang hp, ini juga ngetik dari siang tapi baru beres sekarang, maklum dicicilš„²
__ADS_1