Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Pertemuan Antara Larei dan Ishana


__ADS_3

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Sakya setuju untuk membiarkan Larei menemui Ishana, meskipun dia sendiri belum tahu, apa yang telah direncanakan oleh Larei.


Larei berjalan dengan langkah ringan memasuki lobby sebuah apartement, tempat yang saat ini menjadi tempat wanita yang akhir-akhir ini mengusik kehidupannya.


Setelah sampai di tempat yang ditujunya, dia segera menekan bel yang ada di pintu berwarna hitam di depannya.


Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya terdengar sahutan dari dalam. Disusul dengan pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang ingin ditemuinya.


"Kamu," ucapnya dengan ekspresi yang terlihat kaget.


"Boleh aku masuk?" tanya Larei dengan wajah tenang, berbanding terbalik dengan ekspresi wanita di depannya.


"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Ishana dengan wajah ketus.


Larei sedikit terkekeh, melihat kewaspadaan Ishana, seolah dia adalah seorang penjahat yang hendak menyakitinya.


"Rasanya tidak enak kalau dilihat orang, jika kita berbicara di luar seperti ini. Karena yang aku mau aku bicarakan cukup banyak."


Ishana mulai melihat sekelilingnya, membenarkan apa yang dikatakan oleh Larei itu, hingga akhirnya dia pun mengangguk dan mulai membuka pintu lebih lebar.


Tanpa dipersilakan dua kali, Larei berjalan memasuki apartement itu, lalu dengan santai duduk di sofa yang tersedia di sana.


Ishana menutup kembali pintu dan menyusulnya duduk di sofa yang berhadapan dengannya, dia menatap Larei dengan penuh tanda tanya dan waspada.


"Tenang saja, aku ke sini bukan untuk mencari ribut," ucap Larei, seolah tahu apa yang tengah Ishana pikirkan.


"Terus apa tujuanmu ke sini, apa kamu mau memintaku untuk menjauhi Sakya. Itu tidak mungkin, karena saat ini aku sedang hamil anaknya dan dia juga berhak mendapatkan haknya," ucap Ishana dengan angkuh.


Larei mengangguk. "Iya, dia memang berhak mendapat hak sebagai seorang anak—"


Larei menggantungkan ucapannya dan menatap Ishana dengan ekspresi berubah menjadi dingin.


"Tapi, itu pun jika dia benar-benar adalah anak Sakya!" tekan Larei.


"Apa maksud kamu?!" Ishana berbicara dengan nada cukup keras sambil berdiri dengan menatapnya tajam.


"Santailah, kenapa reaksimu seheboh itu." Larei menatapnya dengan kening mengerut, sambil terkekeh pelan.


"Kalau tidak ada hal penting yang mau kamu sampaikan, sebaiknya kamu pergi dari sini," usir Ishana menunjuk ke arah pintu.


"Aku akan pergi, jika aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Jadi, sekarang sebaiknya kamu bersikap tenang dan kembalilah duduk!"


Ishana mendengkus kesal, tapi dia tetap menuruti apa yang Larei perintahkan itu, karena melihat tatapan dingin dari wanita di depannya itu.


Setelah Ishana duduk dengan tenang, barulah Larei mulai berbicara kembali, mengatakan apa yang menjadi maksudnya datang ke tempat itu.


"Aku ke sini hanya ingin meminta secara baik-baik agar kamu mau berhenti menghubungi atau berusaha untuk mengusik suamiku atau keluargaku."

__ADS_1


"Heh, bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak akan pernah mau menjauhi Sakya, anak ini juga butuh sosok ayah, sama seperti anakmu!" sinis Ishana.


"Baiklah, kalau kamu tidak bisa diminta secara baik-baik." Angguk Larei dengan tenang.


Larei kemudian menyilangkan kaki, lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengetik sesuatu. Melihat hal itu membuat Ishana bingung dengan apa yang tengah dilakukannya itu.


"Tenanglah, aku tidak berniat memanggil polisi," ucap Larei mengangkat wajahnya dan menatap Ishana dengan tersenyum miring.


"Kalau kamu mau melakukan itu, lakukan saja. Aku tidak salah apa pun!" Ishana membuang pandangan ke arah lain, berusaha tetap bersikap tenang.


"Tapi, kalau kamu aku laporkan ke polisi dan ternyata kamu terbukti bersalah dan masuk penjara, kira-kira siapa yang akan merawat dan membiayai perawatan nenek kamu." Larei mengetuk-ngetukan jarinya di dagu.


Memasang ekspresi seolah dia sedang berpikir keras, tidak memedulikan wajah Ishana yang telah memerah karena menahan amarah.


"Jangan macam-macam sama nenekku, dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kita!" tekan Ishana.


"Bukankah aku sudah bilang, aku sama sekali tidak berniat jahat, apalagi sama nenekmu," saut Larei dengan wajah tanpa dosa.


"Semua tergantung bagaimana kamu mengambil sikap, hentikan dramamu itu dan jangan muncul lagi di hadapanku dan keluargaku atau aku akan menyeretmu ke penjara."


"Kamu tidak akan bisa melakukan hal itu, karena kamu tidak punya hal yang memberatkan aku untuk dipenjara!" ledek Ishana.


"Menjebak suamiku, mengancam dan memerasnya, apa itu tidak cukup untuk membuktikan kamu bersalah."


"Apa kamu ada bukti nyata?" tantang Ishana.


Tak lama setelah dia mengatakan hal itu, bel berbunyi membuat Ishana dilanda rasa khawatir yang jelas terlihat di ekspresi tegang wajahnya.


Ishana segera membuka pintu dan matanya langsung terbelalak kaget, ketika melihat dua pria yang sangat dikenalnya tengah berdiri di depan pintu.


"Kenapa kamu diam? Bawalah tamunya masuk," ucap Larei menatap ke arah pintu.


Ishana masih berdiri dengan kaku, di hadapannya ada dua pria yang sangat dikenalnya tengah berdiri di depannya itu.


"Oh, ternyata orang yang sedang kita bicarakan datang ke sini," ucap Larei tersenyum lebar pada Sakya.


Tanpa dipersilakan, Sakya menerobos masuk melewati Ishana yang masih mematung di tempatnya.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Sakya menatap Larei dengan bingung.


"Duduklah," ucap Larei pada Sakya. "Kamu juga," sambungnya pada pria yang datang bersama Sakya.


"Aku rasa, tidak perlu aku jelaskan lagi kamu pasti sudah mengerti 'kan? Ishana!" tekan Larei pada Ishana.


"Jadi, apa keputusanmu? Pergi dengan tenang atau aku memilih jalur hukum!"


Setiap ucapan yang Larei ucapkan itu, bukanlah sebuah pernyataan, tapi itu adalah sebuah perintah yang dibalut oleh ancaman, hingga membuat Ishana merasa tercekik.

__ADS_1


"Aku tau, kamu tidak pernah mencintai Sakya, kamu hanya merasa membutuhkannya dan merasa dipermainkan olehnya yang sebelumnya menjanjikan banyak hal padamu, tapi tidak bisa dia tepati."


"Jangan buang waktumu hanya untuk hal yang tidak berguna seperti itu, apa yang kamu lakukan itu tidak hanya akan menyakitimu pada akhirnya, tapi akan menyakiti orang-orang disekitarmu, seperti nenekmu contohnya."


"Anak yang ada dalam kandunganmu itu, bukanlah anak Sakya, tapi dia adalah anak dari pria ini, benar?" Larei menatap pria yang duduk tidak jauh darinya.


Bukan hanya Ishana yang kaget, karena Larei tahu akan hal itu, tapi Sakya juga tak percaya jika Larei bisa tahu hal itu.


Awalnya Sakya bingung, karena Larei memintanya untuk menjemput pria itu dan membawanya ke sana, tapi sekarang kebingungan itu telah terjawab.


"Pria ini sudah menceritakan semua rencanamu dari awal, jadi selain bukti tes yang dilakukan untuk janinmu dan Sakya, aku juga memiliki pernyataan pria ini sebagai bukti untuk menuntutmu jika aku mau."


Larei berdiri dari tempatnya, dia berjalan dan berdiri di hadapan Ishana, menatap wanita yang kini tengah menatapnya dengan wajah pucat itu dengan intens.


"Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini karena aku tau, nenekmu membutuhkanmu untuk berada di sampingnya di sisa-sisa hidupnya. Juga anakmu yang ada dalam kandunganmu."


"Jadi sekali lagi aku tekankan, berhenti bermain-main dan lupakan dendammu pada Sakya atau padaku, hiduplah dengan baik untuk orang-orang yang membutuhkanmu."


Ishana hanya diam bak patung, wajah angkuh yang tadi sempat ditunjukkannya, kini telah lenyap berganti menjadi wajah pucat seolah tidak ada darah yang mengalir dalam dirinya.


Merasa cukup memberikan peringatan pada Ishana, Larei pun hendak pergi dari sana, diikuti Sakya yang ternyata sudah mengikutinya berdiri sejak tadi.


"Oh iya, jika yang saat ini menjadi keraguanmu adalah bagaimana biaya pengobatan nenekmu, maka kamu tidak perlu khawatir, aku akan membantumu untuk biaya pengobatannya, asal kamu mau benar-benar berhenti, menghubungi Sakya."


Setelah mengatakan hal itu, Larei pun keluar dari apartement Ishana, dia berjalan sambil menghela napas sedalam-dalamnya di sela-sela langkahnya.


Dia benar-benar berharap, setelah ini Ishana berhenti mengganggu kehidupannya, karena dia hanya ingin merasa tenang.


"Aku gak nyangka ternyata kamu tau banyak tentangnya dan bisa mengatasi hal itu dengan mudah," ucap Sakya dengan takjub ketika mereka berada di dalam lift.


"Aku tau karena aku mencari tau, bukan kayak seseorang yang sok-sok an nyimpen masalah sendiri, sampai sembunyi-sembunyi tapi ujung-ujungnya ngerepotin juga."


Sakya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mendengar sindiran telak dari istrinya itu.


"Iya deh, iya. Kamu emang pintar, apa atuh aku mah," ucap Sakya mendramatisir.


"Makanya isi kepala itu gunain untuk mikirin hal positif, jangan hal negatif aja yang dipikirin," omel Larei memutar mata.


"Baik ibu ratu," ucap Sakya sambil mengangguk patuh.


Sakya menatap punggung Larei yang berjalan di depannya ketika keluar lift, dia benar-benar merasa beruntung, di tengah-tengah serba kekurangan dalam dirinya.


Ada Larei yang mau menerimanya apa adanya, mencoba menerima bagaimana masa lalunya dan mau memberikan dia kesempatan di saat dia hampir menghancurkan keluarganya.


Bahkan wanita itu, berusaha membantunya untuk memperbaiki kesalahan yang telah dia lakukan, Sakya merasa dia benar-benar menjadi pria yang paling beruntung karena telah dipertemukan dengan Larei.


...~TAMAT~...

__ADS_1


__ADS_2