Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Memberanikan Diri


__ADS_3

Larei akhir-akhir ini tidak bisa tenang, karena terus berpikir tentang dia yang dilanda bimbang dengan kehamilan dan masalah kedua orang-tuanya itu.


"Apa aku cerita langsung aja ya, daripada nanti mereka tau sendiri pasti malah akan tambah marah … tapi aku belum siap diamuk Papi," gumam Larei menyembunyikan wajahnya pada bantal.


Dia menggerakkan kakinya itu dengan gemas, antara bingung juga takut, itulah yang saat ini dia rasakan, benar-benar membuatnya pusing.


Tak lama kemudian di terduduk, lalu melihat bayangan dirinya dari cermin yang menghadap ke arah ranjang itu.


"Semua ini gara-gara si kadal darat, dia sembarangan nyimpen benihnya dasar kadal pembawa sial," geram Larei menatap tajam bayangan dirinya di cermin.


Dia kemudian melihat ke arah perut yang tertutup kain kaos itu, secara perlahan dia pun mengusap perutnya dengan perlahan, tatapannya masih lurus ke arah cermin.


"Berikan aku kekuatan babby, aku tidak mungkin menyembunyikan masalah ini lebih lama lagi, mereka pasti akan lebih kecewa kalau aku tidak jujur dari sekarang," ucap Larei beberapa kali menghela napas dalamnya.


Tak lama kemudian, dia memberanikan diri mulai menuruni ranjang kokoh miliknya itu, melangkah dengan perlahan keluar dari kamar, tujuannya adalah ruang keluarga.


Bisanya di jam-jam seperti ini, papi dan maminya masih berada di ruang keluarga, bercengkrama sambil menunggu waktunya tidur.


Papinya memang jarang membawa pekerjaan ke rumah, dari dulu dia selalu menyelesaikan pekerjaannya itu di kantor dan di rumah, adalah waktunya dia menghabiskan waktu bersama keluarga, terutama maminya.


"Mi, Pi," panggil Larei begitu dia sampai di ruang keluarga yang memang letaknya tepat dekat tangga, hingga begitu dia sampai di anak tangga terakhir, langsung berhadapan dengan ruang keluarga.


"Kamu belum tidur Rei?" tanya maminya melihat ke arahnya sekilas.


"Belum Mi, belum ngantuk." Larei menggeleng sambil tersenyum pada kedua orang yang begitu beejasa dan penting dalam hidupnya itu.


"Ada masalah apa? Apa ada masalah sama butik kamu?" tanya Aditya, seolah cenayang yang selalu tahu ketika orang di depannya tengah ada masalah.


"Tidak Pi, butik baik-baik saja," sahut Larei masih dengan senyum canggungnya.


Larei kembali berjalan ke arah sofa yang berada di hadapan orang-tuanya itu dengan langan langkah pelan.


"Baguslah kalau gitu." Angguk Aditya dan mulai memfokuskan kembali dirinya pada acara televisi dan obrolan istrinya.


Larei yang sudah duduk di sofa pun menjadi diam, melihat ke arah papi dan maminya dengan bergantian, lalu melihat ke acara televisi.


Kamu pasti bisa Rei, ayo tinggal bilang gini. Mi, Pi, Larei hamil, tinggal begitu saja apa susahnya. Batin Larei terus berbisik.


Padahal tadi dia sudah mengumpulkan keberaniannya. Namun, Ketika berhadapan dengan orang-tuanya secara langsung, keberanian yang tadi telah terkumpul itu menguap begitu saja, nyalinya minciut.

__ADS_1


"Pi, Mi, ada yang mau aku sampaikan," ucap Larei dengan jantungnya yang semakin berdegup kencang.


Aditya dan Davira menatap Larei dengan kaning mengerut karena Larei terlihat tengah gusar.


"Bicaralah," sahut Aditya dengan tenang.


"Aku, aku, aku sebenarnya–"


"Apa, cepatlah katakan Rei ini sudah waktunya untuk kita istirahat," ucap papinya dengan tidak sabar, karena dia yang malah jadi gelagapan.


"Aku, aku hamil!" lirih Larei, sambil menatap mami dan papinya yang hanya mengerutkan keningnya.


Raut bingung jelas tergambar dari wajah pasangan itu, dengan tatapan lurus pada Larei yang kini sedang duduk sambil memainkan kukunya, menunggu reaksi orang-tuanya selanjutnya.


"Kamu jangan bercanda Rei, Mami tau kamu tidak pernah punya pacar, bagaimana kamu bisa hamil … kamu hamil sama jin apa," ucap Davira dengan ekspresi yang sudah mulai serius.


"Aku gak bercanda Ma, beberapa hari yang lalu aku sudah memeriksanya ke rumah sakit dan hasilnya aku benar-benar hamil."


Larei menjelaskan dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan di pipinya, dia kemudian menundukkan kepalanya.


Kedua orang-tuanya itu hanya membantu di tempatnya, melihat Larei dengan intens, Larei pun menatap mereka kembali dan melihat wajah papinya sudah mulai menegang.


Tergambar jelas kemarahan di wajahnya yang masih terlihat segar meskipun sudah berumur 52 tahun itu.


Itu alasannya Larei tidak pernah berpacaran, karena dia tidak ingin membuat papinya marah dengan kesalahan yang mungkin terjadi ketika dia berpacaran.


Namun, kini tanpa sengaja dia telah melemparkan kotoran ke muka papinya, kabar kehamilannya itu pasti merupakan pukulan terbesar untuk keluarganya.


Di tengah-tengah ketegangan itu, suara langkah kaki menuruni tangga, tapi itu tidak membuat mereka bergerak sama sekali, bahkan untuk bernapas pun rasanya sulit untuk Larei.


"Mi, Pi, Kak. kalian belum tidur?" pertanyaan polos dari adik laki-laki yang tidak dapat membaca situasi.


Menyadari ada hal yang aneh dengan keluarganya, Ziel yang semula bermaksud akan ke dapur pun, malah mendekati mereka dan duduk dengan pelan di samping kakaknya.


"Masuk ke kamar kamu lagi Ziel!" perintah Aditya tanpa melihat ke arah anak bungsunya.


Tatapannya masih tertuju pada anak perempuannya yang baru saja mengatakan hal yang tidak pernah ingin dia dengar, dia selalu menegaskan pada anak-anaknya untuk menjaga diri.


Namun, kini dia mendengar anaknya mengatakan hal yang membuatnya kecewa dan marah.

__ADS_1


"Tidak, Ziel di sini aja, aku udah gede aku berhak tau apa pun yang terjadi," sahut Ziel kukuh.


Larei melirik ke arah adiknya itu, apa adiknya itu tidak melihat bagaimana raut wajah papinya saat ini, bukannya pergi tapi malah banyak bicara seperti itu.


"Pi, tenang ya jangan terlalu emosi nanti darah tinggi Papi kumat," ucap Davira berusaha menenangkan suaminya, dengan mengusap lengan suaminya itu.


Meskipun dia kecewa pada anaknya, tapi dia juga tidak ingin jika sampai suaminya melampiaskan amarahnya pada anaknya itu, meskipun anaknya itu bersalah.


"Sebenarnya ada apa ini Mi, Pi. kenapa Kakak sampai nangis gitu?" ucap Ziel yang benar-benar ingin tahu masalah yang tengah terjadi itu.


"Tanyakan pada kakakmu itu, kesalahan apa yang telah dia lakukan!" tekan Aditya lagi.


Larei menatap papinya lagi, dengan pipi yang sudah mengkilat karena air mata ketika tersorot lampu di ruangan itu.


"Maafkan Larei Pi!" lirih Larei dengan bibir bergetar karena tangis.


"Apa gunanya minta maaf sekarang, seharusnya kamu memikirkan nasibmu dan keluargamu ketika kamu akan melakukan hal memalukan itu!" bentak Aditya.


Kilatan amarah yang tercetak di wajahnya itu, bukan hanya membuat Larei takut, tapi Ziel dan Davira pun merasa takut hingga mereka langsung bungkam dan membatu.


"Maaf Pi, Larei bodoh karena tidak memikirkan hal itu, Larei benar-benar minta maaf, tapi semuanya terjadi tanpa kesenjangan Larei Pi, percayalah," ucap Larei dengan diiringi isakan tangis yang semakin menjadi.


Ziel menatap maminya dengan penasaran, dia benar-benar tidak mengerti kesalahan apa yang kakaknya perbuat, hingga papinya sampai semarah itu.


Biasanya, ketika kakaknya berbuat kesalahan, papinya hanya akan memberikan beberapa kata yang membuat Larei takut. tidak sampai semarah itu.


"Kakak kamu hamil."


Mata Ziel membola mendengar apa yang maminya katakan dengan nada nyaris seperti bisikan itu, dia kemudian melihat ke wajah kakanya, lalu ke perut kakaknya.


Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu, karena dirinya sendiri tahu, jika kakaknya tidak pernah berpacaran, atau hanya dirinya saja yang tidak tahu hal itu.


"Kenapa Kakak bisa hamil? Bukannya Kakak gak punya pacar." Pria berusia 20 puluh tahun berbicara dengan pelan pada kakaknya.


"Apa pria itu lari dari tanggung jawab Kak?" bisik Ziel lagi yang tidak dapat menahan rasa penasaran terhadap kasus kakaknya itu.


Larei tidak bermaksud memberikan jawaban untuk menghilangkan rasa penasaran adiknya itu, dia hanya fokus pada kedua orang-tuanya yang masih marah itu.


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa kasih bintang limanya ya, biar makin semangat ngetiknya😁


Dan bagi yang gak suka sama cerita ini, bisa langsung behenti ya, jangan tinggalkan komentar mencaci dan sebagainya 🙏


__ADS_2