
"Selamat datang di rumah kamu sekarang ya Nak," ucap Haira ketika mereka memasuki rumah Fahar.
Mereka memang baru pulang dari acara pernikahan mereka. Dan mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah, begitu pun dengan pasangan yang baru saja resmi menjadi suami-istri itu.
"Kalau butuh apa-apa tidak usah sungkan, tinggal bicara ke mama atau ke asisten rumah tangga ya," celoteh Haira lagi sambil berjalan menggandeng Larei menaiki tangga.
"Iya Ma," sahut Larei tersenyum.
"Berhubung kami belum menemukan rumah yang cocok untuk kalian, jadi kalian tinggal di sini aja selama beberapa waktu," ucap Haira.
"Sebenarnya, kita bisa tinggal dulu di apartement Ma, tidak perlu buru-buru siapin rumah juga," ucap Sakya yang berjalan di belakang Haira dan Larei sambil menyeret koper milik Larei.
"Ya gak bisa gitu dong Sak, istri kamu sedang hamil, dia harus banyak istirahat dan harus ada yang memperhatikanya, kalau kalian tinggal di apartement siapa yang bakal ngurusin," sahut Haira.
"Aku bisa ngurusin istri aku Ma." Sakya menyahutinya dengan yakin.
"Alah, paling yang ada nanti kamu malah nyusahin istri kamu, bukannya ngurusin."
"Gak percaya banget si Ma, ke anak sendiri juga," ucap Sakya dengan berdecak kesal.
"Mama emang gak percaya sama kamu, ngurus diri sendiri aja gak bisa apalagi ngurusin istri," sahut Haira.
Dia menengok ke anaknya dan menatapnya dengan delikan mematikan.
"Sudah jangan ribut, kalian istirahatlah dulu, sekarang sudah malam. Larei juga pasti lelah habis acara tadi," lerai Fahar, menghentikan perdebatan antara anak dan istrinya.
Kini mereka sudah sampai di depan kamar Sakya yang mulai saat ini, akan menjadi kamar Larei juga.
"Ya udah kalau gitu kalian segeralah istirahat," ucap Haira.
"Iya Ma, Pa, selamat malam," sahut Larei tersenyum pada kedua mertuanya itu.
"Iya selamat malam, kamu baik-baiklah pada istrimu." Haira menatap Sakya dengan tatapan tegasnya.
"Iya Ma," sahut Sakya memutar matanya malas.
"Sudah ayo, kita juga istirahat," ajak Fahar yang langsung diangguki oleh Haira.
Setelah kedua orang-tuanya tidak terlihat lagi, Sakya pun mulai membuka pintu kamarnya dengan lebar.
"Ayo masuklah," ucap Sakya pada Larei.
"Iya," sahut Larei dengan mengangguk.
__ADS_1
Larei secara perlahan memasuki kamar yang cukup megah itu, dengan ranjang berukuran besar yang berada di tengah-tengah ruangan.
Sakya mengikuti di belakangnya dan langsung menuju ke ruang ganti, menyimpan koper milik Larei, setelah itu dia kembali keluar, mendekati Larei yang masih memperhatikan setiap isi kamar itu.
"Besok aku akan meminta bibi untuk membereskan baju-bajumu, sekarang ayo kita istirahat," ucap Sakya dengan santai mendudukkan dirinya di ranjang.
"Tunggu dulu, maksud kamu, kita tidur berdua di ranjang ini gitu?" Larei menatapnya tak percaya, hingga menghadirkan kerutan di kening Sakya karena ucapannya itu.
"Iyalah di mana lagi emangnya, di sini cuma ada ranjang yang bisa dijadikan tempat tidur," sahut Sakya sambil menepuk ranjangnya.
"Kayaknya di bawah ranjang itu masih luas deh," ucap Larei menunjuk ke lantai di samping ranjang.
"Maksudnya, kamu ingin tidur di lantai gitu, tidak bisa kalau kamu masuk angin dan itu berakibat pada kesehatan anak aku gimana?" Sakya menggeleng dengan cepat.
"Siapa yang mau tidur di lantai, aku juga gak mau tidur di lantai." Larei memutar matanya.
"Terus maksud kamu?"
"Ya, kamulah yang tidur di lantai."
Mendengar apa yang istrinya itu katakan, Sakya mendelik dengan tajam pada wanita itu, di malam pertama pernikahannya ini, dia harus tidur di lantai. Tidak mungkin!
"Jangan ngaco deh Rei, masa aku harus tidur di lantai sih, ini kan kamar aku," ucap Sakya tidak terima.
"Di lemari paling ujung sebelah kiri, di urutan yang paling bawah," jelas Sakya.
Larei berjalan dan memasuki ruang ganti, menuju ke lemari yang Sakya sebutkan tadi.
"Rei, mending kita tidur berdua aja di ranjang deh," sambung Sakya yang mengekori langkah Larei ke ruang ganti.
"Gak mau!" tolak Larei mentah-mentah.
"Kenapa gak mau sih Rei?"
"Aku tau kamu itu si otak mes*m, aku gak mau kamu mes*min," sahut Larei berbalik dan menatapnya dengan tajam, setelah mendapatkan apa yang dicarinya.
"Kita udah resmi jadi suami-istri Rei, jadi wajar-wajar aja kalau aku berbuat hal yang seharusnya," tutur Sakya dengan enteng, sambil terus mengekor di belakang Larei yang tengah membentangkan selimut di samping ranjangnya.
"Meskipun kita sudah menikah, kamu harus ingat, aku setuju untuk menikah denganmu, hanya karena anak yang dalam kandunganku saja, jadi jagan terlalu banyak berharap!"
"Ya udah kalau gitu, aku cari wanita di luar aja yang mau aku ajak tidur," ancam Sakya dengan enteng.
"Silakan, toh aku tidak akan merasa rugi, jika kamu melakukan hal itu." Larei mengangkat bahunya tak peduli, lalu mulai menaiki ranjang empuk milik Sakya.
__ADS_1
Mendengar Larei tidak peduli seperti itu padanya, malah semakin membuatnya merasa kesal.
"Ini bantal buatmu," ucap Larei memberikan bantal pada Sakya.
Sakya dengan malas menerima bantal itu, dalam otaknya mulai menyusun rencana jika dia akan pindah ke ranjang, ketika Larei sudah terlelap.
"Jangan berpikir untuk naik ke ranjang, saat aku sudah terlelap karena aku tidak akan membiarkan hal itu. Pokoknya awas aja kalau kamu sampai berani naik ke ranjang."
"Emang apa yang bisa kamu lakuin heh!" tantang Sakya menatap remeh Larei dengan senyuman miringnya.
"Aku akan melakukan hal yang pernah aku lakukan, memberikan pelajaran pada itu," sahut Larei meyeringai, sambil menunju ke pangkal paha Sakya, menggunakan isyarat matanya.
Melihat hal itu, secara refleks Sakya menutupi pangkal pahanya yang tiba-tiba terasa berdenyut, karena perkataan istrinya itu.
Sepertinya si saki-nya masih trauma dengan apa yang Larei lekukan beberapa waktu lalu, hingga membuatnya terasa merinding.
"Baiklah, aku akan tidur di lantai, tidak akan berani naik ke ranjang," sahut Sakya dengan pasrah.
"Bagus deh, ya udah kalau gitu aku mau langsung tidur, rasanya badanku pada pegal-pegal," gumam Larei yang sudah mulai merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
Menikmati kehangatan dan keempukan kasur itu, sambil memejamkan mata, tidak memedulikan Sakya yang tengah merenungi nasibnya.
"Malam pertamaku tidak seindah ekspetasi," gumam Sakya sambil merebahkan tubuhnya di lantai yang hanya dibalut oleh selimut itu.
"Tau gini, kemarin-kemarin aku siapin sofa yang besar di sini, atau siapin satu set kasur lagi," gerutu Sakya sambil membolak-balikan tubuhnya.
Mencari posisi nyamannya, tidur di tempat yang keras seperti itu, merupakan hal pertama baginya.
"Jangan ngomel terus berisik! Aku jadi gak bias tidur!" ketus Larei.
"Iya, iya bawel, dasar istri durhaka," decak Sakya, sambil menatap ranjang dengan tajam.
"Apa, bilang sekali lagi?"
"Gak ada apa-apa, tidurlah ini sudah malam," sahut Sakya memutar matanya malas.
"Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak dan mimpi indah," ucap Larei yang sebenarnya merupakan sebuah ledekan.
"Gimana bisa tidur nyenyak dan mimpi indah, kalau tidur di lantai kayak gini, ini yang ada aku bisa mimpi buruk," gumam Sakya dengan helaan napas kasar.
Sementara itu di atas ranjang, Larei terkekeh tanpa suara mendengar gerutuan dari Sakya itu, dengan mata terpejam dan merapatkan selimut di tubuhnya.
Dia benar-benar bahagia, di atas penderitaan pria yang baru saja sehari menjadi suaminya itu.
__ADS_1