
"Bagaimana jika aku bisa membuktikan kalau hanya anak kamulah yang mengandung cucuku? Apa kita bisa membahas tentang pernikahan mereka?" tanya Fahar yang masih belum mundur dari niatnya untuk menikahkan anak mereka.
Aditya tidak langsung menjawabnya, dia berpikir beberapa saat, apakah akan baik untuk anak dan cucunya nanti, jika dia setuju untuk menikahkan Larei dengan Sakya.
"Bagaimana jika ternyata anak Mas tidak berubah juga, aku hanya tidak ingin anakku tersakiti Mas, karena hal yang paling menyakitkan dalam berhubungan adalah sebuah pengkhianatan," ucap Aditya yang masih was-was.
"Jika sampai itu terjadi, maka aku akan mendidik anakku dengan lebih tegas lagi dan aku sendiri yang akan mengembalikan anakmu padamu dengan kondisi baik-baik saja," janji Fahar yakin.
Aditya kembali menimbang lagi apa yang Fahar janjikan itu, melihat keraguan darinya itu, Fahar pun kembali bersuara, berusaha membujuknya.
"Aku mohon Dit, izinkan anakku bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi ini, aku yakin dia pasti akan berubah," ucap Fahar dengan tatapan memohonnya.
"Baiklah, tapi sebelum itu Mas harus memastikan dulu, tidak ada satu pun dari mantan-mantan anak Mas memiliki kasus seperti anakku!" tegas Aditya.
"Baiklah, aku akan segera memastikan hal itu … jika nanti aku sudah mendapatkan kebenaran tentang semua itu, bolehkah aku menghubungimu lagi, untuk membahas kelangsungan hubungan anak-anak kita," tutur Fahar.
Aditya melihat raut semangat dari wajah pria itu, hingga membuat dia tidak tega jika harus menolak tawaran itu lagi.
"Baiklah, nanti Mas bisa mengaturnya," ucap Aditya dengan pasrah.
Senyuman lebar pun segera terbit di bibir Fahar yang masih telihat segar itu, bukan hanya kabar jika dia akan memiliki cucu yang membuatnya teramat senang.
Namun, juga karena wanita yang saat ini mengandung cucunya adalah Lareina, dia sebenarnya sudah tahu dengan baik wanita itu dari jauh-jauh hari.
Sampai tadi, begitu melihat video tentang Sakya dan Larei, ada rasa senang dalam hatinya, entah kenapa dia memiliki keyakinan, jika wanita itu bisa membuat anaknya berubah.
"Aku kira kita tidak akan menjadi besan, tapi ternyata takdir memang menginginkan kita untuk besanan," ucap Fahar menatap Aditya dengan senyuman.
Ya, karena sebelumnya mereka memang ada rencana menjodohkan Larei dengan Sakya, jika seandainya Aditya tidak mengetahui tentang kehamilan Larei itu, saat ini mereka telah dipertemukan.
Ternyata sebelum mereka merencanakan hal itu, anak mereka sudah saling kenal sebelumnya, bahkan lebih dari itu.
__ADS_1
"Minumlah dulu Mas," ucap Aditya mulai mengambil minumannya.
Fahar pun mengangguk dan mengikuti apa yang dilakukannya, yaitu mengambil minuman yang sudah tersaji di depan mereka.
"Mas jangan senang dulu, aku belum sepenuhnya menyetujui hal itu, karena jika sampai anakmu memiliki anak dari wanita lain, tentu saja apa yang kita bahas ini akan percuma," sambung Aditya mulai menyeruput minumannya.
"Aku akan pastikan anakku tidak seperti itu, meskipun dia emang sedikit nakal, tapi aku yakin dia mampu menjaga dirinya dengan baik," ucap Fahar dengan yakin.
"Semoga saja apa yang Mas katakan itu benar adanya, tapi meskipun mereka tidak menikah, kalian tentu saja boleh bertanggung jawab dengan cara lain, tidak harus menikah saja," ucap Aditya.
"Itu tentu saja akan berbeda nantinya, anak-anak kita pasti akan merasa canggung, begitu pun dengan cucu kita, aku tidak ingin yang seperti itu,' ucap Fahar dengan ekspresi sudah kembali serius.
Aditya tidak menjawabnya, dia kembali menyimpan cangkir berisi minumannya itu ke meja, dia pun sebenarnya membenarkan apa yang Fahar katakan itu.
"Bagaimana keadaan Larei dan kandungannya, apakah ada masalah?"
"Tidak, semuanya baik-baik saja."
"Baguslah kalau gitu." Angguk Fahar.
Zaidan menghubunginya, meminta dia untuk segera kembali ke kantor karena dia masih ada pertemuan dengan kliennya.
Setelah selesai berbicara beberapa patah kata dengan Zaidan di teleponnya, dia pun memasukkan kembali benda pipih itu ke saku jasnya.
"Apa tidak ada yang mau kamu sampaikan lagi?" tanya Fahar pada Aditya.
"Tidak ada, Mas sudah bisa pergi, terima kasih atas waktunya," ucap Aditya bangun dari posisinya disusul oleh Fahar.
"Iya sama-sama," sahut Fahar, mereka pun bersalaman.
"Sebentar, biar aku minta asisten aku untuk nganterin Mas ke bawah, maaf aku tidak bisa anterin," tutur Aditya berjalan ke arah meja kerjanya.
__ADS_1
Dia mengambil gagang telepon dan menghubungkannya ke ruangan asistennya.
"Anterin tamu ke bawah," ucapnya singkat lalu kembali menutup panggilan itu.
"Sebenarnya tidak perlu diaterin pun aku tidak mungkin nyasar," ucap Fahar.
"Tidak bisa seperti itu Mas, karena walau bagaimanapun aku yang minta Mas untuk ke sini," sahut Aditya.
"Baiklah terserah kamu saja." Angguk Fahar dengan pasrah.
"Oh iya, untuk masalah anakku, aku akan mengurusnya secepat mungkin, tidak baik membiarkan kandungan Larei semakin besar, dan mereka masih belum menikah," ucap Fahar.
"Iya terserah Mas saja, tapi aku tidak ingin ada kesalahan Mas, aku tidak mau anakku mengalami hal yang tidak baik nantinya," ucap Aditya yang memang belum sepenuhnya menyetujui saran dari Fahar untuk menikahkan Larei dan Sakya.
"Kamu tenang saja, kali ini aku tidak akan melakukan kesalahan apa pun," ucap Fahar dengan tegas.
Aditya hanya menyahuti ucap pria itu, dengan sebuah anggukan kepala samar.
Beberapa detik kemudian, pintu ruangan itu kembali diketuk, Aditya pun mempersilakan si pengetuk yang tidak lain adalah asistennya untuk masuk.
"Baiklah kalau gitu, aku pergi dulu. Nanti akan aku kabari secepatnya tentang perkembangan rencana kita," ucap Fahar.
"Iya Mas," sahut Aditya sambil mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.
"Semoga saja, Larei mau menikah dengan Sakya, itu pun jika memang pria itu benar-benar bisa berubah," gumam Aditya dengan tatapan kosong.
Meskipun niat awalnya dia memberitahu masalah kehamilan anaknya pada Fahar, bukan karena ingin menuntut pertanggungjawaban, tapi setelah pembicaraan barusan.
Dia merasa apa yang dikatakan Fahar itu memang ada benarnya, mungkin dia memang bisa memenuhi kebutuhan materi untuk cucunya kelak, tapi bagaimana dengan sisi psikologi anak itu.
Meskipun di jaman sekarang, hal yang seperti itu memang sudah biasa terjadi dan banyak terjadi, tapi tidak menutup kemungkinan anak dan cucunya ke depannya akan di pandang sebelah mata.
__ADS_1
Karena tidak jarang orang menilai dari apa yang mereka lihat, menilai orang lain sesuka hati mereka, tanpa memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi.
"Semoga saja anak itu memang benar-benar, bisa berubah menjadi lebih baik, jika memang dia mau berubah, tidak ada salahnya memberikannya kesempatan,' gumamnya lagi dengan disertai helaan napas.