
Saat ini Sakya tengah berhadapan dengan seorang dokter yang tengah melihat catatan hasil pemeriksaannya dengan serius, sambil sesekali membenarkan kaca mata di hidungnya yang melorot ke bawah.
"Jadi ada masalah apa dengan kesehatan saya Dok?" tanya Sakya yang tidak sabar untuk mendengar hasil pemeriksaannya itu.
"Tidak ada masalah dengan kesehatan anda Tuan, semunya baik-baik saja," terang Dokter itu menyimpan kertas-kertas yang tadi dibacanya ke atas meja.
"Tapi kenapa saya merasa hidung saya dan perut saya selalu tidak nyaman," ucap Sakya menatap dokter pria yang jauh lebih tua darinya itu dengan serius.
"Saya sudah memastikan, jika hidung anda baik-baik saja, perut anda juga tidak ada masalah."
Sakya menatap dokter itu heran, jika semuanya baik-baik saja, terus kenapa dia mengalami keanehan akhir-akhir ini.
"Apa lambung saya juga baik-baik saja Dok?" tanya Sakya untuk memastikan.
"Lambung anda sehat," sahut Dokter mengangguk dengan yakin.
"Bagaimana dengan ginjal saya Dok, jantung atau hati saya?" tanya Sakya karena sangat penasaran.
"Dari hasil pemeriksaan yang kita lakukan beberapa waktu lalu, seluruh organ tubuh anda sehat-sehat saja Tuan," sahut Dokter dengan sabar.
"Apa kalian yakin, alat-alat pemeriksaan kalian tidak eror?" tanya Sakya lagi menatap dokter di depannya itu dengan raut curiga.
Dokter yang merupakan salah satu kepala dokter di rumah sakit, berusaha terus sabar menghadapi orang di depannya itu.
"Di rumah sakit ini setiap alatnya terjamin tidak eror Tuan," ucap Dokter masih berusaha tersenyum meskipun dalam hati sudah kesal terhadap Sakya.
"Terus apa yang terjadi padaku?" tanya Sakya lagi dengan serius.
"Apa anda sering mual dan muntah di saat-saat terentu saja?"
"Kalau muntah, biasanya pas bangun tidur, atau melihat makanan yang tidak ingin aku makan, tapi kalau mual setiap mencium aroma parfum wanita, bukan hanya parfum, tapi sabun, sampo, semua yang berhubungan dengan wanita selalu mengganggu penciumanku," terang Sakya panjang lebar.
"Apa anda merasa mual hanya ketika mencium wewangian yang berhubungan dengan wanita saja?" tanya Dokter memastikan lagi.
"Iya Dok, ketika berhadapan dan mencium parfum pria saya baik-baik saja." Angguk Sakya
"Saya baru menemui hal yang seperti ini Tuan, selama puluhan tahun jadi dokter, ini adalah hal yang baru saya dengar," ucap Dokter itu yang memang merasa aneh dengan keadaan Sakya itu.
__ADS_1
"Terus sekarang apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya Sakya dengan frustasi.
Bagaimana tidak, saat ini tidak bisa berdekatan dengan lawan jenisnya, bahkan beberapa hari yang lalu dia main ke apartement Ishana, bermaksud untuk memadu kasih dengan wanita incarannya itu.
Namun, sialnya, malah dia muntah selama di apartement itu, jangankan untuk bercumbu, berdekatan saja dia tidak kuat, alhasil dia pulang dengan badan lemas.
Bukan lemas karena telah olahraga ranjang, melainkan telah menguras seluruh isi perutnya, bahkan dia melihat Ishana yang menunjukkan raut tak sukanya saat itu.
"Saya akan coba kasih obat pereda mual aja ya Tuan, semoga dengan itu anda bisa segera sembuh," saran Dokter itu.
"Baiklah," sahut Sakya dengan pasrah.
Setelah mendapat resep dari dokter itu, dia pun pergi dari ruangan itu, tidak lupa masker yang selalu menemaninya akhir-akhir ini.
Sakya membeli obat sesuai dengan resep itu terlebih dahulu, setelah itu barulah kembali ke mobilnya dan mulai melepaskan maskernya.
"Bosan juga setiap akan keluar harus atau berhadapan dengan banyak orang harus pakai masker," gumam Sakya sambil menjalankan mobilnya.
Dia tidak langsung pulang ke rumahnya meskipun ini sudah sore, tapi tujuannya adalah apartement sahabatnya Isam, dia sudah janjian akan berkumpul di apartement temannya itu.
Begitu sampai di depan pintu apartement Isam, dia langsung mengetikkan sandi yang memang sudah dia hapal dan langsung masuk ke dalam begitu pintu terbuka.
"Kamu udah datang Sak," ucap Isam yang baru keluar dari kamar, setelah mendengar pintu apartemennya terbuka.
Isam saat ini tidak memakai baju, hanya memakai kolor berwarna hitam yang hanya menutupi setengah pahanya yang kekar itu.
"Kenapa di sini bau," ucap Sakya sambil menutup mulut dan hidungnya.
"Bau apa sih aneh-aneh aja deh," sahut Isam memutar matanya malas.
"Pacar kamu baru dari sini ya?" tanya Sakya masih dengan menutup hidung dan mulutnya.
"Dia udah pergi dari satu jam yang lalu, masa kamu masih bisa nyium wangi parfumnya sih," ucap Isam sambil mengendus area apartementnya itu.
"Kamu hilangin dulu aja deh parfumnya, aku udah gak kuat."
Sakya berjalan dengan langkah cepat, tak lama setelah itu Isam mendengar suara ribut yang berasal dari Sakya yang muntah di dapurnya.
__ADS_1
"Dasar aneh, aku aja udah gak nyium bau parfum pacar aku," decak Isam.
Karena tidak tega dengan sahabatnya, dia pun memutuskan untuk menyemprotkan parfum miliknya, ke seluruh ruangan itu juga kamarnya.
"Uhuk … ukhuk, kamu mau bunuh nyamuk atau seragga, sampai apartementmu di semprot parfum seperti ini, ini namanya bukan mau bunuh serangga, tapi mau bikin kita mati keracunan," ucap Gamya begitu memasuki ruangan itu yang sudah dipenuhi oleh aroma parfum si empunya.
"Lihat tuh sahabat kita lagi muntah, sampai sekarat cuma karena dia nyium wangi parfum pacar aku yang udah pergi dari sejam yang lalu," terang Isam.
Dia menghentikan kegiatannya itu, setelah dirasa apartementnya tidak ada lagi aroma dari parfum wanitanya.
"Dia masih aja suka muntah tiap nyium aroma yang berhubungan dengan wanita?" tanya Gamya sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
"Tuh buktinya dia sampai muntah-muntah kayak gitu." Tunjuk Isam pada Sakya yang sudah berjalan dengan langkah lemasnya ke arah ruang tengah.
Pria yang mengalami keanehan itu pun menjatuhkan dirinya di sofa cukup panjang, dia menyandarkan tubuhnya lalu memijat keningnya yang terasa pening.
"Heran aku, kenapa sekarang indra penciuman kamu jadi tajam banget sih Sak, kayak anjing pelacak aja, kenapa kamu gak nawarin diri buat bantu kepolisian aja," gerutu Isam menatap Sakya yang tengah memejamkan mata.
"Kamu udah dari rumah sakit lagi, gimana hasil pemeriksaanmu?" tanya Gamya mengabaikan celotehan Isam.
Sakya kembali membuka matanya dan melihat kedua sahabatnya itu bergantian lalu menggeleng.
"Tidak ada masalah dengan tubuh aku, semuanya baik-baik saja, dokter pun heran dengan kondisi aku saat ini," terang Sakya.
"Kenapa bisa gitu ya, aneh aja kamu yang awalnya selalu baik-baik aja, terus sekarang jadi gini," ucap Gamya diangguki oleh Isam dan Sakya itu sendiri.
"Aku sendiri juga aneh," sahut Sakya.
"Apa mungkin ini adalah doa dari salah satu pacar kamu sebelumnya yang ingin kamu, agar tidak bisa dekat dengan wanita," ucap Gamya.
Mendengar apa yang diucapkannya itu, Isam dan Sakya langsung melihat ke arahnya dengan tatapan aneh.
"Kenapa tidak? Bisa aja 'kan, kalian pernah dengar kata, jika orang yang tersakiti doanya akan mudah terkabul," ucap Gamya dengan serius.
"Tapi aku selalu mengakhiri hubunganku dengan pacar-pacar aku sebelumnya dengan damai, kecuali dengan …," ucapan Sakya itu terhenti, hingga membuat kedua sahabatnya menatapnya dengan penasaran.
"Dengan siapa?" tanya Isam dan Gamya dengan penasaran.
__ADS_1