
Sudah dua minggu lebih berlalu, sejak kejadian di mana Larei meminta untuk tinggal di rumah orang-tuanya. Itu artinya, sudah dua minggu lebih juga, dia tidak dapat melihat anaknya.
Jangan tanya bagaimana kehidupan pria yang baru saja ditinggalkan oleh istri dan anaknya itu. Semenjak kejadian itu, dia seolah tidak memiliki gairah untuk hidup.
Dia melewati hari selama dua minggu lebih itu dengan perasaan kosong, tidak ada lagi binar bahagia di wajahnya. Dia hanya menenggelamkan dirinya dengan kegelapan dan larut dalam pekerjaan di setiap waktunya.
Namun, hari ini tampak berbeda, semangat dalam dirinya yang sempat meredup, kini telah hadir kembali. Seutas senyum terus hadir di bibirnya, seiring dengan lajunya kendaraan beroda empat yang dipakainya.
Dia melajukan mobilnya dengan tidak sabaran, rasa rindu pada anak dan istrinya semakin menggebu. Rasanya tidak sabar untuk berhadapan lagi dengan istri tercintanya, sang pemilik hati yang tidak dilihat selama dua mingguan ini.
Kendaraan beroda empat yang Sakya kemudikan itu, berhenti dengan perlahan di depan gerbang rumah mertuanya.
Dia membuka kaca mobilnya, mencoba berbicara dengan penjaga rumah untuk membukakan gerbang untuknya, senyuman masih belum luntur di bibirnya.
"Pak, tolong buka ya."
Penjaga rumah itu tersnyum ramah seperti biasa, lalu mulai membuka gerbang dengan lebar agar mempermudah mobilnya untuk masuk.
"Silakan masuk," ucap penjaga itu sambil menunduk hormat.
"Makasih, Pak." Sakya tersenyum dan langsung menjalankan mobilnya secara perlahan, memasuki pelataran rumah mertuanya.
Senyuman yang tadi bertahan di bibirnya, secara perlahan mulai luntur, ketika dia menatap pemandangan yang kurang menyenangkan.
Di halaman bagian samping rumah itu, Larei tengah duduk di sebuah bangku sambil memangku anak mereka, dia terlihat bahagia sambil menatap anak mereka begantian dengan menatap orang yang tengah berbincang dengannya.
"Dia benar-benar anak yang anteng."
"Iya, dia anteng banget. Dia hanya nangis kalau haus aja, setelah itu kembali tidur lagi."
"Aku ingin gendong, tapi takut malah akan melukainya."
"Asal hati-hati, pasti tidak akan melukainya."
"Nanti saja nunggu dia agak besaran dikit untuk menggendongnya."
Sakya mematung di samping mobilnya dengan tatapan lurus pada Larei dan Andrew yang tengah membahas anaknya itu.
Dia dapat melihat Larei yang terlihat baik-baik saja, berbanding terbalik dengan dirinya yang belakangan ini tidak bisa melakukan apa pun dengan tenang.
Dia bahkan makan tidak teratur, tidak bisa benar-benar tidur dengan nyenyak, pikirannya tertuju pada anak dan istrinya.
Namun istrinya itu, terlihat benar-benar santai. Seolah mereka tidak sedang menghadapi masalah yang serius, apa semua itu karena Larei memang tidak mempermasalahkan masalah mereka.
__ADS_1
Andrew yang lebih dulu menyadari kehadirannya, menatap dirinya hingga secara perlahan Larei pun mulai melihat ke arahnya.
"Apa kabar, Rei?" sapa Sakya berusaha tersenyum, sambil berjalan mendekati Andrew dan Larei yang sudah mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Aku baik," sahut Larei seadanya.
"Kabarnya gimana?" tanyanya lagi mengalihkan pandangan ke arah anaknya yang berada di gendongan Larei.
"Dia juga baik."
Melihat kecanggungan yang terjadi di antara mereka berdua, membuat Andrew berinisiatif untuk memberikan mereka kesempatan berbicara empat mata.
"Rei, aku pamit dulu ya, ada hal yang harus aku urus lagi," pamit Andrew.
Larei menoleh ke arahnya, lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah, hati-hati, Kak."
"Iya. Aku duluan ya, Sak." Andrew beralih pada Sakya.
"Iya," jawab Sakya sambil mengangguk singkat.
Setelah Andrew pergi, kini hanya tersisa Sakya dan Larei yang masih berdiri dengan canggung.
"Baiklah." Angguk Sakya, dia kemudian mengalihkan pandangan pada anak mereka.
"Bisakah aku menggendongnya?" tanya Sakya penuh harap.
Larei mengangguk dan mulai menyerahkan anaknya pada Sakya dengan hati-hati.
Sakya tersenyum ketika anaknya sudah berada di gendogangannya, dia menatap dengan lembut makhluk kecil yang masih anteng dalam lelapnya itu.
Larei melangkah lebih dulu memasuki rumahnya, sementara Sakya mengikutinya dengan langkah pelan tanpa mengalihkan perhatian dari anaknya dan sesekali melihat punggung Larei di depannya.
"Duduklah, aku mau minta Bibi untuk buatkan minum dulu," ucap Larei yang langsung berlalu ke arah dapur.
Sementara Sakya langsung menuju ruang keluarga dan mendudukkan dirinya, sesekali dia menepuk b*kong anaknya yang bergerak.
"Papa sangat merindukanmu, Nak. Maafkan Papa ya, karena Papa baru datang ke sini, Papa tidak berani ke sini dan bertemu Mama kamu sebelumnya."
"Kamu tenang aja ya, tidak akan lagi kita pasti akan kembali bersama. Kalian akan pulang bersama Papa ke rumah kita."
Sakya terus berbicara dengan anaknya yang pasti belum mengerti apa yang dikatakannya itu.
__ADS_1
"Jadi, apa tujuanmu ke sini hanya karena ingin melihat Vian?"
Pertanyaan yang dilayangkan oleh Larei itu, membuat Sakya yang semula sibuk dengan anaknya, beralih padanya.
Dia tidak langsung bersuara sebagai jawaban atas pertanyaan itu, tapi menatap dalam wajah Larei yang entah dari kapan sudah berdiri dengan jarak hanya dua langkah darinya.
Dua minggu tidak bertemu dengan wanita itu, rasanya seperti sudah berbulan-bulan. Dia benar-benar merindukan wanita itu, ingin rasanya bisa melihatnya setiap waktu seperti beberapa waktu yang lalu.
"Yang pertama aku datang karena aku merindukanmu juga Vian yang kedua ada hal penting lainnya."
"Apa?" Sebuah kerutan hadir di kening Larei, menanti kata yang akan suaminya itu ucapkan lagi.
"Aku mau menunjukkan ini."
"Apa ini?"
Larei dengan ragu mengambil sebuah amplop putih yang sedari tadi ada di genggaman Sakya itu, dia menatap kertas itu dengan seksama.
Membolak-balikan amplop yang terdapat logo rumah sakit itu dengan ragu, menimbang antara membuka benda itu atau tidak.
"Aku ingin kamu melihat itu," ucap Sakya kembali karena Larei masih belum membuka amplop itu.
Tanpa berkata, Larei pun mulai membuka lipatan kertas itu, ketika melihat rentetan huruf yang ada di kertas yang ada di dalam amplop. Kerutan di keningnya semakin menajam.
Bukan tidak mengerti dengan apa yang tertera di kertas itu, hanya saja dia merasa bingung dengan maksud Sakya menujukan hal itu padanya.
"Itu adalah hasil tes DNA antara aku dan anak yang ada dalam kandungan Ishana," jelas Sakya pada Larei yang tengah menatapnya dengan bingung.
"Waktu itu aku setuju untuk mengantarkan dia cek kandungan, karena aku memang ada rencana untuk melakukan tes antara aku dan anak itu."
"Sejak awal, aku tidak mempercayainya, ketika dia datang dan mengatakan hamil anakku, meskipun aku dijebak dan tidak ingat dengan apa yang terjadi padaku ketika dijebak, tapi aku memiliki keyakinan jika anak itu bukanlah anakku."
"Terus kenapa kamu mengikuti keinginannya, jika sejak awal kamu ragu?" Larei menatapnya dengan tatapan menyeledik.
"Itulah kebodohanku." Sakya menunduk dan menghembuskan napas kasar.
Sementara Larei, masih dengan posisinya berdiri menatap Sakya dengan intens.
"Aku terlalu takut dengan ancamannya yang mengatakan akan mengatakan tentang kehamilannya pada keluarga kita, juga padamu. Dia juga mengatakan ada bukti di malam aku dijebak saat di apartementnya."
"Itulah kenapa aku mengikuti permainannya, niatku adalah untuk membuktikan terlebih dahulu tentang kebenaran anak itu. Baru aku akan menceritakan semuanya padamu."
__ADS_1
Sakya kembali mengangkat wajahnya, menatap Larei dengan dalam. Dia bangun dan berjalan hingga berhadapan dengan istrinya itu.