
"Tuan, tamu anda sudah datang," ucap seorang pria dari pintu yang hanya terbuka sedikit pada atasannya itu.
"Persilakan masuk," sahut atasannya yang tidak lain adalah Aditya yang tengah duduk di kursi kerjanya.
Saat ini dia sedang berada di ruang kerjanya yang berada di perusahaan miliknya.
Asisten Aditya itu pun mulai membuka pintu dengan lebar, membiarkan tamu atasannya untuk masuk ke dalam ruangan sesuai dengan perintah atasannya.
"Silakan Tuan,' ucap asisten Aditya dengan sopan pada tamu Aditya itu.
"Terima kasih," sahut tamu itu tersenyum ramah.
Pria yang menjadi tamu dari Aditya itu pun, mulai memasuki ruangan Aditya dengan disambut oleh senyuman ramah dari si empunya ruangan.
"Selamat siang Mas, maaf aku manggil Mas Fahar dengan cara mendadak seperti ini," ucap Aditya yang sudah beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan mendekati Fahar.
"Tidak apa-apa, kebetulan aku juga lagi senggang jadi bisa datang," sahut Fahar tersenyum ramah.
Mereka kini berdiri di tengah-tengah ruangan itu dan saling bersalaman, di tangan Aditya saat ini sudah ada laptop yang sengaja dia ambil dari meja kerjanya.
"Baiklah kalau gitu mari duduk Mas," ucap Aditya menuntun Fahar agar duduk di sofa yang ada ruangan itu, bersebelahan dengan meja kerjanya.
Fahar pun dengan patuh duduk di sofa tunggal, sedangkan Aditya duduk di sofa yang berukuran panjang.
"Tolong minta og atau ob untuk buatkan minuman," perintah Aditya pada asistennya yang masih berdiri di dekat pintu.
"Baik Tuan, apa ada yang anda butuhkan lagi?" tanya asistennya.
"Tidak ada, kamu bisa kembali bekerja," sahut Aditya.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi," pamit asistennya itu menunduk hormat.
Asistennya itu pun mulai melangkah keluar dari ruangan itu dengan menutup rapat pintu ruangan, meninggalkan Fahar dan Aditya.
"Jadi ada urusan apa yang mau kamu sampaikan padaku?" tanya Fahar memulai percakapan.
__ADS_1
"Sebelum aku bicara, aku ingin Mas Fahar untuk melihat ini terlebih dahulu," sahut Aditya menunjukan laptop yang sudah terbuka dan tengah memutar sebuah video, di atas meja pada Fahar.
Meskipun bingung, Fahar pun melihat apa yang Aditya tunjukkan itu, dia dengan seksama melihat tayangan video yang ada di laptop itu.
Di video itu terlihat beberapa potong video dari hasil kamera pengawas, di sebuah tempat yang tentu saja familiar menurutnya.
Setelah beberapa cuplikan video itu selesai diputar, Fahar secara perlahan mengalihkan pandangan pada Aditya, menatapnya dengan raut tak mengerti.
"Mas tau wanita itu siapa, itu adalah Lareina anakku, sepertinya tanpa aku menjelaskannya secara rinci pun Mas Fahar pasti tau, apa yang terjadi saat itu di antara anak kita," ucap Aditya dengan tenang.
"Terus sekarang bagaimana?" tanya Fahar menatap Aditya dengan serius.
Aditya tidak sempat menjawab, karena pintu ruangannya itu diketuk, dia pun meminta orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.
"Maaf Tuan, ini minumannya," ucap pria dengan pakaian ob, sambil menyimpan minuman untuk mereka ke atas meja.
"Terima kasih," ucap Aditya.
"Sama-sama Tuan, kalau begitu saya permisi dulu Tuan," pamit ob sambil menunduk hormat, hanya dijawab anggukan samar oleh Aditya.
"Saat ini anakku, Larei tengah hamil," tutur Aditya ringan.
"Hamil, itu berarti cucuku," sahut Fahar tak percaya.
"Sayangnya iya." Angguk Aditya.
"Kalau gitu kita langsung nikahkan saja mereka," ucap Fahar dengan serius.
"Tidak bisa," tolak Aditya terang-terangan.
"Kenapa, kita tidak bisa membiarkan cucu kita lahir dengan status tidak jelas." Fahar menatap tak mengerti pada Aditya.
"Apa Mas Fahar bisa menjanjikan kebahagiaan untuk anakku dan cucuku, jika sampai dia menikah dengan anakmu?"
Mendengar pertanyaan dari Aditya itu, Fahar hanya diam, dia membenarkan apa yang Aditya pertanyakan itu, mengingat bagaimana sikap Sakya yang masih belum berpikiran dewasa dan serius.
__ADS_1
"Maaf Mas, aku bukannya memandang rendah anak Mas dan memandang tinggi anakku, hanya saja, aku sebagai seorang ayah dari anak perempuannya, tidak akan rela melepaskan anakku untuk pria yang aku anggap tidak dapat memberikan kebahagiaan padanya."
"Bukan soal materi, aku sadar status sosial Mas lebih tinggi daripada yang aku miliki, materi Mas pun lebih banyak daripada aku, hingga mungkin masalah itu akan terjamin untuk anak Mas, tapi bagaimana dengan cinta dan kesetiaan?"
Lagi dan lagi Fahar hanya diam menatap lekat pada Aditya, dia tidak bisa marah atau kesal terhadap ucapan Aditya itu, karena dia sadar bagaimana keadaan anaknya.
Dia tidak menganggah apa yang Aditya ucapkan itu, dia juga tidak bisa membela anaknya, karena dia yakin Aditya mengatakan semua itu bukan tanpa alasan.
Fahar meyakini, jika begitu dia tahu tentang kasus anaknya dan anak Aditya, pria yang umurnya hanya beda setahun dengannya itu, telah mencari tahu bagaimana anaknya terlebih dahulu.
Dia mengerti, kekhawatiran yang pria di depannya itu rasakan terhadap anaknya, tidak akan mudah baginya mempercayakan anaknya pada pria seperti Sakya yang memiliki riwayat kurang baik.
"Kenapa kita tidak mencobanya saja dulu, bukankah setiap orang bisa berubah, siapa tau anak kamu bisa membuat anakku berubah," ucap Fahar penuha harap.
"Maaf Mas, tapi bukan itu sebenarnya maksud aku menunjukkan hal itu pada Mas, walau bagaimanapun anak yang saat ini ada dalam kandungan anakku adalah cucu Mas juga, jadi Mas berhak tau akan hal itu."
"Tapi sayangnya bukan itu maksud aku, aku tidak menuntut pertanggungjawaban dari anak Mas, atas kehamilan anakku."
"Terus apa yang harus kita lakukan jika tidak menikahkan mereka?" tanya Fahar dengan bingung.
"Untuk masalah anakku, biar aku yang urus, tapi yang perlu jadi perhatian Mas saat ini adalah anak Mas, aku khawatir bukan hanya anakku yang jadi korbannya."
"Aku takutnya karena terlalu biasa melakukan hal itu, anak Mas mengabaikan tanggung jawabnya, sedangkan untuk Larei, aku masih bisa mengatasinya, tanpa harus menikahkan mereka," tegas Aditya.
Bukannya dia tidak menghargai itikad baik dari Fahar untuk bertanggung jawab pada Larei, tapi dari apa yang dia ketahui tentang Sakya.
Rasanya tidak mudah baginya untuk mempercayakan anaknya pada pria itu, kekhawatiran hanya satu, bukan cuma anaknya saja korban pria itu.
Dia mengkhawatirkan, jika ternyata banyak wanita yang mengandung anak Sakya di luaran sana, terus bagaimana dengan nasib anaknya, jika nanti mereka bersama.
Sementara itu Fahar memikirkan ucapan dari Aditya itu, apakah anaknya seperti itu, jika memang benar seperti itu terus apa yang harus dia lakukan.
"Tapi walau bagaimanapun anakku harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, aku juga tidak ingin cucuku lahir tanpa status pernikahan seperti itu," ucap Fahar dengan serius.
"Bagaimana jika ada cucumu yang lainnya, apakah Mas mau Sakya menikahi setiap wanita yang mengalami nasib yang sama dengan anakku?"
__ADS_1