Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Memanfaatkan Keadaan


__ADS_3

Larei memasuki kamarnya dengan nampan yang berisi makanan serta minuman untuk Sakya, pria itu terlihat baru saja membuka matanya ketika dia masuk.


"Makanlah dulu, setelah itu minun obat lagi," ucap Larei sambil menyimpan nampan yang dibawanya ke nakas di samping ranjang.


"Makasih," ucap Sakya tersenyum dengan bibirnya yang pucat.


Sakya berusaha untuk duduk, Larei yang melihatnya seperti kesusahan, berinisiatif untuk membantunya, dia memastikan Sakya duduk nyaman setelah itu dia kembali berdiri dengan tegak.


"Rei, boleh minta tolong gak?" Sakya menatapnya dengan serius, sedangkan Larei mengerutkan keningnya.


"Apa?"


"Tangan aku lemes banget, bisa tolong bantu aku untuk makan," ucap Sakya menatap Larei dengan tatapan memohon, seolah dia adalah orang yang paling tidak berdaya saat ini.


Karena tidak ingin berdebat dengan orang sakit, juga nalurinya yang merasa tidak tega, akhirnya Larei pun mengangguk.


Dia mendudukkan dirinya hingga berhadapan dengan Sakya, karena hal itu tentu saja membuat pria yang saat ini tengah sakit itu bersorak senang dalam hati.


Jarang-jarang dia dapat melihat wanita di depannya itu mau menuruti permintaannya, tanpa harus berdebat terlebih dahulu.


Sakya terus memperhatikan setiap gerakan istrinya yang dengan telaten menyiapkan makanan untuknya, sampai meniup makanan di sendok agar dingin.


"Ini," ucap Larei singkat, sambil mengarahkan sendok yang berisi nasi berserta lauk itu ke depan bibirnya.


Sakya membuka mulutnya dengan lebar, dia mengunyah makanan yang terasa lebih lezat dari biasanya itu dengan semangat.


Sementara itu, Larei hanya fokus pada makanan yang dia suapkan pada Sakya, tanpa melihat wajah pria itu yang saat ini tengah menampilkan binar di wajah pucatnya.


"Rei, kamu gak ke butik," ucap Sakya, di tengah-tengah aktivitasnya mengunyah makanan.


"Bagaimana aku bisa ke butik saat kamu sakit seperti ini," sahut Larei yang hanya menatapnya sekilas, kemudian kembali fokus pada piring makanannya.


"Kamu ternyata perhatian juga ya, Rei. Lebih mentingin aku yang lagi sakit, ketimbang pekerjaanmu." Sebuah senyuman mengembag di bibir Sakya.


"Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin dinilai buruk oleh orang-tuamu karena aku tetap pergi kerja di saat kamu sakit."


Meskipun apa yang diucapkannya itu, terkesan berterus terang, jika dia terpaksa melakukan hal itu. Namun, Sakya tetap senang dengan perhatian yang wanita itu tunjukkan padanya dari semalam.

__ADS_1


"Kamu memang istri yang baik," sahut Sakya membuat Larei hanya memutar matanya malas.


"Cepatlah habiskan makannya dan langsung minum obat," sahut Larei dengan nada malas.


"Baiklah." Angguk Sakya dengan antusias.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara dua orang itu, Larei terus menyuapi Sakya dengan telaten hingga tanpa sadar piring yang sebelumnya penuh kini telah kosong.


"Sekarang minumlah obatnya, setelah itu kembali istirahat lagi, biar kamu bisa cepat sembuh, aku juga bisa kerja lagi." Larei bermaksud untuk membukakan cangkang obat untuk Sakya.


"Aku gak nyaman karena badan aku lengket oleh keringat," ucapan Sakya membuat Larei menghentikan kegiatannya yang akan membuka cangkang obat itu.


"Terus kamu mau apa? Kamu belum boleh mandi, nanti kamu tambah demam lagi," ucap Larei menatapnya dengan serius.


"Apakah kamu bisa bantu aku untuk mengelap tubuhku, aku tidak akan bisa istirahat lagi, jika tubuhku lengket seperti ini."


Larei menatapnya dengan mata menyipit, mendengar apa yang Sakya ucapkan itu, dia tidak mungkin mengelap tubuh pria itu, meskipun pria itu suaminya.


"Ayolah, Rei. Masa aku harus minta Mama atau Bibi untuk mengelap tubuhku ini. Itu lebih tidak mungkin lagi," sambung Sakya yang kembali melayangkan tatapan tak berdayanya.


Larei menghela napa dengan gusar, dia juga tidak mungkin membiarkan mertuanya atau Art di sana untuk membantu Sakya, apa yang akan mereka pikirkan nantinya.


Dia kemudian turun kembali ke lantai dasar, membawa serta piring kotor dan menyimpannya ke wastafel. Setelah itu dia mengambil sebuah baskom yang berukuran sedang dan kembali ke kamar.


Sakya memperhatikan gerak-gerik Larei itu dengan sebuah senyuman samar di bibirnya, jika dengan sakit seperti ini dia bisa mendapat perhatian istrinya itu, kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja dia sakit.


Larei kembali dengan baskom yang berisi air hangat juga handuk kecil, dia kemudian kembali duduk berhadapan dengan Sakya.


"Buka bajumu," perintahnya pada Sakya.


"Tapi badan aku lemes, bisa tolong bantuin aku lepasin."


Larei lagi dan lagi hanya menghela napasnya, lalu secara perlahan tangannya terulur dan mulai membantu Sakya melepaskan bajunya.


Selama kegiatan melepaskan bajunya itu, dia berusaha untuk tidak melihat ke arah Sakya dan melihat ke arah lain. Ini pertama kalinya dia sedekat itu dengan Sakya, dalam keadaan suaminya tanpa baju.


"Tangan kamu kenapa gemetar, Rei?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan tanpa dosa dari pria itu, membuat Larei mengumpat dalam hati. Apakah pria itu tidak tahu, jika dia bukan dirinya yang mungkin terbiasa melihat tubuh polos lawan jenisnya.


"Tidak kenapa-napa," sahut Larei dengan nada ketus.


Sakya tidak menyahutinya, dia hanya diam membiarkan Larei melakukan tugasnya itu.


"Sudah, aku mau ambilin kamu baju dulu," ucap Larei sambil berdiri, tapi tangan Sakya menghentikan gerakannya itu.


"Apa lagi?" tanyanya menatap Sakya dengan wajah yang mulai terlihat kesal.


"Gak sekalian sama kakinya juga, Rei. Masa cuma separuh," ucap Sakya membuat mata Larei melotot.


"Kamu bisa dengan puas membersihkan diri kamu ketika kamu sembuh," ucap Larei dengan gemas.


"Tapi ini benar-benar gak nyaman."


Lagi dan lagi Sakya menunjukkan tampang melasnya, membuat Larei menggeram, dia ingin sekali memukul kepala pria itu, tapi sadar jika saat ini dia sedang sakit.


"Tapi aku gak mungkin ngelap bagian bawah kamu, a-aku, aku." Larei tidak bisa melanjutkan ucapannya karena merasa canggung.


"Aku mohon."


"Baiklah, baiklah. Aku ambilin baju kamu dulu, biar kamu gak masuk angin," ucap Larei dengan perasaan dongkol di hatinya.


Sakya mengangguk cepat, Larei pun ke ruang ganti mengambil baju untuk Sakya dan kembali lagi dengan satu setel pakaian lengkap.


Setelah itu, dia meminta Sakya untuk berdiri dan melepas celana pendek yang dikenakannya dan hanya menyisakan CDnya saja, lalu meminta Sakya untuk kembali duduk dengan posisinya tepat di depan kaki pria itu.


Larei memalingkan wajah ke arah lain, dia juga membasahi tenggorokannya yang terasa kering itu dengan air liur. Dia mulai merasakan tubuhnya terasa panas karena gugup, sementara itu Sakya yang melihat reaksi Larei, melipat bibirnya berusaha untuk menahan senyum.


Melihat bagaimana wanita yang biasanya memasang wajah datar dan hanya bicara seperlunya, kini jelas terlihat gugup, bahkan buliran keringat membasahi keningnya, juga wajah yang terlihat dari atas terlihat merah, benar-benar membuat dia merasa gemas.


Ternyata dia bisa merasa gugup juga, tapi wajahnya yang memerah seperti itu benar-benar terlihat menggemaskan. Dia jadi seperti wanita normal pada umumnya. Monolog Sakya dalam hatinya.


Setelah selesai dengan kegiatannya itu, Larei segera memakaikan kembali pakaian Sakya, dia kemudian memberikan obat yang langsung diterima dengan senang hati oleh pria itu.


"Sekarang kembalilah istirahat," ucap Larei sambil membatu Sakya kembali merebahkan tubuhnya, tanpa melihat wajahnya

__ADS_1


"Iya, makasih." Sakya mengangguk dengan patuh.


"Hemmm," gumam Larei yang langsung pergi dari sana membawa serta pakaian kotor Sakya, beserta baskom.


__ADS_2