
Mata Larei yang semula terpejam, secara perlahan mulai mengerjap beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya. Dengan gerakan perlahan, dia mulai mendudukkan dirinya.
Ketika melihat ke sampingnya, tempat yang biasa ditempati oleh suaminya itu kosong, hingga menghadirkan tanya dalam benaknya tentang ke mana pria itu, bukankah tadi mereka tidur bersama.
Pantas saja, dia merasa ada yang kurang ketika terlelap, ternyata tempat di sampingnya telah kosong, hingga tidak ada yang dapat dipeluknya membuat tidurnya terganggu.
Wanita dengan perut yang besar itu, melihat jam dinding yang berada di atas kepala ranjang. Waktu baru menunjukkan pukul satu dini hari, membuat dia semakin bertanya-tanya tentang ke mana suaminya di jam seperti itu.
"Apa dia di ruang kerja?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Dia kemudian menengok ke arah ruang kerja, ruangan yang tertutup oleh pintu kaca blur itu tampak gelap, itu artinya Sakya tidak ada di sana.
"Mungkin dia haus dan turun untuk minum," gumamnya lagi.
Karena rasa penasaran yang teramat tinggi, dia pun mulai menyingkirkan selimut yang menutupi kakinya dan menurunkan kakinya hingga menyentuh lantai.
"Tidurlah, ini sudah malam."
__ADS_1
Ketika baru saja dia mengayunkan kakinya, suara Sakya yang terdengar pelan itu mengganggu indra pendengarannya, hingga membuat dia yang semula akan melangkah ke luar dari kamar membelokkan langkanya ke arah balkon.
Dia berdiri di pintu balkon yang sedikit terbuka, melihat Sakya yang seperti baru saja menutup telepon, kini tengah menatap kosong ke arah depannya.
Apa yang mengganggu pikirannya, apa benar-benar hanya masalah pekerjaan? Pertanyaan itu selalu hadir dalam benak Larei karena melihat Sakya yang sepertinya tengah banyak masalah.
Bukan cuma sekali, dua kali dia melihat Sakya melamun seperti itu, akhir-akhir ini pria itu lebih banyak melamun. Dia sering merasa, pria itu ada di depannya tapi jiwanya entah di mana, bahkan kadang ketika mereka berbicara jadi tidak nyambung.
Secara perlahan dia mulai menggeser pintu kaca penghubung kamarnya ke balkon itu, suara yang berasal dari pintu yang digeser itu bahkan, tidak mampu membuat pria itu menoleh ke arahnya.
"Sak," panggilnya sambil menyentuh pundak Sakya dengan hati-hati.
Sakya menengok, kemudian tersenyum pada Larei, terlihat jika pria itu berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun sebenarnya Larei sudah tahu jika pria itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Kenapa kamu bangun, ini masih malam, di sini juga dingin," ucapnya menatap Larei dengan lembut.
Sakya membalikkan seluruh tubuhnya, hingga mereka saling berhadapan. Tangannya kemudian terulur, merapikan helaian rambut yang menghalangi wajah Larei dengan hati-hati.
__ADS_1
"Kamu barusan teleponan sama siapa?"
Entah perasaan Larei saja atau bukan, ketika dia melayangkan pertanyaan seperti itu, raut wajah Sakya terlihat seperti tegang, tapi hanya beberapa saat karena pria itu segera merubah ekspresinya dengan kembali tersenyum.
"Tadi aku teleponan sama Gamya," sahut Sakya santai.
"Untuk apa dia telepon malam-malam gini? Terus kenapa gak di dalam aja ngobrolnya, kenapa harus di sini?" Larei menatap Sakya dengan dalam, mencari kebenaran dari jawaban pria itu.
Larei tidak ingin berburuk sangka, tapi entah kenapa dia meragukan apa yang yang Sakya ucapkan itu.
Entah kenapa pula, akhir-akhir ini perasaannya selalu tidak tenang, apalagi ketika dia berada jauh dari suaminya itu. Dia beranggapan, jika apa yang terjadi padanya itu, mungkin karena tidak akan lama lagi, waktu persalinannya akan tiba.
Dia jadi merasa lebih sering khawatir tidak jelas, terkadang dia juga berpikir yang aneh-aneh, apalagi ketika Sakya tidak berada di sampingnya.
"Tadi dia cuma mau bercerita saja, aku tidak ingin ganggu tidur kamu, makanya aku ke sini," terang Sakya dengan lugas.
"Ayo kita masuk lagi di sini dingin, ini juga masih malam."
__ADS_1
Larei hanya menurut, ketika Sakya merangkulnya dan membawanya masuk kembali ke kamar mereka. Dia merebahkan tubuhnya di tempat semula dan membiarkan Sakya mengunci kembali pintu balkon terlebih dahulu.