Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Bab 33


__ADS_3

Suara ketukan di pintu ruangannya, membuat lamunan Larei tentang teman masa kecilnya itu, menjadi buyar.


"Masuk!" ucap Larei pada si pengetuk pintu.


Dia kemudian menyimpan pigura itu ke tempatnya semula, lalu menutup laci dan kembali duduk dengan tegak.


"Non, ini baju-baju yang Nyonya Haira pesan," ucap Anjani ketika memasuki ruangan Larei.


Anjani berjalan mendekati meja kerja Larei dan menyimpan paperback yang berukuran cukup besar itu, ke meja kerjanya.


"Baiklah, makasih An."


"Iya sama-sama Non, kalau gitu saya permisi lagi ya."


"Iya." Angguk Larei


Anjani pun mulai keluar lagi dari ruangannya itu, sedangkan Larei kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.


Ketika waktu sudah menunjukkan waktunya untuk makan siang, Larei yang masih fokus pada pekerjaannya, tidak menyadari akan hal itu.


Sampai akhirnya, kedatangan Sakya yang langsung masuk ke ruangannya membuat dia menghentikan kegiatannya dan melihat suaminya itu dengan heran.


"Ayo, katanya mau pulang," ajak Sakya yang mulut dan hidungnya terhalangi oleh masker.


Larei melihat jam di pergelangan tangannya, dia pun menganguk setuju, ketika sadar jika itu sudah waktunya untuk dia pulang.


"Baiklah, bentar aku mau beresin ini dulu, biar nanti bisa aku periksa lagi di rumah," sahutnya sambil membereskan meja kerjanya dan membawa beberapa berkas yang belum selesai dia periksa sebelumnya.


"Kamu gak pa-pa gitu, jemput aku sekarang?" tanya Larei sambil sibuk dengan kegiatannya.


"Gak kenapa-napa, aku juga tidak terlalu sibuk," sahut Sakya masih berdiri di depan meja Larei sambil melihatnya yang tengah sibuk itu.


"Tidak terlalu sibuk, atau kamu maksain diri aja," ucap Larei.


"Aku benar-benar belum terlalu sibuk, kalau gak percaya tanya aja ke Papa," sahut Sakya apa adanya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau gitu ayo kita pulang," ucap Larei sambil berjalan mendekatinya.


"Apa itu?" tanya Sakya menunjuk paperback yang Larei bawa.


"Baju pesanan Mama."


"Biar aku aja yang bawa," tawar Sakya karena melihat Larei yang cukup kerepotan membawa paperback, juga tasnya.


"Baiklah ini," sahut Larei menyerahkan paperback itu.


Sakya langsung menerimanya, setelah itu mereka pun melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu, ketika melewati meja kerja Anjani.


Larei pamit pada Anjani, sekaligus menitipkan butik pada orang kepercayaannya itu, seperti biasa.


"Apa kamu tidak takut jatuh memakai sepatu hak tinggi seperti itu, apalagi ketika menuruni tangga seperti ini," ucap Sakya yang berjalan di belakang Larei.


Dia yang melihat Larei berjalan dengan tenang, menggunakan sepatu hak seperti itu, merasa ngilu dan takut jika wanita itu sampai jatuh.


"Tidak sama sekali, aku sudah biasa memakainya, lagian ini sudah aku kurangi beberapa senti dari biasanya, karena aku lagi hamil," sahut Larei dengan santai sambil terus berjalan dan sesekali mengangguk sambil tersenyum, ketika karyawannya menyapa.


"Tapi menurutku itu sudah sangat tinggi," sahut Sakya dengan seperti sebuah gumaman saja.


Larei berhenti tepat di samping mobil, dia menunggu Sakya membuka pintu mobil.


Sakya pun mengambil kunci mobil yang ada di kantong celananya, kemudian dia membuka kunci mobilnya itu lalu masuk bersama dengan Larei.


"Apa kamu susah banget ya, untuk bilang dia itu calon anak kita, bukan hanya anak kamu saja," ucap Sakya ketika mendaratkan dirinya dengan nyaman di kursi sopir.


"Iya, iya anak kita," sahut Larei sambil berdecak.


"Nah gitu dong, kan enak dengernya juga kalau kayak gitu," sahut Sakya tersenyum dengan puas.


"Ya udah, cepat jalankan mobilnya."


Sakya mengangguk, dia menyimpan paperback yang dari tadi masih dipegangnya, ke kursi belakang, setelah itu mulai menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, tidak ada yang membuka suara lagi di antara mereka. Mereka diam, menikmati perjalanan itu, hingga kendaraan beroda empat yang membawa mereka itu telah sampai di rumah.


"Kamu mau langsung balik ke kantor?" tanya Larei sebelum turun.


"Ya setelah makan siang," sahut Sakya.


Larei pun mengangguk, lalu mulai turun diikuti oleh Sakya yang berjalan di belakangnya.


Mereka memasuki rumah yang sepi, tidak nampak kehadiran sosok Haira di sana.


"Aku mau ke kamar dulu, mau nyimpen tas dulu," ucap Larei pada Sakya.


"Pergilah, aku tunggu kamu di meja makan," sahut Sakya.


Larei mengangguk, mereka pun pergi ke tempat tujuan mereka masing-masing. Ketika Sakya baru saja mendudukkan dirinya di meja makan, Haira pun datang dan langsung menyusulnya duduk di meja makan.


"Ma, ini pakaian Mama," ucap Sakya menyerahkan paperback pada Haira.


"Dari Larei?" tanya Haira sambil mengambil paperback itu.


"Iya."


"Sekarang Lareinya di mana? Dia gak ikut pulang?"


"Dia pulang, tadi pergi ke kamar dulu mau nyimpen tasnya."


"Oh gitu." Angguk Haira lalu menyimpan paperback itu ke kursi di sampingnya.


Tak lama kemudian, art di sana pun mulai menyiapkan makan siang di meja makan, Sakya seperti biasa, dia minta dibuatkan makanan yang dia inginkan terlebih dahulu.


Ketika makanan sudah tersaji dengan lengkap di meja makan, Larei pun datang ke sana, dia mengambil posisi duduk di samping Sakya.


"Papa gak pulang untuk makan siang Ma?' tanya Larei begitu duduk di meja makan.


" Tidak, Papa katanya mau membahas masalah kerja sama dengan kliennya," sahut Haira.

__ADS_1


"Oh gitu," sahut Larei mengangguk paham.


Setelah itu mereka pun memulai makan siang mereka, ketika selsai makan siangnya, Sakya kembali pergi ke kantornya.


__ADS_2