
"Makasih banget ya, kalian udah mau nemenin aku keluar," ucap Larei pada kedua sahabatnya.
Kini mereka sedang berada di dalam mobil milik Ivanka, Larei memang sedang menginginkan sesuatu dan dia ingin makanan itu dimakan di tempatnya, tidak mau pesan online.
Meskipun cukup sulit membujuk mamanya agar mengizinkannya pergi, tapi berkat bantuan dari Tari dan Ivanka, akhirnya dia pun dibolehkan untuk pergi asal jangan lama-lama.
"Demi keponakan kita, kita tidak mau nanti keponakan kita sampai ngeces, karena keinginannya tidak kesampaian," sahut Tari yang duduk di samping Ivanka yang tengah fokus pada setirnya.
"Kalian tidak sibuk?"
"Kalau aku sibuk, aku tidak mungkin ada di sini sekarang," sahut Tari.
"Apalagi aku, kamu 'kan tau sendiri, sekarang aku masih dalam percobaan nerusin bisnis keluarga, jadi belum sibuk-sibuk banget karena masih ada Papa aku yang ngatur." Ivanka pun ikut bersuara.
Ivanka memang menjalankan bisnis keluarganya, sedangkan Tari, dia kini tengah menjalani pelatihan untuk menjadi dokter.
"Beruntungnya aku punya kalian," ucap Larei dengan senang.
"Itulah gunanya sahabat," sahut Tari dijawab anggukan kepala oleh Ivanka.
"Kerjaan kamu di butik gimana Rei?" tanya Ivanka.
"Paling via telepon aja, kalau ada yang penting-penting banget, Anjani ke rumah buat ngomong secara langsung," terang Larei.
"Semoga papi kamu cepat luluh ya, biar kamu bisa bebas keluar lagi," ucap Tari.
"Iya, aku juga bosen beberapa hari ini cuma diam aja di rumah, tidak melakukan apa pun," sahut Larei.
Karena terlalu asyik mengobrol, mereka tanpa sadar telah sampai di sebuah restoran yang menyediakan makanan khas di sana.
Setelah kendaraan beroda empat yang membawa mereka itu terparkir dengan sempurna, mereka pun turun dari mobil dan berjalan memasuki restoran itu.
Restoran dengan ukuran yang cukup luas itu menyediakan berbagai macam menu makanan yang di panggang atau dibakar, itulah yang menjadi ciri khas dari restoran yang saat ini ketiga sahabat itu datangin.
"Mau pesan apa Mbak?" tanya seorang pelayan yang menghampiri mereka yang baru saja duduk.
Larei dan kedua sahabatnya pun melihat-lihat menu makanan yang ada di buku menu makanan yang pelayan itu berikan terlebih dahulu.
"Aku mau, ayam panggang, bebek panggang sama lobster panggang," ucap Larei yang langsung dicatat oleh pelayan itu.
__ADS_1
"Emang bakal abis Rei, pesen segitu?" tanya Tari menatapnya dengan heran.
"Abis pasti," sahut Larei dengan yakin.
"kalau Mbak yang lainnya mau psean apa?' tanya pelayan itu.
"Kita bebek panggang aja," sahut Ivanka diiyakan oleh Tari.
"Minumannya?"
"Jus strawberry, tapi tanpa gula ya," sahut Larei.
"Samakan saja," timpal Tari dan Ivanka.
"Tanpa gula juga?" tanya pelayan itu pada Tari.
"Punya kita pakai aja sedikit," sahut Tari lagi.
"Baiklah mohon ditunggu pesanannya," ucap pelayan itu menunduk hormat lalu, berbalik dan pergi dari meja Larei dan kedua sahabatnya.
Mereka berbincang ringan membahas masalah pekerjaan, diselingi candaan receh, hingga membuat mereka sesekali tertawa ringan.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang, Larei yang memang sudah menginginkan makanan itu dari tadi, langsung menyantap makanan itu dengan lahap.
Kedua sahabatnya itu, cukup heran melihat Larei memesan makanan lebih dari satu porsi, karena biasanya Larei hanya makan seperlunya.
"Aku akhir-akhir ini emang sering banget lapar, mungkin bawaan bayi kali ya," ucap Larei di sela-sela makannya.
"Kamu tidak ngerasain mual di pagi hari, atau mual ketika melihat makanan?" tanya Tari yang langsung dijawab gelangan oleh Larei.
Semenjak tahu jika dirinya hamil, dia memang tidak pernah merasakan apa pun, apalagi seperti yang ditanyakan oleh sahabatnya itu.
"Padahal waktu sepupu aku hamil awal-awal bulan, dia itu gak bisa makan apa pun, katanya tiap bangun tidur muntah terus," cerita Tari, tanpa menghentikan makannya.
"Tapi aku baik-baik saja," sahut Larei dengan nada santai.
"Baguslah kalau gitu, daripada kamu ngalamin yang kayak gitu 'kan repot nantinya," sahut Ivanka.
"Iya untungnya, aku baik-baik saja." ucap Larei.
__ADS_1
?
Mereka pun kembali melanjutkan makan mereka. Dan ternyata benar saja Larei benar-benar menghabiskan makanan yang cukup untuk tiga orang itu sendirian.
"Aku toilet dulu ya, kebelet," ucap Larei saat dia telah selesai makan. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan lama-lama, habis ini kita harus langsung pulang, sebelum Om Adit pulang," ucap Tari.
"Iya, tenang saja tidak akan terlalu lama kok," sahut Larei mengangguk, sambil melangkah meninggalkan meja.
Larei berjalan ke arah toilet untuk menyelesaikan hajatnya, tidak membutuhkan waktu lama dia pun telah keluar lagi dari bilik toilet.
Ketika tengah berjalan dengan san
Ntai keluar dari toilet, dari arah pintu toilet pria, seorang pria pun tengah berjalan ke arah yang sama dengannya, hingga mereka pun sama-sama berhenti di ujung lorong, penghubung ke toilet wanita dan perempuan.
Larei menatap pria di depannya dengan malas, sedangkan pria yang tidak lain adalah Sakya menatapnya dengan tajam, Karena malas berurusan dengan pria itu. Larei pun memutuskan untuk pergi dari sana.
Namun, sebuah lengan menggenggam pergelangan tangannya, membuat langkahnya kembali terhenti, Larei pun menatap tangan Sakya yang menahan tangannya.
Kemudian dia menarik tangannya dengan paksa, lalu kembali menatap Sakya yang juga masih menatapnya dengan tatapan permusuhan.
"Kamu pasti sudah menyewa dukun untuk mengguna-guna aku 'kan?"
Larei mengerutkan kening tak mengerti dengan apa yang Sakya ucapkan itu.
"Aku tidak mengerti apa maksud kamu," sahut Larei lalu berjalan meninggalkan Sakya.
Sakya pun ikut berjalan, lalu menahan Larei lagi dengan berhenti di depannya itu.
"Kamu pasti sudah bayar dukun untuk guna-guna aku 'kan?"
"Kamu masih waras 'kan? Emang siapa kamu sampai aku harus guna-guna kamu segala, kamu tidak penting sama sekali," ucap Larei dengan malas.
"Kamu bisa aja bohong, tapi ingat aku tidak akan tinggal diam saja!"
"Ya ampun Sakya, kamu hidup di jaman apa, masih aja percaya yang kayak gituan, meskipun aku tidak tau apa yang terjadi sama kamu, tapi aku yakin itu adalah karma atas kelakuan kamu sendiri, jangan nyalahin orang yang tidak tau apa pun atas apa yang terjadi padamu."
"Intropeksi diri itu penting, dan kamu harus ingat, sampai kapan pun karma itu tetap ada dalam bentuk apa pun, apa yang kamu tanam maka itulah yang akan kamu tuai," cerca Larei dengan nada santai.
__ADS_1
"Aku akan buktikan kalau kamu memang melakukan hal yang tidak baik padaku," ucap Sakya dan langsung berbalik pergi meninggalkan Larei.
"Apa yang dia pikirkan, kenapa menuduh orang sembarangan. Dasar kadal darat!" cebik Larei.