
Larei yang tengah duduk di kursi yang ada di balik meja berukuran sedang itu, tengah serius dengan beberapa kertas di depannya, memeriksa dengan detail apa saja yang tertera di tiap kolom yang berisi tulisan dan angka itu.
Disaat dirinya tengah serius, suara ketukan di pintu berwarna coklat tua itu membuat atensinya teralihkan seketika ke pintu yang masih berbunyi itu.
"Masuk!" Larei berbicara dengan suara yang cukup keras.
Secara perlahan pintu yang dalam jangkauan matanya itu pun terbuka, hingga menampilkan sosok Anjani yang memasang senyum ramah padanya seperti biasa.
Wanita yang usianya sedikit lebih muda darinya pun, mulai memasuki ruangan yang menjadi tempat Larei kerja itu.
"Non, ada yang mau bertemu sama Non," ucap Anjani setelah sampai di depan meja.
"Siapa?" tanya Larei dengan sedikit bingung.
"Pelanggan setia butik ini, katanya dia ingin berbincang dengan anda," sahut Anjani.
Larei pun mengangguk paham, dia tahu pasti, siapa pelanggan yang biasanya datang dan mengajaknya untuk berbincang itu.
"Baiklah, ayo kita temui," ucap Larei yang mulai menyimpan pekerjaannya dan beranjak dari kursi.
"Iya Non," sahut Anjani yang mengekori Larei keluar dari ruangannya.
Larei berjalan ke arah ruangan yang sengaja dia siapkan untuk para pelanggannya konsultasi di lantai yang sama dengan ruangannya.
Tempat itu hanya berjarak beberapa langkah dari ruangannya, hingga tidak membutuhkan waktu yang lama, dia pun sudah sampai di ruangan itu.
Begitu memasuki ruangan, Larei langsung memasang senyum ramahnya, ketika melihat seorang wanita yang hampir seumuran dengan mamanya, tengah duduk di sofa yang ada di ruangan itu dengan tenang.
"Selamat siang Tante," sapa Larei dengan ramah, membuat wanita itu mengalihkan perhatian padanya, lalu tersenyum ramah.
"Siang, maaf ya Tante ganggu kamu, Tante bosan jadi ke sini untuk berbincang sekaligus ingin membahas soal pakaian," terang wanita itu masih dengan senyum ramahnya.
"Tidak mengganggu sama sekali kok, Tan. Kebetulan aku emang jarang terlalu sibuk." Larei mendekati sofa dan duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan tamunya itu.
"Syukurlah kalau gitu." Wanita yang masih cantik, di usia lanjut dengan rambut yang dicepol itu pun, tersenyum kian lebar padanya.
"An, tolong beliin cemilan sama minuman ya," ucap Larei pada Anjani yang masih berdiri dengan posisi tidak jauh darinya.
Dia memang sudah biasa menemani tamunya itu untuk mengobrol dan dia yakin, sama seperti saat-saat sebelumnya, wanita ramah itu pasti akan lumayan lama di sana.
"Baik Non," sahut Anjani mengangguk patuh.
"Kalau begitu saya permisi dulu Non, Bu." Anjani pun langsung berpamitan pergi dari sana, melaksanakan apa yang Larei perintahkan.
Setelah Anjani pergi, barulah Larei memulai pembicaraan pada tamunya itu.
__ADS_1
"Jadi apa yang bisa aku bantu Tan?" tanya Larei.
"Jadi gini, Tante mau pesan lima buah baju lagi dong Rei."
"Boleh Tan, modelnya mau yang seperti apa, biar nanti aku diskusikan dengan perancangnya."
"Untuk model, tante mau yang simpel aja Rei, tidak enak rasanya udah tua harus pakai model baju yang terlalu rame," sahut tamunya itu, masih dengan senyum lebarnya.
"Baiklah, nanti aku bahas lagi sama para anak buahku, gimana baiknya," sahut Larei mengangguk.
"Iya, kamu atur aja, seperti biasanya aja."
"Iya Tan." Angguk Larei.
Mereka pun melanjutkan pembahasan mereka ke arah lain, tapi masih yang berhubungan dengan fashion.
Tamunya itu terlihat enjoy mengobrol dengannya, begitu pun sebaliknya, mungkin karena ini bukan untuk yang pertama kalinya, jadi mereka sudah terbiasa berbincang banyak hal seperti itu.
Obrolan antara kedua wanita beda generasi itu, harus terhenti sejenak, karena kedatangan Anjani yang mengantarkan cemilan dan minuman untuk mereka.
"Makasih ya An," ucap Larei.
"Iya sama-sama Non, apa ada yang dibutuhkan lagi Non?" tanya Anjani.
"Tidak ada, kamu bisa lanjut bekerja," sahut Larei.
"Iya!" sahut Larei dan tamunya bersamaan.
"Silakan dicicipi cemilannya Tan, hanya seadanya," ucap Larei.
"Iya, maaf ya tiap datang ngerepotin terus," sahut tamunya.
"Tidak repot kok Tan."
Tamunya itu tersenyum pada Larei, terlihat dari tatapan matanya, jika wanita itu sangat menyukai Larei, karena sikap dan kepribadian yang ada dalam dirinya.
"Seandainya tante punya menantu kayak kamu, pasti tante akan senang banget. Kamu itu udah cantik, baik, pinter dalam berbisnis, apalagi yang kurang coba."
"Tante Haira bisa aja," sahut Larei terkekeh mendengar pujian yang agak berlebihan itu.
"Tapi sayangnya, aku tidak bisa masak Tan, tidak bisa beres-beres rumah, aku tidak terlalu cocok jadi istri yang baik," sambung Larei apa adanya.
"Tante juga tidak terlalu bisa masak, beres-beres rumah apa lagi, semua masalah rumah, art yang ngurusin," cerita Haira terkekeh.
"Tapi serius loh, Rei. Tante benar-benar berharap bisa punya menantu kayak kamu yang memiliki kesamaan dengan tante, kalau ngobrol juga kita itu nyambung, kayaknya kalau kamu beneran jadi mantu tante bakal asyik."
__ADS_1
Larei hanya tersenyum menanggapi celotehan dari wanita di depannya itu, tidak tahu harus menimpalinya seperti apa.
"Emang Tante cuma punya anak satu?" tanya Larei.
"Iya dan itu laki-laki, anak tante itu jarang banget diam di rumah, selain kerja dia juga sibuk sama pacarnya terus, jadi tante ngerasa kayak yang tidak punya anak," terang Haira dengan mencebikkan bibirnya.
"Sayang banget, sekarang dia juga udah punya pacar, kalau belum, pasti udah tante kenalkan kamu sama dia, siapa tau aja kalian itu jodoh," sambung Haira.
"Tapi sepertinya kita memang tidak jodoh Tan," sahut Larei sekenanya.
"Iya sayang banget," ucap Haira dengan wajah merengut.
"Tidak perlu sedih Tan, meskipun aku tidak jadi menantu Tante, Tante masih bisa kok cerita sama aku kapan pun, tidak perlu sungkan," ucap Larei berusaha menghibur Haira.
"Iya … oh iya, kamu belum punya pacar?" tanya Haira menatap Larei dengan serius.
"Belum Tan, aku juga tidak kepikiran buat pacar-pacaran." Geleng Larei.
"Kamu mau langsung nikah ya, emang mending gitu sih Rei, itu lebih baik daripada pacaran tapi ujung-ujungnya bukan ke pelaminan, malah putus juga," sahut Haira panjang lebar dengan kepala manggut-manggut.
Aku tidak kepikiran untuk pacaran, begitu pun menikah, karena fokusku saat ini hanya pekerjaan dan calon anakku saja. Monolog Larei dalam hatinya.
Tak lama kemudian, ponsel Haira yang berada di dalam tas kulit berukuran sedang yang ada di sampingnya itu berbunyi.
"Tante angkat telepon dulu ya, dari suami Tante," ucap Haira ketika melihat layar ponselnya.
"Iya Tan." Angguk Larei.
Haira pun mengangkat teleponnya, sementara Larei memeriksa ponselnya, sambil menunggu Haira yang tengah serius dengan teleponnya.
Setelah panggilan berakhir, Haira menyimpan ponselnya itu kembali ke tasnya, lalu menatap Larei yang juga sudah berhenti melihat ponselnya.
"Tante mau pamit dulu ya," ucap Haira dengan ramah.
"Iya Tan, nanti aku hubungi lagi kalau pesanan Tante sudah selesai ya," sahut Larei tak kalah ramah.
"Iya, makasih ya, karena kamu udah mau nemenin tante ngobrol," ucap Haira.
"Iya sama-sama Tan, ayo aku anterin ke bawah," ucap Larei sambil berdiri.
Haira pun ikut berdiri, mereka berjalan keluar dari ruangan itu dan menuruni tangga, menuju ke lantai satu.
Larei mengantar Haira sampai ke lobby butiknya, tidak lama setelah mereka keluar, sebuah mobil berwarna hitam mengkilat mendatangi mereka.
"Hati-hati ya Tan," ucap Larei.
__ADS_1
"Iya, kamu juga ya," sahut Haira, lalu mereka pun saling berpelukan.
Setelah itu Haira pun pergi dari sana, memasuki mobil yang dari tadi sudah menunggunya.