Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Aditya Luluh


__ADS_3

"Makasih udah nemanin aku jalan-jalan aunty, aunty cantik," ucap Larei melambaikan tangannya ketika sudah turun dari mobil sahabatnya.


"Iya sama-sama, salamin ke mami kamu ya, kita gak bisa mampir nih," sahut Ivanka dan Tari yang juga melambaikan tangannya melalui jendela mobil yang terbuka.


"Oke, nanti aku bilang, nanti kabar-kabaran lagi," ucap Larei lagi.


"Oke!"


Ivanka pun kembali menjalankan mobilnya, sedangkan Larei mulai memasuki gerbang rumahnya itu, dia mendatangi sopir di rumahnya yang tengah berbincang dengan penjaga rumahnya di gazebo yang ada di halaman depan rumahnya.


"Pak aku mau minta tolong boleh gak?" ucapnya ketika jaraknya dan sopir itu sudah dekat.


"Boleh Non, mau minta tolong apa?" tanya sopirnya.


"Ini tolong anterin ke alamat yang tertera di KTPnya ya, kalau yang nerima ini nanyain, bilang aja Bapak nemuin ini di toilet restoran … ya," tutur Larei menyebutkan alamat restoran tempatnya tadi, membuat sopirnya itu mengangguk paham.


"Baiklah Non, saya akan antarkan ini sekarang juga."


"Makasih ya Pak," ucap Larei dengan ramah.


"Iya sama-sama Non," sahut sopirnya itu.


Larei pun melanjutkan kembali langkahnya, saat memasuki rumahnya dia tidak melihat keberadaan maminya, dia pun langsung menuju ke kamarnya.


...******...


Malam harinya Larei turun dari lantai kamarnya, menuju ke meja makan karena ini sudah saatnya untuk makan malam.


Di meja makan adik dan papinya sudah menunggu untuk makan malam bersama seperti biasanya, dia langsung duduk di kursi yang biasanya.


Sementara maminya masih sibuk membantu art untuk menyiapkan makan malam mereka.


"Gimana kuliah kamu Ziel?" tanya Aditya membuka suaranya.


"Semuanya baik Pi," sahut Ziel yang langsung menyimpan ponselnya, ketika papinya bertanya.


"Baguslah, kamu belajarlah yang benar, jangan main-main agar kamu bisa segera menyelesaikan pendidikanmu," tutur Aditya.


"Iya Pi." Ziel menganggukkan kepalanya dengan patuh.

__ADS_1


Aditya mengalihkan matanya ke arah Larei yang hanya diam, melihat lurus ke meja makan, menghindari tatapan papinya secara langsung karena masih merasa canggung.


"Besok kamu sudah boleh mulai pergi ke butik."


Mendengar ucapan papinya itu, Larei pun melihat ke arah papinya dengan ekpresi tak percaya.


"Beneran Pi?" tanya Larei menatap papinya dengan wajah berubah menjadi senang.


"Iya, besok kamu sudah bisa pergi ke butik dan ke mana pun yang kamu mau, asal ingat. Jaga diri kamu baik-baik, apalagi sekarang kamu tidak hanya harus memperhatikan diri kamu saja, tapi anak kamu juga," tutur Aditya dengan nada sedikit tegas.


"Makasih Pi, aku janji aku akan jaga diri aku baik-baik." Larei mengangguk dengan antusias.


Tak lama kemudian Davira datang dengan membawa makanan untuk makan malam mereka, Larei menatap maminya dengan antusias.


Dia mengucapkan terima kasih dengan isyarat bibirnya, dia yakin jika papinya luluh seperti itu, pasti berkat bantuan maminya juga.


Davira hanya mengangguk samar, lalu tersenyum pada Larei, dia kemudian duduk di antara Larei dan Aditya.


"Oh iya Pi, maaf ya karena kehamilan aku ini, rencana papi dan klien papi itu jadi terganggu," ucap Larei dengan raut wajah tak enak pada papinya.


"Tidak apa-apa, kita hanya bisa berencana, tapi tetep ketentuan Tuhan saja yang menentukan segalanya. Toh itu baru rencana kami para orang-tua saja, kata klien sekaligus teman papi juga bilang, jika anaknya sudah punya pasangan, jadi kalian nemang tidak ada jodohnya."


"Sekarang kita mulailah makan, sebelum makananya dingin," ucap Aditya.


Semua anggota keluarga itu pun mengangguk, lalu mulai mengambil piring mereka masing-masing dan mengambil makanan.


Larei tidak henti-hentinya mengucapkan syukur, atas apa yang terjadi itu, papinya sudah mulai mengizinkan dia untuk pergi ke butik dan bekerja.


Itu sama saja, dengan papinya yang sudah mulai memaafkan dirinya dan sudah menerima apa yang terjadi pada dirinya itu.


Seperti saat-saat sebelumnya, ketika makan, di meja makan itu tidak ada yang membuka suara, hanya dentingan sendok dan garpu yang saling bertabrakan dengan piring yang memecahkan keheningan di sana.


Kini makan malam keluarga itu pun selesai, setiap orang mulai meminum air putih yang tersedia di sana dan mengelap mulut mereka menggunakan tisu.


"Aku pamit kembali ke kamar dulu ya." Ziel bangun dari kursinya dan pamit lebih dulu.


"Pergilah istirahat, jangan maen game terus," ucap Aditya dengan nada santai.


"Iy Pi," sahut Ziel lalu menggeser kursi, hingga menimbulkan bunyi gesekan dan pergi dari meja makan.

__ADS_1


"Kamu juga sebaiknya pergi tidur, istirahat lebi awal agar besok bisa kembali kerja," ucap Aditya beralih pada Larei.


"Iya Pi," sahut Larei yang mulai bangkit dari kursinya.


"Kalau gitu, aku ke kamar duluan ya Mi, Pi. Selamat beristirahat," ucap Larei di jawab anggukan oleh orang-tuanya.


Larei pun menyusul adiknya pergi dari meja makan, hingga kini hanya tersisa Aditya dan Davira yang berada di meja makan.


"Makasih ya Pi, kamu sudah mau memaafkan Larei dan biarin dia untuk kerja lagi," ucap Davira memegang lengan besar suaminya itu.


Dia menatap suaminya dengan senyuman yang mengembang di bibir tipisnya itu, Aditya pun melakukan hal yang sama, dia mengenggam tangan Davira yang masih berada di tangannya dan menepuknya dengan lembut.


"Setelah dipikir-pikir, ini semua memang bukan sepenuhnya salah Larei, aku tidak bisa menghukumnya dengan sepihak seperti itu." Aditya menghela napas panjang.


"Aku tau kamu juga berat melakukan ini, karena posisi kita sebagai orang-tua pasti merasa hancur melihat kondisi anak yang kita didik, kita besarkan dengan penuh cinta, juga kita jaga, hancur begitu saja di tangan pria yang entah di mana dan bagaimana rupanya," terang Davira dengan nada sedihnya.


Sedih, tentu saja mereka rasakan sebagai orang-tua yang mengetahui anaknya tiba-tiba hamil, bahkan tidak tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas semua itu.


Aditya menepuk-nepuk dengan perlahan, tangan Davira itu, dia pun paham dengan perasaan istrinya karena dia pun sebagai ayahnya, tentu saja merasakan hal yang sama.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan segera menemukan siapa pria itu!" tekad Aditya.


"Maksudnya Pi, kamu saat ini lagi nyelediki siapa laki-laki itu?" tanya Davira menatap suaminya dengan penasaran.


"Iya, aku ingin tau siapa pria yang berani menghancurkan anakku dengan seenaknya," sahut Aditya menatap Davira dengan ekspresi tegasnya.


"Kalau Papi sudah menemukan siapa pria itu, apa Papi akan meminta pertanggungjawaban darinya dengan menikahi anak kita?"


"Itu tergantung bagaimana pria itu, apakah pria itu memang cocok untuk anak kita, atau tidak? Karena meskipun dia adalah ayah dari anak yang ada di kandungan Larei, aku tidak akan membiarkan dia bersama dengan anakku, jika memang dia bukanlah pria baik-baik!" tegas Aditya.


Bukan menilai tinggi anaknya, tapi dia hanya tidak ingin anaknya itu mendapatkan pasangan yang salah, dia tidak ingin anaknya menderita di kemudian hari.


Dia tidak ingin anaknya sampai mendapatkan pasangan yang salah dan berakhir dengan dia yang akan tersakiti pada akhirnya.


"Pernikahan bukanlah hal sebuah permainan, itu adalah sebuah ikatan yang harus kita jalani di sisa hidup kita, maka memilih pasangan tidak bisa asal pilih."


"Bahagia atau tidaknya pernikahan itu, tergantung bagaimana kita memilih orang yang akan menjalani hidup bersama kita nantinya."


Davira mengangguk setuju dengan ucapan suaminya itu, dia juga tidak ingin anaknya memiliki pasangan yang salah, hingga berujung penyesalan dan penderitaan.

__ADS_1


__ADS_2