Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Ribut


__ADS_3

Larei dan Haira, telah sampai di halaman, mereka berdua duduk di kursi yang ada di teras dengan meja bundar yang berukuran sedang yang berada di antara mereka.


"Oh iya Rei, apa kamu mau bulan madu?" tanya Haira memulai percakapan.


Larei tersenyum, kemudian menggeleng, dia tidak memikirkan hal itu untuk saat ini, bahkan mungkin tidak akan terpikirkan untuk hal itu.


"Kenapa, apa karena kamu tidak menyukai Sakya?" tanya Haira dengan nada sedih.


"Bukan begitu Ma, saat ini Larei 'kan sedang hamil muda, jadi Larei tidak bebas berpergian karena takut terjadi sesuatu pada kandungan Larei," sahut Larei berusaha menjelaskan agar mertuanya merasa tenang.


"Iya juga ya, kamu 'kan lagi hamil jadi sebaiknya tidak boleh berpergian terlalu jauh dan tidak boleh terlalu capek juga." Angguk Haira mengerti.


"Mama saking semangatnya dengan hubungan kalian, hingga tidak memikirkan calon cucu mama ini," ucap Haira mengusap lembut perut Larei.


Larei tersenyum mendengar apa yang mertuanya ucapkan itu, melihat kedua mertuanya begitu menyimpan harapan besar terhadap hubungannya dan Sakya.


Membuat dia merasa sedikit bersalah, karena mungkin saja mereka tidak akan memiliki hubungan normal layaknya suami-istri pada umumnya.


"Oh iya Rei, kamu tau gak pas Papa mengatakan yang sebenarnya tentang kelakuan Sakya mama benar-benar kecewa, padanya," cerita Haira dengan tatapan lurus padanya.


"Tapi pas mama lihat siapa wanita itu, kekecewaan mama berkurang, karena ternyata wanita itu kamu, bukannya mama tidak berempati padamu, mama sangat menyayangkan apa yang telah dia lakukan. Namun, di lain sisi mama juga bahagia karena wanita itu kamu."


Larei lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendengar apa yang mertuanya ucapkan itu, dia tidak menyangka jika mertuanya begitu menyukainya, hanya karena mereka sudah sering bertemu dan mengobrol.


"Aku juga cukup kaget Ma, pas tau ternyata Mama itu orang-tuanya Sakya," sahut Larei masih dengan senyuman yang terpatri di bibir ranumnya.


"Mama benar-benar berharap, hubungan kalian akan berkembang dengan sangat baik ke depannya, meskipun awalnya seperti ini."


"Mama juga berharap, kamu mau menerima Sakya apa adanya, karena anak mama banyak kekurangannya, jauh dari kata sempurna."


Larei menatap jauh ke dalam mata wanita di depannya itu, dia dapat melihat ada harapan yang besar akan dirinya pada hubungan itu, hingga membuat dia merasa terbebani dengan hal itu.


"Larei akan berusaha untuk bersama dengan Sakya Ma, tapi itu pun jika Sakya memang benar-benar mau berubah dan tidak melakukan lagi, apa yang pernah dia lakukan sebelumya," ucap Larei dengan senyuman tipisnya.


Haira tersenyum dengan diiringi anggukan kepala ringan, setelah itu obrolan mereka itu pun terus berlanjut, hingga tanpa terasa, matahari kini sudah mulai terik.


Karena merasa mereka sudah terlalu lama berbincang di halaman, akhirnya Haira pun mengajak Larei untuk masuk dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, aku ke kamar dulu ya Ma," pamit Larei yang sudah bangun dari kursi yang dia duduki.


"Iya, kamu istirahat gih, manfaatin waktu ini untuk istirahat sebelum besok kembali kerja lagi," sahut Haira mengangguk.


"Iya Ma."


Akhirnya mereka pun berjalan memasuki kamar masing-masing, begitu sampai di dalam kamar, Larei disuguhkan dengan pemandangan suaminya yang tengah tenang dengan mimpinya itu.


Karena tidak tahu mesti ngapain, dia pun akhirnya mendudukkan dirinya di ranjang, tepat di samping Sakya yang tidur dengan nyenyak, sambil memainkan ponselnya.


Mencoba mencari referensi untuk model-model baju yang akan dia hadirkan di butiknya, agar semakin banyak model yang bisa menambah minat para fashionista.


Ketika tengah asyik dengan kegiatannya itu, lagi dan lagi dia mendengar suara ponsel dari pria yang tengah tidur di sampingnya, hingga membuat dia merasa terganggu.


"Tuh orang gak ada kerjaan apa ya, tiap waktu nelepon terus," decaknya sambil melihat ponsel Sakya yang berada di nakas tepat di dekat kepala Sakya.


Karena berisik, dia pun beringsut mendekati Sakya dan langsung mengambil ponsel itu, lalu mengangkat teleponnya.


"Halo," ucap Larei sambi menegakkan kembali duduknya.


"Dia lagi tidur, kamu telepon lagi aja dia sekitar satu jam-an lagi," ucap Larei lagi.


Sambungan telepon itu masih terhubung, tapi tidak ada suara sama sekali yang Larei dengar dari orang yang meneleponnya.


"Kalau gitu aku mau tutup dulu teleponnya," ucap Larei lagi.


[Maaf sudah mengganggu kalian.]


Suara dari wanita di telepon itu terdengar sangat sedih di pendengarannya Larei, hingga dia pun mengurungkan niatnya untuk menutup sambungan telepon itu.


"Kalau tau mengganggu kenapa masih menghubunginya, bukannya kamu sudah tau status dia sekarang," sahut Larei dengan santai.


[Aku tau, tapi kamu mungkin tidak tau apa yang telah aku lewati bersamanya selama beberapa waktu ini.]


"Aku emang tidak tau dan tidak ingin tau, itu urusan kalian, bukan urusanku," sahut Larei tak peduli.


[Kamu juga seorang wanita bukan? Kamu pasti tau rasanya ketika kita diberi harapan setinggi langit, tapi tanpa angin tanpa hujan, harapan itu dihempaskan begitu saja.]

__ADS_1


Larei mulai mendengar isakan tangis pelan dari wanita di telepon itu, tapi dia hanya mendengarkannya dengan tenang.


[Sakya udah janji akan menjalani hidup serius denganku, hingga aku rela menyerahkan segalanya padanya, tapi kini yang aku dapatkan hanya kesedihan ini.]


Entah harus iba atau harus gimana, tapi Larei merasa aneh dengan wanita di balik telepon itu, dia juga tidak mengerti dengan maksud wanita yang tidak lain adalah Ishana, mengatakan semua itu padanya.


"Denger ya, aku tidak tau masalah antara kamu sama Sakya. Dan aku juga tidak mengerti untuk apa kamu mengatakan semua itu padaku, kalau kamu mau ngelampiasin unek-unek, mending ke orangnya langsung."


Setelah berbicara panjang lebar seperti itu, Larei bermaksud akan menutup panggilan itu, tapi gerakan dari Sakya membuat ponsel yang berada di tangannya terlepas begitu saja.


"Sakya lepas! Jangan cari-cari kesempatan, dasar mesum!" kesal Larei karena Sakya tiba-tiba saja melingkarkan tangannya dengan erat di pinggangnya.


Tidak hanya itu, pria itu juga langsung memindahkan kepala ke pangkuannya, seolah tengah mencari-cari kesempatan hingga membuat Larei kesal.


"Bangun!"


Larei berusaha melepaskan belitan tangan pria itu di pinggangnya, tapi itu tidak dapat membuat tangan pria itu terlepas.


"Bangun Sakya, atau aku tendang kamu!" ancam Larei dengan kesabaran yang mulai menipis.


"Pinjem pinggang sama pahanya bentar aja Rei, aku benar-benar lelah gara-gara semalam, jadi sekarang mau tidur dengan nyenyak," sahut Sakya antara sadar dan tidak.


"Lepasin gak Sak!" tekan Larei dengan kemaharanya.


Sakya tidak mengindahkan ucapannya itu, dia masih dengan tenang, menenggelamkan wajahnya di paha Larei.


Larei yang merasa kemarahannya itu, telah sampai di ubun-ubun, akhirnya tanpa aba-aba langsung menjambak rambut Sakya, hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Kasar banget sih Rei jadi wanita, nanti aku laporkan juga ke polisi karena tindakan KDRT!" dengkus Sakya yang sudah duduk, sambil mengusap kepalanya yang terasa linu.


"Laporin aja sana, aku gak takut, lagian siapa suruh kamu nempel-nempel kayak gitu hah!" sinis Larei.


"Aku cuma mau tidur nyenyak Rei, aroma tubuh kamu itu bisa buat aku nyaman," ucap Sakya apa adanya.


"Alah modus, emang kamu pikir aku kayak korban-korban kamu apa! Yang gampang termakan oleh omongan dusta kamu itu," gerutu Larei dengan tatapan kesalnya.


"Kalau mau tidur, udah tidur aja di sana jangan lewati batas," sambungnya lagi sambil menjadikan guling sebagai batas tubuh mereka.

__ADS_1


"Iya, iya dasar wanita bar-bar," sahut Sakya sambil menggerutu.


__ADS_2