
Larei saat ini tengah serius mendengarkan beberapa pendapat dari anak buahnya, tentang rencanan dia membuat beberapa pakaian model terbaru untuk butiknya.
"Jadi bagaimana Bu, apa anda setuju dengan apa yang kami katakan ini?" tanya salah seorang wanita berhijab yang merupakan salah satu desainer yang bekerja sama dengannya.
"Saya setuju aja, nanti kalian bisa kirimin dulu ke aku contoh-contoh desain lainnya yang sudah kalian siapkan," ucap Larei setelah beberapa saat menimbang.
"Baiklah, untuk contoh lengkapnya nanti kita kirimkan lagi pada anda, biar anda bisa memilih dan mengoreksinya, jika ada yang salah."
"Iya, sekarang kalian bisa kembali lanjutkan pekerjaan kalain … oh iya, gaun untuk pesanan mertua saya apa sudah selesai semuanya, siapa yang kemarin bertanggung jawab membuatnya?" Larei melihat satu persatu, dari enam wanita yang biasa dia percaya untuk mendesain dan membuat baju-baju di butiknya.
"Saya yang membuatnya, sekarang semuanya udah beres kok, apa mau dikirim sekarang?" sahut seorang wanita tanpa hijab itu
"Iya, kamu nanti berikan saja ke Anjani, kalau bisa secepatnya, karena aku akan pulang saat makan siang," sahut Larei.
"Baiklah, akan segera saya ambil," sahut wanita itu yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan pergi dari ruangan itu.
"Ya udah, kalau gitu kalian juga bisa mulai lagi pekerjaan kalian, kalau ada apa-apa kalian bisa langsung memberitahu Anjani, jika saya tidak ada di sini."
"Baik Bu, kalau begitu kami permisi dulu," pamit kelima wanita itu, yang juga meninggalkan dia dan Anjani di ruangan itu.
"Ayo kita juga kembali ke tempat kita An," ucap Larei pada Anjani.
"Iya Non," ucap Anjani mengangguk.
Larei membawa beberapa kertas yang berserakan di atas meja yang berada tepat di depan beberapa sofa yang biasa digunakan untuk berdiskusi dengan beberapa anak buahnya, atau orang yang bekerja sama dengannya.
Dia sengaja menggunakan sofa seperti itu, tidak seperti kursi dan meja untuk rapat pada umumnya, karena dia ingin ketika membahas masalah pekerjaan jadi lebih nyaman.
Katika sampai di ruangannya khusus untuknya, Larei menyimpan terlebih dahulu kertas-kertas itu, di laci mejanya.
Katika akan menutup laci itu, dia melihat sebuah pigura berukuran kecil yang selalu di simpan, dengan hati-hati.
Seutas senyum hadir di bibirnya, kala melihat foto yang terdapat di pigura itu, foto dua orang anak kecil yang berbeda tiga tahun, tengah tersenyum sambil bermain pasir.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu Kak, udah lama banget kita gak ketemu. Gak saling memberi kabar juga, apa kamu masih inget sama aku?" gumam Larei masih tersenyum dengan tatapan lurus pada foto.
Diusapnya wajah anak laki-laki yang selalu dia panggil Kakak itu, laki-laki yang selalu menjadi satu-satunya temannya dulu.
Larei termenung, memikirkan perpisahan mereka yang terjadi beberapa tahun lalu, lebih tepatnya ketika dia baru saja lulus dari sekolah menengah pertama.
Flashback....
Larei yang baru saja tahu, jika pemuda yang selalu menemaninya untuk bermain juga selalu menemaninya belajar, akan pergi pun merasa kesal dan kecewa.
Seharian dia mengurung dirinya di dalam kamar, tidak mau makan atau pun minum, meskipun orang-tuanya sudah membujuknya.
"Rei ini aku, keluarlah ayo kita main, ke pemeran busana yang baru buka kemarin itu," ucap seorang pemuda yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas itu, dia berbicara dari balik pintu kamar Larei.
Karena orang tuanya tidak bisa lagi membujuk Larei, akhirnya Mami dan Papinya pun, meminta tolong pada anak laki-laki itu agar mau membujuk Larei.
"Gak mau! Kakak jahat, aku benci sama Kakak, kalau mau pergi, pergi aja jangan peduliin aku lagi!" teriak Larei dengan kesal dari dalam kamarnya.
"Aku tau aku salah karena bilang ini secara mendadak, tapi aku gak bisa tetap tinggal Rei, orang-tua aku mau pindah jadi aku harus pindah juga," ucap pemuda itu berusaha memberi pengertian pada Larei.
Ternyata apa yang diucapkannya itu, benar-benar bisa membuat Larei luluh, hingga pintu kamar yang tadi tertutup rapat itu mulai terbuka.
"Beneran apa pun yang aku inginkan, bakal Kakak turuti?" tanya Larei dengan wajah yang masih terlihat kesal.
Pemuda di depan pintu kamarnya itu, tersenyum, lalu mengangguk dengan yakin. Ya, senyuman itulah yang selalu membuat Larei betah berlama-lama bersama pemuda itu, bahkan dari dulu ketika mereka masih kecil.
"Katanya tadi mau ngajak aku jalan-jalan," ucap Larei.
"Iya ayo, kita ke pameran yang baru buka itu, pasti sekarang ramai oleh pengunjung," ajak pemuda itu.
"Baiklah ayo, tapi aku mau dandan dulu Kak, masa aku keluar dalam keadaan kusut gini," ucap Larei menunjuk penampilannya.
"Gak perlulah Rei, kamu mau kayak gimana pun cantik kok, ayo nanti keburu sore kalau udah sore pasti Papi kamu gak bakal izinin kita keluar."
__ADS_1
"Baiklah ayo," sahut Larei akhirnya pasrah, dia pergi dengan keadaannya yang ala kadarnya.
Mereka berjalan menuruni tangga rumah itu, ketika berpapasan dengan Davira yang berada di ruang keluarga sambil menemani Ziel belajar, mereka berpamitan terlebih dahulu.
Mereka pergi dengan menggunakan sepeda motor milik pemuda bernama Andrew itu, selama di perjalanan tidak ada yang berbicara sama sekali, hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju.
Tempat pameran itu hanya berjarak beberapa kilo dari rumah mereka, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di sana.
"Kak Andrew, nanti Kakak bakal balik lagi ke sini gak?" tanya Larei pada Andrew, ketika berjalan memasuki pameran itu setelah mendaftar terlebih dahulu.
"Tentu saja Rei, setelah aku selesai dengan pendidikanku, aku akan usahain balik lagi ke sini," sahut Andrew dengan senyumannya.
"Beneran ya Kak," ucap Larei.
"Iya, emangnya kapan aku bohong."
"Bagus deh kalau Kakak bakal balik lagi ke sini," ucap Larei mulai tersenyum.
"Kamu di sini baik-baik ya Rei, rajin belajar dan kejarlah cita-citamu, aku ingin ketika aku kembali, kamu sudah jadi seorang pebisnis muda, seperti yang kamu impikan."
"Baik Kak, kalau nanti Kakak kembali lagi ke sini dan kita bertemu kembali, aku pasti sudah jadi seorang wanita dewasa yang sudah memiliki butik sendiri, seperti mereka-mereka itu," tunjuk Larei pada beberapa nama butik yang ikut serta dalam pameran busana itu.
"Iya aku percaya kamu pasti akan seperti mereka, bahkan lebih." Angguk Andrew dengan senyum lebarnya.
Mereka pun melanjutkan kegiatan mereka berjalan, sambil melihat-lihat beragam busana yang berasal dari butik dengan nama tertentu.
"Kak, nanti jangan sampai lepas kontak ya," ucap Larei lagi.
"Iya."
"Kak nanti pasti aku bakal kesepian kalau gak ada Kakak, gak bakal ada lagi yang bantuin aku belajar kalau ad pelajaran yang susah," tutur Larei dengan wajah merengut.
"Nanti kamu pasti akan punya teman yang akan nemenin kamu bermain dan belajar, tapi ingat ya Rei, jangan berlebihan kalau bergaul jangan buat orang-tuamu kecewa," pepatah Andrew, selayaknya seorang kakak yang tengah menasehati adiknya.
__ADS_1
"Siap bos, Kakak tenang aja, aku bakal jadi orang yang baik!" sahut Larei dengan wajah yang sudah berubah menjadi lebih semangat.
Andrew lagi dan lagi hanya tersenyum melihat hal itu, melihat tingkah Larei yang polos dan selalu tersenyum seperti biasanya.