Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Terlalu Takut untuk Memulai


__ADS_3

Sepanjang malam, Sakya tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia terus membolak-balikan badannya, hingga ketika waktu sudah beranjak, dari gelap ke terang.


Pria itu langsung terjaga dari tidurnya dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dengan gerakan hati-hati Sakya pun mulai mendudukkan dirinya, dia merasa pinggangnya serasa akan patah.


"Hahhh, badanku remuk rasanya," gumamnya sambil memijat ringan pinggangnya.


Dia kemudian melihat ke arah ranjang, dimana Larei masih tenang dalam mimpinya, menikmati tidur indahnya, di ranjang empuk, serta selimut hangat miliknya.


"Bener-bener si tukang nyiksa, aku semalaman gak bisa tidur. Sementara dia enak-enak tidur di ranjangku," gerutunya sambil terus menatap Larei.


Sakya akhirnya berdiri, lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan jalan kaku seperti robot, karena seluruh tubuhnya sakit.


Dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang mengalir dari shower, berharap hal itu dapat mengurangi rasa pegal dalam tubuhnya.


Setelah selesai dengan ritual mandinya itu, dia segera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang, memperlihatkan tubuhnya yang hanya tertutup sebagian.


"Masih anteng aja tidur, ini udah jam berapa coba," decak Sakya, ketika dia keluar dari kamar mandi dan melihat Larei masih tidur.


Dia pun berjalan ke arah ranjang, membangunkan Larei dengan mengguncang tubuhnya secara perlahan


"Rei bangun, ini udah siang," ucapnya sambil terus mengguncang tubuh Larei, semakin lama semakin kasar.


"Bentar lagi, aku masih ngantuk," racau Larei sambil membenarkan selimutnya.


"Ini sudah siang Lareina, kita harus segera turun untuk sarapan, Mama sama Papa pasti udah nungguin kita."


Mendengar ucapan dari Sakya itu, Larei pun secara refleks langsung bangun, dia menepuk keningnya karena baru ingat jika sekarang dia bukan lagi seorang singgel yang tinggal di rumah orang tuanya.


"Aku lupa, aku akan langsung mandi," ucap Larei sambil turun dari ranjang dengan tergesa-gesa tanpa melihat ke arahnya.


"Tapi–"


"Kamu duluan aja ke meja makan, bilangin ke Mama sama Papa kalau aku belum selesai, suruh sarapan duluan saja jangan nungguin aku," potong Larei, hingga Sakya tidak dapat menyelesaikan ucapannya.


"Padahal aku cuma mau bilang, kalau di kamar mandi belum ada handuk untuknya," gumam Sakya ketika Larei sudah menutup pintu kamar mandi dengan rapat.

__ADS_1


Sakya mengangkat bahunya, kemudian melangkah memasuki ruang ganti, dia memakai baju santai karena hari ini, dia masih diberikan cuti oleh papanya.


Jadi seharian ini, dia akan menghabiskan waktunya dengan bersantai di rumah.


Sementara itu, di kamar mandi. Larei yang baru saja selesai mandi, celingukan mencari handuk. Dan ketika melihat tempat yang seharusnya dipakai untuk menggantung handuk itu kosong, dia pun menepuk keningnya lagi sambil berdecak.


"Kenapa bisa lupa bawa handuk sih, ada-ada aja," gumamnya, lalu berjalan mendekati pintu.


Baru saja dia membuka mulutnya, akan berteriak memanggil Sakya, tapi suara ketukan pintu di depannya, membuat niatnya urung.


"Kamu udah beres belum mandinya, ini handuknya."


"Tumben tuh orang bener," gumam Larei sambil membuka pintu sedikit dan mengeluarkan tangannya.


"Mana handuknya," ucap Larei menggerakkan tangannya.


Karena tidak ingin ribut, Sakya pun menyimpan handuk itu di tangannya, Larei segera menutup kembali pintu itu dengan rapat.


Ketika berbalik akan pergi dari kamar itu, Sakya mendengar ponselnya yang berada di atas nakas berbunyi, dia pun mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon pagi-pagi seperti itu.


"Masih aja neleponin, gak bosen apa," gumamnya sambil menekan logo berwarna merah, mematikan panggilan itu.


"Kamu ngapain masih di sini, bukannya langsung turun ke bawah," ucap Larei sambil berjalan santai, dengan tubuh yang hanya terbalut oleh sehelai handuk itu.


"Aku nungguin kamu, biar kita bisa turun bareng," sahut Sakya dengan tenang.


Dia sengaja memfokuskan dirinya ke ponselnya, karena tidak ingin berpikir macam-macam, akibat dari melihat lekukan tubuh istrinya itu.


Larei tidak menyahuti apa yang Sakya ucapkan itu, dia langsung memasuki ruang ganti dan berpakaian, tidak lupa juga memakai make-up ala kadarnya, biar tidak terlalu terlihat polos.


"Ayo kita turun," ucap Larei ketika keluar dari kamar.


"Ay–"


"Rei, Sak, kalian udah bangun belum?"

__ADS_1


Sakya dan Larei melotot ketika mendengar suara Haira di depan pintu kamar mereka.


Baru saja mereka akan bersuara, handel pintu kamar itu sudah bergerak, dibuka dari luar, Sakya dan Larei cukup panik karena mereka belum sempat membereskan kamar itu.


Terlebih lagi, selimut dan bantal bekas tidur Sakya masih ada di lantai, akhirnya karena takut ketahuan jika mereka tidur terpisah.


Larei pun dengan cepat mengambil bantal dan menyimpannya ke kasur, sedangkan selimutnya, dia gulung menjadi gulungan besar dan membawanya ke ruang ganti.


Ketika Haira membuka pintu dan memasukan kepalanya ke kamar itu, dia hanya melihat Sakya yang tengah membereskan tempat tidurnya.


"Kamu dari semalem gak kunci pintu kamar kamu ini?" tanya Haira, tanpa masuk ke dalam kamar itu.


"Gak Ma, aku lupa lagian dari dulu juga aku jarang kunci kamar 'kan?" sahut Sakya menatap mamanya, dengan memasang wajah santainya.


Meskipun jantungnya masih berdegup dengan cukup cepat, karena takut ketahuan jika dia dan istrinya tidak tidur bareng.


"Itu 'kan dulu Sak, sekarang harus dibiasakan kunci pintunya, gimana kalau nanti, pas kamu lagi nanggung sama istri kamu, malah ada yang nyelonong masuk gitu aja ke kamar kamu ini."


"Bukannya cuma Mama aja ya, yang biasanya main nyelonong masuk gitu aja," sahut Sakya sebagai sindiran untuk mamanya.


Karena hanya mamanya itulah yang selalu keluar masuk ke kamarnya, tanpa permisi terlebih dahulu.


"Ya makanya, biasain kunci pintunya," sahut Haira dengan wajah tanpa dosanya.


"Iya, nanti aku akan menguncinya."


"Di mana Larei?" tanya Haira celingukan mencari keberadaan menantunya.


"Ini aku Ma, aku baru selesai berpakaian," sahut Larei yang langsung keluar dari ruang ganti, setelah mengamankan selimut.


Dia berusaha bersikap biasa saja dan tersenyum ramah pada mertuanya itu, tidak menunjukkan jika sebenarnya saat ini dia juga merasa jantung seolah tengah olahraga.


Larei tidak ingin mertuanya itu tahu, tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Sakya, karena tidak ingin mertuanya sedih.


Jika seandainya mereka tahu, dia memang belum menerima pernikahan itu, perlu Larei tekankan sekali lagi, alasan dia mau menerima pernikahan itu, hanya demi calon anaknya.

__ADS_1


Namun, untuk Sakya sendiri, dia tidak memiliki keberanian untuk menyimpan harapan pada pria itu, dia lebih baik berjaga-jaga daripada ujung-ujungnya dia akan terluka.


Lebih baik mencegah daripada mengobati, itulah yang ada dipikiran Larei saat ini, dia tidak ingin menyimpan harapan dan hatinya pada Sakya, karena takut Sakya ternyata tidak bisa lepas dari kebiasaan masa lalunya.


__ADS_2