
Keluarga Fahar saat ini baru saja selesai makan malam, begitu pun dengan Sakya, tapi ketika dia akan beranjak dari meja makan, suara papanya menghentikan gerakannya itu.
"Temui papa di ruang kerja," ucap Fahar, sambil beranjak dari tempat duduknya tanpa melihatnya.
"Papa kenapa Ma?" tanya Sakya pada mamanya dengan bingung.
"Gak tau," sahut Haira dengan nada sedikit ketus, lalu beranjak dari tempatnya sama seperti suaminya.
"Ada apa dengan mereka? Apa aku ada buat kesalahan pada mereka?" Sakya menatap kedua orang-tuanya itu dengan bingung.
Tidak ingin membuat papanya semakin kesal padanya, dia pun mulai pergi dari meja makan, menuju ke ruang kerja papanya. Selama di perjalanan, dia terus berpikir kesalahan apa yang membuat Fahar terlihat marah padanya.
Ruang kerja papanya itu, terletak di lantai bawah, berhadapan dengan ruang keluarga. Katika sampai di depan pintu ruangan yang ditujunya, Sakya pun mengetuk pintu berwarna hitam itu dengan perlahan.
Dia mulai membuka pintu ruangan itu, saat mendengar papanya menyuruhnya untuk masuk. Ketika memasuki ruangan, Fahar tengah duduk di kursi yang ada di balik meja kerjanya.
"Ada apa Pa?" tanya Sakya sambil mendudukkan dirinya di depan papanya.
Fahar tidak menjawabnya, tapi dia membuka laptopnya dan memutar laptopnya itu hingga menghadap ke arah Sakya.
"Apa ini Pa?" tanya Sakya lagi masih dengan ekspresi bingungnya.
"Lihat sendiri," sahut Fahar dengan menekankan suaranya.
Meskipun bingung, tapi Sakya menuruti apa yang papanya itu ucapkan, dia melihat ke arah laptopnya, menatap video yang tengah berjalan.
"Apa yang mau kamu jelaskan soal itu!" tekan Fahar dengan tatapan tajamnya.
"Aku hanya iseng saja Pa," ucap Sakya dengan wajah santainya, tidak ada penyesalan sama sekali.
"Iseng kamu bilang, melakukan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan itu, kamu bilangnya hanya iseng!" geram Fahar.
Dia tidak habis dengan jalan pikiran anaknya itu, dia tidak menyangka anaknya telah melangkah terlalu jauh ke jalan yang salah.
"Iya Pa, lagian aku masih muda, toh di jaman sekarang hal yang seperti itu sudah biasa," celoteh Sakya dengan entengnya.
__ADS_1
"Apa kamu tau, akibat dari perbuatan kamu itu?" Fahar menatapnya dengan tegas.
Sementara Sakya hanya diam, tanpa suara dengan tatapan lurus ke arah papanya itu.
"Wanita yang kamu jadikan untuk keisengan kamu itu, saat ini tengah hamil."
"Apa! Hamil?" Sakya menatap tak percaya pada papanya.
Fahar tidak menyahutinya lagi, dia hanya menatap anaknya kian sengit, tidak berniat untuk menjelaskan lagi.
Di kala Sakya tengah sibuk dengan pikirannya, mencerna dengan baik apa saja yang baru didengarnya, Fahar pun sudah mulai berdiri.
"Tanggung jawablah dengan apa yang telah kamu lakukan itu," ucap Fahar sambil mulai melangkah.
"Tapi Pa, belum tentu juga itu adalah anak aku," ucap Sakya yang ikut berdiri, menatap papanya dengan serius.
Plakk....
Sebuah tamparan yang berasal dari tangan papanya, mendarat dengan mulus di pipi sebelah kirinya itu.
Fahar yang semula, akan bicara baik-baik dengan anaknya itu harus urung, setelah mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut anaknya itu.
"Tapi bisa aja apa yang aku katakan itu benar Pa, gimana kalau ternyata dia sengaja melakukan semua ini hanya untuk numpang hidup dengan kita."
Fahar menghela napas sedalam-dalamnya, mendengar ucapan ringan tanpa beban dari anaknya itu, dia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa dia memiliki anak seperti itu.
"Mereka tidak meminta pertanggungjawaban darimu atau dari kita, papa dari wanita itu mengatakan hal ini hanya untuk mengatakan jika anak itu juga anggota keluarga kita."
"Orang-tua dari wanita itu tidak kekurangan dalam hal materi, jadi dia tidak meminta untuk pertanggungjawaban dari kita, lagian wanita itu juga sudah memiliki bisnisnya sendiri, hanya untuk membesarkan anaknya, dia tidak mungkin kesulitan."
"Baru kali ini papa benar-benar kecewa padamu, sebelumnya aku dan Mamamu selalu diam dengan kelakuan kamu itu, tapi kali ini, batas kesabaran kita telah di ambang batas."
"Papa juga menyesal, telah memohon pada orang-tua wanita itu, untuk memberikan kamu kesempatan untuk bertanggung jawab pada wanita itu dan anak kamu, sekarang terserah kamu mau berbuat apa pun, baik aku ataupun Mama kamu, kami tidak ingin tau lagi tentang kamu."
Setelah mengatakan banyak hal itu, Fahar pun pergi dari ruangan itu, meninggalkan Sakya yang masih mematung di tempatnya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
__ADS_1
"Apa aku harus bertanggung jawab, tapi bagaimana dengan Ishana, bukankah aku sudah berjanji akan menjalani hubungan yang serius dengannya," gumamnya dengan tatapan menerawang.
"Maka jalaninya hidupmu dengan dengan pacar kamu itu, tidak perlu memedulikan wanita yang saat ini tengah mengandung anakmu."
Sakya membalikkan badannya dan melihat mamanya sedang berdiri di ambang pintu ruangan itu.
"Ma," panggil Sakya dengan pelan.
Haira berjalan mendekatinya, dia berdiri di depan Sakya, menatapnya dengan ekspresi datar, sedangkan Sakya masih menatapnya dengan gusar.
"Apa yang Papa kamu katakan tadi benar, kini kami benar-benar kecewa padamu, mungkin memang lebih baik wanita itu mengurus anaknya sendiri, karena dengan kamu bertanggung jawab pun, tidak akan menjamin kebahagiaan mereka."
"Apa maksud Mama?"
"Apalagi, wanita mana yang akan bahagia hidup dengan pria yang suka bermain perempuan, pria yang tidak bisa setia dengan satu wanita. Dengan dia menjalani hidup denganmu, maka itu artinya, dia mendorong dirinya sendiri ke jurang kesengsaraan."
Sakya menatap mamanya tak percaya, bahkan wanita yang mengandung dan melahirkannya, juga membesarkannya, secara terang-terangan memberikan nilai buruk padanya.
"Apakah Sakya seburuk itu Ma?" tanya Sakya.
Mendengar apa yang dipertanyakan oleh anaknya itu, Haira terkekeh, tidak menyangka anak yang dia besarkan dengan penuh cinta akan menjadi seperti.
Kekecewaan dalam dirinya untuk Sakya benar adanya, dia kali ini benar-benar merasa kecewa terhadap anak semata wayangnya itu.
"Kamu tidak buruk, hanya saja sikapmu itu yang buruk. Mama hanya berdoa agar kamu tidak terlambat berbenah diri dan tidak menyesal di kemudian hari."
Setelah mengatakan hal itu, Haira pun berbalik kembali dan meninggalkan Sakya yang masih mematung tak percaya di tempatnya.
Sekian lama termenung, akhirnya dia pun mulai melangkah keluar dari ruangan itu, selama perjalanan menuju ke kamarnya, pikirannya terus melayang.
Bingung memikirkan kemarahan orang-tuanya, memikirkan tentang Larei yang hamil, juga tentang hubungannya yang dengan Ishana yang baru saja dimulai.
Sakya menjatuhkan dirinya ke kasur, ketika sampai di kamarnya itu, dia menatap langit-langit kamarnya, kembali larut dalam lamunannya.
"Apa aku harus memperjelasnya lagi ya, dan bertanggung jawab jika itu memang benar-benar anakku."
__ADS_1