
Tak lama kemudian, pintu yang semula tertutup rapat, kini terbuka dan memunculkan seorang wanita berumur 40 tahun, menyambut Ishana dengan ramah.
"Mbak Ishana."
"Siang Bu, gimana kabar Nenek sekarang?" tanya Ishana.
"Nenek masih sama seperti sebelumnya Mbak, barusan Ibu baru selesai memberikan makan sama obat."
"Oh, ya udah, aku mau lihat Nenek dulu ya."
"Iya mari Mbak, ih iya maaf Mas ini siapa Mbak?" Tunjuk wanita itu pada Sakya yang dari tadi hanya diam, menyimak obrolan antara Ishana dan wanita asing itu.
"Ini Sakya Bu," ucap Ishana tersenyum malu-malu.
"Oh ini Mas Sakya toh, ganteng, sesuai dengan apa yang Mbak Ishana ceritakan."
Mendengar apa yang wanita di depannya itu katakan, Sakya hanya bisa tersenyum tipis melalui maskernya.
"Ya udah kalau gitu, aku sama teman aku mau menemui Nenek dulu ya Bu, Ibu bisa tolong buatkan makan malam untuk kita."
"Iya Mbak, akan saya buatkan makan malamnya," sahut wanita itu dengan mengangguk patuh.
"Makasih Bu," ucap Ishana membuat wanita itu menganhguk.
"Ayo Sak."
Ishana menggandeng tangan Sakya dan pergi dari sana, mereka memasuki rumah itu, berjalan semakin ke dalam, lalu berhenti di depan sebuah pintu.
"Untuk apa kamu membawa aku ke sini?" tanya Sakya, sambil menarik tangannya dari genggaman tangan Ishana.
"Aku hanya ingin membawamu ketemu sama Nenek aku, sebenarnya aku udah menceritakan padanya jika aku punya pacar dan akan menjalani hubungan yang serius," terang Ishana menatap Sakya.
"Nanti kalau di dalam, bisakah kamu berpura-pura jika kita ini masih pasangan, Nenek aku udah sakit dan aku tidak mau membuat dia sedih jika apa yang aku bicarakan itu tidak jadi kenyataan."
Sakya menatap dalam mata Ishana, melihat kesungguhan dari pancaran mata itu, membuat dia tidak tega untuk menolaknya.
"Baiklah, tapi ini yang pertama dan yang terakhir kalinya, setelah ini kita tidak ada hubungan apa pun lagi," tekan Sakya.
"Iya, kamu tenang aja, hanya kali ini, karena setelah ini aku akan membawa Nenek aku berobat ke tempat yang jauh," sahut Ishana.
"Ya udah, ayo masuk nunggu apa lagi."
Ishana kembali mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapannya itu, dia kemudian mulai membuka pintu berwarna biru yang berukuran sedang itu.
Katika pintu terbuka, mereka langsung dihadapkan dengan sebuah ranjang berukuran untuk dua orang, dengan seorang wanita yang tampak sudah tidak muda lagi tengah menatap langit-langit kamar itu.
"Nek," panggil Ishana, membuat wanita tua itu menengok ke arah mereka.
Wanita itu langsung tersenyum, ketika menyadari keberadaan mereka.
"Kamu akhirnya pulang juga Nak," ucapnya dengan nada pada Ishana.
Ishana berjalan mendekati ranjang, lalu mendudukkan dirinya di pinggir ranjang dan langsung mengambil tangan yang yang sudah dihiasi oleh kerutan itu.
"Bagaimana kabar Nenek sekarang?" tanya Ishana.
"Seperti yang kamu lihat, Nenek semakin tua, semakin sulit untuk bangun dari tempat tidur," keluh neneknya pada Ishana.
"Nenek jangan ngomong gitu, Nenek pasti bakal sehat lagi," ucap Ishana.
"Nenek sudah tua, sudah saatnya Nenek untuk kembali pada sang Pencipta."
__ADS_1
"Nenek jangan ngomong gitu, kalau Nenek pergi, siapa yang akan menemani aku," ucap Ishana yang tidak suka dengan ucapan neneknya itu.
Nenek Ishana hanya tersenyum tipis, lalu mengalihkan perhatiannya, ke arah Sakya yang masih berdiri di belakang Ishana.
"Oh iya Nek, ini Sakya. Pria yang pernah aku ceritakan waktu itu," ucap Ishana seolah tahu, kebingungan neneknya.
"Halo Nek, saya Sakya," ucap Sakya mengulurkan tangannya pada nenek Ishana.
"Oh iya Ishana sering cerita tentang kamu Nak," sahut neneknya Ishana tersenyum.
Sakya pun ikut tersenyum, lalu kembali menegakkan tubuhnya dan berdiri di belakang Ishana lagi.
"Kamu sakit Nak?" tanya neneknya Ishana.
"Iya Nek, saya lagi kurang enak badan, makanya pakai masker seperti ini," sahut Sakya membuat neneknya Ishana mengangguk.
Setelah itu di dalam kamar itu hanya ada obrolan antara Ishana dan neneknya, sedangkan Sakya berdiri dengan bosan di belakang Ishana.
Sakya juga sesekali berbicara, pada neneknya Ishana ketika wanita tua itu bertanya padanya.
Waktu terus berlalu, hingga tidak terasa kini suasana di luar sudah mulai gelap, Sakya ingin rasanya meminta Ishana untuk segera mengakhiri obrolan dengan neneknya itu dan membiarkan dia pulang.
"Udah malam Nek, nanti aku minta Bu Eni untuk membawa makanan sama obat ke sini ya," ucap Ishana.
"Iya, Nak Sakya, sebaiknya sebelum pulang makan dulu saja di sini ya Nak," ucap neneknya Ishana pada Sakya.
"Iya Nek, aku udah minta Bu Eni untuk siapkan makan malam, kita akan malam dulu di sini kok." Ishana lebih dulu menjawab perkataan neneknya.
"Baguslah kalau gitu," ucap neneknya.
"Ya udah Nenek jaga kesehatan ya, nanti Ishana pasti akan ke sini lagi secepatnya," pamit Ishana.
"Iya, kamu juga jaga diri baik-baik," ucap neneknya.
"Saya permisi dulu Nek," pamit Sakya yang juga menyalami neneknya Ishana.
"Iya, makasih sudah berkunjung ke sini Nak, sering-seringlah ke sini." Neneknya Ishana tersenyum pada Sakya.
Sakya pun mengangguk samar, setelah itu mereka keluar dari kamar. Sakya yang awalnya berniat untuk pulang, tidak jadi karena Ishana yang memaksanya untuk makan malam di sana terlebih dahulu.
Sekuat apa pun dia menolak, tapi sekuat itu pula Ishana memintanya untuk menemaninya makan malam di sana, bahkan dengan beberapa ancaman.
"Ayo makanlah Sak," ucap Ishana, sambil terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku gak mau."
"Terus kamu mau apa, biar aku buatkan, mau minum kopi aja?" tawar Ishana.
Sakya hanya diam, dia tidak ingin memakan apa pun, karena yang dia inginkan saat ini adalah segera pulang dan tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Ishana.
"Ayolah Sak, aku buatkan kamu kopi aja ya, anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihku karena kamu udah mau nemenin aku," ucap Ishana menatap Sakya.
"Terserah," sahut Sakya dengan pasrah.
"Baiklah, aku buatkan dulu kopinya ya," ucap Ishana yang langsung berdiri dari kursinya.
Dia berjalan ke arah dapur dan tak lama kemudian, dia kembali dengan secangkir kopi yang masih mengepul di tangannya.
"Ini, kamu bisa minum ini dulu sambil nungguin aku selesai makan," ucap Ishana menyimpan kopi itu di depan Sakya.
"Kamu gak akan nginep di sini?" Sakya menatapnya dengan kening mengerut.
__ADS_1
"Tidak, ada yang harus aku bereskan di apartemen," sahut Ishana menggeleng.
Akhirnya tanpa rasa curiga sedikit pun, Sakya pun mulai menurunkan maskernya dan menyeruput kopi sambil sesekali meniupnya.
Sementara Ishana terus fokus pada makanannya, hingga makanan yang ada di piringnya habis tak bersisa.
Sakya yang sudah menghabiskan, setengah kopinya, mulai merasa pening di kepalanya, tapi dia menganggap mungkin karena dari pagi dia belum sempat makan apa pun.
"Bu, aku mau pulang dulu ya, nanti aku ke sini lagi," pamit Ishana pada Eni yang baru saja keluar dari kamar neneknya.
"Gak nginep aja di sini Mbak?" tanya Ebi ketika berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Tidak Bu, nanti aku ke sini lagi, ada yang harus aku bereskan dulu di apartemen."
"Ya udah kalau gitu, hati-hati ya Mbak."
"Iya Bu, tolong jagain Nenek ya."
"Iya Mbak." Angguk Eni.
"Ayo Sak," ajak Ishana pada Sakya yang masih duduk di meja makan.
"Iya ayo," ucap Sakya sambil berdiri dengan lemah.
Mereka pun keluar dari rumah itu, suasana di luar sudah gelap, kini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Biar aku yang bawa mobilnya, kamu kayaknya kelelahan," ucap Ishana mengambil kontak mobil dari tangan Sakya.
Sakya yang merasa tidak nyaman pun hanya pasrah, dia duduk di kursi penumpang dengan sesekali memijat kepalanya sambil memejamkan matanya.
Ishana membawa mobil Sakya itu ke arah apartemennya, dia sesekali tersenyum ketika melihat ke arah Sakya yang masih belum menyadari hal itu.
"Ayo kita turun," ajak Ishana ketika menghentikan mobilnya, di parkiran apartemennya.
"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Sakya melihat sekelilingnya.
"Aku tau, apa yang kamu butuhkan saat ini," ucap Ishana dengan menyeringai, sambil memberikan usapan lembut di paha Sakya.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan, cepat turun dari mobilku, aku akan segera pulang!" tekan Sakya menepis tangan Ishana.
Ishana tidak menghiraukan ucapannya itu, dia hanya turun dari mobil lalu membuka pintu mobil bagian tempat duduk Sakya.
Ditariknya tubuh Sakya yang sudah mulai lemas untuk keluar dari mobil, dia membawa Sakya yang sudah tidak dapat berdiri dengan tegak, memasuki unit apartmentnya dan langsung mendorong tubuh Sakya ke ranjang miliknya.
"Bukankah ini yang selalu kamu inginkan Sak, sekarang ayo kita lakukan hal itu," ucap Ishana sambil terus melepaskan kain yang melekat di tubuhnya satu persatu.
"Jangan gila Ishana, aku sudah menikah dan aku sudah berjanji tidak akan pernah melakukan hal semacam itu lagi," ucap Sakya di sisa-sisa kesadarannya yang semakin menipis.
Sekali lagi, Ishana tidak menghiraukan ucapan dari Sakya itu, dengan tubuhnya yang sudah polos, dia menyerbu bibir Sakya tanpa ampun.
Sialnya, Sakya tidak memiliki tenaga untuk melawan bahkan hanya untuk sekedar mendorong wanita itu. Tubuhnya benar-benar tidak dapat dia kendalikan.
"Kamu cukup nikmati saja Sayang, bukankah kamu sudah lama menginginkan hal ini," ucap Ishana menatap Sakya dengan seringaiannya.
Posisinya saat ini sudah menindih tubuh Sakya, dia kembali menyerbu bibir Sakya, membuat pria itu kehilangan kendali akan dirinya.
Tangannya tidak tinggal diam, terus bergerak melepas satu persatu kain yang masih melekat di tubuh pria idamannya itu.
...----------------...
Buat yang masih dengan setia nungguin cerita ini up, makasih banget ya, tapi setelah ini aku gak bisa janji bakal rajin up lagi cerita ini karena saat ini kondisi aku masih belum memungkinkan untuk nulis, kepala aku pusing terus, sampai aku gak bisa lama-lama liat hpš
__ADS_1
Semoga kondisi badanku cepat sehat seperti sebelumnya, biar aku bisa lanjut lagi ceritanya šš¤§
Mohon maaf banget ya semuanya š