
Sakya melihat ke arah Larei yang masih menatapnya, hingga tatapan mereka pun beradu. Mengetahui jika Larei dari tadi terus memperhatikannya, pria itu pun tersenyum pada istrinya.
Sementara Larei, langsung mengalihkan perhatian ke arah para sahabatnya, ketika melihat senyuman dari pria itu.
"Oh jadi karena ingin memantau istrimu, makanya kamu tiba-tiba ngajak kita buat makan di sini," ucap Isam yang sedari tadi melihat Sakya terus menatap Larei.
Sakya menatap kedua sahabatnya, setelah itu dia terkekeh singkat, itu memang tujuannya. Setelah mengetahui Larei janjian dengan sahabatnya, dia pun meminta para sahabatnya untuk makan bareng.
Alasannya adalah karena dia ingin berada di sana untuk memantau Larei, tapi dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada wanita itu, jadi dia menyuruh para sahabatnya untuk ke sana juga.
"Aku gak mungkin begitu terus terang padanya, jadi aku menjadikan kalian alasan untuk aku ada di sini," sahutnya dengan enteng.
"Baiklah, kita tidak masalah dimanfaatkan, asal makanan kita kali ini, kamu yang bayarin," sahut Isam.
"Santai aja, aku tidak memanfaatkan kalian secara gratis kok."
Mendengar hal itu, Isam tersenyum senang, sedangkan Gamya hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya yang seperti seorang tak punya.
"Hubungan kamu sama dia gimana?" tanya Gamya.
"Sebelum ngobrol, lebih baik kita pesan dulu makanan oke," potong Isam.
Membuat Sakya yang baru saja membuka mulut akan menjawab pertanyaan dari Gamya itu terhenti.
"Ya udah, pesan aja dulu kalau gitu," sahut Sakya yang langsung diangguki oleh Gamya.
Isam memanggil pelayan dan mulai menyebutkan menu makanan yang akan dimakannya, begitu pun dengan Sakya dan Gamya.
"Gimana Ishana, apa dia pernah menemuimu lagi setelah kejadian terakhir itu?" tanya Gamya menatap Sakya dengan serius.
Sakya menggelengkan kepalanya, setelah kejadian itu, wanita itu benar-benar menghilang.
"Dia hilang seperti ditelan bumi," sahut Sakya.
"Aku takut ini adalah siasatnya juga," timpal Isam yang juga tengah memasang wajah seriusnya.
Gamya mengangguk setuju dengan ucapan Isam itu, dia juga berpikiran hal yang sama dengan sahabatnya itu.
"Aku juga memikirkan hal itu, tapi aku harap apa pun yang wanita itu lakukan nanti, tidak sampai ke telinga mertuaku atau Papaku. Karena jika itu sampai terjadi, maka itu artinya pernikahanku yang jadi taruhannya."
__ADS_1
"Apa sekarang kamu sudah benar-benar berpikir untuk meneruskan pernikahanmu itu?" tanya Gamya.
"Tentu saja," sahut Sakya dengan yakin.
"Bagaimana dengan perasaanmu padanya?"
Sakya secara refleks menatap ke arah Larei, ketika mendengar pertanyaan dari Gamya itu. dia menatap istrinya dengan seksama, wanita itu tengah makan sambil berbincang dengan para sahabatnya.
"Untuk saat ini aku belum yakin, apakah aku sudah mencintainya atau belum. Tapi yang jelas, aku merasa nyaman ketika berada di dekatnya, merasa senang melihat dia tersenyum atau tertawa meskipun bukan bersamaku."
Sakya mengatakan semua itu tanpa mengalihkan tatapannya dari Larei yang masih dengan kegiatannya, tidak menyadari jika dia tengah diperhatikan olehnya.
Isam dan Gamya mengangguk paham dengan apa yang diucapkannya, mereka dapat menarik kesimpulan jika sahabat mereka itu kini sudah mulai mencintai Larei, meskipun dia belum menyadari hal itu.
''Tapi, bukannya kamu dan dia pernah membuat perjanjian, jika kalian akan berpisah setelah anak kalian lahir dan dia masih belum memiliki perasaan terhadapmu."
Mendengar apa yang Isam ucapkan itu, Sakya kemudian menatapnya dengan serius. Dia hampir melupakan hal itu, usia kandungan Larei saat ini sudah empat bulan lebih, itu artinya dia hanya memiliki waktu sekitar empat bulan lagi.
Akankah dalam waktu yang cukup singkat itu, dia bisa meyakinkan perasaannya terhadap Larei, dan bisa membuat wanita itu memiliki perasaan padanya.
"Kalau kamu berusaha keras menunjukkan keseriusanmu padanya, aku yakin dalam waktu itu kamu bisa membuat dia memiliki perasaan padamu," ucap Gamya menepuk pundak Sakya.
"Tapi sampai saat ini, Larei sepertinya masih menutup pintu hatinya dengan rapat, hingga aku tidak yakin apakah aku bisa memberikan celah pada hatinya itu atau tidak."
"Bukannya kamu selalu membanggakan dirimu, ketika berhadapan dengan wanita," ucap Isam dengan nada meledek.
"Jika wanita lain mungkin iya, tapi tidak dengan Larei. Terlalu sulit untuk menggapainya," ucap Sakya dengan hembusan napas kasar.
"Sulit. Bukan berarti tidak mungkin, asal kamu berusaha, sedikit demi sedikit kamu pasti akan bisa membuatnya memiliki perasaan padamu," ucap Gamya.
"Semoga saja, ada saatnya untuk itu," ucap Sakya mengangguk.
Mereka menghentikan obrolan mereka sejenak, karena pelayan telah mengantarkan mereka pesanan mereka.
"Sudahlah berhenti, membahas masalah kehidupan pribadimu, lebih baik kita membahas masalah lain sambil makan," ucap Isam.
Sakya dan Gamya hanya mengangguk sebagai jawaban, setelah itu mereka bertiga pun mulai menyantap makanan mereka.
Isam menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan mata liar, terus bergerak memindai setiap sudut restaurant itu.
__ADS_1
Namun, ketika tatapannya bertabrakan dengan mata yang tengah juga memakan makanannya sambil tertawa, secara otomatis tatapannya berhenti.
Dia tetap menatap wanita yang kini telah membuang pandangan ke arah lain itu dengan intens, hingga aktivitas makannya menjadi terhenti.
Melihat dia yang tiba-tiba diam dan berhenti makan, Gamya yang menyadari hal itu menatapnya dengan heran, lalu memberi isyarat pada Sakya.
"Kenapa kamu?" tanya Sakya membuatnya beralih menatapnya.
"Aku baru sadar kalau Ivanka, lumayan juga," ucap Isam membuat Sakya dan Gamya memutar matanya malas.
Mereka tahu, jika Isam bicara seperti itu ketika melihat wanita, maka itu artinya saat ini dia sedang tidak memiliki teman kencan.
"Sejak kapan dia tidak punya teman kencan?" tanya Sakya pada Gamya.
"Entahlah, aku juga tidak tau, karena akhir-akhir ini kita jarang ketemu." Gamya mengangkat bahunya.
"Dia tidak akan mau sama kamu, karena dia udah tau semua keburukanmu," sahut Gamya dengan enteng sambil meneruskan makannya.
"Kalau belum dicoba, siapa yang tau," sahut Isam dengan santai.
"Jangan aneh-aneh deh Sam, jangan rusak terus anak orang," ucap Gamya yang seperti biasanya, selalu menasehati kedua sahabatnya.
Sakya memilih diam, tidak ikut nimbrung dan hanya fokus pada makanannya, karena dia sadar jika dia dan Isam memang tidak beda jauh.
"Siapa yang rusak anak orang, aku gak pernah buat mereka cacat tiap putus sama mereka," sahut Isam masih dengan nada santainya.
"Tapi dengan kamu melakukan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan di luar ikatan pernikahan, itu sama aja kamu merusak wanita," ucap Gamya lagi.
"Ngerusk gimana? Aku melakukan hal itu dengan suka sama suka, apanya yang ngerusak," sahut Isam yang masih membantah ucapan dari sahabatnya itu.
"Sudah, sudah. Kalian mending habisin dulu makanannya, jangan ribut. Tiap ketemu perasaan ribut terus," lerai Sakya yang sudah mulai jengah dengan perdebatan sahabatnya.
"Aku tidak bermaksud berdebat, aku hanya mengingatkannya saja, termasuk kamu juga." Gamya beralih menatapnya.
"Iya, iya aku ngerti, lagian sekarang aku 'kan udah berubah, aku udah berusaha menjadi orang yang lebih baik," sahut Sakya dengan sungguh-sungguh.
"Sekarang giliran kamu yang berubah juga," ucap Gamya kembali menatap Isam.
"Iya, Pak Ustadz!" ucap Isam penuh penekanan.
__ADS_1