
"Pagi Ma, Pa!" sapa Larei dan Sakya dengan bersamaan, kepada Fahar dan Haira yang sudah ada di meja makan.
"Pagi Rei, Sak," sahut Haira, sementara Fahar hanya mengangguk singkat.
"Ayo segeralah sarapan, ini Sak, tadi bibi udah buatin kamu makanan yang kamu mau," ucap Haira mendorong piring yang berisi ayam kecap pada Sakya.
Sesuai dengan apa yang dia minta ketika bangun tidur pada artnya itu.
"Bibinya mana Ma?" tanya Sakya karena tidak melihat artnya yang biasa selalu berada di dapur.
"Bibi mau pergi belanja sayur-sayuran dulu, jadi tadi setelah beres masak langsung pergi," terang Haira.
"Oh gitu," sahut Sakya mengangguk paham.
Sakya mulai mengambil makanan ke dalam piringnya, dia pun mulai mencicipi makanannya itu, setelah itu manggut-manggut ketika masakan itu bersahabat dengan lidahnya.
"Ini cobalah, ini enak banget," ucap Sakya sambil menyimpan daging ayam itu, ke piring Larei.
Larei pun langsung memotong kecil daging ayam itu dan menyicipinya, dia mengecap dengan seksama rasa makanan itu.
"Gimana enak 'kan?" tanya Sakya yang dari tadi masih menatapnya sambil sesekali menyuapkan makanannya.
"Hemmmm enak," sahut Larei sambil mengangguk.
Sakya tersenyum dan kembali menyibukkan dirinya dengan makanannya, begitu pun sebaliknya dengan Larei.
Haira yang diam-diam memperhatikan interaksi antara anak dan menantunya itu, tersenyum karena melihat mereka terlihat cukup dekat.
"Oh iya Rei, hari ini kamu mau ke butik lagi?" tanya Haira.
"Iya Ma, ada hal yang harus aku periksa secara langsung," sahut Haira mengangguk.
"Ya, sekarang Mama sendiri lagi di rumah," ucap Haira dengan nada sedihnya.
"Mama tenang aja, nanti pas makan siang aku akan pulang kok, karena tidak terlalu banyak pekerjaan juga di sananya," hibur Larei.
Haira kembali tersenyum mendengar hal itu, dia senang karena dia tidak akan terlalu bosan berada di rumah setelah adanya Larei.
"Baiklah, kamu juga jangan terlalu lelah karena trimester pertama itu, sangat rentan terjadinya keguguran," ucap Haira dengan penuh perhatian.
"Iya Ma, kerjaan di sana tidak lelah sama sekali kok, karena aku cuma duduk manis aja di kursi sambil lihat-lihat laporan."
"Tapi tetap saja, otak kamu bekerja lebih keras untuk berpikir pastinya," sahut Haira.
__ADS_1
"Tidak terlalu juga kok Ma," sahut Larei tersenyum.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara ke empat orang itu, hingga mereka selesai sarapan dan langsung pergi meninggalkan rumah untuk ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Fahar pergi dengan diantarkan sopir seperti biasa, sedangkan Sakya mengantarkan Larei terlebih dahulu ke butiknya.
"Kamu kenapa kalau keluar selalu pakai masker?" tanya Larei yang penasaran karena melihat Sakya tidak lepas dari masker ketika pergi.
"Aku selalu mual kalau nyium aroma parfum wanita," sahut Sakya sambil serius dengan setirnya.
"Tapi kalau lagi sama aku kamu baik-baik saja," ucap Larei dengan heran.
"Gak tau juga, aku juga merasa aneh dengan hal itu." Sakya mengangkat bahunya kilas.
"Aneh," gumam Larei.
"Emang, tapi itu adalah kenyataannya."
"Sejak kapan kamu seperti itu?" tanya Larei kini menghadap ke arahnya, menatapnya dengan serius.
"Semenjak aku ketemu kamu lagi di cafe," sahut Sakya.
"Waktu itu kalau gak salah, hari dimana aku periksa ke klinik dan tau aku hamil deh," ucap Larei.
"Iya bener, waktu itu aku baru dari klinik dan langsung minta sahabat-sahabat aku ke cafe buat cerita." Angguk Larei dengan tatapan serius.
"Apa mungkin, apa yang terjadi padaku ini karena kehamilan kamu itu?" Sakya menatapnya sekilas, lalu fokus lagi pada setir mobilnya.
Larei menggeleng tidak tahu, dia kemudian mengambil ponsel yang berada di tas selempang miliknya.
"Bentar, aku coba searching, apakah itu ada hubungannya dengan kehamilan aku ini atau tidak," ucap Larei sambil mengutak-atik ponselnya.
Mencari tahu tentang perubahan Sakya itu, apakah ada hubungannya dengan dia yang saat ini hamil atau tidak.
"Ini lihat, menurut hasil pencarianku, apa yang terjadi padamu bisa jadi ada hubungannya dengan aku yang hamil."
Larei menunjukkan ponselnya pada Sakya, Sakya yang sudah menghentikan mobilnya karena telah sampai di depan butik pun mengambil ponsel itu, lalu membaca beberapa artikel.
"Kehamilan simpatik," gumam Sakya dengan serius membaca artikel yang dibacanya itu.
"Berarti biasanya yang ngalamin hal seperti ini ibu hamil itu sendiri?" tanyanya menatap Larei yang masih menghadap ke arahnya.
"Iya, biasanya itu terjadi pada si calon ibu, tapi tidak jarang juga hal itu dialami oleh calon ayahnya, itu sih dari yang aku baca.'
__ADS_1
Sakya manggut-manggut mengerti dengan penjelasan dari Larei itu, dia kini jadi tahu apa yang terjadi padanya itu adalah karena dia menggantikan Larei ngidam.
"Kenapa, apa kamu tidak suka dengan hal itu, kamu mau nyalahin kehamilan aku atas apa yang terjadi padamu?" tanya Larei karena Sakya tidak berbicara lagi.
"Tidaklah, mana mungkin aku nyalahin dia, sebagai ayahnya aku rela kok ngalamain ini, mungkin aku seperti ini karena dia takut, aku gak nganggap dia anak."
Melihat tangan Sakya yang akan mendarat di perutnya, Larei segera menepisnya dengan kasar.
Plaakk ….
"Jangan cari-cari kesempatan deh," decak Larei.
Sakya mengusap tangannya yang terasa panas karena tepisan yang cukup kasar dari Larei itu.
"Kebiasaan deh Rei, ringan banget tangannya," ucap Sakya masih dengan mengusap tangannya itu.
"Salah kamu sendiri, tangannya cari-cari kesempatan terus!" ketus Larei yang memang tidak menyukai dia melakukan kontak fisik dengan Sakya.
Mungkin karena dia tidak memiliki perasaan sama sekali, terhadap pria yang kini berstatus suaminya itu. Sampai untuk berpegangan tangan pun rasanya dia tidak mau.
"Baiklah maaf, aku hanya bermaksud mengusap anakku saja, buat mengakrabkan diri," ucap Sakya yang memilih mengalah pada Larei.
"Ya udah kalau gitu aku turun dulu, kamu segeralah berangkat, nanti terlambat lagi,' ucap Larei sambil membuka pintu mobilnya, bersiap untuk turun.
"Nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Sakya, ketika Larei sudah turun dari mobilnya.
"Seperti yang tadi aku bilang ke Mama, aku akan pulang saat makan siang," sahut Larei.
"Baiklah, nanti aku jemput ya, kita pulang bareng,' ucap Sakya.
"Iya." Angguk Larei dengan singkat.
Setelah itu Larei pun menutup pintu mobil dan langsung memasuki butiknya, sedangkan Sakya, tidak langsung pergi, tapi dia menatap punggung Larei hingga benar-benar tidak terlihat.
"Apa kamu bener-bener jijik bahkan untuk bersentuhan denganku saja, kamu gak mau sama sekali. Apa aku emang sekotor itu di matamu Rei," ucap Sakya menatap butik Larei dengan dalam.
Dia memikirkan bagaimana dirinya beberapa bulan yang lalu sebelum insiden antara dirinya dan Larei, dia memang bajingan yang hanya memikirkan keindahan duniawi saja.
Dia kemudian teringat dengan ucapan papanya beberapa saat yang lalu, setelah dia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Larei.
"Aku janji, aku akan buktikan kalau aku akan benar-benar berubah, aku akan benar-benar melepaskan kebiasaan burukku di masa lalu dan hidup bahagia dengan keluargaku, membangun keluarga yang harmonis," gumam Sakya dengan penuh tekad.
Setelah itu dia pun menjalankan mobilnya meninggalkan butik itu, agar bisa tepat waktu sampai ke tempatnya bekerja.
__ADS_1
Kini dia akan berusaha bersikap lebih dewasa lagi, bukan cuma soal pernikahan dan keluarga saja, tapi juga masalah pekerjaan.