Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Berbicara Serius


__ADS_3

Rasa kantuk yang Sakya rasakan sebelumnya telah lenyap, hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk menyalakan televisi menggunakan remote yang ada di nakas.


Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, sambil mengalihkan chanel televisi, sedangkan Larei yang sudah menjaga jarak dengannya, kembali sibuk dengan ponselnya.


"Kamu tadi ngapain sama ponsel aku?" tanya Sakya yang baru sadar, jika ponselnya tergeletak di samping Larei.


"Pacar kamu nelepon, karena berisik jadi aku angkat aja."


"Udah aku katakan beberapa kali, dia bukan pacar aku, aku sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengannya!" tekan Sakya menatap Larei dengan lamat.


Sakya kemudian, mengambil ponselnya yang berada di dekat Larei dan menyimpan kembali ke tempat dia menyiampannya sebelum tidur.


Larei menghentikan kegiatannya, dia menyimpan ponselnya di paha, lalu balik menatap Sakya dengan tak kalah serius.


"Aku tidak tau apa yang kamu katakan itu benar atau salah, karena yang tau itu hanya kamu dan Tuhan, tapi saranku, kalau emang kamu udah memutuskan hubungan dengannya. Maka putuskanlah dengan baik-baik, jangan gantungin perasaannya."


"Aku juga mau tegaskan ke kamu Sak, aku menerima pernikahan ini, hanya demi kelangsungan hidup anakku, tapi untukmu sendiri, kamu jangan terlalu berharap aku akan membuka hati untukmu."


Sakya masih menatap Larei tanpa mengedipkan mata, menatap dalam mata Larei yang terlihat tegas menyatakan hal itu, seolah telah memasang benteng agar dia tidak bisa memasukinya.


"Tapi, jika suatu saat nanti kamu emang merasa tidak bisa melepaskan kebiasaanmu yang dulu itu, maka aku harap kamu segera bicara padaku, agar kita bisa mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik saja."


Ada rasa tak suka dalam hati Sakya, ketika mendengar apa yang Larei katakan itu, dia merasa Larei hanya menganggap pernikahan mereka itu sebuah mainan yang bisa diputuskan begitu saja dan kapan saja.


"Bagaimana kalau aku berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Sakya dengan tatapan lurusnya.


"Maka aku sarankan jangan mencoba hal itu, aku tau, kita itu sama, baik aku maupun kamu, kita menikah hanya demi anak ini."


"Gimana kalau kita buat perjanjian."


"Perjanjian apa?" Larei mengerutkan keningnya.


"Selama kamu hamil, kamu tidak boleh melarang aku mendekatimu, jika nanti seandainya ketika kamu sudah melahirkan, aku atau kamu saling jatuh cinta, maka kita akan meneruskan hubungan ini, tapi jika nanti kita masih sama, tidak memiliki perasaan apa pun, maka saat itu juga kita akan berpisah."


Larei menimbang apa yang Sakya katakan itu, dia berpikir apakah itu baik nantinya, tapi mengingat hubungan mereka saat ini, bukannya semuanya percuma, jika mereka terus bersama juga nantinya.

__ADS_1


Percuma mereka terus mempertahankan hubungan yang tidak didasari dengan cinta dan kasih sayang di dalamnya, bukannya dengan mereka memaksa untuk terus bersama pun, sama saja dengan menyiksa diri mereka sendiri nantinya.


Bahkan ujung-ujungnya juga pasti anak mereka yang tetap akan jadi korbannya, bukankah lebih awal lebih baik, setidaknya dia sudah memiliki status yang jelas nantinya ketika anaknya lagi, meskipun harus jadi janda.


"Baiklah, kalau gitu kita lihat nanti, apakah kamu bisa benar-benar berubah, hingga membuat aku luluh atau tidak."


Larei menerima perjanjian itu dengan yakin, tanpa keraguan sedikit pun.


Hal itu sontak saja membuat senyuman tersungging di bibir Sakya, meskipun dalam hati dia sendiri pun tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan itu.


Namun, dia juga merasa tidak salahnya mencoba, membuat Larei dan dirinya menerima pernikahan mereka.


"Aku yakin, secara perlahan kamu akan bisa jatuh cinta padaku," ucap Sakya dengan penuh keyakinan.


"Ya, ya, ya. Kita lihat aja nanti." Larei memutar matanya.


Dia kemudian mengambil kembali ponselnya dan melanjutkan kegiatan sebelumnya.


"Rei kamu punya mantan berapa?" tanya Sakya tanpa melihat ke arahnya.


"Masa sih, bohong benget." Sakya tidak percaya dengan apa yang di katakannya itu.


"Terserah mau percaya atau tidak, tapi itu emang kenyataannya, aku tidak pernah pacaran karena selain Papi aku yang tidak suka kalau aku dekat sama cowok, aku juga malas dekat sama cowok. Apalagi pas satu sekolah sama kamu dan lihat kamu gonta-ganti pacar itu."


"Kenapa emangnya?" tanya Sakya yang langsung melihatnya dari samping.


"Karena aku takut kalau aku ternyata malah pacaran sama cowok kayak kamu," sahut Larei apa adanya.


"Tapi buktinya sekarang kamu malah nikah sama aku," kekeh Sakya yang merasa lucu mendengar ucapan dari istrinya itu.


Tidak mau pacaran karena takut, akan pacaran dengan pria seperti dirinya, tapi ternyata kini dia malah nikah sama orang yang dia takutkan itu.


"Iya, dan itu adalah sebuah kesialan untukku!" cebik Larei menatapnya, sekilas lalu kembali membuang muka lagi darinya.


"Itulah kenapa, jangan terlalu takut karena suatu hal, nanti yang ada apa yang kamu takutkan itu malah akan terjadi padamu," ucap Sakya sok bijak.

__ADS_1


"Kalau seandainya kamu tidak memiliki otak yang jahat, aku juga gak mau harus terlibat dengan kamu."


"Jangan terlalu benci juga Rei, kamu pernah dengar gak, antara benci dan cinta perbandingannya hanya tipis banget," ucap Sakya lagi.


Larei tidak menimpalinya lagi, dia hanya memutar matanya malas, membiarkan Sakya dengan celotehannya itu.


"Apa kamu pernah menyukai cowok dulu Rei?"


Larei menengok lagi ke arahnya dengan tatapan malas, dia melihat suaminya yang banyak bertanya itu.


"Mau apa sih, kamu tanya-tanya hal seperti itu."


"Aku cuma ingin mengenalmu lebih dalam aja Rei," sahut Sakya dengan wajah seriusnya.


"Aku pernah suka sama cowok dari semenjak kecil dulu, puas!" sahut Larei.


"Dari semenjak dulu, berarti sekarang kamu masih menyukainya?" Sakya yang dapat menangkap arti lain dari ucapan Larei itu.


"Masih," sahut Larei apa adanya.


"Siapa dia? Apa pekerjaannya dan kenapa kamu menyukainya sampai sekarang? Terus kalau kamu menyukainya kenapa tidak pacaran saja dengannya?" tanya Sakya dengan beruntun.


"Aku tidak mau membahasnya, lagian kamu bukan reporter, kenapa banyak banget nanya," ucap Larei.


"Aku cuma pengen tau aja, seperti apa pria yang kamu sukai dari dulu sampai sekarang itu? Dan kenapa kamu tidak bersama aja dengannya kalau suka."


"Emang kamu pikir aku itu kamu apa, yang kalau suka bisa langsung nyosor!" cebik Larei.


"Siapa yang langsung nyosor hah! Aku kalau suka langsung bilang aja dan ajak dia jadian, kalau masalah nyosor ya itu sama-sama mau," sahut Sakya dengan enteng.


Lagi dan lagi Larei hanya bisa memutar mata, mendengar ucapan pria itu, tanpa tahu harus menjawabnya seperti apa.


"Apa pria itu juga, salah satu alasan kamu tidak pacaran, kamu sebenarnya berharap bisa bersama dengannya?"


"Udah aku bilang, stop bahas itu!" tekan Larei yang seolah menghindar dari pembahasan itu.

__ADS_1


Hal itu menghadirkan sebuah tanya dalam benak Sakya, tentang seperti apa sosok pria yang bisa buat Larei menyukainya.


__ADS_2