
Kini tidak ada lagi yang mengeluarkan suaranya, hanya ada suara isakan tangis lirih Larei yang memecah keheningan di sana.
Davira mencoba menenangkan suaminya dengan mengusap lembut punggung kokoh pria itu, dia sebenarnya paling takut ketika suaminya marah, karena meskipun pria itu cukup tegas dan disiplin.
Namun, pria itu jarang marah apalagi jika sampai meledak-ledak seperti itu, benar-benar membuat jantungnya terasa akan terlepas dari tempatnya.
"Siapa pria itu?" tanya Aditya dengan nada yang sudah mulai melunak, tapi tidak dengan wajahnya yang masih terlihat tegang.
Larei mencoba mengangkat wajahnya lagi, dia menatap wajah papi dan maminya, lalu menggeleng.
"Larei tidak tau Pi," sahut Larei dengan berbohong.
Dia terpaksa berbohong karena dia yakin, jika papinya sampai tahu siapa ayah dari calon anaknya itu, papinya pasti akan meminta pertanggungjawaban dari Sakya.
Dia benar-benar tidak ingin itu terjadi, dia tidak ingin menikah dengan pria yang selalu dia hindari dan dia benci dari dulu itu.
Mungkin dia cukup egois karena hanya memikirkan diri sendiri, tidak memikirkan calon anaknya itu yang mungkin saja akan lahir tanpa ayah, tapi dia tidak ingin menikah dengan pria yang memiliki sejarah buruk.
Entah sudah berapa banyak wanita yang Sakya jadikan alat untuk pelampiasan hasr*tnya itu, dia beranggapan juga tidak menutup kemungkinan, mungkin bukan hanya dirinya saja yang mengalami hal seperti itu.
Bagaimana kalau ternyata di luaran sana banyak wanita yang pernah tidur dengan pria itu, juga mengandung anaknya, itu artinya sama saja dengan dia menjerumuskan dirinya ke lubang kesengsaraan.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu, ayah dari anak kamu sendiri, apa kamu tidur dengan banyak laki-laki!"
Kakesalan di hati Aditya datang lagi setelah mendengar ucapan dari anaknya itu, dia benar-benar tidak habis dengan anaknya itu.
"Bukan gitu Pi, aku tau kalau aku pasti hanya tidur dengan satu pria, tapi pada saat itu Larei mabuk, jadi Larei tidak ingat siapa pria itu," terang Larei berusaha meyakinkan papanya.
"Maksud kamu pria itu, pergi gitu aja setelah tidur dengan kamu?" tanya Aditya tak percaya.
"I–iya Pi," sahut Larei dengan sedikit gugup.
"Dasar laki-laki bajingan!" maki Aditya.
"Untuk beberapa hari kamu dilarang keluar rumah, meskipun ini bukan sepenuhnya salah kamu, tapi papi tetap kecewa sama kamu."
Setelah mengatakan hal itu, Aditya pun beranjak dari sofa dan pergi menaiki tangga, menuju ke kamarnya.
"Mi, maafkan Larei," ucap Larei sambil menangis pada maminya.
"Iya, Mami maafin, meskipun Mami kecewa sama kamu, tapi semua juga sudah terjadi," sahut Davira dengan disertai helaan napas.
__ADS_1
Larei beranjak dari tempat duduknya, berpindah ke tempat yang tadi diduduki oleh papinya, lalu memeluk maminya dengan erat.
"Larei juga tidak ingin seperti ini Mi, tapi semua bukan keinginan Larei," tutur Larei menumpahkan air matanya di pelukan maminya, tempat ternyaman untuknya.
Davira mengusap dengan lembut dengan punggung anaknya itu, mencoba menenangkan anaknya yang masih menangis hingga sesegukan.
"Apa yang kamu ucapkan itu, benar-benar yang sebenarnya 'kan?"
Larei melepaskan pelukannya dan menjauhkan dirinya dari Davira, menatap wanita di depannya itu dengan sedih.
"Mami gak percaya, sama aku?" tanya Larei masih dengan ekspresi sedihnya.
"Bukan gitu Nak, hanya saja mami ingin memastikannya" sahut Davira mengusap lengan Larei.
"Itu beneran Mi, aku tidak kenal siapa pria yang sudah nitipin benihnya sembarangan itu," terang Larei.
"Hust jangan gitu, itu juga anak kamu," sahut maminya. "Ayah anak ini bukan pacar kamu yang lari tanggung jawab 'kan?" tanya Davira lagi berusaha mencari kebenarannya.
"Mami 'kan tau sendiri, aku tidak pernah punya pacar," cebik Larei dengan kesal.
"Emang gimana kejadian sih Kak. bisa-bisanya Kakak tidak ingat siapa orang yang sudah tidur sama Kakak," ucap Ziel, membuat atensi Larei dan Davira teralihkan padanya.
"Kamu masih kecil, jangan ikut campur urusan orang dewasa sudah sana cepat kembali ke kamar dan pergi tidur, besok kamu harus kuliah," ucap Davira pada anak bungsunya itu.
"Pergi ke kamar, sebelum Papi kamu marahnya gantian ke kamu!" perintah Davira dengan penuh penekanan.
"Iya, iya Ziel ke kamar sekarang," ucap Ziel dengan kesal, lalu pergi dari sana meninggalkan Larei dan maminya.
"Pertanyaan Mami, sama seperti pertanyaan Ziel tadi, bagaimana bisa kamu tidak ingat dengan siapa kamu tidur dan kapan kejadian itu terjadi?" cerca Davira.
"Tadikan Larei udah bilang Mi, kalau Larei mabuk saat itu, jadi tidak ingat."
"Bukannya kamu tidak pernah mabuk, terus kenapa kamu bisa sampai mabuk, mami 'kan sudah pernah bilang, jangan coba-coba nyentuh minuman itu."
"Larei waktu itu lagi di pesta Mi, Mami ingat gak waktu papi minta gantiin Papi buat menghadiri acara dari rekan bisnisnya, waktu itu karena di pesta jadi aku salah ngambil minuman, akhirnya pas bangun keesokan paginya, sudah ada di salah satu kamar yang ada di hotel itu," terang Larei.
Maaf Mi, Larei terpaksa bohong, Larei lebih baik besarin anak Larei sendiri, daripada harus berurusan dengan si kadal darat itu lagi. Bisik Larei dalam hatinya.
"Baiklah kalau gitu, mami percaya sama kamu," sahut Davira menghela napas dalam.
"Mi, gimana sama Papi, dia pasti kecewa ya sama Larei," ucap Larei dengan sedih.
__ADS_1
"Papi kamu emang pasti kecewa, apalagi sebenarnya Papi kamu beberapa hari yang lalu ngomong ke mami kalau dia berniat mau jodohin kamu," terang Davira membuat Larei kaget.
'Dijodohkan Mi?" tanya Larei.
"Iya, tadinya Papi kamu berencana akan ngenalin kamu sama anak kliennya, tapi karena keadaan kamu yang seperti ini, pasti dia batalin niatnya itu."
Larei bersorak dalam hati, ternyata ada hikmah di balik kehamilannya itu, dia memang tidak pernah mau dengan yang namanya jodoh-jodohan.
Dia ingin menikah dengan pria yang dia cintai dan yang mencintainya, pria yang sudah dia kenal dengan baik tentunya, tapi pikiran itu segera dia tepis.
Bagaimana dia bisa memiliki pasangan dengan keadaan hamil seperti ini, pria mungkin akan berpikir ribuan kali untuk menjalin hubungan dengan wanita yang hamil tanpa menikah sepertinya
"Sudah kamu jangan sedih, nanti juga pasti kamu akan ketemu dengan jodohmu sendiri," ucap Davira mengusap punggung anaknya.
Davira berpikir jika Larei sedih dan memikirkan nasibnya itu, meskipun itu memang benar, tapi dia tidak terlalu memusingkan hal itu.
"Iya Mi," sahut Larei tersenyum.
"Sebaiknya kita tidur sekarang, ini sudah malam, tidak baik ibu hamil tidur malam-malam," ucap Davira sambil bangun dari sofa.
"Iya Mi, Mami bantu Larei bujuk Papi ya, biar marahnya gak lama-lama, walau bagaimanapun Larei harus pergi kerja," ucap Larei menatap maminya dengan penuh harap.
"Iya nanti, mami coba bujuk Papi kamunya, tapi beberapa hari ini kamu sebaiknya nurut dulu aja dengan apa yang Papi kamu katakan itu, biar kemarahannya bisa mereda."
"Iya Mi." Angguk Larei.
"Ya udah, ayo kita ke atas," ajak Davira.
Mereka pun berjalan menaiki tangga menuju ke kamar mereka yang ada di lantai atas.
"Selamat malam Mi," ucap Larei begitu di sampai di depan kamarnya terlebih dahulu.
"Iya, selamat malam juga segeralah tidur," sahut Davira mengangguk.
Davira mulai melangkah meninggalkan Larei, menuju ke kamarnya yang terletak paling ujung di lantai itu, sementara kamar Ziel dan kamar Larei bersebelahan.
Larei pun segera memasuki kamarnya, dia kembali menutup pintu berwarna putih bersih dengan perasaan lega, karena dia telah berterus-terang pada keluarnya
"semoga saja Papi, tidak lama marahnya," gumamnya dengan perasaan yang teramat lega.
Secara perlahan dia mulai menaiki kembali ranjangnya, lalu merebahkan tubuhnya itu, menerawang melihat langit-langit.
__ADS_1
Sekelebat tentang pertemuan dia dan Sakya beberapa hari yang lalu, membuat dia berdecak dengan kesal.
"Jangan pikirkan pria itu Larei, mau seperti apa pun tingkahnya biarkan saja yang penting sekarang, kamu tidak akan berurusan lagi dengan pria itu," ucap Larei sambil membalikkan badannya dan mulai memejamkan mata.