
Larei yang baru saja sampai di dekat rumahnya, mengerutkan kening karena di depan gerbang rumahnya itu, ada sebuah mobil yang tengah berhenti.
"Mobil siapa sih, ngehalangin orang aja," gumam Larei, bermaksud akan menekan klakson mobilnya.
Namun, gerakannya itu urung, ketika dia melihat seorang pria yang sangat dikenalnya keluar dari mobil itu dan berjalan ke arahnya.
Tok … tok
Pria yang tidak lain adalah Sakya, berdiri di samping mobilnya dan mengetuk kaca mobil Larei, hingga mau tak mau Larei pun membuka kaca kendaraan pribadi miliknya itu.
"Ada apa lagi sih Sak," ucap Larei dengan malas.
"Aku ingin bicara hal yang penting," ucap Sakya sambil membungkuk.
"Kayaknya di antara kita tidak ada hal yang penting deh."
"Ada, aku mau membahas tentang anak kita dan hubungan kita."
"Aku tidak ingin membahas apa pun, kita tidak punya hubungan apa pun dan ini adalah anakku."
"Tapi kalau aku tidak menyimpan benih aku di sana, dia tidak mungkin ada," sahut Sakya dengan pongah.
Larei hanya memutar matanya malas, melihat tingkah pria di depannya itu.
"Aku masuk ya, atau kamu mau bicara di luar?" tanya Sakya.
"Masuk aja." Akhirnya Larei hanya bisa pasrah membiarkan Sakya masuk ke dalam mobilnya.
Begitu memasuki mobil itu, hidung Sakya sudah dihidangkan oleh aroma parfum Larei yang membuat indra penciumannya itu rileks dan nyaman.
"Apa yang mau kamu omongin? Cepatlah aku sudah mau masuk dan istirahat."
"Menikahlah denganku, Rei," ucap Sakya tanpa berbelit-belit.
"Jawabanku masih sama, tidak mau!"
"Kenapa?"
"Aku yakin kamu sudah tau dengan pasti alasannya, tanpa perlu aku mengatakannya."
"Aku tidak tau, karena aku bukan cenayang yang tau apa isi hati dan pikiran orang," sahut Sakya.
"Aku tidak mau jadi bagian dari permainanmu, kalau kamu memang ngebet pengen nikah, nikahin aja pacar kamu itu."
__ADS_1
"Aku maunya nikah sama kamu, karena kamu saat ini sedang mengandung anakku."
"Tapi aku bisa mengurus anakku sendiri!" kukuh Larei.
"Terus bagaimana dengan dia nantinya, apa kamu bisa merubah pandangan orang tentang kalian, mereka yang tau kamu hamil dan melahirkan tanpa status pernikahan, pasti akan berdampak pada penilaian orang terhadap anak kita."
Larei diam, tidak tahu harus menjawab ucapan Sakya itu dengan seperti apa.
"Aku yakin kami akan baik-baik saja," sahut Larei menatap lurus ke depannya.
"Kamu mungkin akan baik-baik saja, tapi coba pikirkan anak itu nantinya.' Sakya menatapnya dengan serius.
"Aku saat ini sudah tidak memiliki hubungan dengan wanita mana pun dan aku janji, setelah kita menikah aku akan berubah, aku akan meninggalkan semua kehiupan burukku di masa lalu."
"Aku akan memberikan kamu waktu untuk berpikir, pikirkanlah dengan baik-baik demi anak kita, aku akan menunggu keputusan darimu. Jika kamu sudah mendapatkan keputusan, ini adalah nomor ponselku."
Setelah mengatakan hal itu dan menyimpan kartu namanya di atas dasbor mobil, Sakya pun mulai turun dari mobil itu, kembali ke mobilnya.
Sementara Larei, hanya melirik sekilas apa yang Sakya simpan itu, lalu menatap punggung pria yang kini sudah mulai memasuki mobilnya.
Larei masih menatap mobil itu dengan pikiran kosongnya, tidak tahu langkah apa yang harus diambilnya saat ini, rasanya tidak mudah untuk mengambil keputusan menerima permintaan Sakya itu.
Secara perlahan mobil yang Sakya kendarai itu, mulai berjalan melewati mobilnya sambil membunyikan klakson.
...*******...
"Kak, kamu ada di dalam?" tanya Aditya sambil mengetuk pintu kamar Larei.
Larei yang baru saja selesai mengeringkan rambut sehabis mandi pun, langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ada apa Pi?" tanya Larei ketika pintu terbuka.
"Papi ingin bicara sama kamu," ucap Aditya.
"Ya udah, masuk Pi." Larei pun berjalan memasuki kamarnya kembali.
Larei mendudukkan dirinya dengan bersila di ranjang dan menyimpan bantal di pangkuannya. Sedangkan Aditya, menggeserkan kursi yang ada di bawah meja rias larei dan duduk di depan ranjang, menjadi saling berhadapan.
"Ada apa Pi?" tanya Larei membuka suara.
"Papi tadi sempat liat seorang pria yang berbicara denganmu di dalam mobil, apa dia ayah dari anak kamu itu?" tanya Aditya pura-pura tidak tahu.
Larei tidak langsung menjawab, dia hanya diam dengan sengaja membuang pandangan ke arah lain, menghindari kontak langsung dengan papinya.
__ADS_1
"Kalau diam berarti iya."
Larei akhirnya menjawab pertanyaan papinya itu dengan sebuah anggukan singkat, masih dengan pandangan ke arah lain.
"Mau apa dia ke sini, apa dia mau bertanggung jawab?' Aditya menatap Larei dengan serius.
Meskipun dia sebenarnya sudah tahu semuanya, tapi dia memilih pura-pura tidak tahu dan membiarkan anaknya itu untuk berterus-terang.
" Iya Pi, dia bilang mau tanggung jawab dan ngajak Larei untuk menikah," sahut Larei apa adanya.
"Terus apa tanggapan kamu, apa kamu menerimanya?"
Larei mulai mengangkat wajahnya, menatap ke arah papinya dengan lamat, kemudian menggelengkan kepala.
"Larei belum menjawabnya, Pi. Aku masih tidak tau harus bagaimana."
Mendengar jawaban Larei itu, Aditya sudah menduganya, dia yakin jika alasan anaknya, tidak mau mengatakan tentang pria sebelumnya padanya, karena tidak ingin memiliki hubungan dengan Sakya.
"Papa tidak akan memaksa kalau kamu memang tidak mau menerima pria itu dan memberikan dia kesempatan, semua keputusan ada di tanganmu."
"Tapi, saat ini kamu tidak hanya harus memikirkan dirimu sendiri, tapi pikirkan juga calon anakmu, karena walau bagaimanapun, hidup tanpa sosok ayah di samping kita, rasanya seolah tidak memiliki pegangan yang kokoh."
Aditya tersenyum dan mengusap dengan lembut rambut bagian belakang anaknya itu.
"Tapi Pa, dia sebelumnya bukan pria yang baik, dia suka banget gonta-ganti pacar, itu yang buat Larei takut untuk memulai hubungan dengannya," cerita Larei.
"Semua orang berhak memilih jalan hidupnya masing-masing, begitu pun dengan pria itu. Jika memang dia dulunya seperti, itu artinya tugas kamulah untuk merubah sifat kurang baiknya itu."
"Memilih pasangan, bukan hanya kita mau menerima dirinya sendiri, tapi menerima bagaimana masa lalunya, menerima sikapnya yang memang tidak sesuai dengan diri kita, di situlah poin utama sebuah hubungan."
"Baik buruknya pasangan kita, kita harus bisa menerimanya, jika baik berarti kita harus bersyukur dan menjaganya, jika buruk berarti tuhan menugaskan kita untuk membantu dia merubah dirinya."
Larei mendengar apa yang papinya ucapkan itu dengan seksama, apa benar dia dan Sakya harus bersama, apa benar dia bisa merubah sikap pria itu.
"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah, jika pria itu memang berniat untuk berubah dengan bersamamu, maka berilah dia kesempatan dan bantulah dia."
"Tapi kalau nanti dia tidak berubah juga dan malah nyakitin aku gimana?" Larei memanyunkan bibirnya.
"Maka papi sendiri yang akan membawamu kembali ke sini, papi tidak akan pernah membiarkan dia menyakitimu." Janji Aditya.
Larei pun tersenyum mendengar hal itu. Benar apa yang papinya itu katakan, apa yang dia khawatirkan, jika dia memiliki papi dan maminya yang pasti tidak akan membiarkan dia menderita.
Mungkin tidak ada salahnya, jika dia memberikan Sakya kesempatan, mencoba menerima permintaan Sakya untuk menikah, semua itu demi anak yang ada di kandungannya.
__ADS_1