
"Sak, aku mau ketemuan sama Tari dan Ivanka ya, sekarang kondisi kamu udah baik-baik aja 'kan."
Sakya yang semula tengah menatap ponselnya, segera mengalihkan perhatian pada Larei yang baru saja meminta izin itu.
"Ketemuan di mana?" tanya Sakya.
"Di restaurant, tempatnya tidak jauh kok dari sini," sahut Larei.
"Baiklah, kamu boleh pergi," ucap Sakya mengangguk.
"Ya udah, kalau gitu aku mau siap-siap dulu," ucap Larei yang langsung memasuki ruang ganti.
Mumpung saat ini hari libur, jadi dia dan kedua sahabatnya membuat rencana untuk bertemu, karena sudah lama mereka tidak kumpul bareng semenjak pernikahannya.
Larei memakai baju yang longgar dengan celana kain yang nyaman, karena kehamilannya yang semakin membesar, jadi dia harus mengenakan pakaian yang membuatnya bebas bergerak dan nyaman.
Ketika dia baru saja keluar dari ruang ganti dan memasukkan dompet serta keperluan lainnya, termasuk ponsel ke dalam tas, suaminya memasuki ruang ganti.
"Sak, aku berangkat dulu ya," pamit Larei yang berdiri di depan pintu ruang ganti.
"Bentar dulu, Rei," sahut Sakya dari ruang ganti.
"Aku takut telat nih," ucap Larei melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Aku udah selesai kok." Tiba-tiba saja keluar dari ruang ganti.
Larei menatapnya dengan heran, melihat Sakya yang sudah berganti pakaian dengan celana jeans panjang, atasan kaos yang di balut oleh jaket denim.
"Kamu juga mau pergi?"
"Iya, aku mau nganterin kamu," sahut Sakya dengan enteng.
"Tapi aku bisa minta sopir buat anterin, lagian kamu 'kan baru mendingan, mending kamu istirahat aja di rumah," tolak Larei.
"Kamu tenang aja, aku 'kan udah sehat. Lagian aku bosen di rumah terus, ayolah kita berangkat sekarang," sahut Sakya yang sudah berjalan lebih dulu meninggalkan Larei yang masih menatapnya tak percaya.
Mau tak mau, Larei pun mengikuti langkah suaminya itu. Ketika berpapasan dengan Haira, dia berpamitan terlebih dahulu pada mertuanya.
Selama di perjalanan baik Sakya mau pun Larei, sama-sama diam, setelah Sakya bertanya pada Larei tempat dia akan bertemu dengan kedua sahabatnya.
Ketika sampai di tempat tujuan, Larei segera turun dari mobil, tapi dia kembali dibuat heran oleh Sakya yang juga ikut turun.
"Kamu mau apa, Sak?"
"Mau masuklah, aku juga mau makan di sini," sahut Sakya dengan enteng.
__ADS_1
"Kamu gak bermaksud untuk ikutan gabung sama aku dan sahabat aku 'kan?" tanya Larei melayangkan tatapan curiga padanya.
"Tidaklah, aku juga mau ketemu sama Isam dan Gamya, kebetulan mereka juga ngajak aku buat makan bareng. Jadi sekalian aja aku suruh mereka ke sini," terang Sakya membuat Larei menganga tak percaya.
"Ayo masuk, ngapain malah bengong," ajak Sakya berjalan lebih dulu darinya.
"Kebetulan banget kayaknya," gumam Larei menggeleng tak percaya.
Larei berjalan di belakang Sakya memasuki restaurant itu, dia celingukan mencari keberadaan sahabatnya.
Ketika melihat lambaian tangan dari Tari, dia pun tersenyum pada sahabatnya, lalu mulai menatap ke arah Sakya.
"Aku ke meja mereka dulu ya," ucap Larei.
"Iya, pergilah. Aku juga akan duduk di meja itu, nungguin Isam sama Gamya yang bentar lagi akan nyampe," ucap Sakya sambil menunjuk sebuah meja kosong yang tidak jauh dari meja tempatnya dan para sahabatnya.
Larei pun mengangguk dan mulai melangkah melewati Sakya ke arah meja yang ditempati oleh Tari dan Ivanka.
"Sorry, lama ya nunggunya," ucap Larei sambil mendudukkan dirinya di kursi yang kosong.
"Aku juga baru aja duduk," sahut Tari.
"Kamu ke sini sama suami kamu?" tanya Ivanka melirik ke arah Sakya.
"Iya, dia juga udah janjian sama kedua sahabatnya untuk makan bareng," sahut Larei dengan kepala mengangguk.
"Seperti yang selalu aku ceritain ke kalian, ya gini-gini aja," sahut Larei ringan.
"Kamu benar-benar belum merasa ada sedikit perasaan padanya gitu?" tanya Ivanka.
"Aku belum ngerasain apa pun padanya." geleng Larei.
Ya, untuk saat ini dia memang belum merasakan perasaan apa pun ketika berada di dekat Sakya, entah sampai kapan dia akan seperti itu.
Akankah dia dapat memiliki perasaan pada pria yang berstatus suaminya itu, atau pernikahan mereka hanya akan berjalan seperti air yang mengalir.
"Apa kamu masih memiliki perasaan pada pria itu?"
Mendengar apa yang Tari pertanyakan, dia tidak langsung menjawabnya, tapi termenung untuk beberapa saat, memikirkan perasaannya terhadap Andrew.
"Entahlah." Larei mengangkat bahunya.
"Oh iya, sebenarnya pria itu saat ini sudah kembali lagi ke sini," sambung Larei dengan serius, membuat Tari dan Ivanka saling bertatapan.
"Serius, terus kamu udah bertemu dengannya?" tanya Ivanka.
__ADS_1
"Udah, tiga hari yang lalau, saat aku pulang ke rumah untuk makan malam, dia juga ada ke sana karena tidak sengaja ketemu sama Papiku, jadi dia menawarinya untuk ke rumah," terang Larei.
"Rei, kamu gak berniat untuk mencoba mendekatinya 'kan?" tanya Tari terdengar sebuah kekhawatiran diucapannya.
Begitu pun dengan Ivanka, dia juga menatap Larei dengan intens seolah menantikan jawaban yang akan keluar dari bibirnya.
"Apa kalian menganggap aku orang yang seperti itu?" Larei menatap kedua sahabatnya itu dengan serius.
"Ya, siapa tau aja, karena kamu belum memiliki perasaan apa pun pada suami kamu, jadi berniat mendekati pria idamanmu itu," tutur Tari diangguki oleh Ivanka.
Larei menghela napas sedalam-dalamnya, mendengar ucapan dari sahabatnya itu.
"Meskipun aku tidak memiliki perasaan pada Sakya, tapi aku tidak kepikiran untuk mendekati Kak Andrew, hubungan kami memang baik dan aku harap seperti itu, tapi hanya sebagai teman, sama seperti sebelumnya."
Larei berbicara dengan lugas, meskipun hati kecilnya merasa senang dengan kehadiran pria itu lagi, tapi dia segera menyangkal hal itu, karena sadar akan statusnya saat ini.
"Bagus deh kalau gitu, oh iya ngomong-ngomong kita belum pesan makanan nih," ucap Tari yang sengaja menghentikan pembahasan tentang kehidupan Larei.
Dia melambaikan tangannya, memanggil pelayan, hingga seorang pelayan pria mendekati meja mereka.
Tari mulai menyebutkan menu makanan yang ingin mereka makan.
"Kalian pesan apa?" tanyanya pada Larei dan Ivanka.
"Kita samain aja deh, iya kan Rei," ucap Ivanka pada Tari, tapi tatapannya pada Larei.
"Iya samain aja," sahut Larei mengangguk.
"Oke deh kalau gitu, jadi tiga porsi ya Mas," ucap Tari pada pelayan.
"Baik, mohon ditunggu Nona," ucap pelayan dengan sopan.
Larei dan kedua sahabatnya mengangguk, sebagai respon pada pelayan itu.
"Oh iya, Rei. Kita baru sadar sekarang perut kamu udah keliatan buncit ya, meskipun belum terlalu besar," ucap Ivanka sambil menatap perut Larei yang tidak rata lagi dengan serius.
"Iya, dia udah mau lima bulan," sahut Larei mengangguk dan memberikan usapan lembut pada perutnya.
"Jadi gak sabar pengen liat dia lahir, kira-kira dia lebih mirip kamu atau Sakya," ucap Tari dengan antusias.
"Yang jelas pasti mirip keduanya, karena mereka orang-tuanya," timpal Ivanka.
"Kalau itu udah pasti, cuma 'kan biasanya ada anak yang benar-benar mirip salah satu orang-tuanya," sahut Tari.
Larei tidak menyahuti obrolan antara kedua sahabatnya itu, dia melihat ke arah meja Sakya yang terhalang beberapa meja di arah sampingnya.
__ADS_1
Kedua sahabat pria itu, baru saja datang dan mereka terlihat saling menyapa, lalu mulai duduk di kursi masing-masing.