Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Menemui Larei


__ADS_3

Keesokan harinya, Sakya yang semalaman tidak bisa tidur karena terus berpikiran tentang Larei, dia pun memutuskan untuk menemuinya.


Menurut info yang didapatkannya, dia memutuskan untuk menui Larei di butik tempat dia biasa menghabiskan waktunya.


Ketika sudah berada di dekat butik itu, dia tidak langsung turun, tapi dia memperhatikan dari jarak yang cukup jauh terlebih dahulu, melihat orang yang berlalu lalang keluar masuk butik itu.


"Beneran yang ini bukan sih, tapi menurut info yang aku dapatkan dari media sosialnya emang di sini," gumam Sakya.


"Aku coba cek aja deh," gumamnya lagi, lalu menjalankan mobilnya semakin mendekati butik itu dan memarkirkan mobilnya.


Sakya memakai kacamata juga masker, lalu turun dari mobilnya dan berjalan memasuki butik itu, berjalan ke arah meja kasir.


"Mbak, apa Larei ada?" tanyanya pada kasir yang hanya menatapnya dengan tatapan heran.


Sepertinya karena dia memakai kacamata dan masker di dalam ruangan seperti itu, hingga membuat kasir itu menatapnya dengan heran.


Mau bagaimana lagi, dia masih belum bisa bernapas dengan bebas tanpa masker ketika di tempat asing seperti itu, apalagi jika banyak wanita.


"Mbak!" panggilnya dengan nada yang sudah naik karena masih belum mendapatkan jawaban.


"Eh, iya Mas, Non Larei ada di ruangannya, nanti saya hubungi dulu beliau," sahut kasir itu mulai mengambil gagang telepon yang berada di samping mesin kasir.


"Kasih tau saja, di mana ruangannya, saya adalah temannya," ucap Sakya tidak sabar.


"Di lantai atas Mas," sahut kasir itu percaya begitu saja.


Dia melihat penampilan Sakya yang terlihat rapi, jadi yakin jika pria yang tidak jelas wajahnya itu memang kenalan atasannya dan beranggapan, jika Sakya berpenampilan seperti itu karena sedang sakit.


"Nanti di lantai atas, akan ada asisten Non Larei, Mas bisa tanyain lagi ke dia" sambung kasir itu.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Sakya berjalan menaiki tangga, dia berjalan dengan langkah ringannya, hingga tibalah dia di tempat yang ditujunya.


Ketika melihat seorang wanita yang tengah serius dengan pekerjaannya, dia pun mendekati meja itu dan berdiri di sana.


Anjani yang menyadari suara langkah kakinya itu pun, mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya, ke sosok Sakya yang menjulang di depan mejanya.


Tatapan Anjani tidak jauh berbeda dengan kasir tadi, dia juga menatap Sakya dengan tatapan heran, karena penampilannya itu.


"Mana ruangan Larei?"


"Maaf ada perlu aja ya Mas, apa Mas sudah membuat janji?" tanya Anjani yang sudah berdiri dati kursinya.


"Aku temannya dan aku ada hal yang penting yang harus aku katakan," ucap Sakya dengan tidak sabar juga.


"Ruangannya di sana tapi…." Anjani tidak sempat menyelesaikan ucapannya, karena Sakya sudah lebih dulu pergi ke arah yang tadi ditunjuknya.


"Eh Mas," panggil Anjani berusaha mengejar Sakya.

__ADS_1


"Tuh orang maen nyelonong aja, udah penampilannya mencurigakan juga," gerutu Anjani sambil mengejar Sakya, tapi tidak terkejar.


Sakya langsung membuka pintu ruangan Larei itu, tanpa mengetuknya terlebih dahulu, hingga membuat Anjani melotot tak percaya padanya.


Larei yang tengah serius berbicara di teleponnya, langsung mengalihkan atensinya pada pintu yang terbuka secara tiba-tiba itu. Keningnya mengerut, ketika melihat pria aneh dengan Anjani di belakangnya.


"Baiklah Mas untuk kekurangannya bisa kita bahas setelah Mas ke sini nanti, terima kasih untuk kepercayaannya kepada butik kami Mas."


Setelah itu, Larei menutup panggilan itu, lalu menyimpan gagang telepon ke tempatnya, dia kemudian berdiri dan menatap Anjani dengan penuh tanya.


"Maaf Non, saya sudah berusaha menahannya, tapi Mas ini main neyelenong saja," terang Anjani.


Larei hanya menagngguk paham, dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Sakya yang masih mematung di tempatnya.


"Mas siapa dan ada kepentingan apa?" tanya Larei.


"Ini aku," sahut Sakya.


"Apa?" tanya Larei yang memang tidak dapat mendengar apa yang Sakya ucapkan itu, karena mulutnya tertutup oleh masker.


Sakya berdedcak kesal karena hal itu, dia pun semakin memasuki ruangan. Anjani bermaksud untuk menahannya, tapi segera dihentikan oleh Larei dengan isyarat tangan dan tatapan matanya.


Setelah sampai di depan meja Larei, Sakya membuka kacamata dan maskernya. Setelah melihat dengan jelas, Larei menatap tak percaya akan kehadirannya itu.


"Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Larei dengan nada malas.


"Bisa tolong usir dulu wanita itu," ucap Sakya menahan napasnya.


"Kenapa aku harus mengusirnya, kayaknya yang harusnya pergi itu kamu," sahut Larei sibuk melihat kertas-kertas di tangannya.


"Aku ingin berbicara denganmu, tapi usir dulu dia," ucap Sakya lagi dengan kukuh.


Larei menatapnya dengan kesal karena sikap seenaknya itu, dia kemudian menatap Anjani yang masih berjaga-jaga di ambang pintu ruangannya.


"Pergilah An, dia teman aku."


"Baiklah kalau gitu, apa perlu saya siapkan minuman Non?" tanya Anjani.


"Tidak perlu, dia bukan orang yang penting juga," sahut Larei dengan cuek.


Sakya mendelik kesal dengan apa yang dikatan dan sikap cuek yang Larei tunjukan secara terang-terangan itu.


"Baiklah kalau gitu, saya permisi dulu Non," ucap Anjani yang langsung pergi dari sana, dengan membiarkan pintu ruangan itu sedikit terbuka, agar dia bisa memperhatikan apa yang terjadi di sana.


"Apa yang mau kamu omongin, cepatlah, aku tidak punya banyak waktu luang," ucap Larei tanpa menatapnya.


Sakya mulai menghirup napas sedalam-dalamnya, dia kembali menatap Larei dengan kesal.

__ADS_1


Apa wanita itu tidak berniat mempersilakan aku duduk dulu. Gerutu Sakya dalam hatinya.


Meskipun kesal, tapi tujuannya ke ini lebih penting, jadi dia berbicara meskipun dengan posisi berdiri.


"Apa kamu benar-benar hamil?" tanya Sakya menatap Larei dengan serius.


"Dari mana kamu tau hal itu?" tanya Larei yang mulai menatapnya.


"Jawab saja pertanyaanku."


"Apa untungnya kamu tau hal itu?"


"Apa susahnya sih jawab!" desah Sakya yang tidak sabar.


"Iya aku hamil," sahut Larei tanpa minat.


"Apa itu anakku?" Sakya menatapnya dengan serius.


"Ini anakku."


"Apa anakku juga."


"Apa penting, ini anakmu atau bukan?" Larei menatapnya dengan tatapan tajam.


"Jelas sangat penting, karena itu artinya aku harus tanggung jawab," ucap Sakya menatapnya dengan serius.


"Sayangnya, aku tidak membutuhkan tanggung jawabmu, aku bisa mengurus anakku sendiri."


"Tidak bisa gitu, aku ayahnya, dia tidak boleh lahir tanpa status yang tidak jelas."


"Terus pacar kamu itu, mau kamu ke manain?"


Mendengar itu Sakya hanya diam, dia sendiri pun masih bingung dengan kehadiran Ishana. Larei yang melihat kebungkaman Sakya hanya tersenyum miring.


"Kalau tidak ada hal penting yang mau kamu bicarakan lagi, sebaiknya kamu pergi saja dari sini," usir Larei tanpa menatapnya.


"Aku belum selesai bicara," tolak Sakya.


Larei melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu lalu berucap, "Sayangnya aku sudah tidak punya waktu untuk bicara denganmu, jadi– kamu tau 'kan? Di mana pintu keluarnya."


Larei menunjuk pintu ruangannya itu, menggunakan isyarat matanya, setelah itu kembali menatap pada kertas di tangannya.


Melihat Larei tidak ingin bicara lagi dengannya, Sakya pun menghela napas dalam, lalu mulai berjalan pergi keluar dari ruangan itu.


Namun, begitu keluar dari ruangan itu, dia kembali memakai maskernya, karena bau menyengat yang dia cium, katika berada di dekat meja Anjani.


Dia kemudian teringat, jika ketika di dalam ruangan Larei, dia sama sekali tidak merasa mual, meskipun dia dapat mencium aroma parfum yang dia cium juga.

__ADS_1


"Mungkin itu hanya kebetulan saja," gumamnya, sambil berjalan dengan cuek menuruni tangga.


__ADS_2