Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Kebenaran


__ADS_3

Larei yang saat ini tengah menyetir, memfokuskan dirinya pada setir mobil itu, tatapannya lurus pada jalanan di depannya.


Lebih tepatnya, pada sebuah mobil yang saat ini tengah dia ikuti, sudah hampir satu jam lamanya, dia mengikuti mobil itu.


Bahkan saking fokusnya mengikuti mobil itu sejak tadi, rasa sakit bercampur panas di pinggangnya tidak dia hiraukan, perutnya yang sempat terasa sakit pun dia abaikan.


Rasa penasaran, bercampur dengan rasa kecewa dan kesal menjadi satu, menjadikannya tidak dapat menunda-nunda lagi hal ingin dia lakukan itu.


"Sabar sayang, Mama ingin memergoki mereka dulu," ucapnya sambil mengusap perutnya dengan dengan sebelah tangan.


Larei berdecak memikirkan jika saat ini dia merasa menjadi pemeran utama dalam sebuah sinetron, di mana dia akan memergoki suami dan selingkuhannya.


Dia tidak menyangka, kalau dia akan berada di posisi seperti itu. Hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya.


Ya, saat ini dia tengah mengikuti mobil yang tidak lain adalah Sakya, padahal hari ini adalah hari libur, di mana biasanya pria itu selalu menghabiskan waktu bersama dengannya di rumah.


Namun, beberapa jam yang lalu, tiba-tiba saja pria itu mendapatkan telepon dan setelah selesai menerima telepon itu, dia meminta izin untuk menemui Isam dengan beralibi jika ada masalah pekerjaan yang harus mereka bahas.


Sayangnya, Larei tidak percaya begitu saja. Dia yakin jika itu hanya alasannya saja dan ternyata kecurigaannya benar, pria yang tidak lain adalah suaminya itu pergi menjemput Ishana.


Tak lama kemudian, mobil yang berada di depannya itu, mulai berbelok dan berhenti di sebuah parkiran rumah sakit.

__ADS_1


Setelah memastikan kedua orang yang dari tadi dibuntutinya, memasuki rumah sakit itu, Larei pun mulai turun dari mobil dan mengikuti mereka dari jarak yang lumayan jauh.


...*****...


"Jadi ini yang kamu bilang akan menemui sahabat kamu untuk membahas masalah pekerjaan itu!"


Larei berdiri tepat di depan Sakya dan Ishana yang baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan.


Tatapannya menyorot tajam pada dua orang yang tengah memasang ekspresi berbeda itu, Sakya dengan ekspresi kaget bercampur shock, sedangkan Ishana dengan ekspresi santai, seolah dia sudah siap dengan apa yang terjadi itu.


"Rei, a–"


Plakk....


"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku, hah!"


"Janji-janji yang kamu ucapkan dulu itu, hanya sebuah omong kosong saja, iya?"


Mata Larei mulai dipenuhi oleh cairan bening, bahkan hanya dengan sekali kedip saja, cairan itu akan langsung meluncur di pipinya.


"Rei, tenang ya, biar aku jelaskan semuanya dulu," ucap Sakya dengan tatapan khawatir.

__ADS_1


"Apalagi yang mau kamu jelaskan, alasan atau kebohongan apalagi yang akan kamu berikan padaku!" tekan Larei.


"A–aku."


Bibir Sakya menjadi kelu, apalagi saat mmatanya melihat air mata yang mulai turun di pipi Larei, juga kekecewaan yang terpancar dari mata yang kini telah basah itu.


Sungguh bukan ini yang dia inginkan, dia tidak pernah ingin menyakiti wanita di depannya itu, wanita yang saat ini sudah menjadi pemilik hatinya untuk sepenuhnya.


"Rei, aku bisa jelasin semuanya!" lirihnya sambil berusaha melangkah mendekati Larei.


"Berhenti! Aku tidak akan pernah percaya lagi dengan semua omong kosongmu itu!" sergah Larei, membuat Sakya semakin menatapnya dengan sedih.


Sementara itu, Ishana dengan santainya berdiri di sana, seolah tengah menikmati pertengkaran antara Sakya dan Larei itu. Mungkin itu juga yang dia harapkan, pertengkaran dari kedua orang itu.


Larei memundurkan langkahnya, kini dia tidak dapat lagi menahan laju air yang sedari tadi mendesak ingin keluar dari kedua matanya itu.


Mereka tidak memedulikan, jika saat ini mereka sudah menjadi bahan tontonan dari orang yang berlalu lalang di sekitar mereka, saking asyiknya dengan dunia mereka sendiri.


"Shhhhh, akhh!" Larei tiba-tiba saja memegang perutnya.


"Rei, perut kamu kenapa?" tanya Sakya dengan panik.

__ADS_1


"Perut a–aku, sakit!" desis Larei dengan menahan sakit yang menghujam perutnya itu.


Tak lama kemudian, ada air yang keluar dari bagian inti Larei, air yang lumayan banyak hingga membahasi lantai.


__ADS_2