
Larei dan Sakya saling bergandengan, memasuki acara itu kembali, senyuman turut hadir di kedua mempelai itu, hingga tampak seperti pasangan yang tengah berbahagia.
Setiap tamu yang hadir melihat mereka dengan senyuman bahagianya, mereka terlihat seperti pasangan yang serasi.
Kini mereka sudah kembali ke atas pelaminan, siap menerima ucapan selamat dari tiap tamu yang sudah tidak sabar untuk mengucapkan selamat pada mereka dan keluarga.
"Apa kamu tidak akan pegal pakai sepatu yang ber-hak tinggi seperti itu?" tanya Sakya ketika mereka telah berdiri di atas pelaminan.
"Tidak akan, aku udah biasa pakai sepatu kayak gini," sahut Larei dengan tenang.
"Tapi sekarang 'kan beda, kamu harus lebih berhati-hati lagi, agar anak aku tidak kenapa-napa."
Larei menengok ke sebelahnya, menatap pria yang baru saja resmi menjadi suami itu dengan galak.
"Dia anak aku!" ketus Larei.
"Anak aku."
"Anakku, saat ini dia ada perutku, berarti dia anakku!" tekan Larei tidak mau kalah.
"Tapi kalau aku gak simpan benih berharga aku di sana, dia saat ini tidak mungkin ada," jawab Sakya yang juga tidak mau kalah.
"Pokoknya ini anak aku!" tekan Larei yang entah kenapa dia menjadi kekanak-kanakan seperti itu.
"Iya deh, iya. Itu anak kita puas!"
Larei langsung membuang wajahnya tidak melihat ke arah Sakya lagi, dengan bibir yang mengerucut.
"Udah kali jangan cemberut gitu, gak ada cantik-cantiknya serius!"
Larei kembali menatapnya dengan kesal, mendengar apa yang Sakya ucapkan itu.
"Bodo!" sinis Larei.
Entah kenapa lama-lama berhadapan dan berbicara dengan pria di sampingnya itu, semakin membuatnya merasa kesal.
Akibat dari rasa kesalnya yang belum juga hilang, dia secara perlahan bergeser semakin mendekati Sakya dan tanpa aba-aba, dia langsung menginjak kaki pria itu dengan ujung sepatu haknya.
Karena gaunnya model ball gown, jadi tidak ada yang menyadari apa telah dilakukannya, dia hanya tersenyum puas saat mendengar desisan dari Sakya.
"Kenapa kamu nginjak aku hah!"
"Maaf, gaunnya berat jadi aku tidak seimbang dan sedikit oleng," sahut Larei dengan memasang tampang polosnya.
__ADS_1
Sakya berdecak kesal dan memutar mata, karena tahu jika istrinya itu sengaja melakukan hal itu.
"Kalian kenapa sih, dari tadi mama perhatikan bisik-bisik terus," ucap Haira membuat Sakya dan Larei langsung menengok ke arahnya.
"Tidak apa-apa Ma." Gelenga Sakya.
"Iya Ma, tadi kita hanya sedang ngobrol masalah acara ini saja," timpal Larei yang juga tersenyum pada Haira.
"Oh, kirain kalian lagi berantem." Angguk Haira mengerti.
"Tidak Ma, kita tidak berantem kok," sahut Sakya tersenyum, diikuti oleh Larei.
"Baguslah kalau gitu."
Setelah itu baik Sakya maupun Larei akhirnya kembali tenang, dengan berusaha kembali memasang senyuman mereka, kepada setiap tamu yang semakin berdatangan dan langsung mengucapkan selamat pada mereka.
Kedua sahabat Larei dan Sakya kini sedang tenang, duduk di deretan meja dan kursi yang ada di depan pelaminan, jarak duduk antara Ivanka dan Tari, tidak terlalu jauh dengan Isam dan Gamya.
"Tar, kamu ngerasa gak sih, kayak ada yang merhatiin kita gitu," ucap Ivanka, membuat Tari yang semula fokus pada pelaminan, menengok ke arah sahabatnya itu.
"Perasaan kamu aja kali," sahut Tari sambil mencoba melihat ke sekelilingnya tidak ada yang aneh.
"Masa iya sih, hanya perasaanku aja?" gumam Ivanka sambil terus memperhatikan sekitarnya dan memang tidak ada yang aneh.
Ivanka pun hanya mengangguk patuh, dia kemudian fokus kembali menatap ke arah sahabatnya.
"Kira-kira nanti Larei bahagia gak ya sama pernikahannya?" tanya Tari tanpa melihat Ivanka.
"Mudah-mudahan aja dia bahagia, kalau seandainya si kadal sampai nyakitin dia awas aja," ucap Ivanka yang juga tengah serius pada Larei.
Tari mengangguk setuju dengan hal itu, dia juga berharap pernikahan sahabatnya itu berjalan dengan baik, meskipun diawali dengan yang kurang baik.
Di saat Tari dan Ivanka tengah serius berbincang tentang Sakya dan Larei, mereka tidak tahu jika sebenarnya dari tadi ada dua pria yang terus menatap mereka.
"Menurutmu apa alasan mereka selalu judes ya, dulu kalau berapapasan sama kita?" tanya Isam pada Gamya.
"Ya pasti karena kamu sama Sakya yang suka gonta-ganti pacar seenaknya aja, jadi mereka ilfeel sama kalian, tapi sayangnya aku yang tidak salah apa pun le bawa-bawa," tutur Gamya apa adanya.
"Merekanya aja sok jual mahal, padahal aku yakin dalam hatinya mereka pasti diam-diam naruh hati ke kita," sahut Isam dengan pedenya.
"Dasar kepedean," cebik Gamya.
"Tunggu, itu Ishana bukan sih?" ucap Isam membuat Gamya langsung melihat ke arah yang ditunjuknya.
__ADS_1
Dia melihat, Ishana berjalan dengan anggun memasuki tempat itu, berjalan tanpa beban mendekati pelaminan.
"Sakya gak mungkin sampai ngundang dia 'kan? Kalau benar-benar itu terjadi, itu artinya dia cari mati namanya," gerutu Isam.
"Jangan-jangan dia mau buat kacau lagi?" Gamya menatap Isam dengan khawatir.
"Mudah-mudahan sih tidak ya," sahut Isam.
Langsung dijawab anggukan oleh Gamya, dengan tatapan fokus pada Ishana yang semakin mendekati pelaminan, mereka takut jika wanita itu akan macam-macam karena merasa sakit hati pada Sakya.
Sementara itu Sakya yang juga menyadari kehadirannya yang sudah mulai naik ke pelaminan, menelan ludahnya dengan kasar melihat Ishana.
Dia masih ingat dengan jelas, jika wanita itu tidak terima diputuskan olehnya. Bahkan meminta dia untuk menjadikannya simpanan.
"Duh seneng ya, ditatangi sang mantan, sampai gak ngedip gitu matanya," sindir Larei dengan berbisik.
"Aku cuma kaget aja, karena dia bisa ada di sini," ucap Sakya apa adanya.
"Yakin, cuma itu!"
"Jangan berpikir yang aneh-aneh deh Rei, aku udah gak ada hubungan apa pun sama dia," ucap Sakya apa adanya.
"Oke, untuk sekarang aku terpaksa percaya," sahut Larei yang kemudian memasang senyumnya kembali.
Katika Ishana sudah mulai menyalami kedua orang-tuanya dan berjalan ke arahnya.
"Selamat untuk pernikahan kalian," ucap Ishana sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Iya terima kasih," sahut Larei sekenanya.
Mereka pun saling cipika-cipiki, karena Ishana yang nyosor, lalu wanita itu mulai berdiri di hadapan Sakya, menatap pria itu dengan memasang senyuman terbaiknya.
"Selamat ya Sak," ucap Ishana sambil memeluk Sakya sekilas.
"Untuk apa kamu ke sini?" Sakya menatapnya dengan curiga.
"Aku hanya mau ngucapin selamat ke teman aku, emangnya gak boleh?" sahut Ishana dengan santai.
"Ya udah, kalau gitu kamu bisa menikmati acara ini," sahut Sakya yang sudah mulai membuang muka.
"Baiklah, semoga kamu bahagia." Ishana tersenyum miring ketika mengucapkan hal itu.
Sementara Sakya tidak lagi melihat ke arahnya, dia masih membuang pandangan ke arah lain, menghindari kontak mata dengan mantannya itu.
__ADS_1
Melihat sikap tak peduli dari Sakya terhadapnya, membuat Ishana mengepalkan tangan dengan erat, tapi itu tidak lama. Dia kemudian kembali tersenyum ketika berhadapan orang-tua Sakya.