
"Apakah Larei ingin menghabiskan beberapa waktu di sana? Iya sih, saya juga mengerti, pasti Larei ingin belajar lebih banyak tentang mengurus bayinya dari Maminya," ucap Haira, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa canggung.
Sementara Sakya sudah merasa jantungnya seperti terlepas dari tempatnya, dia yakin apa yang mamanya katakan itu, bukanlah maksud dari papi Larei.
"Pi, bolehkah a–"
"Tidak mau, aku pulang ke rumah Papi sama Mami aja," potong Larei dengan cepat, hingga Sakya kembali bungkam dengan tatapan lurus padanya.
"Aku menyetujui keputusan anakku itu, aku sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian, tapi aku sebagai seorang ayah, tidak akan terima jika anakku terluka."
"Dari kecil aku yang menjaganya, merawatnya ketika di sakit, mengobatinya ketika dia terluka, meskipun hanya luka yang kecil tapi aku selalu memastikan dia selalu baik-baik saja. Jadi aku tidak akan mungkin, membiarkan anakku terluka, apalagi sekarang dia harus bisa menjalani hidupnya dengan tenang demi anaknya."
Mendengar hal itu, Sakya ingin sekali menangis rasanya, dia tahu, dia telah menyakiti Larei, meskipun tanpa disengaja. Namun, apakah dia tidak memiliki kesempatan untuk memberi pembelaan untuk dirinya.
"Sebenarnya ada masalah apa ini?"
Fahar yang dari tadi hanya diam dan menyimak, akhirnya mulai membuka suara karena dia benar-benar tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Mas sebaiknya tanyakan sendiri saja pada anak Mas, apa yang telah dia lakukan hingga membuat anakku ingin pulang ke rumahku," sahut Aditya menatap Fahar.
Fahar mengalihkan perhatian pada anaknya, dia melayangkan tatapan serius pada anaknya itu.
"Apa yang telah kamu lakukan?" tanya Fahar dengan tegas.
Sakya menatap papanya sekilas, setelah itu dia kembali menundukkan kepalanya, tidak berani menatap pria itu.
"Sakya memang telah melakukan kesalahan, Pa," aku Sakya dengan wajah yang masih menunduk.
"Kesalahan apa?" Kini bukan lagi Fahar yang bertanya, melainkan Haira.
Haira sudah menyimpan bayi yang tadi digendongannya ke tempatnya semula, tatapannya lurus pada Sakya, menanti sebuah jawaban.
"A–aku ...." Sakya tidak dapat melanjutkan ucapannya itu, dia hanya menatap mamanya dengan menyesal.
"Dia masih berhubungan dengan salah satu mantan pacarnya dan saat ini wanita itu juga tengah hamil," ucap Larei dengan tenang.
__ADS_1
Ya, di luar dia memang terlihat tenang, tapi siapa yang tahu apa yang tengah dirasakannya saat ini, mengetahui suaminya masih berhubungan dengan wanita dari masa lalunya, bahkan wanita itu tengah hamil.
Ditambah Sakya yang terus menyembunyikan hal itu darinya, bahkan pria itu selalu berbohong demi untuk menutupi jika dia masih berhubungan dengan Ishana.
Antara sedih, kesal, kecewa. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu, hingga akhirnya dia mengambil sebuah keputusan yang cukup sulit.
Haira menggeleng dan menatap tak percaya pada Larei, lalu beralih menatap Sakya kembali.
"Apakah itu benar?" tanya Fahar dengan raut wajah yang sudah mulai mengeras.
"Itu benar, tapi semua itu tidak seperti yang kalian pikirkan," sahut Sakya berusaha menjelaskan.
"Apa maksud kamu?" tanya Fahar lagi.
"Aku memang masih berhubungan dengan Ishana, tapi itu setelah dia menemuiku dan mengatakan jika dia hamil anakku, tapi aku sendiri tidak yakin jika itu anakku."
"Kamu tidak yakin jika itu anakmu, tapi kamu memberikan dia uang yang cukup banyak, juga menuruti keinginannya, sebenarnya siapa yang coba kamu bohongi?" decak Larei.
"Ma, Pa. Dihadapan kalian semua aku ingin minta maaf karena aku tidak bisa lebih lama lagi bersama dengan anak kalian," ucapan Larei itu sontak membuat seluruh tubuh Sakya lemas, seolah tak bertulang.
"Tidak, Rei. Jangan katakan itu, kamu harus berada di sampingku, menemani aku seperti yang kamu ucapkan sebelumnya."
Sakya menggeleng tak terima dengan apa yang Larei ucapkan itu, dia melangkah berusaha mendekati istrinya, namun wanita itu langsung memalingkan wajah darinya.
"Keputusan aku sudah bulat."
"Aku mohon jangan ingkari janji yang telah kamu ucapkan itu, Rei. Aku ingin bersamamu dan anak kita," lirih Sakya penuh penyesalan.
Bahkan mata pria itu kini mulai memerah, hingga Larei kembali memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata karena tidak ingin luluh lagi.
"Apa kamu lupa, aku berjanji jika kamu benar-benar berubah, bukankah aku juga pernah mengatakan jika aku tidak akan mentolerir apa pun bentuk pengkhianatan!"
Sakya mematung di tempatnya, dia menatap nanar Larei yang kini masih enggan untuk melihat ke arahnya.
Apakah dia tidak punya kesempatan untuk melanjutkan hubungan mereka, apakah kesalahan yang telah dilakukan sefatal itu, hingga Larei langsung memutuskan hal ini.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berniat untuk mengkhianatimu!" lirih Sakya.
Melihat tidak ada yang mencoba mendengarkan penjelasannya, Sakya hanya menarik napas sedalam-dalamnya, berusaha mengisi pasokan udara di dadanya yang terasa terhimpit itu.
"Jika memang saat ini kamu tidak ingin mendengar penjelasanku, maka kamu bisa pulang ke rumah Papi, tapi aku tidak akan setuju untuk berpisah. Aku akan datang dan menjelaskan semuanya, ketika kita sudah dalam keadaan sama-sama tenang."
Semua orang yang berada di sana hanya diam, tidak ada yang berniat untuk menimpali ucapan dari Sakya itu.
Sakya menatap satu persatu orang di sana, kemudian menatap Larei dan anaknya dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Aku akan memberi waktu untukmu, tolong jaga anak kita dengan baik. Maaf untuk semuanya, aku benar-benar mencintaimu."
Sakya mulai melangkah pergi dari ruangan itu, tidak ada yang berusaha menahannya, termasuk kedua orang-tuanya.
"Mi, Pi. Apa keputusan Larei ini benar?" tanya Larei menatap kedua orang-tuanya satu persatu.
"Terkadang kita memang harus mengambil keputusan yang menurut kita sulit, meskipun itu hal yang berat untuk kita, tapi demi masa depan yang lebih baik agar tidak menyesal lagi di kemudian hari, hal itu sangat sangatlah penting."
Larei mengangguk mendengar jawaban dari Aditya itu, dia kemudian beralih menatap orang-tua Sakya.
"Ma, Pa. Maaf karena Larei melakukan ini," ucapnya pada kedua mertuanya.
"Tidak apa-apa, Nak. Kami akan mendukung apa pun keputusanmu," ucap Fahar diangguki oleh Haira.
"Terima kasih, Ma, Pa." Larei tersenyum pada mertuanya yang mendukung apa pun keputusannya itu.
Memang tidak mudah untuk Larei mengambil keputusan ini, dia tidak tahu hal apa yang akan terjadi dari dampak keputusannya ini, tapi dia berharap ini memang yang terbaik untuk kehidupan selanjutnya.
Menurutnya, pergi adalah jalan yang terbaik untuknya dan Sakya saat ini, bukan hanya untuk memenangkan diri, tapi untuk memberikan Sakya pelajaran agar lebih baik untuk ke depannya.
...----------------...
Cerita ini terpaksa aku tamatkan sampai di sini, berhubung akhir-kahir ini mood sama kondisi aku untuk nulis lagi turun banget, efek kehamilan anak ke-2 jadi aku mau rehat dulu tulis menulis, gak tau untuk berapa minggu atau berapa bulan.
Jadi maaf yang sebesar-besarnya karena belum bisa menyuguhkan cerita yang terbaik, terima kasih juga yang sebanyak-banyaknya karena sudah setia menemani cerita ini.
__ADS_1
Mudah-mudahan, ke depannya aku bisa lanjut lagi cerita ini, sampai jumpa di lain waktu semuanya🥰