
Sakya yang baru selesai menghabiskan makanannya, mendapat sebuah pesan di ponselnya. Dengan segera, dia pun melihat ponselnya itu dan membuka aplikasi chat.
Aku pulang duluan bareng Ivanka ya.
Mendapat pesan dari istrinya itu, dia segera melihat ke arah meja Larei, di mana wanita itu beserta kedua sahabatnya ternyata sudah bersiap untuk pulang.
"Aku pulang duluan ya," ucap Sakya pada kedua sahabatnya sambil berdiri.
"Tunggu, bukannya kamu bilang kamu mau bayarin makanan kita ini!" tahan Isam.
Sakya berdecih, lalu mengambil salah satu kartu ATM dari dompetnya dan langsung menyimpannya di meja.
"Ini bayarlah," ucap Sakya tanpa beban.
Tanpa menunggu sahutan dari kedua sahabatnya, dia segera berjalan meninggalkan Isam dan Gamya yang hanya menggeleng melihat tingkahnya itu.
"Belum apa-apa udah bucin, apanya yang belum menyadari perasaan kalau gitu," cebik Isam.
"Nanti juga kamu akan seperti itu, jika kamu sudah menemukan wanita yang benar-benar kamu cintai," sahut Gamya.
Isam memutar mata mendengar hal itu, dia kemudian memanggil pelayan dan membayar makanan mereka dengan kartu milik Sakya itu.
Sementara itu, Sakya yang sudah sampai di parkiran segera berjalan dengan cepat ke arah Larei yang baru saja akan menaiki mobil Ivanka.
"Pulang bareng aku aja," ucapnya sambil berdiri di belakang Larei.
Mendengar suaranya itu, gerakan Larei yang baru saja membungkuk akan memasuki mobil terhenti dan langsung menatapnya dengan heran.
"Kamu bukannya masih ngobrol sama sahabat-sahabat kamu, kalau kamu masih mau ngobrol, pergi saja biar aku pulangnya numpang sama Ivanka aja," ucap Larei.
__ADS_1
"Tidak, kamu pulangnya bareng aku aja, aku udah selesai kok ngobrol sama mereka," sahut Sakya bersikeras.
"Udah, Rei. kamu pulangnya sama Sakya aja deh," ucap Ivanka.
Akhirnya mau tak mau, dia pun mengangguk setuju untuk pulang bersama dan menutup pintu mobil Ivanka.
"Baiklah kalau gitu, kalian hati-hati ya."
Larei menatap kedua sahabatnya yang sudah memasuki mobil mereka masing-masing dengan bergantian.
"Iya, Rei. Nanti kalau kita ada waktu luang, kita ketemu lagi ya," ucap Tari diangguki oleh Ivanka.
"Iya." Angguk Larei.
"Ya udah, kalau gitu kita duluan ya," ucap Tari.
"Ayo, kita juga pulang sekarang," ajak Sakya setelah mobil kedua sahabatnya tidak terlihat lagi.
"Iya ayo." Angguk Larei.
Mereka pun berjalan memasuki mobil dan Sakya langsung menjalankan mobilnya.
"Kamu kok gak lama ketemuan sama sahabat-sahabat kamu itu," ucap Sakya membuka topik pembicaraan.
"Kita janjiannya untuk makan aja, jadi setelah selesai ya langsung pulang aja, karena tidak mungkin kita lama-lama di sana," terang Larei.
"Kamu sendiri, kenapa udah pulang aja, aku kira kamu masih mau ngobrol dengan kedua sahabatmu, jadi aku berniat pulang bareng Ivanka biar gak ganggu kamu," sambung Larei dengan tatapan lurus ke depannya.
"Tidak ada hal yang penting lagi yang mau diobrolin, jadi aku memutuskan untuk pulang juga," sahut Sakya.
__ADS_1
"Oh gitu." AnggukLarei
"Rei, gimana kalau kita tinggal berdua, tidak di rumah Mama sama Papa lagi," ucap Sakya dengan serius.
Larei menatapnya dengan dalam, dia tidak mengeluarkan suaranya, melainkan menunggu ucapan selanjutnya dari Sakya.
"Aku hanya berpikir, mungkin kita akan lebih nyaman jika kita tinggal hanya berdua saja. Tapi kalau kamu tidak setuju, aku juga tidak memaksa, aku ikuti apa yang menurutmu nyaman saja," ucap Sakya dengan sungguh-sungguh.
"Aku setuju untuk kita tinggal berdua, aku juga merasa jika kita akan lebih nyaman. Bukannya aku tidak senang kita tinggal di rumah Papa sama Mama, aku senang tinggal di sana karena mereka sama seperti Papi dan Mami bagiku, tapi tetap saja akan lebih baik jika kita terpisah dari kedua orang-tua kita."
Sakya senang bukan main mendengar hal itu, dia senang karena Larei memiliki pemikiran yang sama dengannya. Dia ingin hidup berdua dengannya karena ingin hubungan mereka lebih terjalin lagi.
"Jadi kamu setuju, kalau kita pindah dari rumah Mama sama Papa?" tanya Sakya meyakinkan sekali lagi.
"Iya aku setuju, tapi apakah nanti Mama sama Papa, akan setuju dengan hal itu," ucap Larei dengan ragu.
"Nanti aku akan mengatakan hal ini pada mereka, jika mereka sudah setuju maka kita akan segera pindah."
"Emang tempatnya udah ada?" tanya Larei dengan heran.
"Udah, aku baru saja dapet rumahnya seminggu yang lalu, tapi kamu bisa melihatnya dulu, jika kamu kurang cocok, kita bisa mencari lagi."
Larei tak percaya, jika ternyata pria itu sudah mempersiapkan rumah untuk mereka tinggali.
"Ya udah kalau gitu, semoga aja Mama dan Papa setuju dengan maksud kita ini," ucap Larei.
Sakya menanggapinya dengan anggukan kepala dan senyuman yang terbit di bibirnya. Dalam hatinya penuh dengan harapan, semoga dengan mereka tinggal terpisah kelak, hubungan antara dirinya dan Larei semakin meningkat.
Semoga saja dengan kita pindah ke rumah kita nanti, akan menjadi awal yang baru untuk hubungan kita. Batin Sakya penuh harap.
__ADS_1