Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Pindah Rumah


__ADS_3

Akhirnya, setelah mendapatkan izin dari kedua orang-tuanya. Lebih tepatnya izin dari mamanya, karena wanita itu yang cukup sulit memberikan izin untuk Sakya dan Larei pindah rumah.


Namun, akhirnya Haira pun memberikan izin, meski dengan berat hati. Dan kini mereka tengah berjalan menuruni tangga rumah Fahar, setelah barang-barang mereka telah dimasukan ke mobil oleh pekerja di rumah itu.


Di depan pintu utama rumah itu, Fahar dan Haira sudah menunggu mereka. Wajah Haira terlihat muram, terlihat jelas jika dia masih tidak rela akan berpisah dengan anak dan menantunya itu.


"Jangan pasang muka gitu juga kali, Ma. Aku sama Larei cuma pindah rumah, bukan pindah ke benua lain," ucap Sakya yang sontak, membuat Haira mencebik sambil memutar matanya.


"Kalau kamu pergi sih, mama gak terlalu ambil pusing, tapi kamu bawa Larei juga pergi. Padahal 'kan mama beru beberapa saat ngerasain punya anak perempuan, ada teman curhat sama teman ngobrol."


"Ya masa aku pergi sendiri, Ma. Larei istri aku, jadi dia juga harus ikut aku-lah," ucap Sakya yang tidak mau kalah.


Hal itu, semakin membuat wajah Haira kian merengut.


Melihat mertua perempuannya yang terlihat sangat sulit berpisah dengannya, membuat Larei tersenyum, dia merasa senang karena mertuanya begitu menyayanginya.


"Ma, nanti kita bakal sering main ke sini kok. Lagian Mama bisa main ke butik seperti biasa, atau Mama bisa telepon aku, biar aku ke sini kalau Mama lagi butuh teman," ucap Larei berusaha menenangkan.


Haira hanya mengangguk dengan berat, mendengar ucapannya itu. Dia masih tidak rela jika Larei pergi dari rumahnya, karena dia akan merasa kesepian lagi.


Meskipun biasanya juga Larei sering ke butik, tapi selama beberapa waktu ini menantunya itu, selalu menyempatkan waktu pulang lebih awal, bahkan kadang tidak ke butik dan menghabiskan waktu bersama dengannya di rumah atau jalan-jalan.


"Sudah kalian jangan terlalu memikirkan Mama kalian, kalian pergi saja. Cuma satu pesan papa, tidak ada kehidupan yang tidak ada masalah, setiap orang atau keluarga pasti akan ada yang namanya masalah."


"Saling terbuka satu sama lain, juga jangan pernah mengambil keputusan di saaat sedang emosi. Berusahalah untuk membicarakan setiap masalah dengan kepala dingin dan mencari solusinya bersama."


Baik Sakya, maupun Larei mengangguk mendengar petuah dari dari Fahar itu, mereka berharap, semoga mereka bisa melakukan apa yang Fahar ucapkan itu.


"Ya udah, kalau gitu kita berangkat sekarang ya Pa, Ma." Sakya dan Larei menyalami pasangan paruh baya itu secara bergantian.


"Iya."


"Kamu akan sering main ke sini 'kan, Rei."


Larei mengangguk sebagai jawaban dari mertuanya, dia tersenyum berusaha menenangkan Haira yang terlihat dengan jelas ketidakrelaannya membiarkan dia pergi.


Setelah itu mereka pun pergi dengan mobil Sakya, sedangkan mobil Larei sudah lebih dulu diantarkan ke rumah baru mereka sehari sebelum mereka pindah.

__ADS_1


Selama di perjalanan, baik Sakya mau pun Larei, tidak ada yang membuka suara. Sakya sibuk dengan setirnya, sedangkan Larei sibuk melihat jalanan dari jendela.


Perjalanan dari rumah Fahar ke rumah mereka memakan waktu sekitar satu jam lebih 15 menit, jika jalanan lenggang. Dan kini setelah menempuh perjalanan selama itu, mobil Sakya mulai memasuki komplek perumahan di mana salah satu hunian di sana adalah rumah mereka.


Ketika kendaraan yang membawa mereka, telah sampai di depan gerbang berwarna hitam yang cukup tinggi. Sakya membunyikan kelakson mobilnya, hingga tak lama kemudian gerbang pun mulai terbuka.


Seorang pria dengan pakaian khusus berwarna hitam, membuka gerbang hingga gerbang itu terbuka sepenuhnya, membuat Sakya langsung memasukkan mobilnya.


Rumah mereka memiliki dua lantai dengan tiga kamar di lantai atas, di lantai bawah ada ruang tamu, ruang keluarga, dua kamar tamu yang bersisian dengan ruang tamu, dapur dan ruang makan.


"Selamat siang Tuan, Nyonya," sapa dua orang wanita yang bekerja di sana, begitu mereka memasuki rumah.


"Siang," sahut Larei dengan tersenyum tipis, sedangkan Sakya hanya mengangguk singkat.


"Apa Tuan dan Nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu Art yang jauh lebih berumur.


"Tolong bantu Pak Riki, buat bawa sisa barang di mobil ke atas," ucap Larei.


"Baik, Nyonya." Kedua Art itu mengangguk patuh dan pergi keluar rumah menuju mobil Sakya, mengambil beberapa barang yang masih ada di dalam mobil.


Setelah itu, Sakya dan Larei pun melanjutkan langkah mereka dengan Sakya yang membawa koper, diikuti oleh penjaga rumah itu yang juga membawa dua koper di belakang mereka.


Setelah sampai di kamar mereka yang luas, Sakya memang sengaja menjadikan kamar utama cukup luas, karena dia menyekat kamar itu untuk ruang kerjanya juga Larei, agar mereka tidak perlu repot-repot berjalan jauh jika ingin bekerja dan istirahat.


Larei pun tidak keberatan dengan hal itu, dia langsung setuju setelah Sakya mengutarakan hal itu ketika pertama kali mereka melihat rumah itu.


"Kamu istirahatlah dulu, aku tau kamu pasti lelah," ucap Sakya pada Larei.


Dia tahu semalam Larei tidak bisa tidur, karena menyelesaikan rancangannya. Dia juga dapat melihat raut lelah dari wajah istrinya itu.


"Baiklah, aku mau tidur dulu ya," ucap Larei sambil berjalan ke arah tempat tidur.


Sakya mengangguk, dia membawa barang-barang mereka ruang ganti dan membiarkannya terlebih dahulu, dia meminta Art-nya untuk tidak langsung membereskannya karena tidak ingin mengganggu istirahat Larei.


******


Malam harinya, Larei dan Sakya kini sama-sama sibuk dengan kegiatan mereka di meja masing-masing, hingga waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

__ADS_1


Mendengar Sakya yang beberapa kali menguap, Larei pun melirik ke arahnya yang terlihat mengerjapkan matanya yang terlihat telah sulit dibuka.


"Tidur, Sak. Jangan dipkasain, kamu bisa melanjutkan pekerjaannya besok," ucap Larei membuat Sakya melihat ke arahnya.


"Kamu juga tidur ya," ucap Sakya.


"Ak–"


"Ayolah, Rei. Kamu juga bisa melanjutkannya besok," potong Sakya.


Larei menghela napas, lalu mengangguk dan mulai membereskan barang-barangnya. Melihat hal itu, Sakya pun mengikutinya, dia membereskan kertas-kertas di mejanya dan mematikan laptopnya.


Larei lebih dulu keluar dari ruang kerja mereka, dia masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi, setelah itu dia memakai serangkaian perawatan kulit dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.


Tak lama kemudian, Sakya pun menyusul, dia merebahkan tubuhnya di samping Larei yang membelakanginya.


"Rei," Panggilnya menatap punggung Larei, tapi tidak mendapatkan sahutan.


Larei yang sebenarnya belum tidur, langsung membuka matanya ketika Sakya tiba-tiba mendekat dan langsung memeluknya dari belakang.


Larei yang merasa tidak nyaman dengan belitan tangan Sakya di perutnya itu, menggeliatkan tubuhnya, berusaha lepas dari Sakya.


"Biarin seperti ini, Rei. Bukannya kamu udah janji mau memulai hubungan kita ini," ucap Sakya menyusupkan wajahnya di ceruk leher Larei.


Membuat tubuh Larei meremang, apa lagi ketika merasakan hembusan napas hangat Sakya di lehernya, membuat bulu kuduknya terasa berdiri karena hal itu.


"Aku tau, kamu pasti tidan akan mudah menerimaku. Aku sadar aku bukanlah pria yang sempurna, tapi aku akan selalu berusaha menjadi suami dan ayah baik juga pemimpin yang baik untuk keluarga kecil kita nanti."


Sakya berbicara, sambil tangannya bergerak bebas di permukaan perut Larei, mengusap dengan penuh kelembutan calon anaknya itu.


"Bukan kesempurnaan yang aku cari," sahut Larei dengan lirih.


Ya, memang benar. Bukan kesempurnaan yang Larei cari, dia tahu tidak ada yanga namanya manusia sempurna.


Hanya saja, dia takut untuk membuka hatinya, sebenarnya dia adalah orang yang ketika jatuh cinta, maka dia akan terlalu dalam, larut dalam cinta itu.


Itulah alasannya, kenapa sampai saat ini dia masih belum melupakan rasa yang dimilikinya pada Andrew. Dia takut kecewa lagi pada akhirnya, karena cinta itu sendiri.

__ADS_1


Dia takut, ketika dia mencintai Sakya, tapi ternyata pria itu tidak bisa mencintainya sepenuhnya dan berujung dia kecewa karena cintanya yang terlanjur besar, tidak terbalaskan.


"Tidurlah, ini sudah malam. Biarkan aku memelukmu seperti ini," ucap Sakya tanpa menghentikan usapan lembut di perutnya.


__ADS_2