
Fajar pun telah menyingsing, di luar sudah terang benderang, Hana yang terbiasa bangun pagi masih meringkuk dalam selimut nya, ternyata dia menangis semalaman , saat menjelang subuh barulah dia bisa tertidur
Kreek
Ibu Rika memasuki kamar Hana, dia membuka gorden nya, membiarkan cahaya masuk lewat jendela membuat Hana yang masih dalam selimut nya, menggeliat karena cahaya mentari yang mengusik mata nya
"Kamu gak sekolah?" Ibu Rika mengusap pucuk kepala Hana
"Aku udah izin Mah, udah bebas juga jadi gak apa-apa gak sekolah" Sahut Hana
"Kamu gak apa-apa sayang? Mamah sangat khawatir, cerita sama Mama kamu kenapa?" Ibu Rika mengusap-usap punggung Hana
Hana menggeser tidur nya, mendekati Mama nya yang duduk di tepi ranjang, dia membenam kan wajah nya di pangkuan bu Rika dan melingkar kan tangan nya di pinggang Mama nya,
"Mah" Dengan suara parau nya "Sebener nya,,,
whoaaaa , huhuuhu,," Hana menangis sejadi jadinya
"Kenapa sayang?" Ibu Rika pun panik
"Rey ,,, ninggalin aku Mah" Tangis Hana semakin pecah
Ibu Rika tanpa sadar dia pun ikut menangis, Hana menceritakan semua nya,
"Rey kamu akan terima akibat nya, kamu udah jahatin anak saya" Ibu Rika terus saja mengusap kepala Hana, dia pun menahan tangisnya agar Hana tak semakin sedih.
Tentu saja ibu Rika sangat terluka, mereka tak pernah membuat Hana menangis, sekarang dia harus melihat putri nya seperti ini
sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi putri nya ini, tentu dia tidak rela jika ada yang menyakiti anak nya yang sudah susah payah mereka besar kan dengan kasih sayang
"Kamu jangan sedih sayang, ada Mamah" Ibu Rika terus menenangkan Hana
"Rey hidup mu gak akan pernah tenang" Gumam ibu Rika penuh amarah dalam hati nya.
Saking terluka nya ibu Rika dia memberikan sumpah serapah, yang tak pernah ia lakukan sebelum nya, ibu Rika bukan lah seorang pendendam, tapi kali ini dia benar-benar tak terima atas perlakuan Rey kepada putri nya ini
Setelah memastikan putri nya sudah kembali terlelap tidur, ibu Rika dengan hati-hati beranjak bangun, dia mulai mengumpulkan semua barang barang pemberian Rey, serta beberapa album foto, tak luput foto yang terpajang pun ia tanggal kan dan membawa nya ke halaman
ia melempar kan nya dan mulai menyulut kan api , iya ibu Rika membakar semuanya, dia tidak ingin melihat apapun yang berhubungan
dengan Rey lagi
Hana mulai membuka mata nya ketika mendengar suara gaduh dari keempat sahabat nya
"Kalian berisik banget sih" Hana melihat ke arah 4 teman nya
"Lo udah bangun" Kata Linda
"Kalo ini alam mimpi berarti gua belom bangun" Jawab Hana ketus
"Alhamdulillah temen gua masih waras" Ucap Linda yang mendengar jawaban Hana
__ADS_1
"Lo fikir gua setres" Hana mencibik kan bibirnya
Seketika tanpa banyak bicara keempat sahabat nya itu memeluk nya, "Jangan sedih Lo masih bisa tetep bahagia sama kita" Ucap Linda dan di ikuti anggukan ke tiga teman nya
"Makasih yah kalian yang terbaik " Hana beruntung memiliki mereka , walaupun luka nya tak mungkin sembuh seketika
Hana melepaskan cincin di tangan nya , jam tangan, semua pemberian Rey dan menaruh nya di kotak, dia melihat sekeliling kamar sudah tak ada foto lagi, dia tau pasti ibu nya yang melakukan nya, Hana pun tersenyum kecut
" May tolong Lo kasih ke Kakak Lo, kalo enggak buang ke, gua gak mau ada kenangan yang tersisa" Hana menghela nafas nya panjang
"Lo yakin Na, siapa tau nanti,,,," Ucapan Maya terpotong
"Gak ada nanti , hubungan gua berakhir, gak akan ada lagi jika, andai kan!" Kembali Hana menarik nafas panjang, dan kemudian menerus kan ucapan nya "Udah cukup setia gua gak di hargain, gak ada artinya buat dia" Hana menahan sakit di dadanya, mencoba untuk tak menangis lagi
Maya mengangguk "Asal kau bahagia beb"
Hana masih belum tertawa lepas, dia hanya sesekali tersenyum , melihat kekonyolan mereka yang mencoba menghibur nya, tapi dia sangat bersyukur mempunyai teman yang sangat perhatian seperti mereka
Ibu Rika tengah berdiskusi dengan pak Agus
mereka tak habis fikir, kenapa tak ada penjelasan dari keluarga Rey
"Mama gak terima Pah , kenapa seenak nya Rey ninggalin hana gitu aja, harus nya ada penjelasan" Ibu Rika sangat geram rasa nya dia ingin mendatangi Rey, dan meluapkan emosi nya
"Tenang Mah kita tunggu seminggu ini" Pak Agus menenang kan istri nya
Sudah seminggu tawa Hana hilang, tangis nya masih mengalir, dia lebih banyak mengurung diri nya, hati nya terasa pedih, terlalu banyak kenangan, bahkan di rumah nya sendiri pun terlalu banyak cerita
"Sebenar nya ini masalah anak-anak, tapi karena waktu itu ibu sama Bapak sudah meminta langsung kepada kami, jadi ini juga menjadi urusan kita," Ibu Rika menjeda ucapan nya yang panjang lebar, menatap mereka dan melanjut kan nya kembali "Hubungan kita tetap baik, tapi mungkin untuk memaaf kan Rey akan sulit, perlu waktu, saya tidak akan mencampur adukan perbuatan Rey dengan hubungan baik keluarga ini" Mendengar penjelasan ibu Rika, keluarga Rey pun menerimanya.
Ibu Rika bersungguh sungguh dengan ucapan nya hubungan dua keluarga ini tetap terjalin baik, hanya dengan Rey saja mereka menyimpan amarah
*S**ekolah*
Mereka tengah mempersiapkan acara kelulusan , saat ini Hana tengah duduk di tepi lapangan sekolah, setelah teman-teman memaksanya akhir nya dia meyetujui untuk melihat pertandingan basket
"Gua males tau, kepala gua pusing liat yang rame kaya gini" Hana mendengus kesal dia benar-benar sangat malas,
"Lo itu ya sekarang tuh udah kaya vampir tau gak sii, masih mending mereka keluar pas malem, lha lo ngurung diri 24 jam" Linda menyentil kening hana
"Sakit oncom" Hana mengerucut kan bibir nya
*Br**uuuk*
Tiba-tiba Hana merasakan pusing , badan nya terjengkang, rupa rupanya bola mengenai tepat kepala nya, Hana yg sedang melamun membuat nya hilang keseimbangan hingga tubuh nya tak dapat menahan lemparan bola basket , Hana terjungkal kaki nya sempat mengacung ke udara, untung saja dia memakai rok panjang
"Hana Lo gak apa-apa?" Maya mengguncang tubuh Hana, tapi Hana diam saja
Tiba-tiba tubuh Hana terangkat tangan kekar, seseorang terasa sedang menggendong nya
Hana mengerjap kaget, mata nya tetap terpejam, karna malu dia mengurungkan niat nya untuk membuka mata nya.
__ADS_1
Terdengar riuh suara murid murid yang melihat kejadian itu, Hana pun menenggelam kan kepala nya ke dada bidang pria ini
"Sekarang kamu boleh buka mata kamu, kita udah ada di UKS" Pria itu berucap
Perlahan Hana membuka mata nya
"Pak Ari?!" Seketika wajah Hana memerah rasa nya saat itu dia ingin menggali lobang dan membenam kan wajah nya
"Kamu gak usah malu, kaya nya cuma Bapak yang tahu kamu pura-pura pingsan" Pak Ari menahan tawa nya rasa nya dia ingin sekali terbahak bahak melihat kelakuan Hana
"Aku malu Pak, tadi Bapak lihat kan jatuh nya kaya gimana, sakit nya mah gak seberapa pak, malu nya ini yang banyak" Hana pun menunduk membayang kan kejadian tadi
"Tapi kok Bapak bisa tahu " Tanya Hana heran
"Saat Bapaj gendong kamu, badan kamu tegang, mata nya juga merem ayam, apa lagi pas murid-murid yang lain rame, kamu malah ngumpet di dada Bapak, gak ada Na yang pingsan kaya gitu" kali ini pak ari tak dapat menahan tawa nya
dan wajah Hana semakin memerah saja
"Hana Lo gak apa-apa?" Keempat teman nya menyusul nyq ke UKS
"Gak apa-apa, gua udah baikan ko" Hana melirik ke arah pak Ari yang tiba-tiba tertawa, membuat wajah nya semakin memerah karena malu
"Ia Hana udah baikan, Hana biar saya antar pulang sekarang" Pak Ari melempar kan senyuman termanis nya
"Ia ia pak, silah kan " Tata menyenggol Hana, dibalas dengan pelototan dari Hana
"Gak usah Pak,Hana pulang sama temen temen aja" Tolak Hana halus
"Kamu itu baru pingsan lho Na, masa pulang nya gak di anter wakil dari sekolah" Pak Ari sengaja menekan kan kata pingsan nya
"Ia Lo pulang sama pak Ari aja, kita masih mau latihan, ya kan gengs?" Linda memberi kode kepada teman-teman nya agar membiarkan pak Ari mengantar Hana pulang
"Tu kan, ayo kita pulang sekarang" Hana tetap terdiam "Apa mau saya gendong lagi?" Goda pak Ari dan Hana seketika membulat kan mata nya
"Gak usah Pak, aku bisa jalan sendiri" Akhir nya Hana pun pasrah
Saat mereka berjalan menuju parkiran, kembali menjadi pusat perhatian
"Hahhh" Hana menghela nafas nya, risih rasa nya bagi Hana menjadi pusat perhatian
"Kamu kenapa?" Tanya pak Ari
"Gak apa-apa Pak" Hana melirik ke arah guru nya itu dengan melemparkan semyuman manis nya
" Ah kamu benar benar membuat jantung ku berdebar kencang" Gumam pak Ari dia pun tersenyum sendiri
"Hem, kenapa Pak?" Hana mendengar ucapan pak Ari walau tak jelas
"Hemm, apa?" Pak Ari tak menyadari tingkah nya sendiri
"Tadi Bapak ngomong apa?" Tanya Hana lagi
__ADS_1
"Bukan apa-apa, kamu tunggu di sini dulu bapak mau ngambil kunci mobil" Pak Ari pun meninggalkan Hana sejenak,