
Hana dan Rey berpisah di pantai itu, walau mereka bersama, Hana memilih untuk pulang bersama Linda dan Maya. Seminggu berlalu Hana dan Rey menjadi semakin dekat, tak ada jarak lagi diantara mereka, Hana memang selalu bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama Rey.
"Aku udah nyampe,,, di depan warteg mbo sum,,, aku ke kosan?" Tanya Rey saat sedang menjemput Hana
"Gak usah,,, aku udah beres, kamu tunggu aja" Hana merapikan dandanan nya, tidak butuh waktu lama Hana sudah menghampiri Rey.
"Serasa sedetik nungguin kamu,,, baru tutup telepon kamu udah dateng" Rey tersenyum menatap Hana "Kamu lari yah ke sini" Goda Rey
"Diih PD banget sih kang,,," Hana mengambil helm dari tangan Rey "Aku takut kamu ke kosan aku" Jawab Hana jujur
"Kenapa gak boleh masuk,," Tanya Rey penasaran
"Aku gak pernah masukin cowok ke kosan" Hana memakai helm nya di bantu oleh Rey
"Aku kan pernah masuk,,," Rey sejenak merasa heran.
"Waktu itu ibu kos mengira kamu kak Heru" Hana menahan tawanya "Ya udah aku iyain aja, sekarang kalau kamu ke sana aku takut ibu kos aku nyadar" Hana akhirnya melepaskan tawanya, Rey pun hanya geleng kepala
"Hari ini hamba siap mengantar tuan putri" Rey bertingkah seperti dalam drama kerajaan, membuat Hana terkekeh.
"Aku mau ke salon dulu,,," Ucap Hana dengan penuh gaya
Rey tersenyum dan tak henti henti menatap Hana, walau ini semu tapi merasakan kebersamaan lagi dengan Hana seperti sebuah anugrah, bisa tertawa lepas, walau tanpa ikatan sudah cukup untuk nya saat ini.
"Kamu tiap sabtu jemput aku mulu emang jomblo,,?" kini mereka tengah berada di sebuah restoran
"Kamu tiap sabtu di jemput mulu sama aku, emang pacar nya kemana,,,?" Rey berkata setengah menahan tawanya
"Rey! kamu tu yah di tanya balik nanya,,, " Hana mendengus kesal "Aku itu gak punya pacar, adanya calon suami!" Seperti tanpa beban Hana berucap "Ayo atuh cari calon istri!"
"Aku,,, kalo kamu nikah sama orang lain,, kayak nya gak bakalan nikah" Ucap Rey serius
"Huss,, apaan sih Rey" Hana membelalakan matanya "Pamali ngomong gitu, masih banyak cara kok kita bersama,,, misalnya jadi besan gitu,, entar kita punya anak kita jodohin yah,," Kali Hana tertawa dengan lepas
"Gak lucu teteh,,, "' Rey memalingkan wajahnya
"Duh ngambek,,," Hana memiringkan wajah nya kearah Rey "Kita nikah nya barengan aja yah,, biar adil" Ucap Hana dengan tersenyum
"Setuju!" Rey menatap Hana "Kita nikah, di tahun, bulan, minggu, hari dan jam yang sama, tempat yang sama kita nikah bareng" Ucap Rey penuh makna
"Ok setuju,," Hana mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan Rey
"Ya udah cepetan lamar cewek nya,,,"
"Tenang aja sih nyantai,, dia masih punya urusan dulu,,, " Mereka pun saling berjabat tangan dengan tatapan penuh arti.
Hana tak menyadari apa makna dari jabat tangan mereka, berbeda dengan Rey yang di penuhi dengan pemikiran, bagaimanapun caranya agar perjanjian mereka bisa terwujud, mungkin Rey memang egois, tak tahu malu, tapi cintanya pada Hana sudah tak terbendung lagi, dia tak rela bila harus kehilangannya lagi, bahkan dia tak sanggup untuk memikirkannya, dengan Hana yang sudah mengakui perasaannya, Rey semakin tak ingin berhenti hanya sampai di sini, bukankah mereka berhak bahagia, bahkan Rey yang pernah melakukan kesalahanpun layak untuk mendapatkan kebahagian.
"Udah lewat magrib,, pulang yuk, entar kemaleman nih" Hana sudah bergegas bangun "Aku mau ke suatu tempat dulu"
__ADS_1
"Kemana?" tanya Rey penasaran
"Ada deh,,," Hana tak menjawab, dia pun turun di persimpangan kota.
Bila sedang gundah begini, Dina lah yang ia cari, karena tak mungkin dia bercerita tentang Rey pada Wulan, entah apa yang akan di pikirkan kaka sulung nya itu.
"Kak,, aku kemungkinan dapat promosi di tempat kerja,,, gak jadi anak magang lagi, seneng banget aku, walau belum wisuda udah dapet kerja" Hana sudah berada di Resto milik Dina
"Kamu mau kerja,,, kan bentar lagi nikah" Dina menaruh pulpen dan menghentikan menulis pembukuannya
"Aku pengen ngerasain kerja dulu kak" Hana menampakan wajah bingung nya
"Tyo setuju,,?" Dina sangat heran dengan keinginan adiknya, pasalnya setelah menikah Hana berencana ikut dengan Tyo.
"Gak cerita,,, apa aku tunda dulu ya pernikahannya?" Ide gila Hana pun tiba tiba muncul
"Wah wah,,, ada yang gak beres nih" Dina mulai curiga "Aku tau Dek, impian kamu udah nikah tuh pengen buka toko kue, ada apa hemh,,, kamu ragu sama Tyo?" Dina memang selalu peka dengan perasaan adik nya itu.
Hana menghela nafasnya "Aku gak bisa cinta sama dia kak, semakin dia baik sama aku,,, makin aku ngerasa bersalah, kita gak mungkin memulai pernikahan dengan kaya gini kan?" Hana terlihat frustasi
"Alasan nya apa,,?" Dina menatap Hana " Apa alasan kamu gak bisa cinta dia?"
"Aku gak tahu kak!" Hana memalingkan wajahnya
"Rey,,,?" Dina pun menebak
"Ah,,, bukan lah,, gak mungkin lah aku batalin pernikahan aku gara gara dia, gak mungkin" Hana terus saja meracau
"Ia kak, aku telepon mama dulu" Hana mencari ponsel nya, tapi dia tak menemukan nya, Hana pun mengingat ingat dengan keras "Ah,, terakhir gua pegang HP di motor, terus gua nitip di jaket Rey"
"Kenapa Na? Hp nya ilang?" Tanya Dina
"Gak kak, ketinggalan di motor Odoy deh kayak nya, tadi aku di jemput Odoy" Hana pun beralasan
Hana terus berpikir semalaman ini, tak ingin menyakiti siapapun, apa yang harus di lakukannya, tak ingin ada hati yang terluka, terlebih orang tuanya, Tyo bahkan Rey.
******
Rey sedang tersenyum saat mengetahui ponsel Hana tertinggal di saku jaket nya, walaupun ponsel itu terkunci tapi nama kontak yang di berikan untuknya membuatnya tak berhenti tertawa "Patrick" itulah nama yang Hana berikan untuk nya, entah alasan nya apa tapi yang Rey tahu Patrick itu bodoh.
"Kamu lagi ngapain yah sekarang?" Rey berdiri di lantai 2 Cafe milik nya "Miss you so much, gak tahu aku harus apa tapi yang jelas aku akan terus berjuang!"
******
"Dih nyebelin banget yah, pake acara HP gua ketinggalan lagi" Rutuk Hana saat dia sudah turun dari angkutan dan berdiri di depan Cafe milik Rey, dengan masker dan topi menjadi andalan saat dia akan memasuki Cafe Rey.
Tanpa basa basi dengan tergesa gesa karena takut ada yang melihat dirinya, Hana bergegas menuju ruangan Rey, bahkan Dodi pun tak menyadari kedatangan Hana
"Rey,,,!" Tanpa mengetuk Hana langsung memasuki ruangan Rey
__ADS_1
"Uhuk,,, uhuk,!" Rey yang terkejut pun langsung terbatuk batuk saat tengahenghisap sebatang rokok "Kamu ngagetin aku aja"
"Ya ampun Rey,, berapa bungkus yang kamu isep?" Hana terkejut melihat begitu banyak puntung rokok dalam asbak milik Rey
Rey tengah memaikan gitar, dengan buku dan pena di depan nya " Aku lagi bikin lagu!"
"Hubungan nya apa coba sama rokok,, aku tuh gak suka ya kamu terlalu banyak ngerokok," Dengan bawel dan lantang Hana memarahi Rey "Aku gak larang kok kamu ngerokok ,tapi coba porsinya di kurangin"
Rey malah tertawa mendengar omelan Hana "Berasa kayak dulu lagi,,, kamu mau jadi pacar aku lagi?" Rey malah melontarkan pertanyaan aneh
"Maksud kamu apa sih?" Hana menjadi salah tingkah dan tiba tiba saja pipi nya merona
"Itu tadi yang kamu omongin ke aku tuh, biasa nya omelan cewek ke pacar nya,," Goda Rey
"Mana HP aku balikin,,!" Hana tak menggubris ucapan Rey
"Kamu duduk dulu bentar, lagu aku belum jadi dikit lagi,,," Rey menuntun tangan Hana untuk duduk
"Teruss," Hana menjadi bingung
"Kamu itu inspirasi aku bikin lagu ini,, jadi kalau kamunya ada pasti lebih gampang" Jelas Rey kemudian melanjutkan lagi kegiatan nya
Sekali lagi Hana merasa tersihir oleh Rey "Kamu memang hebat Rey, kamu mampu bikin aku jatuh cinta sekali lagi sama kamu, padahal aku pernah sangat benci kamu" Gumam Hana dalam hati nya
Kring kring kring
Ponsel Hana berbunyi menghentikan aktifitas Rey dalam menciptakan lagu tentang Hana "Mas ku" Kontak itu pun tertera, "please Hana jangan di angkat, biarin aja dulu"
"Rey,,, tolong HP aku siniin" Hana mengulurkan tangan nya
Mau tak mau Rey memberikan ponsel milik Hana "Na jangan di angkat please,,!" pinta Rey
"Maaf Rey aku harus pulang,," Hana mengangkat telepon miliknya dan segera meninggalkan Rey.
Rey terdiam melihat Hana meninggalkan dirinya, "Ini lah gua si bodoh yang tak tahu malu, sesaat gua lupa akan posisi gua untuk Hana apa" Rey kemudian mengikuti Hana, melihat nya semakin menjauh.
Tak di duga saat Hana pulang Tyo sudah datang, entah kenapa Tyo sekarang lebih sering berkunjung, walau jarak yang tak dekat tak menjadi halangan untuk nya agar bisa bisa memenangkan hati Hana.
"Mas kamu dateng kok gak bilang bilang,," Hana terkejut saat masuk ke dalam rumah nya, karena mobil Tyo tak ada terparkir di halaman depan "Kamu gak pake mobil ?"
"Pake kok, pak Dadang sedang keluar sebentar" Jawab Tyo dengan lembut
"Kamu mandi dulu sana,,, ada yang Mas mau omongin sama kamu"
"Penting,,,?" Hana tak sabar ingin tahu
"Ia sayang,,'" Lagi lagi Tyo menjawab penuh dengan kelembutan
******
__ADS_1
Mas Tyo mau ngomong apa yah ???😁
Tunggu kelanjutan nya lagi ya😉