
pagi pagi sekali hana sudah mendapat chat dari surya yang menanyakan kapan dia akan mentraktir nya, dia pun terkekeh, hana akan mengulur waktu untuk membuat surya lebih penasaran lagi
" hmmm kamu sudah penasaran ternyata,
sebentar lagi" gumam nya setelah membalas chat dari surya mungkin minggu depan dia akan memberikan jawaban
*******
sore hari hana bergegas ke rumah maya, sahabat nya itu sedang sakit membawakan kue yang sengaja dia buat tadi siang ,
tok tok tok
" assalamualaikum, " hana menunggu beberapa saat sampai pintu itu di buka
" waalaikum salam, eh hana " ibu nani tampak kaget
" maya sakit ya tan, aku bikinin kue" seraya dia memasuki ruangan tamu
" ehm kamu sengaja ke sini" tanya bu nani
" ia tan, aku mau langsung ke rumah kak heru , jadi ke sini dulu, aku ke atas ya tan" izin nya ibu nani pun mengangguk
hana melangkah kan kaki nya menyusuri tangga, di lihat nya sahabat nya itu tengah duduk di sofa sedang menonton tv,
" hei bu maya yang cantik jelita, lagi sakit tu pintu malah di buka" hana menyapa maya dan langsung memeluk nya, ekspresi maya tak biasa, dia tampak terkejut
" kenapa sih lo gitu banget muka nya, kaya ngeliat hantu aja"
" gua udah mendingan kok" maya melirik ke arah balkon , dan hana pun mengikuti pandangan nya, dan ternyata terlihat rey sedang berbicara di ponsel nya, yang sekarang sedang menatap nya,
tak ayal hana pun terkejut, tapi kali ini dia tak lari ,hana akan menggadapi nya
" hai kebetulan banget ya, kamu apa kabar " tanya rey dengan tersenyum
" gua baik, baik banget malah " hana tak bermaksud bertanya balik tentang keadaan nya
" syukur lah, bisa aku minta waktu sebentar aja" pinta rey
" gua kesini tuh mo nengokin maya ya" dengan jutek hana menjawab nya
" ah gua kebawah aja dulu" maya hendak beranjak dari duduk nya, hana menarik lengan nya
" kalo lo mo ngomong , ngomong aja , maya tetap di sini, gua gak mau kita cuma berdua" tetap dengan ekspresi datar dan dingin
" ga papa ko, maya bisa tetap di sini" jawab rey, maya sebenar nya sangat tak nyaman dengan situasi saat ini, tapi mau bagaimana lagi fikir nya, hana bersedia bicara dengan rey pun sudah sangat bagus
" waktu lo cuma sebentar" hana memberikan perintah untuk rey memulai pembicaraan nya
" na aku minta maaf , aku salah, tapi aku mohon jangan kaya gini, " rey menghela nafas nya sejenak "aku gak mau kita kaya gini ini udah lama, " rey menatap hana
" maaf ? maaf lo bilang, jangan kaya gini lo bilang, lo bilang ini udah lama? , gua ingetin ini udah satu tahun 4 bulan" tegas hana "tapi semua ucapan lo masih bisa gua inget kata demi kata, " hana tampak mengatur amarah nya tak ingin menimbul kan keributan
__ADS_1
" aku ingin kita kaya dulu" belum rey meneruskan bicara nya, hana membelalakan mata nya dia memotong ucapan rey
" kaya dulu gimana maksud lo, gua bukan hana yang dulu , hana yang bodoh yang lo permainin, mungkin dulu gua masih naif, tapi itu dulu 4 tahun yang lalu" hana mulai tak bisa mengontrol emosi nya
" bukan , bukan gitu maksud nya, aku cuma mau kita gak musuhan , kita bisa berteman baik atau saudara" lagi lagi ucapan rey terpotong
" teman baik? lo itu jahat, dan ingat gua gak mau punya saudara kaya lo" hana menghela nafas nya " soal maaf , gua gak bisa maafin lo"
" tapii, ,,"
" waktu lo udah abis, mau gua atau lo yang keluar dari sini" maya terkejut dengan ucapan hana tak menyangka sahabat nya sekeras ini
" ok, aku pulang, " rey tampak seperti berkaca kaca , dia menahan air mata, dan itu tak luput dari pandangan maya
" makasih buat waktu kamu" rey bangkit dan pergi
" hana tega banget lo sama sepupu gua, ga nyangka gua hati lo sekeras batu, gua liat tadi dia nangis, lo gak kasian apa" maya meninggikan suara nya, hana beranjak berdiri menuju balkon, dia belum menjawab pertanyaan maya, dia lebih tertarik melihat kepergiaan rey, baginya ini seperti dejavu hanya terbalik peran saja,
" hana gua ngomong sama lo"
" gua tega? lo fikir kenapa gua bisa sekeras ini huh, itu karna kelakuan sepupu lo" hana tak kalah meninggikan suaranya "dia jahatin gua duluan may, dia buang gua duluan may, dia gak perduli sekeras apapun gua memohon, sebanyak apapun air mata gua, lo fikir siapa yang lebih jahat," maya tak bisa berkata apa pun kata kata hana memang benar ada nya "syukur kalo lo udah mendingan gua balik dulu," hana meninggal kan maya yang masih mematung
tanpa berpamitan terlebih dahulu ke ibu nani dia pun segera menuju ke rumah heru
" masalah gua gak ada habis nya," gumam nya sembari berjalan, hana tak berniat menaiki angkutan walau jarak rumah heru lumayan jauh, dia ingin menikmati senja di sore ini
" gua capek" hana menengadah kan wajah nya " gak boleh jangan nangis, ga boleh cengeng," dia mengatur nafas nya
" assalamualaikum," karna hana sudah terbiasa dia langsung masuk begitu saja
" waalaikum salam na, kamu magrib magrib dateng," ucap tante husna yang sudah mengenakan mukena nya " ayo solat dulu" ajak nya
" hana lagi halangan tan, mo nunggu kak heru aja yah di kamar" pinta hana
" ya udah, kamu udah makan belum"
" belum, tapi nanti aja deh bareng ma kak heru" hana langsung memasuki kamar heru
selang tak lama kemudian , heru datang, melihat tak ada pergerakan dari hana saat dia membuka pintu heru tau adik nya itu tengah tertidur
" woiiiii banguuuuun" heru berteriak di telinga hana, membuat nya gelagapan
" iihh aku kagettt kaka" hana memukul heru dengan bantal
" dasar pe*or lo, gak boleh nyium bantal" mereka pun sekarang duduk bersampingan di tepi ranjang, hana menyandar kan kepalanya di pundak heru
" kak " ucap hana lirih "aku laper"
" jiaah kirain gua lo kenapa" heru tengah membuka kaos kaki nya " yaudah kita makan gua mandi dulu, makan di rumah apa di luar," ajak nya
" assik, di luar aja kak" hana bersemangat
__ADS_1
" yaudah sono cepet gelar tiker di teras" hana mengerut kan dahi nya "denger ya gua bilang kan makan di luar, " heru menekan kan kata luar nya
" yeeeh kirain aku di resto gitu, tapi ga papa aku juga kangen masakan tante" hana tak kalah antusias
heru bergegas mandi dan hana mempersiap kan makan malam,
" mah hana mana" heru melihat sekeliling dan hana tak terlihat
" lagi gelar tiker di luar" jelas ibu husna
" apaa , dasar anak ini" heru melangkah kan kaki nya keluar , sudah tertata rapi
" kaya lagi camping aja sih kita" heru duduk berhadapan dengan hana
" makan di luar kak" hana terkekeh
mereka makan malam dengan suasana rusuh, terus saja bercanda sampai kadang mereka terbatuk batuk karna tersedak
" ihh kalian ini udah kaya anak kecil , makan aja harus ribut" ucap tante husna, mereka menoleh bersamaan,
" lagi seru mah" ucap heru "aku udahan makan nya kenyang" heru beranjak hana turut mengikuti nya
" aku juga sama" hana merapikan bekas makan mereka, heru sedang menikmati kopi yang sudah hana buat kan
setelah selesai merapikan dapur, hana menghampiri heru
" kak aku mau ngomong" hana ikut duduk dengan heru di bangku taman
" bukan nya dari tadi lo udah ngoceh mulu" goda heru
" kali ini aku serius" hana mengatur nafas nya "surya nembak aku" heru langsung menatap hana "tapi belum aku terima"
"belum di terima dengan kata lain kamu gak tolak dia" heru sedikit geram
" dengerin dulu kak" hana mencoba meyakinkan heru, dia menceritakan tujuan dan alasan nya , yang tak lain ingin membalas rey
" tapi lo berurusan dengan orang yang salah" heru menatap hana, "jangan sampai lo ngelukain hati lo sendiri demi ngeliat rey terluka" heru mengingat kan
" kak aku bisa jaga diri, aku bukan anak kecil lagi , kalo dulu mungkin aku naif, terlalu percaya sama rey, tapi kali ini aku tau surya seperti apa" ucap nya hati hati
"gua bukan masalah hati lo na, surya tuh bad boy, lo ngerti kan maksud gua, pacar bagi dia itu berarti temen tidur nya, dia gak pernah bisa jadian lebih dari 3 bulan" tampak jelas kecemasan heru
" karna dia udah bosen , maka nya dia gak bisa lama, aku janji kak bakal jaga diri dia ga bakalan dapet apa yang bukan hak dia" sekali lagi hana meyakin kan heru
" kenapa sih lo nekat banget"
" ini hanya tentang memberi dan menerima" ucapan hana membuat heru bingung
" rey memberi luka dan dia akan menerima luka nya" hana tersenyum "sedang surya kita belum ada keterikatan, pliss kak restuin aku" hana mengerjap ngerjap kan bola mata nya
" kamu janji jaga diri "hanya itu yang heru ucap kan, hana tersenyum
__ADS_1
****