
Hana menemui Linda, sahabat yang selalu ia andalkan, Linda yang sudah berumah tangga terlebih dahulu tentu lebih mengerti tentang masalah berumah tangga, Hana dan Rey memang baru seumur jagung, pernikahan nya baru terhitung bulanan, masih dalam tahap adaftasi.
"Na,, Lo gak boleh gitu,,," Linda menanggapi curhatan Hana tentang pertengkaran nya semalam, memang mereka telah berbaikan tapi Hana masih merasa perlu untuk bertanya pada Linda "Lo itu besar kepala,, " Linda menyentil kening Hana "Jangan anggap Kak Rey itu masih kaya dulu,, mantan Lo yang ngejar ngejar buat minta balikan,, sekarang dia itu suami Lo, orang yang harus di hormati dan patuhi,,"
Mendengar ucapan Linda, Hana merenungi semua nya, memang dia masih merasakan seperti itu, Rey adalah lelaki yang rela menunggu nya bertahun tahun, dan sedikit membuat Hana besar kepala
"Kalau Lo udah siap,, ya udah berhenti aja,, jadiin rumah tangga lo priotas sekarang,, lo bisa kan buka toko kue seperti impian lo dulu,," Saran Linda
"Ia Lin,, kadang gua emang masih ngerasa gitu, Rey udah jadi suami gua, tapi gua masih merasa dia mantan gua yang siap nurutin semua keinginan gua,," Hana terkekeh "Tapi dia juga heboh banget,, udah ribut soal program kehamilan, kan menurut gua santai aja dulu" Hana mendapat sentilan lagi di kening nya "Apaan sih Lin,, jidat gua lecet entar,,"
"Lo tu ya,, ikutin aja sih mau nya,, cuma ikutan program kehamilan doang,,," Linda mencibikan bibir nya
"Ia,, ia gua bakal ikutin,," Hana sempat terdiam, sejenak "Lin tadi gua ketemu Surya,,, kayak nya kita bakal kerja sama bareng,,"
"OMG,, berhenti Na,, jangan kerja lagi gawat ini mah gawat,,," Linda pun panik, membuat Hana menjadi bingung, walau Hana belum bercerita apa apa.
"Apaan sih,, gua belum beres ngomong juga,," Kali ini Hana yang menyentil kening Linda "Heboh banget sih,,"
"Kak Rey itu,, waktu lo jalan sama Surya, dia selalu cari tahu tentang kalian, dia cowok yang paling Rey cemburuin Na, karena Lo kan cukup lama sama Surya, belum lagi kalian sering ketemu pas lagi jalan,," Jelas Linda dengan sangat bersemangat, Linda sangat tahu bagaimana tidak suka nya Rey pada Surya "Kalau dia tahu kalian jadi fartner,, tamat udah tamat Lo Na,," Linda mengetuk ngetuk meja, tentu hal itu sangat tak di inginkan nya, membayangkan nya saja Linda sudah terasa sedih, sebagai sahabat Linda tak ingin Hana terkena masalah
" Lo mah nakut nakutin gua Lin,," Hana pun ikut bergidik, karena tentu Hana lah yang sangat mengerti akan sifat suaminya itu, bagaimana pencemburu Rey, apalagi terhadap Surya, Rey dulu selalu merasa tak sebanding dengan Surya, bagaimana mapan nya Surya, dan caranya memanjakan Hana, Rey kalah jauh dari nya, sehingga Rey memiliki ketakutan kalau Hana masih mengingat Surya.
"Tapi,, saran gua Lo cerita ke kak Rey,, jangan sampai suatu saat dia tahu dari orang lain,," Saran Linda
"Ia,, makasih Lin,, gua bakal cerita,," Hana melirik jam tangan nya sudah pukul dua siang,, Rey mungkin sebentar lagi akan kembali dari Cafe milik nya "Gua balik dulu,, takut suami gua keburu pulang,," Hana segera berpamitan, dia ingin memasak makan malam yang spesial untuk suaminya itu.
******
Hana kembali ke rumah nya, dan Rey kebetulan belum sampai, dia pun segera menuju ke dapur, dia ingin menghidangkan masakan untuk suaminya, dan membuat kue kesukaan Rey, cukup lama Hana berkutat di dapur tak terasa waktu pun sudah petang, tapi Rey belum ada tanda tanda kehadiran nya, tentu Hana gelisah, saat perjalanan pulang dia sempat menghubungi Rey, yang katanya sedang dalam perjalanan.
"Kamu kok belum pulang ya,, aku mandi dulu aja deh,," Hana pun segera menuju ke kamar mandi untuk membersih kan diri, sudah lepas magrib, tapi Rey belum juga tiba, saat Hana hendak menghubunginya terdengar suara motor sport milik suaminya itu, ia pun segera menaruh ponsel nya kembali, dan bergegas menyambut kedatangan Rey "Sayang,," Hana teesenyum manis, dia mengulurkan tangan nya untuk mencium tangan suaminya itu "Aku nunggu kamu dari tadi, aku udah masak spesial, aku juga udah bikinin kamu brownis" Hana mengambil helm dan tas milik Rey "Makan dulu atau mandi,,?"
__ADS_1
"Aku mandi dulu,, lengket bamget," Rey memperhatikan Hana, istrinya itu terlihat sangat senang sekali, membuat hati Rey seperti terbakar, Hana yang terus tersenyum membuat nya merasa jengkel, karena membayangkan alasan dari kecerian Hana adalah Surya "Kamu seneng banget kayak nya,,," Tanya Rey curiga
"Aku biasa aja,," Hana mengerutkan dahi nya "Emang sih, kalau habis ketemu Linda, aku seneng,," Jawab nya seraya mengikuti langkah kaki suaminya
"Kamu bukan cuma ketemu Linda hari ini, entah siapa yang membuatmu senang, yang pasti aku tunggu kejujuran kamu" Gumam Rey dalam hati nya.
"Aku siapin makan malam dulu ya,," Hana memeluk suaminya dari belakang, menghirup aroma tubuh Rey yang bercampur keringat, tapi itu justru membuat candu bagi Hana. Tapi Hana tersentak Rey melepaskan tangan Hana
"Gerah,,," Rey berucap dingin dan segera melepaskan pakaian nya, dia pun bergegas menuju kamar mandi
Hana mematung, sikap Rey membuat nya tak nyaman, "Ada apa lagi,, kamu kenapa lagi", Ucap Hana dalam hatinya, rasanya Hana ingin menangis, dia bisa merasakan dingin nya sikap Rey kepadanya.
Rey sudah selesai mandi, dia pun segera turun menghampiri Hana di meja makan, "Aku gak sanggup diem dieman kaya gini, aku cuma nunggu kejujuran kamu Hana, kita sudah menjadi suami istri, kita adalah satu,," Rey mulai menyantap makanan yang Hana masak, akhirnya Rey membuka obrolan "Kamu pulang sendiri,," Rey sangat tahu istrinya itu masih belum sembuh dari trauma masa kecilnya
"Di anter Linda yang,, sekalian dia mau mampir ke rumah tante Nani,," Jawab Hana lega, karena suaminya tak terdiam lagi, Hana pun mulai bercerita saat dia bersama Linda, betapa lucunya sahabat nya itu, Rey hanya sesekali tersenyum
"Meeting kamu,, terlambat gak,,?" Rey sengaja menyinggung masalah pertemuan tadi pagi, dia ingin melihat seperti reaksi Hana, Rey pun mulai mempergatikan raut wajah Hana
"Hemh,,," Rey mencibikan bibir nya, kecewa dengan Hana yang belum berterus terang, dengan siapa sebenarnya pagi tadi Hana melakukan pertemuan.
"Apakah ini waktu yang tepat, untuk membicarakan tentang dengan siapa pertemuan itu di laksanakan,, tapi,, seperti nya suasana hati Rey sedang tak bagus, dia seperti ada masalah, aku harus gimana,,?" Gumam Hana dalam hati nya
"Tolong buat kan kopi, bawa ke studio,," Rey meninggalkan meja makan nya, Rey melihat Hana masih terdiam di kursi makan nya, Hana nampak bingung dengan sikap Rey, dan Rey pun menjadi luluh, dia hanya ingin sendiri, dia ingin menenangkan pikiran nya, agar pikiran buruk nya tentang Hana hilang, ia ingin percaya bahwa ada alasan kenapa Hana tak ingin membicarakan Surya saat ini, Rey pun menghampiri Hana dan mengecup kening nya "Aku banyak banget kerjaan,, banyak lagu yang harus aku aransemen sekarang,, kamu kalau ngantuk tidur duluan aja ya,," Ucap Rey lembut seraya membelai wajah Hana
Mendapat perlakuan hangat dari Rey, Hana tersenyum sumringah, ternyata karena pekerjaan pikirnya, ke khawatiran Hana sedikit menghilang "Ia sayang,,," Jawab Hana seraya menarik tangan Rey dan mengecupnya, begitu terasa hangat
Hana datang meyuguh kan kopi dan brownis, sebenarnya ia ingin mengobrol banyak, tapi tentu dia tak bisa egois, dia harus mengerti Rey yang sedang mencari nafkah untuk nya, dia pun membawa laptop milik nya, mencoba menyelesaikan pekerjaan nya, dia berniat mengundurkan diri dalam waktu dekat ini, dan tawaran kerja sama dengan Surya tentu akan di tolak, Hana tak akan mengambilnya, karena tahu resiko nya sangat besar, walaupun ia sempat di janjikan akan mendapat bonus yang lumayan besar dari bos nya.
"Aku boleh di sini,,,? janji gak bakal ganggu!" Pinta Hana pada suaminya
"Boleh sayang,,," Rey tak ingin melanjutkan kecurigaannya lagi.
__ADS_1
Setelah beberapa lama mereka sibuk dengan pekerjaan nya masing masing, Hana sudah tertidur di sofa dalam studio mini milik Rey, suara musik pun tak jadi masalah untuk Hana tertidur pulas, Rey tersenyum melihat kebiasaan istrinya yang bisa tidur pulas di mana saja, Rey mulai mengambil gambar Hana yang tertidur, dia menjahili Hana lagi dan lagi, hidung Hana di tarik tarik oleh Rey, pipi Hana yang di gerak gerakan dengan berbagai ekspresi membuat Hana terlihat lucu, wajah polos tanpa make up, terlihat cantik alami, Rey pun mengunggah nya ke akun media sosial nya dengan caption "My wife is my life #PUTRITIDUR" Di lihat laptop Hana, ternyata dia sedang menyusun surat pengunduran diri nya, Rey pun tersenyum sumringah, ternyata Hana sedang menyiapkan kejutan untuk nya "Maafkan aku sayang,,, betapa bodoh nya aku sempat ragu,,"
Di gendong nya Hana, menapaki tangga satu persatu, pandangan penuh cinta untuk istrinya itu, tak pernah lepas Rey berikan, di baringkan Hana perlahan di ranjang king size itu "Kebiasan kamu itu ya,, kapan ilang nya sih,," Rey pun terkekeh
"Aku cuma mau ngetes kamu doang kok,, masih sanggup gak angkat aku,, berat badan aku naik 4 kilo nih,," Hana berucap dengan menahan tawa nya, melihat ekspresi Rey yang membelalakan matanya, Hana pun tak dapat menahan tawa nya, dia akhirnya terbahak bahak
"Dari kapan kamu bangun,, hemh,," Rey mencubit pipi Hana,, dia merasa gemas karena telah di kerjai istrinya, tentu saja membopoh Hana yang kini berbobot 54 kilo, sungguh bukan hal mudah, apa lagi dengan menaiki tangga, nafas Rey pun terengah engah, sedangkan istrinya malah tertawa terbahak bahak, Rey tak henti hentinya berdecih.
"Aku bangun,, pas kamu uyel uyel pipi aku,, kamu pikir gak berasa apa,," Hana nampak kesal "Ya udah aku kerjain aja kamu sekalian,," Hana kembali menertawai suaminya itu
Rey mulai menggilitiki Hana, suara tawa pun begitu terdengar nyaring, menggema di rumah mereka, jika saja mereka memiliki tetangga tentu kelakuan mereka akan sangat mengganggu, pada dini hari begini mereka justru malah bercanda, semua masalah pun terlupakan begitu saja, Rey berhasil meredam ego nya, dengan bijaksana dia menahan semua tanya, walaupun kejadian tadi pagi masih membayangi nya
"Stop,, stop sayang aku udah gak tahan,,," Pinta Hana dengan nafas tersenggal, mereka berbaring sejajar dengan nafas yang saling memburu, Hana merasa perasaan Rey sudah lebih baik, dia pun akhirnya memutuskan untuk memberi tahu tentang Surya, dan juga tentang pengunduran diri nya, walaupun Hana sudah berencana keluar dari pekerjaan nya, bukan tidak mungkin dia akan sering bertemu dengan Surya, sebelum pengunduran dirinya di setujui oleh atasan nya.
"Sayang,,, " Hana berbaring meyamping menghadap suaminya "Tadi clien aku,, itu,, Surya,, kamu masih inget gak,,?" Hana berucap dengan terbata dan berhati hati, Rey mendengarkan dengan seksama penjelasan istrinya itu "Aku gak tahu,, karena yang tertulis clien kita bernama Hendra,, dan aku kira dia masih di Aussy,, Ternyata Surya anak dari pak Hendra,," Hana terdiam menunggu tanggapan dari Rey,, tapi Rey hanya berucap "Terus?" dan Hana melanjutkan ceritanya "Aku emang udah niat mengundurkan diri,, dan sudah aku laporkan ke pak Adit,, dan aku tadinya mau langsung cerita ini ke kamu sayang,, tapi kamu terlihat cape,,"
"Makasih sayang udah jujur,,, tapi seperti nya ada yang kamu tutupi,,,?" Rey berucap tenang, dia menghargai kejujuran istrinya itu, tapi Rey masih menunggu tentang Surya yang memeluk Hana
"Apa,,,?" Hana menelan saliva nya sendiri, mencoba mencerna pertanyaan dari Rey, karena dia sudah menceritakan semuanya, hanya tentang pelukan Surya saja yang tak sanggup ia ceritakan
"Ada satu bagian yang terlewat,, " Rey membelai wajah Hana "Dan itu yang aku tunggu penjelasan dari kamu,,"
"Mak,, maksud kamu sayang,," Hana berpikir apakah memang Rey mengetahui tentang Surya yang memeluk nya
"Aku di sana sayang,, saat pagi,," Ucap Rey
"Ka,, kamu lihat apa yang Surya lakukan,," Tanya Hana dengan berdebar, rasanya tak mungkin jika Rey mengetahui itu, tapi sikap nya bisa setenang ini.
"Aku lihat,, dan jangan tanya apa yang aku rasakan saat itu,, " Rey menghela nafas nya "Mungkin sampai tadi pun aku masih sangat,, amat kesal, jengkel, rasanya saat itu aku ingin melemparkan Surya ke kawanan buaya yang sedang lapar,," Rey tetap mencoba tenang "Tapi,, aku lihat bagaimana kamu langsung menolak pelukan nya, itu sudah cukup menjelaskan situasi tadi pagi,," Mereka berhadapan saat ini
"Cuma ada kamu,, selalu kamu sayang,, jangan pernah khawatir,, tolong jangan pernah meragukan semua itu,, " Hana mulai merangsek ke dalam pelukan suaminya itu.
__ADS_1
Begitulah kekuatan cinta mereka, Rey sudah berhasil meredam amarah nya, dan Hana walaupun sulit, tapi dia selalu ingin jujur, karena itulah pondasi utama untuk pernikahan, kejujuran dan saling keterbukaan, kepercayaan sangat penting untuk sebuah hubungan, Rey kali ini memilih percaya pada istri nya, walaupun sulit sekali hatinya menerima, dan Hana memilih terbuka karena tak ingin menjadi bomerang di kehidupan rumah tangga nya.